
dewa 154
3 part untuk hari ini, emak lagi rajin meski sedang sangat pusing.
Happy Reading...
Tanpa kata, Dewa berlari dari ruangan bersalin. ia membungkuk bertumpu pada lututnya dengan meneteskan air mata.
"Kenapa lo?" tanya Leo.
"Kenapa bos?" tanya Alex yang baru datang.
"Kenapa Dewa?" tabokan ibu berhasil mendarat di punggung Dewa.
"Aku tidak tega, adek tampak kesulitan bu," ujarnya polos.
"Dulu bikinnya gimana?"
"Enak!" Dewa nyengir meski ada sisa air mata di sudut matanya.
"Sialan lo!" Leo dan Alex mengumpat dengan kata yang sama.
"Kakak!"
"Masih ada satu lagi Dewa."
"Ya Cinta.."
"Belun kelar ini, ih!"
"Iya sayang, maaf."
"Ayo bersiap, yang ini tidak akan begitu sulit." instruksi dokter Puspita.
Dewa tidak langsung mengambil posisi seperti semula, karena menurut dokter tidak sesusah yang di awal, jadi Dewa hanya berdiri di samping Cintya sambil memegang tangannya. sambil sekali-ki memberikan kecupan-kecupan kecil di pelipis gadisnya.
"Sayang banget ya pak sama ibu?" dokter puspita sangat terharu melihat antara Dewa dan Cintya yang begitu kompak dalam perjuangannya mengeluarkan bayinya.
"Dia adalah Anugrah sekaligus impian saya dokter, dia adalah poros hidup saya." jawab Dewa yang membuat jiwa para suster meronta-ronta karena baper.
"Bahagia sekali saya melihatnya." dokter itu mengapresiasi ungkapan Dewa. "Ayo bersiap, di hitungan ke tiga.satu.. dua.. tiga.. dorong!"
"Egggh!"
"Oeeeek!"
Cukup dengan satu tarikan nafas panjang dan dorongan sekuat tenaga sesosok bayi perempuan menyambut dunia baru. dunia fana.
Lengkingan tangis yang begitu memekakkan telinga mengantarkan pesan bahwa ia siap melangkah menapaki dunia.
"Perempuan, cantik seperti maminya."
__ADS_1
Senyum kelegaan dan bahagia tersirat di wajah Cintya. tapi ketakutan menjalari hatinya saat ia merasakan pegangan tangan Dewa mengendur lalu terdengar bunyi sesuatu yang berat terjatuh di tempatnya.
"Kak!" panggil Cintya lemah.
***
Dewa menapaki koridor rumah sakit dengan langkah gontai.
Pandangan matanya mengabur karena air mata yang menghalangi penglihatannya tak pernah surut.
Ia tak ingin mempercayai ini. tapi inilah ya g terjadi.harusnya ini hanya mimpi, tapi inilah yang terjadi.
Dua onggok daging bernyawa berada dalam pelukannya. ia sudah siap memasuki dunia baru. dunia yang tak pernah ia kenal sebelumnya. ia harus banyak belajar tentang ini semua.
Cintya, Istrinya, Cintanya, memberikan sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumya. Dewa harus berterima kasih untuk itu. kepada Wanitanya dan kepada ibu yang telah melahirkan wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya.
Jauh di sana, di dalam sebuah kamar mewah bernuansa biru, ada sekelompok orang yang sedang mengelilingi sebuah ranjang rumah sakit dengan berurai air mata.
Dewa tak berani untuk membayangkan yang terjadi di dalam sana.
Cintya sedang memakai baju putih yang sangat indah dengan mahkota bunga di kepalanya. sedang tersenyum yang menampilkan kecantikan abadi.
Air mata Dewa meleleh sempurna. apalagi saat semua orang memandang penuh kasihan ke arahnya.
"Kasihan sekali dia."
Sebuah udara mampir di pendengarannya, membuat Dew semakin pilu.
Semakin dekat langkahnya dari ranjang Cintya, semakin cepat pula degub jantungnya.
Tidak, Dewa harua kuat. Dewa harus segera terbangun. sugestinya memerintah tanpa ingin di bantah.
Air mata yang membuat pandagannya mengabur seolah tak pernah habis membasahi pipinya, hingga_
"Bangun lo!"
Dewa seperti di cambuk di tubuhnya.ia merasakan adanya goncangan yang memaksanya harus melebarkan mata.
"Bangun!"
Dewa membuka mata lebar-lebar hampir melotot.
"Leo!"
Dewa melihat kemurkaan di wajah Leo, membuatnya semakin terpuruk.
"Apa lo melotot sama gue!"
"Cinta,,"
"Apa cinta.. cinta... gak ada Cinta."
__ADS_1
Degh!
Jafi semuanya benar?
Jadi semuanya bukan mimpi?
Tidak! Dewa menggeleng keras, menolak apa yang di katakan Leo padanya. cintanya Masih ada, Leo sedang berbohong. Leo sengan ingin memarahinya. benar bukan?
Dewa menegakkan tubuhnya. lalu mengedarkan pandangan, memindai seluruh ruangan.
Di sana, dia tidak hanya bersama Leo. tetapi seluruh anggota keluarga besar berada di sana memandangnya dengan pandangan aneh dan penuh tuduhan.
"Cemen lo!" suara Leo kembali terdengar. menciptakan gelak tawa membahana di ruangan megah itu.
Kenapa mereka semuanya tertawa kenap semuanya melihat ke arahnya seperti sedang mengejek. bukankah harusnya mereka bersedih melihat keadaannya?
Di lihatnya Cintya yang berada di tempat tidur yang ada di sisi kanannya tengah tersenyum ke arahnya. memakai gaun yang sama.
Apa ini mimpi?
Dewa mengucek kedua matanya lalu menepuk-nepuk mimpinya, menyadarkan dirinya dari mimpi yang membalutnya.
"Udah rampung mimpinya?"
Leo tersenyum memberikan ejekan.
"Lo gak mau gitu ngadzani anak lo?" tanya Leo membuat Dewa membelalakkan matanya lebar-lebar. "Tapi telat sih, gue udah wakilin lo."
"Twins!"
Seolah tersadar dan benar-benar tersadar jika dia hanya mimpi. oh tidak, Dewa pingsan melihat Darah Cintya yang menyembur begitu banyak.
Dewa baru mengingatnya sekarang.
"Cinta.."
Dewa melompat melewati Leo dan Alex yang tengah tertawa geli melihatnya. menghampiri cintya yang juga tertawa geli.
"Syukurlah ini hanya mimpi, kakak sangat takut tadi." Dewa tak henti-henti bersyukur dalam hati. saat ia melihat tubuh Cintya terbujur rasanya ia juga ingin ikut mati bersama Cintya. dan ternyata itu hanya mimpi saat ia sedang pingsan.
"Seorang Dewa Herlambang pingsan karena melihat darah istrinya, sungguh memalukan!" ejek papa Rendra di ikuti tawa semua orang.
"Gue udah video tadi, bisa viral nih berita." ujar Leo
"Pasti mantan lo pada ngekek nih!" ejek Alex.
"Sialan lo!"
***
Yeee twins udah lahir dengan selamat, boleh kali kirim kado.
__ADS_1
ada yang mau sumbang ide buat nama Baby Twins??
Komen yoook, jangan lupa jempolnya.