
Happy Reading...
Waktu melukai semua jiwa.
***
Bugh!
Satu pasang tangan mendorongnya dan membuatnya terhuyung ke belakang. hingga terjatuh ke atas sofa.
Dewa mematung melihat siapa yang datang ke apartemennya. karena tak biasanya ia bertamu ke tempat Dewa apalagi malam-malam seperti ini.
Dewa dengan santai bangun dan berdiri berhadapan dengan sang pemilik tangan.
"Mau rampok Lo?" Dewa kesal karena acara tidur malamnya harus terganggu oleh kedatangan tamu tak di undang dan di saat yang tidak tepat pula.
"Gue pengen bunuh elo" Leo melayangkan tinju tepat di rahang kokoh Dewa. darah segar merembes dari sudut bibir Dewa.
Dewa meringis merasakan perih di sudut bibirnya. Leo tidak main-main saat melemparkan kepalan tangannya.
Tak ingin kalah Dewa pun membalas dengan menghantam tulang pipi Leo dengan kepalan tangannya, membuatnya seketika memerah dan membiru, lebam.
Leo terhuyung, untung ada sofa yang menahannya, jika tidak sudah pasti tubuhnya akan langsung mencium meja kaca di ruangan itu.
"Lo kira gue takut hah!" Dewa balik membentak.
Leo kembali berdiri tegap berhadapan dengan Dewa yang tersulit emosi.
Kembali Leo melayangkan kepalan tangannya, namun dapat di tangkis dengan cepat okeh lengan Dewa, dan dengan lincahnya pria itu menendang tulang kering Leo, seketika membuat pria itu ambruk.
Merasa pertahannya hampir tumbang, Leo dengan cepat menarik dan membanting Tubuh Dewa hingga keduanya kini ambruk di atas sofa ruang tamu apartemen Dewa.
Kedua nafas pemuda itu memburu dengan detak jantung lebih cepat hitungan normal.
Lama mereka masih saling diam, menata perasaan masing-masing, di balik nafas mereka yang masih memburu yang perlahan mulai teratur.
"Ha...ha... ha.. " Keduanya tertawa lepas. melepas segala sesak yang menghimpit yang memisahkan mereka berdua lebih dari lima tahun yang lalu.
Sejak dulu, itulah cara mereka untuk melampiaskan kekesalan masing-masing jika keduanya saling berbeda pendapat. dan selanjutnya adalah berbicara dengan tenang.
Keduanya masih terlentang di tempat yang sama. dengan berbantalkan lengan masing-masing.
"Kenapa waktu itu Lo gak membela diri?" Leo menghela nafas berat, membuang segala sesak di dadanya bersamaan dengan terlontarnya pertanyaan itu.
"Karena sebenarnya elo tak perlu meragukan apapun." Jawab Dewa sambil tersenyum miring, mencemooh.
"Dan Kenapa lu gak pernah cerita tentang siapa sebenarnya Lilian?" Tanya Leo tanpa menatap ke arah Dewa.
__ADS_1
"Untuk apa, tak ada bedanya mau gue cerita apa enggak." Jawab Dewa. tatapannya masih ke arah lampu kristal mewah yang tergantung tepat di atas kepala.
"Andai waktu itu Lo jujur tentang siapa sebenarnya Lilian, mungkin rasa sakit atas penyesalan gue gak akan berlarut seperti ini." ucap Leo penuh sesal.
"Lilian tak ingin siapapun mengetahui identitasnya yang sebenarnya."
"Apa gue begitu tak berharga, hingga dia pun menutup dari gue?"
"Buktinya elu gak percaya sama dia."
"Andai Lilian tau seberat apa hidup gue akhir-akhir ini, gue nyesel gue juga kehilangan."
Dewa tersenyum. Leo masuk jebakan tanpa harus susah-susah menjebaknya. Orangnya sendiri telah membuka semua yang terkunci selama ini.
"Terus apa rencana elu selanjutnya?"
"Jika masih bisa gue mau tebus semuanya."
"Luka yang elu gores memang tak berdarah, tapi itu terlalu menyakitkan buat dia. gue gak yakin dia bisa maafin elo."
"Ya, gue tau. kesalahan gue terlalu fatal buat dapat maaf dari kalian" Leo menoleh bersamaan dengan Dewa yang juga tengah menatapnya.
"Waktu melukai semua jiwa dan waktu pula yang akan menyembuhkan. minta maaflah pada Cintanya."
"Gue akan raih dia kembali dan tak akan melepaskannya lagi." Leo berucap yakin.
"Lo lupa jika gue juga belum restuin elo sama Cintya?" Balas Leo dengan lengkungan di sudut bibirnya sebelah.
"Restu elu bukan hal penting, gue udah kantongi restu kakek." sanggah Dewa dengan cepat.
"Kakek masih bisa gue rayu buat cabut restunya buat elo."
"Mau jadi mak-mak rempong Lo? lagian masih ada eyang yang bakal mulusin jalan gue buat dapetin cinta."
"Gue gak yakin eyang lo masih mau bantu, secara perjodohan itu udah Lo batalin sepihak. jadi keluarga gue masih bisa tolak lamaran elo."
"Gak bisa,, gak bisa, adek elo harus tanggung jawab atas yang dia lakukan sama gue," Dewa bangkit dari posisinya dan berdiri berkacak pinggang.
"Emang apa yang udah adek gue lakuin sama elu? emang tuh bocah udah perkosa elo?" Leo tertawa terpingkal melihat Reaksi Dewa.
"Yang ada gue yang bakal bikin bunting adek lo."
Leo melotot marah, dengan cepat tangannya meraih rambut Dewa dan menjambaknya.
"Jangan kurang ajar Lo?"
"Lo tuh yang kurang ajar, mencoba menghalangi gue bereproduksi."
__ADS_1
"Sialan mulut lo!"
Pertengkaran mereka masih berlanjut selayaknya anak-anak yang memperebutkan siapa yang paling benar diantara keduanya.
"Pokoknya gue gak ijinin elo sentuh adek gue Sampe masalah gue sama Lilian beres."
Dewa kembali melotot semakin kesal. dan dengan santainya Leo masuk lebih dalam, memindai seluruh ruangan yang ada di apartemen milik Dewa.
"Harus berapa lama gue harus kekepin adek Lo tanpa gue sentuh, sedangkan Lo gak tau isi hati Lilian seperti apa sekarang."
"Paling gak gue masih punya waktu buat merubah keadaan. minimal dia maafin Gue. dan selama itu Cintya tinggal di rumah gue.bdanbtugascelo buat bantu gue"
"Ogah! elu yang buat masalah, gue yang harus repot, najis kalo kata adek lo."
Dewa mendengus kesal. dan semakin kesal saat melihat Leo masuk ke dalam kamarnya.
"Mau apa Lo masuk ke kamar gue?"
"Gue ngantuk, mau tidur." Ujar Leo tenang.
"Ya udah pulang Sono, tidur di rumah lo sendiri."
"Gak! males gue, capek." Dengan manisnya Leo merebahkan diri di atas ranjang Dewa.
"Pergi Lo, gue gak maen sama batang. gue sukanya sama lobang?" Dewa menarik kaki Leo untuk mengusirnya."
"Makasih, elo tau aja kalo gue masih pake sepatu." Ujar Leo semakin membuat Dewa kesal. "udah sono lo tidur di sofa dan jangan lupa bangunin gue pagi-pagi, gue ada meeting penting." usirnya pada Dewa.
"Bodo amat mau lo meeting apa enggak, gue besok libur mau molor sampe siang." Dewa menjatuhkan tubuhnya di atas sofa bed yang ada di kamarnya.
Leo tersenyum samar, ada kelegaan di hatinya setelah menyelesaikan kesalah fahaman yang terjadi selama bertahun-tahun.
Dewa langsung tertidur, terbukti dari suara dengkuran halus yang tertangkap pendengaran Leo.
Berkawan selama beberapa tahun cukup membuat Leo mengerti bahwa sahabatnya memang pribadi yang baik. di balik sikap nya yang tekesan berandalan dan playboy, Dewa adalah sosok yang lembut dan penyayang.
Kini pria itu tak akan ragu lagi menyerahkan adik semata wayangnya pada pemuda yang ia anggap brengsek.
Umur bukanlah tolak ukur untuk mendewasakan seseorang, usia hanyalah lambang seberapa lama manusia itu hidup. namun kemampuan berfikir dan menyelesaikan masalah lah yang membuktikan seseorang itu bisa di anggap dewasa.
Seperti Dewa dan Leo, dua pria dewasa yang selama bertahun-tahun bertingkah seperti anak kecil, berlomba untuk mempertahankan ego masing-masing yang hanya berbuah kesia-siaan.
***
Dewa sama Leo udah baikan, Hayuk ah Kempar bunganya. kasih kado buat kembalinya persahabatan mereka.
Visual si sableng.
__ADS_1