
Happy Reading...
Setelah sampai di tempat yang di maksud ibu-ibu itu dan memarkirkan mobilnya sembarangan Dewa berlari ke titik tempat terjadinya kecelakaan.
Jantungnya berdegub kencang seiring dengan langkah yang ia ambil. Dewa sedikit berlari saat melihat lelehan darah di atas jalanan dan bangkai motor yang sangat ia kenal. yang adalah miliknya.
"Pak, korban kecelakaan di bawa kemana?" tak mengingat permisi atau kesopanan, pertanyaan Dewa keluar begitu saja.
"Ke Rumah sakit Bayangkari sepertinya mas." Jawab seorang bapak-bapak.
Kembali tanpa permisi Dewa berlarian, hatinya resah dan juga takut. tapi ia meyakinkan diri dan meyakini bahwa tak akan terjadi sesuatu pada istrinya. yah, Dewa yakin sekali. hatinya tak akan membohonginya.
"Cinta, jangan seperti ini." lirihnya frustasi.
Jika terjadi sesuatu pada istri dan anaknya, ia akan bersumpah tak ingin hidup lagi. lebih baik ia mati. setitik air mata jatuh dari sudut matanya. pria itu menangis terpanggang oleh kekhawatirannya sendiri.
Dewa masuk ke dalam mobil dan mengendarai lebih cepat dari yang biasa ia lakukan. untuk bisa masuk kembali ke jalan raya, ia harus memutari taman kota. taman yang lumayan luas dan di kelilingi oleh pedagang makanan dan lainnya. kerumunan orang-orang di sana sini untuk berolah raga. dan tak sedikit juga yang berpasangan maupun yang membawa anak-anak mereka. dan karena banyaknya pejalan kaki yang berlalu lalanglah akhirnya ia tak bisa egois, tetap menjadi pengendara yang bijak menjalankan mobilnya dengan pelan.
Di tengah rasa kesal karena kemacetan jalan dan gelisah di hatinya, pandangan Dewa tertumbuk pada sosok yang duduk sedang menikmati ice cream di tangannya.
Harusnya Dewa senang karena melihat istrinya baik-baik saja dan tengah menikmati ice cream di pagi hari. tapi nyatanya air matanya semakin deras mengalir tanpa di minta. kekhawatirannya tidak terjadi.
Menyeka air matanya perlahan, lantas Dewa tersenyum di tempatnya. memperhatikan istrinya yang sedang anteng menikmati ice cream.
Dewa lantas keluar dari mobil, berjalan perlahan mendekati Cintya. degup jantungnya yang semula karena ketakutan kini berganti dengan debaran yang membahagiakan.
Ah, istrinya itu benar-benar.
"Sudah puas makannya gadis nakal?" Ujarnya gemas sambil mencubit pipi Chuby Cintya.
"Kakak ih, sakit!!" Cintya menepuk tangan Dewa pelan.
"Kenapa pergi sendiri, hem?"
"Nunggu orang tidur kelamaan." sambil terus memasukkan suapan ke mulutnya.
"Enak banget sih sepertinya?" tidak mencerca dengan pertanyaan atau kalimat penghakiman, Dewa berjongkok di hadapan istrinya. cukup baginya dengan melihat Cintya baik-baik saja.
Betapa inginnya ia meraung-raung menangis dan memeluk erat istrinya yang sudah berhasil membuatnya hampir mati karena khawatir. yang Dewa lakukan adalah tersenyum menikmati senyum ceria istrinya.
__ADS_1
"Kakak mau?" di abaikannya rasa mual yang biasa ia alami, Dewa menerima suapan dari tangan Cintya.
"Enak?" Dewa mengangguk tersenyum.
"Manis, seperti kamu." melihat lelehan ice cream yang belepotan di bibir Cintya, Dewa mengusapnya dengan ibu jarinya dan menjilatinya.
"Jorok ih."
"Cuma ice cream, kakak bahkan pernah menelan lelehan kamu." ujarnya nyeleneh sambil terkekeh ringan.
Cintya mengatupkan rahang dengan sendok yang masih menempel di ujung bibirnya, melirik janan kiri kalau-kalau ada yang mendengar ucapan vulgar suaminya.
"Dasar tua bangka mesum!"
Dewa tergelak lalu meringis karena Cinta menabok lengannya dengan keras.
Betapa pintarnya Dewa merubah suasana hatinya. bahkan beberapa saat lalu ia masih menangis dan kini tiba-tiba ia berujar mesum.
"Pulang atau masih mau main?" tanya Dewa saat Cintya menyuap ice cream terakhirnya.
"Pulang saja, Kakiku capek dari tadi jalan."
Jangan-jangan istrinya telah menjadi hantu. ya Tuhan, Dewa nendadsk merinding. jiwa sinetron titisan sang nyonya kembali muncul.
Di liriknya ke arah bawah, kaki Cintya ngasih memakai sepatu olah raganya dengan posisi menggantung. belum bisa di pastikan apakah kaki itu menginjak tanah apa tidak.
Lalu Dewa mendongak, melihat arah matahari. posisi mereka tidak terhalang apapun. sinar matahari menyiram tubuh mereka tanpa penghalang. Bukankah seharusnya hantu maupun setan takut dengan panasnya matahari. dan tubuh Cintya juga tidak meleleh. jiwa sinetron Dewa meronta-ronta.
Di pegang nya tangan Cintya perlahan, rasanya hangat dan nyaman.. jika yang di depan nya ini bukan manusia, bukankah Dewa tak akan mampu menggapainya.
"Lu istri gue bukan sih?" mendadak ngeri Dewa berjingkit sedikit menjauh dari tempatnya berjongkok. Dewa tampah bodoh.
Cintya melongo takjub, kurang ajar sekali pria di hadapannya ini.tadi saja bicara mesum sekarang tidak mengakui. benar-bear cari perkara.ngajak berantem apa minta di sunat.
"Jadi mentang-mentang aku sudah gendut, kakak gak ngakuin aku lagi. awas kamu Dewa Herlambang!" Cintya sontak berdiri berkacak pinggang. menyorot Dewa dengan tatapan membunuh. bibirnya mengerucut dan pipinya mengembung.
Tak perlu di ragukan lagi, jika wanita galak itu adalah istrinya. mana ada wanita yang berani membentak dan berteriak di hadapan seorang Dewa kecuali Cintya.
Dewa mengikuti berdiri, mendekat dan langsung memeluk sebelum arwah singa galak merasuki istrinya.
__ADS_1
"Syukurlah kamu tidak apa-apa." ujarnya lega. membuat Cintya semakin di landa kebingungan.
"Apa sih, emang aku kenapa?"
"Tak apa, ayo kita pulang. sudah mulai panas. kamu harus di hukum karena ngilang pagi-pagi."
"Kak, tunggu." Cintya menghentikan langkah Dewa yang mulai terayun.
Dewa menoleh dan melihat ke arah tangannya yang terasa di remat oleh Cintya."ada apa?"
Cintya terlihat bingung. satu tangannya masih bertaut dan tangan lainnya menggaruk lehernya.
"Kenapa?"
"I_itu, motor kakak hilang." jawabnya gugup lalu nyengir.
"Kok bisa," Sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Dewa masih bertanya untuk mendengar cerita yan sesungguhnya.
"Tadi aku tinggal jalan-jalan sebentar, waktu aku balik, motornya sudah hilang. aku gak tau siapa yang bawa."
"Sudah, tak apa yang penting kamu sama twins baik-baik saha." Dewa lebih memilih untuk memeluk tubuh istrinya daripada membahas masalah motor yang hilang. apalagi motornya mengalami kecelakaan yang cukup parah. mengingat itu, Dewa sangat bersyukur. karena bukan Cintya yang mengalami.
"Tapi ada kertas yang di tindih botol minuman di tempat motornya dan kata-katanya juga aneh." Cintya memberikan potongan kertas kecil.
Dewa menerimanya lalu membuka dan membacanya.
'Jawaban atas pertanyaanmu ada pada suamimu.'
Sangat ambigu dan membingungkan. Dewa bergeming tak menampakkan keterkejutan di wajahnya. ia lantas tersenyum dan merangkul bahu Cintya untuk pergi dari sana.
"Jangan di pikirkan, orang itu pasti hanya menginginkan motornya saja." ujar Dewa menenangkan demi utuk tak membuat Cintya penasaran.
Berbeda dengan mulutnya yang menganggap tak penting surat itu, justru Dewa bertanya-tanya siapa sebenarnya yang mencuri motor itu.
***
Lex, siap-siap dapat bonus akhir tahun. pak bos punya kerjaan baru buat kamu.
Like coment ad voteeee..
__ADS_1