
Sebelum Happy Reading, othor cuma mau bilang jangan unfav dulu ya gengsss,,,,
Sedih deh ada yang unfav sepertinya,,,
Tapi kan diriku tak berhak untuk melarang. jika cerita ini membosankan maka akan segera othor tamatin. season dua di bikin di lain Hati.
ya sebaiknya begitu... ha...ha...ha...
Kuy ah,kawal si sableng dengan kebucinannya...
***
Happy Reading...
Menimbulkan pertanyaan di benak Dewa tentang makanan aneh yang di inginkan, Cintya justru mencari kenyaman dengan bersandar di bahu Dewa dan tertidur, membuat pria itu semakin tergerus oleh kebingungan.
"Cinta,,," panggilnya.
"Hmm" Cintya menjawab hanya dengan bergumam.
"Kamu kenapa? sakit?" tanya Dewa dengan mengusap pucuk kepalanya.
"Tya gak pa pa." jawabnya lirih.
"Terus ini ngapain?"
"Kangen, emang gak boleh?"
Eh, kangen padahal masih berada di dalam mobil yang sama duduk bersisian dan saling menempel.
Duh, Cintya semakin mengkhawatirkan.
Hingga mobil Dewa memasuki area perusahaan, Cintya masih belum merubah posisinya.
"Udah sampai ini, masih mau tidur?" sedikit kesal, bisa-bisanya Cintya tertidur pulas.
"Ngantuk." jawabnya malas.
"Tadi di bilangin juga apa, mending di rumah deh, kamu keliatan sakit ini?" terlepas dari rasa kesal yang melanda, justru Dewa lebih banyak khawatir.
Di tangkupnya wajah yang sedikit pucat itu dan melabuhkan satu kecupan untuk mengurai kekhawatirannya.
"Kita ke dokter sekarang?" ajaknya dengan raut cemas.
"Gak perlu, Cintya cuma pengen rujak sama es rempah. habis liat itu pasti Cintya sehat lagi."
Seperti boneka yang di ganti dengan baterei baru, Cintya beranjak turun dari mobil. meninggalkan Dewa dengan raut bego.
"Om, buruan ih!" sungutnya, menyadarkan Dewa.
Menghembuskan nafas lelah, Dewa lantas keluar dari mobil. mengikuti langkah istrinya yang seakan lupa dengan rasa ngantuk yang tadi sempat ia keluhkan.
"Rujaknya lama gak sih, Kak?"
__ADS_1
Kadang Om kadang Kakak, entahlah terkadang Dewa yang bingung dengan panggilan Cintya padanya.
"Om, jawab dong!"
Tuh, kan baru juga di omongin. ganti lagi tuh panggilan. Duh, Cinta kau membuat Dewa seketika jadi orang bego.
"Apa sih Dek," oh, suara Dewa terdengar sangat lembut. meski sebenarnya ia ingin membentak.
"Rujak buah campur lontong sama es rampah aku, udah ada belom sih?"
"Eh, itu. iya belom. nanti kita suruh Nadia buat nyari."
Kenapa harus ingat masalah rujak, sedangkan Dewa tak pernah tahu ada rujak buah campur lontong. dan apa itu lagi, Es rempah, mana ada julehaa.
Bolehkah Dewa berteriak sekarang. mumpung lorong kantor lagi sepi. para karyawan sudah memulai pekerjaan dari dua jam yang lalu.
"Nadia sekretarisnya pak Alex jelmaan Ken berbie itu?"
Kenapa nada bicaranya tinggi, oh Dewa sepertinya salah bicara.
Alih-alih menjawab, Dewa memilih diam dari pada salah kata. Cintya lebih menakutkan pagi ini dari pada saat tragedi kedatangan isabel di apartemen mereka.
"Kok diam, jawab kek."
Tuh kan, salah. jawab takut salah, diam masih salah.
"Iya, Nadia sekretarisnya Alex." jawab Dewa malas.
"Kok tiba-tiba ingat Nadia, jadi curiga."
"Terus kamu maunya gimana?" berujar pasrah pasti buntutnya akan panjang setelah ini.
Mendadak, Cintya menghentakkan kaki dan melepaskan tautan tangan mereka dengan kasar. membuat Dewa sedikit terkejut.
Oke, drama queen segera beraksi.
"Kok kayak gak ikhlas gitu?" protesnya dengan air mata yang hampir tumpah.
Ya salaaam, Dewa pasrah, kalau mau di balikin sama emaknya dosa gak sih?
Eh, yang ada Dewa sendiri dong yang rugi. gak ada yang di ajak berantem di atas ranjang.
Menghela nafas sambil memejamkan mata sejenak, demi untuk mengurai kekesalan yang mengkarang dalam hatinya.
Cintya manisnya kemana sih, kok makin menyebalkan. gak tau apa kalau Dewa sedang sangat sibuk.
"Ikhlas dek, kakak ikhlas sayang. sekarang Cinta mau apa? mau rujak kan? iya nanti kita cari tapi kakak kerja dulu ya, kita suruh Nadia yang nyari."
Oh, Dewa manis sekali. dan sedikit lebay.
"Tuh, kan Nadia lagi, Nadia lagi." menghentakkan kaki sambil ngeloyor meninggal kan Dewa beserta gerutuan di bibirnya.
Bodo lah, Cintya ngomel yang penting sudah sampai kantor dan secepatnya Dewa harus menyelesaikan urusan kantor. sebelum wanita jelmaan kucing itu kembali membuat ulah dan membuat berantakan jadwal kerjanya.
__ADS_1
Di lihatnya Cintya langsung masuk ke dalam nap room. setidaknya Dewa sedikit terbebas dari rengekan tidak jelas penyebabnya itu. tapi bukan ia melupakan tentang rujak. justru itu yang menganggu pikirannya saat ini.
Di ambilnya gagang telpon hendak menelpon bagian pantri sebelum rujak menjadi biang perkara lagi. tapi yang ada ruangan itu terbuka dan menampil kan sosok yang amat sangat Dewa butuhkan saat ini.
Wahai alam, terima kasih sudah menghadirkan manusia tak bermutu tapi sangat berguna ini.
Alex dengan senyum khasnya menyapa.
"Pagi bos, rajin amat jam segini baru datang."
"Kok lo udah balik, jangan-jangan lo gak selsaiin masalah di sana ya?" cercanya tak tahu diri.
Ya, Dewa sedang setres anggap saja seperti itu.
"Idiih, sensi amat bang, lagi dapet ya? apa jangan-jangan lagi gak dapet jatah?"
Percayalah jika saat ini Dewa dingin menyumpal mulut Alex dengan gulungan kertas.
"Sumpek gue, si nyonya gak tau maunya apa, dari semalem bikin repot." Keluhnya dengan membolak-balikkan berkas yang sudah menggunung.
"Tau gue, pake piyama kan dia tadi, sakit apa gimana?"
"Gak tau, badannya sih gak panas, gak ngeluh juga tapi tingkahnya yang aneh."
"Aneh, aneh kenapa?"
"Kalo gue tau juga gue gak ngeluh armando, pasti ini salah elo?"
"Lah kok gue, kan gue baru dateng dari luar kota, suka pitnah lo?"
"Elo kan yang kasih dia obat-obat aneh itu, ngaku lo."
Alex nyengir dengan tampang bodoh. pria itu sudah dapat memprediksi jika Dewa akan marah padanya.
Selepas ia memberikan apa yang si nyonya bos minta, pria itu langsung bertolak ke lombok untuk meninjau proyek yang bermasalah.
Selain untuk melaksanakan tugas, sebenarnya Alex juga menghindari amukan bos sekaligus sahabatnya.
"Dia kan gak mungkin konsumsi itu obat bego."
"Emang!" Jawab Dwwa cuek.
"Lah terus masalah nya apa Dewa?"
Kali ini Alex yang bingung. bisa-bisa nya kepulangannya dari luar kota di sambut dengan masalah gak jelas seperti ini.
Oh, apakah kesal dan geram itu menular? sepertinya iya.
"Dia minta rujak buah campur lontong. sama es rempah super pedas, dan elo harus cari itu secepatnya." Dewa menyeringai penuh ancaman.
Alex menelan salivanya kelat, bukan karena tugas untuk mencari, masalahnya dimana ia akan dapatkan makanan itu.
***
__ADS_1
Kira-kira Alex bisa dapetin rujak gak???
Gimana ya reaksi cintya nanti????