Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Persiapan persalinan.


__ADS_3

Happy Reading...


Selama tiga puluh menit selanjutnya Cintya tak lagi merasakan sakit. hanya janinnya yang terasa bergerak semakin intens. ia merasa pergerakan yang semakin menurun menuju jalan lahir.


"Kak,"


Dewa dan Leo menoleh bersama.


"Adeknya gerak-gerak terus."


"Iya sebentar sayang," seolah tak peduli, Dewa sebenarnya sedang merasa tidak nyaman di perutnya.wajahnya yang tegang dan pucat di sadari oleh Leo.


"Lo kenapa?"


"Gak tau, tiba-tiba perut gue mules. pinggang gue juga rasanya mau patah."


"Jangan bilang lo juga kontraksi."


"Lu kalo becanda jangan suka asal, lu hina gue." Dewa menunjuk wajah leo yang duduk di sofa tunggal yang ada di hadapannya. sementara tangannya yang lain menekan perutnya sendiri.


"Lagian, drama banget lo pake ikut-ikutan sakit."


"Apaan lo nuduh gue_ssh." Dewa mendesis kesakitan.


"Kalian ributin apa sih?" Lilian pusing sendiri melihat Dewa dan Leo beradu mulut.


"Sableng tuh cari perhatian."


"Gak ada ya, gue beneran sakit." sanggah Dewa tak terima. gak tahu aja Leo kalau yang Dewa rasa kan tak pernah di rasa kan oleh pria mana pun. "Lian, kasih gue obat cepetan."


"Ada nooh obat demamnya Delon, mau?"


"Lo gila?"


"Lagian Wa, Lian itu spesialis anak, lo tuh tua."


"Leo,,"


"Iya sayang, maaf!"


"Apa kalian ributnya masih lama?" Cintya menyela perdebatan tak penting dua orang di depan nya. "ini adeknya, rasanya mau jatoh."


"Apa?" Dewa melupakan rasa sakitnya sendiri dan dengan bodohnya pria Dewasa itu menyibak baju hamil Cintya dan menengok kedalamnya.


"Gak ada dek_ Awww." Dewa meringis. jambakan Cintya di rambutnya mengharuskan nya tersadar kalau apa yang di lakukannya itu sangat konyol.


"Gak gitu juga kakak!"


"Terus maunya apa Cinta, tadi sakit terus gerak-gerak, sekarang mau jatoh. Emang twins lagi apa?"


"Anak lo lagi audisi jadi tarzan." celetuk Leo.

__ADS_1


"Stop!" Lilian berseru. "stop, bosen tau gak denger kalian ribut terus. Dewa,bawa Tya ke rumah sakit sekarang." titah Lilian dengan wajah serius.


"Mau apa?"


"Audisi dansa," ujar Lilian asal. "cepetan sebelum anak lo jatoh beneran."


Seperti tersadar dari lamunan, Dewa langsung berdiri dan menggendong Cintya Bridal Style.


"Tapi aku mau baby moon, gak mau ke rumah sakit."


Dewa bingung antara menuruti Lilian atau Cintya. yang ia lakukan hanya tetap berdiri menatap bingung antara Lilian dan Cintya yang berada dalam gendongannya.


"Cintya sayang, nanti aja ya baby moon-nya, sekarang kamu harus ke rumah sakit dulu." Lilian mendorong pelan punggung Dewa, tak lupa dia juga menarik Leo dan memberikan kunci mobil.


"Leo bawa mobilnya, aku mau nitipin Delon sama papa," Lilian berjalan cepat masuk ke dalam, "biar aku yang jemput ibu." ujarnya lagi setengah berteriak.


Leo berjalan setengah berlari, di ikuti Dewa di belakangnya. wajahnya kembali meringis, terlihat sekali jika saat ini Dewa sedang merasa kesakitan. wajahnya yang berpeluh itu terlihat lelah.


"Kakak kenapa, apa aku berat?" tanya Cintya yang melihat Dewa seperti menahan sesuatu yang sangat berat.


"Nggak sayang, kamu tenang aja." Dewa memaksakan senyumnya. "Cepetan bang, gue udah gak kuat!"


"Yang mau lahiran ini elo. apa Cintya?"


"Bodo lah yang penting berangkat sekarang."


Leo membawa kereta besi itu dengan sedikit kencang, jalanan sore tampak lebih lenggang. sepertinya orang-orang lebih memilih untuk berada di rumahnya dari pada menghabiskan waktu di tengah teriknya matahari sore.


Jarak yang cukup jauh dari rumah sakit menambah penderitaan Dewa oleh rasa sakitnya. apalagi kini Cintya juga nampak gusar dalam pangkuannya.


"Tapi adeknya kayak mau keluar gitu, hiks.." tiba-tiba saja Cintya menangis. membuat Dewa seketika di landa kepanikan.


"Sayang, jangan bikin kakak takut!"


"Kak, aku kok gak ngerasa sakit, tapi aku kayak mau pipis."


"Iya pipis aja, gak pa pa"


"Gak mau!"


"Kenapa? malu?" Cintya mengangguk.


"Daripada gak nyaman pipis aja sayang." Cintya menggeleng kuat menolak perintah Dewa.


"Pipis aja Dek, laki lo kaya mobil ini biar di musium kan." celetuk Leo dari kursi depan. sebenarnya ia juga tegang, tapi untuk mengurai ketegangan ia memilih untuk membuat lelucon.


"Kalian ini apa-apaan sih!"


Setelah melawati jalanan panjang tanpa hambatan, akhirnya mobil mereka sampai di depan rumah sakit. Dewa dengan cepat membawa Cintya dalam gendongannya yang langsung di sambut oleh beberapa suster jaga yang langsung membawa Cintya ke dalam ruang bersalain.


Di sana, telah ada dokter puspita yang siap membatu persalinan Cintya.

__ADS_1


"Selamat sore ibu," sapa Dokter puspita.


"Sore dokter."


"Apa yang ibu rasakan?"


"Tidak ada."


"Sakit, ngilu atau yang lain?"


"Hanya ingin pipis." Jawab Cintya malu-malu. membuat dokter cantik itu tersenyum.


"Kita periksa adeknya dulua ya." dokter puspita memulai poo pemeriksaannya. "semuanya bagus, air ketuban juga bagus, detak jantungnya kuat. meraka aktif sekali. tapi ini bayinya sudah dalam posisi sempurna untuk di lahirkan." jelas dokter puspita lagi. "apa ibu merasakan sakit?" Cintya menggeleng. "sama sekali." Cintya kembali menggeleng.


Dokter puspita menghembuskan napas, "bapak bisa ikut saya?" ajak dokter Puspita pada Dewa yang berdiri mematung di samping brankar dengan wajah pucat dan keringat yang hampir menetes.


"Tentu dokter."


"Kakak," cegah Cintya tak ingin di tinggal.


"Sebentar saja sayang."


Dewa melepaskan pegangan Cintya dengan sedikit memaksa. lalu ia mengikuti langkah sang dokter setelah melabuhkan ciuman di kening Cintya.


Dewa dan dokter masih berada dalam ruang bersalin agak jauh dari Cintya. tampaknya mereka terlibat pembicaraan sangat serius. Dewa meremas rambutnya berkali-kali. terlihat seperti orang frustasi.


"Bagaimana pak?" Dewa tampak berpikir keras.


"Tapi istri saya sangat takut dengan hal-hal seperti itu." ujar Dewa lemah.


"Kondisi ibu Cintya sangat tidak baik, wanita yang sedang mengalami kontraksi seharusnya merasakan tapi jika ibu tidak merasakan apapun, dan untuk menghindari masalah yang semakin serius saya sarankan untuk mengambil tindakan SC." jelas dokter puspita.


"Apa tidak ada jalan lain selain SC dokter, istri saya pasti menolaknya."


"Bapak coba bicarakan dengan ibu, beri ibu pengertian secara halus. mungkin keinginan untuk melihat bayinya akan menghilangkan ketakutannya."


"Baik, akan saya coba."


Setelah berbicara dengan dokter, dewa kembali ke sisi brankar Cintya. Dewa ragu untuk mengatakan maksudnya, tapi ia tetap harus mengatakannya. penjelasan dokter cukup membuatnya khawatir.


"Dokter bilang apa kak?"


"Tidak ada." Dewa menelisiknwajah Cintya yang tampak tenang. ada sedikit keberanian untuk menyampaikan tentang tindakan SC yang harus di lakukan untuk mengeluarkan bayi mereka. "tadi cuma nany, apa sama sekali tidak terasa sakit?" Cintya menggeleng "sama sekali?"


"Ada apa sih kak, belibet deh."


"Sayang, kata dokter kamu harus SC."


"Apa? operasi?" Dewa mengangguk ragu.


"No way!"

__ADS_1


***


Lanjoot...


__ADS_2