
Happy Reading...
"Eh, ngapain lo pagi-pagi udah di sini? ini Cintya kenapa nih? lo ap_," Dewa memutar bola mata malas. penyambutan yang sungguh tidak sopan dari Leo. bahkan ia masih berada di ujung tangga. dengan Cintya berada dalam gendongannya.
"Udah?" tanya Leo penuh selidik yang di angguki oleh Dewa. "terus ini kenapa?" Leo menelisik penampilan Dewa yang masih memakai kemeja kemarin dan Jas yang tersampir di bahu Cintya.
"Ngambek."
"Itu lo kenapa jadi Wiro sableng?" Leo menunjuk perban yang melingkari kepala Dewa dengan raut penasaran "lu di hajar sama dia?" tunjuknya pada Cintya.
"Elu pagi-pagi udah ngoceh, udah kayak satpam komplek lo!" balas Dewa, kaki panjangnya melangkah melewati Leo yang mengejarnya menaiki anak tangga menuju kamar Cintya.
"Lo belom jawab pertanyaan gue, kalian kenapa?" tak urung juga Leo membantu Dewa membuka pintu kamar Cintya.
Dewa meletakkan tubuh Cintya di atas ranjang dengan sangat hati-hati. lalu menyingkirkan anak rambut yang jatuh menutupi wajah Cintya.
Tak menghiraukan Leo yang berdiri di ujung ranjang, Dewa masih menekuni membelai wajah Cintya dengan punggung jemarinya dan melabuhkan satu ciuman panjang di keningnya. "Sleep well baby," lalu menarik selimuti hingga dada Cintya.
"Bilang, kalian kenapa? ini bukan pakaian lo kemarin kan?" Leo memindai Dewa dari atas sampai bawah, memastikan yang di lihatnya adalah benar.
Memang Dewa masih menggunakan pakaian yang di pakainya kemarin, saat Dewa menyambangi Leo ke kantornya.
Menghela nafas pendek yang di paksakan, lantas Dewa keluar dari kamar Cintya dengan Leo yang masih setia mengikutinya.
"Lo udah cerita sama ibu?" Leo mengangguk. "sekarang di mana ibu, gue mau minta maaf. gue gak tau nasib gue setelah ini." hembusan nafas lelah kembali terdengar. Dewa bukan hanya takut pada kemurkaan Cintya, tapi ia juga takut pada kekecewaan ibu mertuanya.
Dewa merasa sangat pengecut, karena takut kemarahan dan kebencian Cintya padanya, ia justru menunda-nunda pengakuannya mengenai masalah itu.
__ADS_1
Yah, Dewa telah menemui Leo terlebih dahulu di kantornya, sepulangnya dari urusan pekerjaan Dewa telah mengakui semuanya. dan beruntunglah Leo tidak murka terhadapnya karena Dewa pernah mengatakan masalah huru hara itu pada Leo dulu, sewaktu mereka masih berteman di sekolah. namun ketidak tahuan Dewa tentang ayah Adit yang adalah korbannya membuat Dewa tergodok oleh rasa bersalah yang mendalam. meski sedikit sambutan Leo berikan di wajahnya, setidaknya bogem mentah yang jadi santapan makan siang Dewa hari itu membuat perasaannya lebih baik.
"Ibu di kamar, beliau sedih dan yah_ You know lah, pasti ibu kecewa. masuk, temui ibu dan minta maaf." Leo berkata bijak, jika saja Pria itu tidak tahu tentang alasan Dewa berbuat itu di masa lalu, pastilah saat ini Dewa tak akan berdiri dengan tubuh utuh tanpa luka.
"Thanks, lo udah mau ngerti." Dewa memeluk Leo secara pria." gue temui ibu dulu." ujarnya, lalu pergi meninggalkan Leo yang masih berada di depan kamar Cintya menuju kamar ibu mertuanya.
Dengan langkah yang terseret dan beban dalam hatinya yang lebih berat dari langkahnya, Dewa mengetuk pintu kamar ibu mertuanya, wanita yang diam-diam di kaguminya yang adalah wanita spesial di hati Rendra, ayahnya.
Mengingat itu, Dewa semakin ingin memberikan kebahagiaan lebih pada Cintya. betapa berharga dua wanita itu dan Dewa bersumpah untuk selalu menjaga dan memastikan keadaan mereka selalu baik.
Tok..tok..tok..
"Assalamu'alaikum?" Dewa melangkah masuk setelah yakin telinganya mendengar seruan dari dalam yang menyuruhnya masuk.
Dalam kamar itu, ia melihat seorang wanita paruh baya yang duduk di tepian ranjang dengan wajah sembab.
"Ibu," Dewa melangkah mendekat ke arah tempat Diana duduk. nafas Dewa tercekat di antara rongga dadanya. ia sungguh tak ingin melihat pemandangan ini. terlihat kekecewaan di wajah tua ibu mertuanya.
"Ibu, maafkan Dewa bu," Dewa bersimpuh di hadapan Diana dan memberanikan diri menggenggam tangan tangan tua yang bertaut itu. setitik air mata jatuh di atas genggaman tangannya. Dewa merasa semakin hancur.
Dewa merasa buruk karena secara tidak langsung telah melukai hati wanita itu, dirinya dan Mamanya. apapun akan Dewa lakukan untuk menebus kesalahan yang di perbuatnya dan tentu saja Dewa merasa berkewajiban untuk meminta maaf atas nama Graciella.
Diana mengangkat wajahnya, menatap Dewa dengan pandangan sulit di artikan, namun sorot mata wanita itu membuat Dewa semakin sesak. kediaman Diana lebih menakutkan dari pada sikap galak yang sering ia lihat. enam bulan menjadi menantu di kediaman Mahendra cukup bagi Dewa untuk menyelami sifat-sifat anggota keluarganya.
"Bagaimana jika ibu tak memberimu maaf." ujarnya dengan pandangan kosong. bahkan Diana tak melihat Dewa saat mengatakannya.
"Saya akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan saya, tolong ampuni saya bu." Dewa menghiba wajahnya ia seru kan di atas tangannya yang masih menggenggam tangan Diana.
__ADS_1
"Maafkan saya bu, ampuni kesalahan saya, saya tak sengaja melakukannya." Dewa tergugu dengan tangisannya. bahkan ketegasan dan wibawanya sebagai seorang direktur tak ada lagi saat ini.
Persetan dengan harga diri dan kekayaan, saat ini Dewa hanya ingin meminta maaf dan mohon pengampunan.
"Kau yakin dengan ucapanmu?"
"Saya akan lakukan apapun yang ibu minta meski itu dengan seluruh isi dunia."
"Kalau begitu tinggal kan Cintya, pergi dari hidupnya dan menjauhlah dari kami."
Seketika itu Dewa merasa dunianya begitu hancur, langit seolah jatuh di atas kepalanya. bagaimana mungkin Diana memintanya meninggal kan Cintya. meninggal kan dunianya. dan Dewa dengan sangat yakin lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dari pada berpisah dengan Cintya. cintya adalah dunia nya, poros hidupnya. nafas hidupnya.
"Kalau begitu ibu juga bisa membantu saya. anggap itu permintaan terakhir saya." pinta Dewa dengan keyakinan penuh. ia bahkan dengan berani membalas tatapan mata Diana yang menajam.
"Apa mau kamu."
"Berikan saya racun untuk mempercepat kematian saya, setidaknya saya tidak kesakitan karena jauh dari cinta."
***
Gimana...gimana...
Dewa mati nih???
Bu, jangan jahat dong,,,
Si sableng setres itu.
__ADS_1
Leo, makasih bang bogem mentahnya bikin semangat.
Jejaknya pemirsah.....