
Plak!!!
Satu tamparan mendarat di pipi Cintya, belum lagi dia merileksasaikan tubuhnya karena ulah Dewa sepanjang malam hingga menjelang pagi, Isabel sudah membuat paginya buruk.
Baiklah, Cintya salah tapi tidak sepenuhnya salah. bukan ini yang di inginkan nya. terlepas rasa kesal yang mendera akibat wanita itu membuat Leo melakukan kesalahan dan mencoba menggoda suaminya, Cintya tak ingin membuat orang lain tersakiti. ada orang lain yang juga harus menanggung kesalahan ini.
"Isabel."
Cintya terkejut bahkan ia belum sepenuhnya mengetahui siapa yang mengetuk kamarnya tiba-tiba.
Mendorong dengan kuat, hingga Cintya yang masih mengenakan bahtrobe itu tersentak dan terdorong kedalam.
"Kurang ajar kamu Cintya." Cerca gadis itu dengan amarah yang tercetak di wajahnya.
Masih dengan keterkejutan dan melongo takjub, sebelum semua kesadarannya terkumpul, Isabel kembali melayangkan tamparannya.
"Hentikan!" suara bariton yang tiba-tiba muncul dari balik belakang punggungnya mencekal pergelangan tangannya. membuatnya meringis di sertai rasa ngilu.
"Ngapain lo?"
Di sini, di apartemen milik Dewa, yang selalu mereka tempati setiap akhir pekan. seminggu setelah kejadian di hotel itu.
"Aku ingin membuat perhitungan sama istri kamu dan meminta pertanggung jawaban kamu."
Pertanggung jawaban, sampai di sana masih dengan kebingungan di masing-masing kepala. Dewa dan Cintya hanya terdiam.
"Pertanggung jawaban untuk apa?" Cintya yang telah berhasil mengumpulkan kesadarannya pun ingin mengetahui perihal apa yang membuat wanita muda itu berani mendatangi apartemennya.
"Aku ingin Dewa bertanggung jawab atas apa yang udah elo lakuin sama gue."
Cintya mengernyit dalam. baiklah, bukankah masalah ini sudah di bicarakan sejak tiga hari kemarin.
"Pertanggung jawaban macam apa yang lo mau dari gue." Dewa yang menyahut.
"Nikahin aku."
Cintya melotot dengan mulut terbuka, begitu pun dengan Dewa.
"Elo gila?" sentaknya dengan nada yang meninggi.
"Kenapa? bukan kah semua yang terjadi itu karena ulah istri kamu, dan aku terjebak dengan pria aneh itu di dalam hotel itu juga ada ulah istri kamu."
Sampai di sini Dewa mengerti dengan pertanggung jawaban yang isabel maksud.
"Elo sadar gak sih, semua itu karena elo yang terlalu sombong dan percaya diri. harusnya setelah elo berkali-kali melakukan kesalahan, elo bisa sadar dan gak mencoba bikin ulah."
__ADS_1
Sang nyonya yang sejak tadi terdiam pun mulai mengeluarkan cicitannya.
"Emang gue pernah buat adalah apa sama elo?" bahkan Isabel pun tak mengingat tiga kesalahan dalam hidupnya.
"Andika, brengsek kamu ya, kamu sudah bikin kacau. aku minta kamu hanya berpose seolah-olah kalian melakukannya tapi kenapa kau benar-benar melakukannya?"
Cercaan siang itu di ruang janitor sesaat setelah jam makan siang. Cintya berhasil kabur saat Dewa sedang meeting dengan para manajer.
Andika yang kala itu hanya menunduk pun tak memiliki jawaban lain kecuali meminta maaf karena kekacauan yang ia buat.
"Kamu tau sendiri kan bukan itu rencana kita awalnya?"
Cintya benar-benar emosi kala itu. ingin menghajar pria cupu itu namun tak bisa. ia sudah membuat huru hara satu kali dan Dewa memarahinya. tak boleh satu lagi kekacauan yang ia buat jika tidak Dewa akan memarahi dan menghukumnya lagi.
"Maafkan saya bu, saya lepas kendali."
Tentu saja Andika lepas kendali karena godaan di hadapannya.
Cintya tak mampu menjawab, memang ini kesalahannya. ia harusnya tak memercayai pria aneh dengan tingkat kemesuman yang tinggi itu.
"Coba aku ingin tahu, kenapa kamu berani bertindak lebih. bukankah kamu tau jika Isabel adalah sepupu pak Direktur? kamu bisa dapat masalah nantinya Andika, kamu tahu itu." Cerca Cintya di sertai kefrustasian.
Sungguh bukan ini yang ia inginkan. ia hanya ingin Isabel mendapatkan sedikit pelajaran.
"Saya tahu, saya pasti di pecat. bahkan mungkin di penjara. tapi setidaknya saya bisa membalas sakit hati saya selama bertahun-tahun." ujar Andika berapi-api.
Benarkah?
"Kamu sakit hati? pada Isabel? bahkan kamu belum pernah sekalipun kenal dengannya. setidaknya sampai siang itu."
Mencoba mengorek lebih jauh. ada apa di balik kata sakit hati selama bertahun-tahun. apa yang terjadi di masa lalu mereka. siapa sebenarnya Andika ini.
"Saya memiliki masalah pribadi dengannya. mungkin dia tidak menyadari bahkan mungkin tak mengenali saya."
Cintya semakin bingung. semua berbelok, bahkan rencana yang ia buat untuk sekedar main-main kini berubah menjadi masalah yang tak biasa. ucapan Andika kala itu masih menimbulkan ketidak percayaan sampai saat ini.
"Sungguh, aku tak tahu apapun tentang ini. bisakah kau menghilangkan kebingunganku saat ini?"
"Tentu saja nyonya." ******* nafas kasar terdengar dari pria berkaca mata itu.
Cintya dapat melihat dendam dan luka dalam sorot mata pemuda yang dua tahun lebih tua darinya itu.
"Ada apa Andika, apa yang kau sembunyikan."
Menghela nafas kasar Andika memulai ceritanya. " Dia adalah mantan kekasih adik kembar saya. tapi karena kesombongan dan keegoisannya, atau mungkin kebodohan adik saya yang terlalu mencintainya sehingga apapun yang ia inginkah harus dituruti. dan karena itulah saya kehilangan satu-satunya saudara yang saya miliki."
__ADS_1
Sangat terdengar bahwa ada kejujuran dalam suara serak yang menahan ledakan emosi itu. bahkan mata yang berkilat api itu kini meredup. terganti dengan sorot mata kesedihan yang tak di buat-buat.
"Kapan itu ter terjadi?" Bahkan suara Cintya pun ikut serak.
"Dulu, sudah sangat lama. sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA."
"Kau bohong Andika, bahkan umurmu lebih tua darinya. tak mungkin ksluan seangkatan "
Cintya berucap penuh curiga. bahkan ia tak bisa lagi mempercayai pria di hadapan nya. ia pernah di bohongi.
"Adik kembarku tinggal kelas karena sebuah penyakit. itu sebabnya mereka bisa jadi seangkatan."
Sampai di sinj Cintya mencoba percaya. tak ada salahnya ia pendengar sedikit lagi cerita atau mungkin kebohongan Andika.
"Apa yang fi lakukan Isabel pada adikmu."
"Radika, namanya Radika. Isabel memaksanya untuk mencebur ke danau, sedangkan ia tahu jika Radika tak memiliki kemampuan untuk berenang. dan yah, saya terlambat. terlalu banyak air yang masuk ke dalam paru-parunya."
Cintya tercekat. boleh kah jika ia tak mempercayai cerita pria cupu di hadapannya. sedangkan di tangan ya saat ini sedang memegang sebuah foto yang menampilkan dua anak kembar. seorang pemuda berkacamata bulat dan terkesan cupu dan sebelahnya berdiri seorang pemuda yang memiliki wajah yang sama, hanya saja sedikit pucat.
"Saya ajan bertanggung jawab. saya yang telah merusaknya. maka saya yang akan memperbaikinya. dan itupun jika di inginkan."
Cerita Andika siang itu menutup easa penasaran Cintya. dan sekarang, Isabel meminta pertanggung jawaban yang tak seharusnya ia tanggung sendiri.
Sungguh menyebalkan. membuat emosi.
"Kau akan menikah dengan Andika. terus kesalahanmu pada Radika."
***
ih, ternyata isabel memang jahat.
Sebell ya?
Yang salah Andika apa Cintya nih.
Isabel dong, siapa suruh iseng.
pasti kalian bakal ngomong, authornya yang salah
authornya jahat
gitu kan???
lope lope deh buat kalian,,,
__ADS_1
hujatan di perbolehkan asal di sertai poin yang buanyak. wkkk