
Happy Reading...
Engkau adalah jawaban atas semua do'a-do'a ku, aku tiada mampu membuatmu sempurna, karena engkaulah kesempurnaan. Kau telah menjadi pencuri yang mencuri hatiku, tolong jangan penjahat yang mematahkan hati ini.
***
"Berikan gue alasan yang tepat kenapa lu minta kita undur pernikahan kita."
"Cintya gak Cinta sama Om."
Dada Dewa mencelos, kejujuran yang tertangkap rungunya sangat sangat menusuk hatinya.
Ada rasa sakit yang tak dapat terungkap kan, tapi kejujuran yang menyakitkan akan terasa lebih indah dari pada kebohongan yang menyenangkan.
"Gue tau." Kedua netra mereka saling mengunci, berusaha mengungkapkan tiap bait kata yang ada di hati mereka melalui pandangan.
"Jadi Om mau mengundur pernikahan kita?" Cintya menunggu dengan jantung berdegup. mungkin ia akan senang jika Dewa mengiyakan permintaannya, namun di saat bersamaan ia juga merasa was-was dan tidak rela jika Dewa akan melepaskannya.
"Tidak!" ujar Dewa tegas.
Cintya membuang muka ke samping, entah ia harus senang atau sedih saat ini.
Di sisi lain ia senang karena Dewa masih mempertahankan nya, tapi di sisi lain ada ketidak relaan jika apa yang selama ini menjadi keinginannya belum terpenuhi.
"Elu cinta sama orang lain?"
Cintya menggeleng, bukan karena tak ada orang yang ia cintai, tetapi ia tak tahu siapa orang yang ia cintai.
Cinta, bahkan kata itu tak pernah singgah di telinganya dari orang yang sangat ia harapkan kedatangannya.
"Elu gak cinta sama gue, dan elu juga gak cinta sama orang lain tapi elu minta pernikahan kita di undur, elu tidak sedang ngebanyol kan cil?"
"Sempat-sempatnya nih aki-aki tuduh gue ngebanyol, nurutin kagak" gerutu Cintya dalam hati.
"Seperti yang Om selalu bilang, bahwa ada hal-hal yang tak perlu Cintya mengerti, begitu Juga dengan kita saat ini. ada hal-hal yang tak perlu om mengerti, cukup Om pahami."
Kembali gadis itu membalas tatapan mata tajam dari pria yang selalu memperlakukannya yang bagai seorang ratu.
"Gue pernah bilang sama elu, Elu cukup percaya sama gue dan semuanya bakal baik-baik saja."
Ada rasa bahagia namun keraguan itu masih menghampirinya. Dewa selalu berhasil mengusir keraguannya. tapi rasa itu masih ada. perasaan yang mengganjal yang tak dapat ia ungkapkan hanya dengan merangkai kata menjadi sebuah kalimat
"Tapi ada satu hal yang tak bisa Cintya katakan dan hanya Cintya mengerti dan Cintya rasakan."
"Kalau begitu katakanlah, ungkapkan semua rasa yang ada di hati elu, gue siap menjadi pendengar yang baik untuk calon ibu negara di kediaman Herlambang "
Cintya terkekeh, Dewa selalu bisa membalikkan keadaan.
Pria sableng yang dulu selalu membuatnya kesal kini berubah menjadi pria yang selalu membuatnya merasa tersanjung.
"Cih, om selalu seperti itu." Cintya kesal namun bibirnya tak dapat menyembunyikan senyum.
Ada lengkungan di sudut bibir pria yang sedang menata hatinya saat ini. ia harus siap dengan apapun yang akan gadis cerewet yang menjadi pujaannya itu katakan.
"Sebenarnya Cintya sedang menunggu seseorang."
Degh!
Seperti ada palu besar yang memukul jantung Dewa saat ini, rasanya ia akan mati namun nyatanya nadinya masih berdenyut dan nafasnya masih berhembus. itu artinya ia masih hidup dan harus mendengarkan celotehan dari gadis yang berada di atas pangkuannya.
__ADS_1
Oh hati, kuatlah jangan menjadi sakit karena kejujurannya.
Wahai jantung, teruslah berdetak, jangan matikan aku sebelum jantungnya mendendangkan irama yang sama dengan melodi yang mengalun dalam diriku.
"Apa dia kekasih elu karena yang gue tau, elu gak punya pacar selain gue."
Bisa-bisanya Dewa berucap seperti itu, di saat Cintya ingin berbicara serius.
"Ini mulut kenapa sih gak bisa di ajak ngomong serius, bawaannya ngaco mulu." Tangan gadis itu mencapit bibir Dewa dengan jari lentiknya.
Dewa tertawa renyah, yang sebenarnya hanya untuk menutupi bahwa dirinya di landa keresahan saat ini.
Sama seperti dirinya yang tak pernah memiliki hubungan serius dengan lawan jenisnya, begitu pun dengan Cintya. Dewa tak pernah benar-benar tahu apa yang tersimpan di sudut hati gadis yang berhasil mengalihkan dunianya.
"Kalau begitu katakan siapa pria yang sedang elu tunggu, biar nanti gue suruh si Alex buat jemput tuh manusia, beraninya tuh orang bikin calon nyonya Herlambang galau sampe pengen undur-undur hari pernikahan."
Candaan yang tepat di saat yang tidak tepat. baiklah Dewa memang pandai membawa diri.
"Om,!" Cintya mendelik kesal, tidak bisakah Dewa menganggap serius sebuah masalah.
Ah, mungkin tak ada yang serius dalam hidupnya kecuali pekerjaannya. dan itupun juga dapat di tinggalkannya jika sang nyonya telah merengek meminta mangkir.
Lebay.
Dewa benar-benar berlebihan memperlakukan gadis yang telah merampas separuh hidupnya.
"Oke,, oke,, Katakan." Dewa pasang muka serius, mode pendengar yang baik.
"Cintya Sedang menunggu seseorang" ulang gadis itu.
"Iya gue tau."
"Kok Om tau?"
"Oh iya" Cintya nyengir.
"Jadi?"
"Jadi ya tetep nunggu " jawab Cintya.
"Siapa?" Cintya tak menjawab.
"Pacar elu?" Cintya menggeleng.
"Orang yang cinta sama elu?" Kembali gadis itu menggeleng.
"Lalu siapa,?" Cintya mingkem karena sejatinya ia juga tak tahu siapa yang sebenarnya ia tunggu. hanya saja hatinya bersikeras untuk menunggu.
Sebuah rasa yang tak ia mengerti yang ia rasakan sejak kecil. sebuah kekaguman yang tertancap pada memori gadis kecil, yang lama-lama menjadikannya sebuah penantian.
"Cintya menunggu seorang kakak "
"Leo?"
"Bukan " Cintya menggeleng untuk kesekian kalinya.
"Emang elu punya kakak yang lain selain Leo?" Cintya mengangguk cepat.
"Siapa?"
__ADS_1
Cintya menggeleng cepat, "Gak tau!"
"Gak usah ngelawak deh cil, elu bilang nunggu seorang kakak tapi elu gak tau siapa dia?"
"Memang kenyataannya Cintya gak tau."
"Terus siapa dong?"
"Cintya gak tau siapa dia, nama dia, alamat, pokoknya gak tau !"
"Gak usah muter-muter deh Cil, capek gue mangku elu lama-lama."
Cintya tersadar cepat-cepat gadis itu akan turun, namun Dewa mencegahnya. "Selesaikan dulu ceritanya, nanggung, siapa dia."
"Dia.." Cintya tak meneruskannya karena Dewa menaruh jari telunjuknya di depan gadis yang sedang mengoceh.
Lalu Dewa menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Cintya loading lambat, namun tetap tak menolak.
"Dengarlah, ia selalu berdetak lebih cepat saat sedang bersama Elu," Cintya menempelkan kepala di atas dada Dewa, membuatnya mendengar detak jantung pria itu dengan sangat jelas. merasakan hal yang sama dalam dirinya.
Engkau adalah jawaban atas semua do'a-do'a ku, aku tiada mampu membuatmu sempurna, karena engkaulah kesempurnaan. Kau telah menjadi pencuri yang mencuri hatiku, tolong jangan penjahat yang mematahkan hati ini.
Untuk sesaat mereka masih tenggelam dalam momen kebersamaan itu hingga keduanya merasa terhanyut dalam aliran di dalamnya.
"Sekarang katakan siapa yang sedang elu tunggu, tapi sebelumnya elu juga harus tau bahwa pernikahan kita akan tetap terjadi di hari itu "
Cinta menelan ludah berkali-kali untuk membuang jauh kikuk yang melanda.
"Dia itu kakak ajaib Cintya, yang datang tiba-tiba, dan menolong Cintya saat Cintya takut pada gelap." ujar gadis itu akhirnya.
Seerrr...
Dada Dewa berdesir hebat, senyumnya tersungging ada rasa yang membuncah di dalamnya. rasa lega dan bahagia.
"Gue tau siapa dia?" Senyumnya masih terukir di kedua sudut bibirnya.
"Siapa?" Cintya Excited.
"Mamoru Chiba!" Ujar Dewa tersenyum lebar.
"Hah!"..
"Elu gak mau kan kalo kakak ajaib elu itu Voldemort?" Dewa tersenyum semakin lebar, membuat gadis yang masih anteng di pangkuannya itu merengut dengan bibir mengerucut.
"Biasa aja tuh mulut!"
Dewa tertawa renyah, saat capitan di pinggangnya dari jari sang gadis menembus kemejanya.
Tak apalah sedikit nyeri yang penting bahagia.
***
Dewa bilang yang penting bahagia, ingat Ba.. ha.. gi.. a..
Author juga bahagia jika ada yang lempar koin, ehhh...
Bunga pun tak apa 😁
votenya, apa lagi...
__ADS_1
Kalian komen kan??? up lagi besok.
Selamat malam menjelang pagi...