Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Luka dari ketidak percayaan.


__ADS_3

Happy Reading...


"Apa?"


Dewa menaikkan intonasi suaranya dan mencondongkan tubuhnya pada ibu mertuanya. dan itu berhasil membuat Leo mengulurkan tangannya untuk meraup muka Dewa.


"Gak sopan lo ma orang tua."


Dewa gelagapan "Maaf bu."


"Apa ibu yakin jika Cinta hamil? karena sepertinya bulan ini ia masih mendapatkan tamu bulanannya." keterkejutannya membuat Dewa tak lagi memandang rasa malu meski di sana ada Leo.


"Entahlah, tapi ibu sangat yakin. sebaiknya kau bawa Cintya ke rumah sakit besok."


"Tapi, bagaimana jika Cinta tidak ha_"


Dewa tak melanjutkan ucapannya lantaran Cintya sudah berada di dekat mereka.


"Kakak, dari mana aja sih?" tanya-nya manja.


"Ya sudah, ibu ke kamar. sudah malam sebaliknya kalian menginap di sini saja." Ibu beringsut meninggalkan tiga orang yang masih duduk di sana.


"Hey, baby." Dewa merah tubuh mungil yang sedikit gemuk di bagian panggulnya itu. menjatuhkannya di atas pangkuannya.


Hanya beberapa jam mereka tidak berada dalam satu atap, membuat Dewa sangat merindukan wanitanya.


Dewa memeluk tubuh Cintya semakin erat dan menghirup aromanya.


"Kangen kamu, rindu kamu. cinta kamu." Dewa mengecup kening, hidung, pipi dan terakhir di bibir dan mel*matnya sekilas.


"Naik sono, gerah gue liat kalian." Leo mendengus melihat kelakuan adik dan adik iparnya.


"Dek, sepertinya ada yang iri deh sama kita." Dewa sengaja menekankan kata iri. tersenyum meledek ke arah Leo.


"Biarin aja sih kak, suruh siapa jadi orang apatis. ya gitu deh, nyesel kan?"


Eh, itu tadi cibiran apa sindiran sih.


Leo mendengus semakin kesal. tak ada yang berpihak padanya. bahkan ibu yang sudah mengetahui kebenaran tentang Delon pun berbalik menyalahkannya.


"Dek, kok lo gak ada di pihak kakak sih, penghianat lo, awas aja kalo minta jemput lagi. kakak mah ogah." ucapan Leo yang terdengar kekanakan itu membuat Dewa spontan memutar bola mata.


"Siapa juga yang bakal balikin adek lo, gue kekepin adek lo seumur hidup."


"Idih, ngambek. udah tua juga." cibir Cintya pada Leo.


"Yuk kak, kita ke kamar, tinggalin nih manusia yang gak peka." ujarnya lagi sembari kedua tangannya menggelayut di leher Dewa.


Dengan sigap Dewa mengangkat tubuh yang lebih berbobot dari beberapa bulan yang lalu itu.


"Kok berat sih." keluh Dewa setelah sampai di undakan tengah.


"Ih, enggak ya." sengit Cintya tak terima.


"Bener lo dek kamu gemukan sekarang."


"Ngarang." Cintya cemberut kesal.

__ADS_1


"Beneran, coba kalo gak percaya besok kita ke rumah sakit ya buat Cek berat badan kamu." bujuk Dewa. itu karena ia tahu jika Cintya tak akan mau di ajak ke dokter. dan alasannya cukup tak masuk akal. yaitu ia tak mau di anggap sakit hanya karena masuk ke rumah sakit.


"Ogah, nanti di kiranya aku sakit lagi kalo kesana."


"Gak semua orang yang datang ke rumah sakit itu udah pasti sakit Cinta."


"Pokoknya Ogah!" Dewa tak lagi mendebat, percuma jika ia memaksa Cintya sekarang. yang ada mereka hanya akan terakhir dengan pertengkaran tak berfaedah.


Hingga sampai undakan terakhir, Leo masih pendengar adik dan adik iparnya itu beradu mulut.


Bibirnya tersungging membentuk sebuah tawa geli, melihat tingkah keduanya yang tak pernah jauh dari keributan.


Tak seperti hubungannya dengan Lilian yang masih tertahan di tempat yang sama.


"Aku tak akan melarang mu menemui Delon, tapi untuk memulai hubungan dengan mu lagi, aku masih belum siap."


"Apa kau belum bisa memaafkanku?"


"Aku sudah memaafkanmu. aku hanya minta waktu sebentar saja, tolong mengerti."


Ucapan Lilian seperti lampu merah yang mau tak mau harus ia patuhi. diam tanpa pergerakan namun tetap harus menunggu jika ingin terus melanjutkan.


Dengan langkah terseret beban dalam hatinya, Leo keluar menuju taman samping. di petiknya pemantik api untuk membakar ujung rokok yang terselip di antara jarinya. menghisapnya kuat dan menghembuskan asapnya. seolah melalui kepulan asap yang perlahan membaur dengan udara malam itu, Leo turut pula menghempaskan beban berat dalam hatinya.


Hingga batang rokok yang entah ke berapa leo hisap, Leo masih tertahan di tempatnya. menyelami pikiran yang semakin lama semakin membuatnya terkungkung oleh rasa bersalah.


Merindukan dan mencintai di saat yang sangat terlambat hanya membuatnya semakin merasa terluka.


"Gimana hubungan kalian."


"Cepet juga lo." Leo tersenyum miring.


Dewa terkekeh, ia tahu apa maksud di balik ucapan Leo.


"Adek lo, luar biasa." Dewa tertawa puas. mentertawakan Leo yang memasang muka masam.


"Sialan lo." umpatnya, melayangkan tendangan ringan di kaki Dewa. namun cukup membuat Dewa meringis.


"Sakit bang!"


"Lebih sakit hati gue di tolak untuk yang kesekian kalinya sama adek lo."


Dewa tergelak kencang. tak ada alasan bagi Dewa untuk tidak mentertawakan keadaan Leo saat ini.


Ia mengerti kenapa Leo bisa sampai seputus asa itu. tak ada yang paling mengerti Lilian selain Dewa. di balik sikap lembut yang Lilian tampilkan, ia adalah sosok yang sangat keras kepala.


"Masalahnya cuma satu, Lilian tak mudah memaafkan karena kesalahan ketidak percayaan."


"Ya lo benar, Lilian tak akan mudah memaafkan gue." Leo tertawa sumbang. menunjukkan betapa rapuhnya perasaanya saat ini.


"Gue yakin dia bisa maafin lo. mungkin dia hanya butuh sedikit waktu. lagian juga Delon butuh elo. sebentar lagi gue punya anak. dan gue gak mau sampai Delon merasa tersisihkan. selama ini dia taunya gue bokap nya. tapi setelah dia tahu gue nikah, dia seperti jauhin gue. jadi ini kesempatan buat lo rebut perhatian Delon. Lilian gak akan bisa nolak apapun keinginan Delon."


Leo memandang intens ke arah Dewa. meski Dewa tampak tak begitu peduli pada permasalahannya dengan lilian, namun pendengar ucapan Dewa, Leo bisa tahu bahwa lelaki itu sangat peduli padanya. hanya saja sikapnya yang terkesan cuek, menutup itu semua.


Dewa menepuk dua kali bahu Leo yang terlihat lesu. lalu meninggalkannya.


"Mau kemana lo?"

__ADS_1


"Nerusin yang sempat terjeda." Dewa nyengir.


"Sialan lo!" Leo mengumpat, bisa-bisanya Dewa meledeknya seperti itu.


Dewa kembali ke kamar, di dapatinya istrinya yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Kok bangun lagi, kenapa?"


"Kakak dari mana?"


"Nyari angin sebentar tadi sama abang."


"Oh."


"Udah malem, ayo tidur. sini kakak peluk." Dewa merentangkan sebelah tangannya yang Cintya gunakan sebagai bantal.


Dewa mulai memejamkan matanya bersiap menjemput mimpi, namun pergerakan lembut di dadanya kembali memaksanya membuka mata.


"Kenapa?" tanya-nya sambil berusaha mengusir kantuk yang mulai menyerang.


Gerakan abstrak yang Cintya lukis di atas permukaan kulitnya menjawab pertanyaannya.


Dewa menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum. di labuhkannya satu kecupan di kening Cintya dengan sayang.


"Kok makin doyan sih?" ucapnya nakal di antara ciuman dan gigitan kecil yang ia berikan di leher dan rahang wanitanya.


"Habis, enak!" jawab Cintya nyeleneh. membuat Dewa terkekeh ringan.


Dewa mulai mengabsen setiap jengkal kulit halus itu. aromanya yang memabukkan seolah menjadi candu yang tak dapat Dewa hilangkan dari pikirannya.


Keduanya terbakar dalam ga*rah yang menggelora. atmosfer dalam ruangan berAC itu semakin memanas seiring dengan era*gan dan de*ahan yang keluar dari mulut Cintya. di susul dengan ger*man penuh nikmat oleh Dewa.


Hujaman dan hentakan dengan tempo yang semakin dalam membuat pasangan itu melambung hingga ke puncak nirwana. tak ada yang lebih indah bagi pasangan itu kecuali saat penyatuan penuh cinta yang mereka lakukan dan meleburkan gumpalan ha*rat yang membelenggu. melebur menjadi satu dan menjadikannya satu calon kehidupan baru.


Dan malam itu, mereka habiskan dengan saling memberi dan menerima. Dewa mengakhiri olah raga malam itu satu kecupan di puncak kepala Cintya.


"Terima kasih sayang, kau luar biasa." Dewa menarik selimut untuk menutup tubuh mereka tanpa melepas penyatuannya.


***


Reader: Thor, kok begini amat???


Othor: Sekali-sekali tak apalah bikin yang hot. biar redersnya gak pada kabur.


Reader: kalo masih kabur gimana thor.


Othor: Ya, othornya kabur juga bawa trio sableng.


Reader: kemana???


Othor: kesana, yang warna pink.


Gitu ya?


Ya iyalah...


Jejaaaaak...

__ADS_1


__ADS_2