Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Alex oh,,, Alex.


__ADS_3

Happy Reading aja genks...


Jantung Alex masih berdentam bertalu-talu. Pria itu tak pernah merasa kan seperti ini sebelumnya.


Meski ia di hadapkan pada calon investor ataupun rapat penting saat menggantikan Dewa, ia tak pernah sedikitpun gugup seperti ini.


Bahkan saat petualangan penuh dosa ia juga tak merasa dadanya berdebar seperti yang ia rasa kan saat ini.


Oh, Alex sungguh merasakan ini untuk yang pertama kalinya.


Masih membawa debaran jantungnya yang tak berkurang sedikit pun, ia memasuki ruang kerja Dewa. di sana, ia mendapati sang bos sedang pemeriksa berkas-berkas yang masih menumpuk dan di hadapannya Cintya duduk bertopang dagu dengan kedua tangannya.


"Pak Ken." pekik Cinta heboh saking senangnya. Dewa saja sampai berjengkit.


Masih dengan debaran jantung yang sama, dan raut wajah bingung, Alex mendekati meja kerja Dewa dan menyerah kan bungkusan rujak di tangannya.


"Ini pesanan anda nona."


Dengan senang hati serta bibir yang melengkung ke atas Cintya menerima. "terima kasih pak Ken." ujarnya kemudian.


Alex baru benar-benar mengalihkan perhatiannya pada Cintya setelah namanya di sebut dengan nama lain.


"Anda panggil saya apa nona?" Alex bertanya hanya untuk memastikan jika pendengaran nya tak salah.


"Mulai hari ini, nama mu aku ganti Ken, dan aku tak ingin ada bantahan ataupun penolakan."


Alex membulatkan mulutnya tak percaya. begitu pula Dewa yang berusaha mati-matian agar tidak sampai tertawa. jika tidak, akan jadi perkara baru buatnya.


Dan satu lagi yang membuat Dewa hanya mampu menggelengkan kepala. Kemauan dan mood istrinya yang berubah-ubah hanya dalam hitungan jam.


Bayangkan saja, saat pagi gadis itu memakai piyama ke kantor dan sekarang setelah terbangun dari tidur singkatnya ia mengatakan malu dan merengek meminta Dewa untuk membelikan gaun dari butik langganannya.


Apa itu tidak menguji kesadaran namanya.


"Ayo sekarang kamu makan, itu sudah sesuai keinginan kamu kan?"


Ucap Dewa sambil tangannya membuka paper bag dan menguarkan isinya.


Dengan cekatan pria yang sejak subuh di buat susah itu menuangkan isinya pada piring yang telah tersaji. bahkan Cintya sudah mempersiapkan semua sebelum Alex datang membawa pesanannya.


Untung saja Alex berhasil mendapatkannya, meski harus ke luar kota. jika tidak entah apa jadinya pada mereka.


Yang jelas Cintya akan kembali berulah dan Dewa kembali kesusahan dan tentunya Alex tak akan di permudah oleh Dewa.


"Wow, sangat indah." ucap Cintya dengan mata berbinar. bahkan sangat takjub.


Kembali dua pria di samping nya itu melongo takjub pendengar perkataan Cintya.


Sangat indah? bukankah seharusnya kata yang tepat adalah sangat nikmatin atau sangat lezat.

__ADS_1


Sudahlah, Cintya memang aneh bukan?


Dengan antusiasnya Cintya membawa piring serta gelas yang telah terisi itu ke sofa panjang di ruang kerja Dewa.


"Kakak, pak Alex sini." panggilnya yang sontak membuat Dewa dan Alex saling pandang heran.


Meskipun ada banyak pertanyaan dalam hati kedua pria itu, mereka hanya mampu untuk menurut sang manusia aneh itu.


"Duduklah!"


Sampai saat itu pun mereka hanya mampu menurut. duduk dengan tenang. dalam hati mereka sedang sama-sama menerka bahkan menduga apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Ayo cepat di makan, sepertinya enak?" titah sang nyonya yang berhasil membuat kedua pria sableng itu menelan ludah bersama-sama.


"Cinta, tadi kamu yang minta ini sayang, kok jadi kita yang harus makan." protes Dewa yang di setujui Alex dengan anggukan kepala.


Bahkan kejadian di depan mini market saja masih membayang di depan mata, dan kini Alex harus pula terseret dalam drama keluarga penganten baru.


Sungguh sial hari ini untuknya.


Sedangkan Dewa, kepalanya sudah sangat pening akibat kurangnya tidur malam hingga drama pagi yang tak kunjungi usai, dan kini ia harus merasakan lebih tersiksa lagi lantaran harus memakan makanan yang hampir seumur hidupnya tak pernah ia lihat. Apalagi melihat minuman yang Cintya sebut dengan Es rempah super pedas. melihat potongan jahe, sereh serta biji cabai yang melambai, membuat perutnya seketika mulas.


Dewa tak ingin meminumnya, sungguh Dewa takut terjadi apa-apa pada dirinya.


Bahkan dalam pikirannya terbesit prasangka buruk bahwa Cintya sengaja ingin mencelakainya.


Dewa ngeri dan juga ketakutan.


"Gak usah sayang-sayang, kalian cepat makan dan habiskan. Cintya juga makan kok."


Keduanya kembali terperangah karena melihat Cintya yang membuka bungkusan Ice cream dan coklat yang Alex bawa.


"Tadi katanya mau ini." tunjuk Dewa pada piring di hadapannya.


"Tadi Cintya bilang ingin lihat, gak ingin makan. jadi sekarang kalian yang harus memakannya." ringan tanpa beban kalimat itu yang meluncur dari mulut si pembuat ulah.


Oh Tuhan, kenapa Cintya jadi raja tega begini.


Dengan sangat terpaksa Dewa dan Alex memakan rujak aneh itu bergantian dari sendok yang sama. tak ada waktu lagi bagi keduanya untuk merasakan jijik.


Seketika rasa asin, manis dan asem berpadu merusak lidah. apalagi rasa pedas yang mendominasi. dengan cepat Dewa menyambar gelas yang di sebut sebagai es rempah super pedas, sebelum ia menelannya Alex terlebih dahulu menyambar dan ikut memasukkan cairan itu ke dalam mulutnya. menelan bersama-sama.


Sedetik itu pula keduanya melotot bersama-sama dengan mata memerah. dan terbatuk. mereka pikir, rasa aneh di lidah mereka akan menghilang bersamaan dengan meluncurnya air berwarna kuning kecoklatan itu ke dalam tenggorokan. nyatanya mereka salah. justru air itu memperburuk keadaan mereka.


Rasa pedas di mulut yang melewati tenggorokan hingga menjadi rasa yang perih kini membakar lambung keduanya.


Sepertinya setelah ini mereka akan berlomba ke kamar mandi dan beringsut ke rumah sakit karena diare. dan besok beralih ke rumah sakit jiwa karena stres akibat perilaku Cintya.


Keadaan mereka di perburuk oleh rasa kesal karena Cintya dengan tanpa merasa berdosa sedikitpun melahab ice creamnya.

__ADS_1


"Sudah?" tanya sang nyonya tanpa merasa berdosa.


Alex dan Dewa serempak mengangguk.


"Kok gak habis?" tanya-nya lagi sambil menyuap ice creamnya.


"Kita kenyang kan Lex?" Dewa menyikut pelan perut Alex dan di angguki pertanda setuju.


"Oh, baiklah. mau ice cream?" tawarnya dengan manis. Di liriknya ice cream dalam wadah itu hampir habis. Dewa menggeleng dramatis.


Oh, Ya Tuhan ada apa dengan istrinya itu.


"Kak, aku mau ke rumah ibu sekarang."


Eh, apa tadi si ceriwis itu bilang.


Ke rumah ibu?


Setelah drama kesengsaraan yang ia buat.


Cobaan apa lagi ini ya Tuhan.


Dewa mend*sah pelan sambil menurut dadanya. Alex hampir tegelak di sebelahnya.


"Mau kakak antar?"


"Gak perlu, aku di jemput kak Leo. tadi aku sudah mengirimkan pesan. mungkin sekarang sedang di perjalanan."


Cadbury yang Alex bawa sudah tinggal setengah.


Dewa secepatnya harus menggunakan otak cerdasnya untuk berpikir, apa kiranya yang membuat istri mungil nya mendadak cerewet dan menyebalkan di satu waktu.


Belum juga Dewa menemukan jawaban atas pertanyaannya, Pintu terbuka tanpa di ketuk.


Leo masuk dengan membawa aura permusuhan yang kentara.


"Gue tunggu elo di rumah." ujarnya dingin dan langsung membawa Cintya pergi bersamanya.


Eh,,,


***


Leo kenapa???


Apa pula yang di katakana Cintya padanya.


Duh, Dewa di apain ya???


Kenapa pula dengan Alex belum. sempat cerita, Dewa terlalu banyak masalah.

__ADS_1


Kasihan... kasihan.. kasihan...


Next malam...


__ADS_2