
Nikmat nya rasa bercinta dengan orang yang kita cintai apalagi sudah sah di mata agama dan juga negara memang tiada dua nya, untuk menyudahi nya pun sangat susah jika bukan karena kasihan melihat istri kecil nya yang sudah sangat kelelahan Reza tidak akan mungkin menghentikan permainan panas nya, rasa nikmat nya sungguh berbeda dengan wanita bayaran yang selama ini sudah dia tiduri.
Apalagi dia adalah orang pertama yang telah merenggut kesucian istri nya ,walau harus dengan cara terpaksa.
Bias bahagia menyelimuti hati Reza , kehadiran Gita memang membawa dampak positif bagi Reza, dia yang dulu terkenal sebagai seorang cassanova berubah drastis menjadi suami yang setia dan sangat menyayangi istri nya, dulu dia bukan lah orang yang rajin beribadah, semenjak menikah dia sama sekali tidak pernah meninggalkan sholat nya, malu rasa nya jika dia lihat oleh istrinya, dan juga mertuanya, meski Gita tidak pernah memaksa dan menuntut dia,ini semua kesadaran dari diri nya sendiri.
Di sekolah
" Gita!" seru Bima dan Aris bersamaan dari belakang Gita.
Deg.. Deg
" Tanda merah!"
Tidak sengaja Bima melihat ada tanda merah yang masih segar tercetak jelas di leher Gita bagian belakang.
" Apa ini semua ada hubungan nya dengan orang yang menelpon Gita waktu itu, tidak mungkin jika Gita sudah menikah, sementara dia masih tetap sekolah seperti ini, apa ini semua ulah cowok nya ya! Setahu gue Gita anak baik- baik,lantas siapa yang sudah membuat tanda merah di leher Gita."
Pandangan Bima terus saja tertuju pada stempel cinta milik Gita, otak nya bekerja keras menyambung kan peristiwa demi peristiwa yang tertangkap oleh mata nya, seberapa keras pun dia berusaha namun tetap saja buntu.
" Apa gue harus tanya sama Selo aja ya, atau sama teman- teman nya?"
" Akhh sial kenapa gue se kepo ini sama hidup Gita, kalau pun ini ulah Selo, gue ngga yakin deh, Selo selama ini kan selalu cerita bagaimana perjuangan dia mendekati Gita ,mereka bahkan belum ada kata jadian.huftttt."
" Rumit banget sih hidup gue, cewek aja belum dapat- dapat, ini malah sibuk mikirin hidup orang lain, tapi mau bagaimana lagi, gue sungguh masih penasaran."
Sejak tadi Bima tidak terlalu fokus menyimak pembicaraan Gita dan juga Aris.dia justru tertarik melihat stempel cinta milik Gita.
" Kenapa Bima terus saja menatap ke arah gue!" ucap Gita dalam hati nya sambil membenar kan rambut dan kerah seragam sekolah nya,sejak tadi Gita sudah menyadari jika pandangan Bima terus saja tertuju pada diri nya.
" Apa ada yang salah dari penampilan gue, perasaan gue ngga terlalu dandan deh. kenapa dia terus saja menatap gue seperti itu." ucap Gita sambil melihat ke seluruh seragam yang dia pakai.
" Hai semua." sapa Lusi kepada ketiga sahabat nya.
" Hai juga ayang beb Lusi." sahut Aris dengan bersemangat.
__ADS_1
" Muka loe ngapain sih girang banget." tanya Lusi dengan judes ,sambil menyenggol tangan Aris dengan siku nya.
" Gimana gue ngga girang kalau pagi- pagi udah dapat senyuman manis dan salam semangat dari ayang beb Lusi yang tiada dua nya." jawab Aris dengan tenang tanpa ada beban sedikit pun.
" Gaje banget sih loe jadi orang." seru Lusi yang merasa kesal mendengar ucapan Aris.
Saat mereka tengah berjalan menuju ke kelas. Tiba - tiba saja.
Ting Tong.....Ting tong... bel pertanda masuk telah berbunyi, membuat mereka mempercepat langkah kaki mereka berempat.
Kelas ujian mereka yang berbeda membuat mereka harus memisah kan diri.
" Selamat pagi anak-anak." sapa Pak Aldo ketika memasuki ruang kelas.
" Selamat pagi Pak." jawab siswa dengan serentak.
" Apa kalian sudah siap untuk ujian try out hari ini."
" Siap Pak." jawab siswa dengan serentak.
Ujian try out hari kedua pun di mulai, seperti biasa ,semua murid mengikuti nya dengan sangat serius.
" Loe kenapa sih Lus teriak- teriak ngga jelas gitu, jarak loe sama Gita kan ngga terlalu jauh, sakit nih kuping gue dengar suara cempreng loe itu." sahut Kiki yang kesal melihat Lusi yang memulai drama nya.
Huuuuuhuuuuu...
Sorak teman- teman yang ada di dalam kelas yang merasa terganggu dengan ulah Lusi.
" Lus, loe kalau mau teriak, noh di hutan belakang sekolah aja, di sana banyak teman - teman loe yang udah pada nungguin kedatangan loe, buruan gih pindah habitat." ujar sang ketua kelas yang bernama Paul.
Hahahaha ...
Hahahaha ...
Semua siswa tertawa mendengar ucapan nyeleneh dari sang ketua kelas, tanpa terkecuali,Gita ,Hana dan juga Kiki malah ikut tertawa ngakak.
__ADS_1
" Ngga ada yang lucu kali, udah ngga usah pada ketawa." bentak Lusi yang merasa terzolimi oleh rekan kelas nya.
Wajah kaget Lusi berubah menjadi wajah kesal,siapa sih yang ngga merasa kesal jika jadi bahan tertawaan satu kelas.
" Sok cool banget sih loe, kayak loe ngga pernah teriak aja." jawab Lusi lagi yang merasa tidak terima di tegur oleh sang ketua kelas.
" Lusi! Udah deh, duduk loe." titah Kiki pada Lusi dengan menarik paksa tangan Lusi.
" Iya.. Iya." jawab Lusi pasrah.
" Loe mau ngapain sih?" tanya Kiki yang masih penasaran dengan ulah sahabat gesrek nya.
" Ini itu gas tu the wat. alias gawat, paham loe." jawab Lusi sambil berdiri lagi dari kursi nya, lalu berjalan terburu- buru menghampiri Gita.
" Awww, kursi sialan." keluh Lusi yang merasa sakit saat kaki nya harus terbentur ke ujung meja.
" Hahahaha maka nya jalan itu pakai mata. pelan- pelan bisa kan, loe emang nya mau ngejar apaan sih! Heboh banget." Kiki sejujur nya sudah tidak heran lagi melihat tingkah sang drama queen, segala sesuatu nya selalu di isi dengan serial drama nya, begitu lah Lusi Eka Sari,
" Loe ceroboh banget sih jadi orang, kayak anak kecil yang baru bisa jalan aja deh loe." sahut Hana lagi.
" Udah kalian berdua diam aja deh, ada yang lebih penting dari omelan ngga berguna kalian itu " ujar Lusi yang sudah berdiri tegak di samping Gita.
" Loe mau ngapain?" tanya Gita yang merasa heran melihat Lusi yang celingukan, sebenar nya apa yang sedang dia cari.
" Ini loh Git, rambut loe mending ngga usah loe ikat gini, loe lepasin aja ikatan rambut loe , nah kayak gini kan stempel cinta loe ngga akan di liat sama orang lain." ucap Lusi dengan volume suara yang pelan,tapi masih bisa di dengar oleh mereka berempat, Lusi sebenar nya tadi tidak sengaja melihat ada tanda merah di leher gita , setelah dia perhatikan dengan tatapan mata fokus nya , ternyata itu bukti keganasan suami Gita.
" Stempel cinta?" tanya Gita yang masih bingung dengan omongan Lusi.
" Iya..Ada tanda merah di leher loe." ucap Lusi yang memperjelas omongan nya, masih dengan suara pelan nya, saat ini dia sudah sadar bahwa ada banyak siswa yang berada di kelas saat ini.
Jangan lupa Like.vote dan Berikan hadiah sebanyak mungkin ya guys...
Tinggalkan jejak sayang nya di kolom Komentar...
Dan jangan lupa pencet tombol Favorit nya..
__ADS_1
Terimakasih semua nya..
Salam sayang untuk kita semua nya..🥰😍🥰😍🥰