
Setelah acara akad nikah selesai, Gita dan juga Reza, meminta restu kepada kedua orang tua mereka.
Gita menangis di pelukan sang Mama, suasana haru dan bahagia bercampur aduk.
" Selamat sayang, atas pernikahan kalian, semoga rumah tangga kalian selalu di berkahi, jadi lah istri yang patuh kepada suami mu, sakinah, mawaddah, warohmah, lah hidup kalian, apapun yang terjadi, apapun yang kamu lakukan minta izin lah kepada suami mu, surga kamu sekarang ada pada dia, kejar lah sayang." ucap Mama sonia yang masih memeluk sang putri semata wayang nya.
" Selamat nak, berbahagia lah, Papa bangga sama kamu, kamu akan selalu menjadi putri kecil Papa, Putri kebanggaan Papa, jadi lah istri yang baik, istri yang menghargai suami, layani suami mu dengan baik ya nak, Papa akan selalu berdoa untuk kebaikan Putri Papa."
" Selamat ya dek atas pernikahan kalian, maaf kan Abang yang menjerumus kan kamu ke dalam pernikahan ini, semoga kalian berbahagia selalu, dan jangan lupa jika suatu hari nanti kamu menemui kesulitan jangan pernah menyerah, hadapilah, jika kamu sudah tidak sanggup lagi datang lah kepada Abang."
tangis Gita semakin pecah ketika berada di dekapan sang Abang.
Setelah acara haru biru selesai mereka melanjutkan mengabadikan moment sakral tersebut, Gita mengikuti berbagai macam gaya yang di arah kan oleh sang fotografer, meski rasa gugup nya tidak bisa dia kontrol saat berdekatan dengan Reza, menatap mata Reza dengan posisi lebih dekat membuat pipi Gita semakin merah merona.
" Yang mesra dong Gita foto nya, di peluk atau di cium itu mas bojo loe,masa tegang amat itu muka." ujar Lusi dari arah depan.
Mendengar kan omongan Lusi pipi Gita semakin panas,dengan malu- malu dia pun mengikuti saran dari Lusi si drama queen.
" Gita kita foto bareng ya."ujar Lusi yang sudah berdiri di dekat Gita.
" Aww sakit tau Lus, jangan kuat- kuat pegang tangan gue, loe mau foto atau menganiaya orang sih."
" Hehehehe sorry Gita sayang, gue agak gugup berada di dekat suami loe." ujar Lusi sambil nyengir.
Hana, Kiki dan sang fotografer tertawa ngakak melihat tingkah Lusi yang hampir mencelakai pengantin wanita.
" Gugup apaan! Ngga jelas banget deh loe, foto nya jangan sampai loe upload dulu ya, paham kan, gue makan loe kalau sampai ke sebar." ucap Gita dengan tatapan tajam nya.
" Mulai deh sadis nya keluar lagi." ujar Hana.
" Malu tuh di liat suami loe, jangan galak- galak jadi orang , kasian suami loe yang tampan itu, kalau Loe ngga mau gue siap menunggu duda nya mas reza." sambung Lusi dengan wajah genit nya.
Gita membulat kan mata nya mendengarkan apa yang Lusi ucapkan.
" Dasar cabe- cabean." ucap Gita sambil menoyor kepala Lusi.
Reza yang melihat Gita sedang berdebat dengan teman- teman nya hanya tersenyum tipis.
" Istri gue galak juga, bisa- bisa nya gue nikah sama anak SMA begini." gumam Reza dalam hati dengan senyum yang tidak pernah pudar.
__ADS_1
" Han coba deh loe liat lebih dekat ke suami nya Gita, kayak artis- artis Korea, senyuman nya itu ,meleleh aku makkkk." ucap Lusi lagi dengan penuh drama.
" Stttt pelan- pelan, ntar nyonya Gita nya dengar, bisa perang dunia ke 7 lagi." ucap Hana dengan volume suara yang lebih pelan.yang di sambut acungan jempol dari Lusi.
Tidak terasa memori ponsel Lusi sudah terisi penuh oleh foto pernikahan Gita dengan berbagai pose dan tempat.
Setelah semua acara selesai satu persatu kerabat yang datang pamit untuk pulang, begitu juga dengan ketiga teman Gita, kini yang tinggal hanya lah keluarga inti saja.
" Reza seperti yang sudah kita sepakati kemarin, kamu dan juga Gita akan tinggal di rumah ini dulu untuk beberapa waktu, jika kamu lulus dari uji coba ini,kalian boleh tinggal di rumah kalian sendiri." ucap pak Herman dengan wajah serius nya.
" Baik lah Om."
" Reza kenapa kamu masih panggil Om nak! panggil Papa saja ya, sekarang kamu juga anak kami." ujar Mama Sonia.
" Iya ta- eh Ma- ma." jawab Reza dengan terbata- bata karena belum terbiasa.
" Baik lah Herman, seperti nya kami harus pamit pulang,pengantin nya kayak nya sudah lelah dan capek, hari juga sudah semakin larut, jika dia masih berulah, telepon aku langsung Man, aku sendiri yang akan mematah kan tangan nya." ucap Pak Anton dengan jari nya yang menunjuk ke arah Reza.
" Papa." tegur Ibu Meri dengan memukul lengan sang suami.
" Tega sekali Papa, apa segitu benci nya Papa kepada gue? Serasa anak tiri saja gue di keluarga ini." gerutu Reza dalam hati nya.
Mobil Pak Anton perlahan meninggal kan halaman rumah Gita.
" Awas, jangan macam- macam loe." gertak Rega kepada pria yang sudah sah menjadi adik ipar nya, sambil berjalan naik menuju kamar nya.
" Rega..." tegur Mama Sonia, namun Rega sudah terlanjur jauh di lantai atas.
" Jangan kamu dengerin omongan Rega ya nak." ujar Mama Sonia lembut.
Hati Mama Sonia memang sangat lembut,sikap nya sama persis dengan apa yang Gita punya,kedua wanita yang paling berharga di keluarga Husein itu memang terkenal dermawan dan tidak pernah mau menindas orang lain.seberapa besar pun masalah yang telah di perbuat oleh Reza , Mama Sonia dengan lapang hati menerima Reza sebagai menantu nya.
" Iya Ma, Reza ngga papa kok."
" Sayang! sana bawa suami kamu ke kamar, kalian pasti capek, istirahat lah."
" Ke kamar Gita Ma? Tapi..."Gita masih belum percaya jika dia sudah menikah dan menyandang gelar istri.
" Sayang sini dengerin Mama dulu, kamu sudah menikah, jadi wajar saja jika kalian tidur satu kamar, suami istri itu tidur nya harus bareng- bareng, kamu tidak ingin berdosa kan sayang, layani suami mu dengan baik, apapun yang suami mu minta maka patuhi lah, di sana lah ladang pahala bagi kamu. jangan pernah kamu membantah ucapan suami! kamu paham kan sayang."
__ADS_1
" Iya Ma." ucap Gita patuh.
" Nanti kamu akan terbiasa nak, pelan- pelan belajar lah." ujar pak Herman memberi semangat kepada putri nya.
" Iya Pa."
Pak Herman dan Mama Sonia tersenyum dengan mengangguk kan kepala,mereka yakin Gita pasti bisa melewati garis hidup yang sudah di tentukan oleh yang di atas.
Sementara Reza masih sibuk dengan telepon genggam nya, entah siapa yang menelepon dia malam- malam begini.
" Udah kan ayok, gue tunjuk kan kamar nya." ujar Gita yang melihat Reza sudah menyimpan handphone nya ke dalam saku celana yang dia pakai.
" Gita! Ubah panggilan kamu, jangan loe gue- loe gue terus, Reza suami kamu! bukan teman nongkrong kamu, panggil suami mu dengan sopan, Papa ngga mau dengar lagi kata- kata
loe gue."
" Iya Pa, maaf." ucap Gita sambil menunduk.
" Kenapa banyak sekali larangan di dalam rumah tangga, mulut ini pakai acara salah ngomong lagi." gerutu Gita dalam hati nya dengan memukul pelan mulut nya.
Perlahan Gita dan Reza menaiki tangga menuju kamar Gita, tidak ada yang memulai obrolan, masing- masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri- sendiri.
" Aduh gue grogi banget lagi ,ini tangan gemetaran terus, baru kali ini ada cowok yang masuk ke kamar gue selain Abang Rega, mana harus satu ranjang lagi, kalau gue nolak, gue bakal berdosa, Mama sama Papa juga bisa marah, ya tuhan bisa ngga sih waktu nya di putar balik lagi." Gita bergumam dalam hati nya.
" Gita, pintu nya boleh di buka sekarang ngga? Aku lagi kebelet nih!" seru Reza, karena sudah 5 menit mereka berdiri di depan pintu kamar,tetapi Gita masih saja belum menekan gagang pintu nya.
" Ah oh i- ya boleh, masuk aja." ucap Gita sambil membuka pintu.
Rega yang sejak tadi mengintip dari pintu kamar nya pun tertawa terbahak- bahak, melihat lucu nya tingkah pengantin baru itu.
Jangan lupa Like.Vote dan Berikan Hadiah sebanyak mungkin ya guys...
Tinggalkan jejak sayang nya di kolom Komentar ya guys..
Dan jangan lupa pencet tombol Favorit nya..
Terimakasih semua nya...
Salam sayang untuk kita semua nya..🥰😍🥰😍
__ADS_1