Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 10. Bukan untuk Dirinya


__ADS_3

Ponsel Glo berbunyi, pertama kali Tenry menelpon lagi setelah di J waktu itu, Glo tersenyum senang...


📱


"Iya sayang... udah di mana?"


"Depan kamu, mobil hitam, cepat naik..."


Glo memberengut walau ancamannya berhasil, tapi badan udah lemes nahan lapar. Tadi udah tergoda mau makan di sebuah cafe di dalam bandara, tapi dia menahan, ingin menunjukkan pada Tenry betapa menderitanya dia, terus nada suara Tenry kok beda kayak kesel gitu, udah hafal kan dia gimana Tenry yang manis dan romantis.


"Ten... koperku..."


Dengan suara manjanya Glo menyerahkan kopernya pada Tenry yang akhirnya turun karena beberapa detik berlalu Glo hanya mengetuk kaca depan dan tidak kunjung masuk mobil. Tenry mengambil koper dan memasukkan ke bagasi mobil.


"Ten..."


Glo bergelayut manja di lengan kiri Tenry setelah duduk di samping Tenry. Tenry menghindar tak kentara.


"Bentar Glo..."


Tenry berusaha fokus dengan setirnya, dan mulai memacu sedan hitamnya.


"Ten... aku kangen banget tau gak... kamu jahat gak mau jawab telpon sama chat aku..."


"Aku sibuk. Pasang seatbeltnya..."


Glo mau menangis, cara Tenry bicara beda banget, gak ada sayang-sayangnya. Bukan seperti ini yang dia harapkan saat dia nekad putuskan datang ke kota ini walau maminya tidak mengijinkan. Mereka tidak tinggal di kota ini lagi tepat setelah Glo lulus SMA. Papanya GM sebuah bank swasta dan sekarang kembali bertugas di ibukota.


"Ten..."


Glo kembali meraih lengan kiri Tenry.


"Jangan gangguin Glo, entar kita kecelakaan gimana?"


Tenry mencoba mengontrol suaranya, juga mengontrol hatinya. Tangan Glo masih di lengannya.


"Ten... Aku udah lemes loh, belum makan siang..."


"Iya... kita mampir makan nanti... Nih... makan ini dulu buat ganjel..."


Tenry menyodorkan tas kertas berisi satu buah burger. Suara Tenry mulai normal, ada rasa kasihan juga, terlebih pegangan Glo di lengannya terasa dingin.


"Sayang, aku gak makan yang kayak gini, kan... masa lupa sih..."


Tenry menatap Glo dengan gusar, udah lapar dan lemes masih milih makanan. Entah kenapa sekarang dia malas meladeni semua hal tentang Glo, padahal di pertemuan terakhir dia masih biasa aja menghadapi Glo, bahkan saat Glo minta dia ikut warnain rambut, walau terpaksa tapi gak ada rasa marah atau kesal. Meskipun tak seantusias dulu tapi waktu itu dia masih bersikap sebagai pacar yang perhatian.


"Ten, kamu kenapa sih? Aku baru nyampe loh... kamu udah kayak gitu sama aku..."


Suara lemah Glo mengusik hati Tenry. Tenry membuang gusarnya dengan sebuah hembusan napas. Jadi kepikiran Glo ke sini mau gak mau dia harus bertanggung jawab, mami dan papi Glo tahunya Glo ke kota ini pasti karena dirinya. Tenry membelokkan mobilnya ke sebuah mall yang dekat dengan bandara, ada resto Jepang di sini, Glo suka makanan Jepang.


"Ayo turun... makan dulu..."


Tenry berkata ringkas lalu segera turun. Saat masuk ke area mall, Tenry meraih tangan Glo karena gadis itu terlihat lemah. Walau bagaimanapun gadis ini pernah sangat dia sayang. Tenry sendiri heran, ke mana perginya keinginan untuk memperlakukan Glo dengan baik dan manis, heran kenapa dalam dua minggu rasa dengan cepat berubah, atau sudah sejak lama tapi karena jarang bertemu hingga tak menyadari hal itu.

__ADS_1


Glo senyum meski masih ada rasa dongkol dengan sikap Tenry sebelumnya. Genggaman tangan Tenry begitu disukainya, dan saat berjalan Tenry tak pernah terburu-buru, selalu menyesuaikan dengan irama langkahnya yang lamban karena heels di kakinya.


"Sayang... kita makan di mana..."


"Ada resto favorit kamu di lantai tiga, masih kuat jalan?"


"Pegangin terus..."


Glo tak melewatkan kesempatan, saat melihat pandangan khawatir Tenry. Kini Tenry masuk lift, dan memposisikan dirinya di belakang Glo, memindahkan genggaman tangannya di kedua pundak Glo. Gadis itu kemudian sengaja bersandar di dada Tenry. Tenry jadi manis lagi untuk Glo, perhatian Tenry membuat semua jengkelnya raib.


"Dingin Ten..."


Bisik Glo, mereka masih di dalam lift, ada orang lain juga bersama mereka.


"Kamu sih, pakai baju minim banget..."


Bisik Tenry yang kembali gusar sembari melepas kemejanya dan memakaikan ke tubuh Glo. Untungnya hari ini Tenry mengenakan atasan dua, ada kaos pas badan warna putih di balik kemeja hitamnya. Sementara Glo dengan celana pendek putih hampir mendekati pangkal paha, ditambah blus kaos hitam ketat tanpa lengan, tampilan berani yang rupanya jadi gaya berbusana Glo sekarang. Saat melihat pertama kali terlihat lucu, dan se xy tentu saja, jiwa lelakinya tak memungkiri itu. Tapi setelah beberapa hari keluar bareng Tenry mulai risih, terlebih saat mata banyak pria selalu singgah di bagian tubuh tertentu, itu mengganggu Tenry, tapi entah kenapa waktu itu tak ada niatan untuk protes.


"Bau keringat Ten..."


"Jangan dilepas, kedinginan entar sakit kamu, aku yang repot."


Tenry kembali berbisik sambil mencoba terus bersabar, kenapa sekarang dia gampang marah dengan sikap Glo?


¤¤¤


Hanie sedang mengawasi sebuah aktivitas di luar toko, tambahan ruangan di sisi kiri toko sudah selesai, dan itu dikhususkan untuk menyimpan besi berbagai ukuran. yang tadinya hanya diletakkan di halaman toko. Para karyawan laki-laki sedang memindahkan semua besi itu. Silvie menggantikan tugasnya sebentar, sementara Holly sedang duduk santai di tempat biasa dia nge-pos saat tidak ada pembeli. Hari ini memang pengunjung tak seramai biasanya, terlebih ini sudah menjelang sore, umumnya pembeli datang di pagi atau siang hari.


Holly merasa haus, dia kemudian pergi ke ruangan belakang, hanya dia karyawan (masih calon) yang bisa masuk dengan bebas dan bisa mengambil minuman dari lemari pendingin di sana.


"Duduk, Glo..."


Mempersilahkan wanita cantik itu duduk di sofa hitam yang ada di ruangan ini.


Glo... Glo, mmm pacarnya Ko Tenry...


Holly jadi minder melihat wanita di depannya, gak ada apa-apanya dia jika harus membandingkan dirinya. Kenapa juga pakai membandingkan segala, Ko Tenry baik padanya bukan karena sesuatu yang lain kan, tapi kenapa hatinya sakit dengan kenyataan bahwa pacar Tenry seperti seorang putri?Holly mengambil minum dan berniat keluar dari ruangan itu.


"Udah makan Glo... aku pesankan makanan, mau?"


"Gak usah Han, aku gak bisa sembarangan makannya..."


"Oh gitu... ya udah minum aja... Ling, ambilin minum buat Glo... mau minum apa Glo?"


"Gak... aku gak minum yang seperti itu..."


Glo berkata setelah melihat isi show case tempat di mana Holly sedang menunggu mengambilkan sesuatu untuk Glo.


"Air mineral aja?"


"Itu juga gak, aku punya air mineral sendiri bukan yang itu, aku bawa kok..."


Glo mengeluarkan dari tasnya sebuah botol kemasan yang bentuknya lain, bukan yang biasa Holly lihat di toko-toko. Botolnya aja udah cantik dan unik, pasti harganya bukan hanya dua ribu empat ratus rupiah. Holly memandang heran, jadi cantik ternyata serba repot ya, apa-apa gak boleh. Air mineral aja harus pilihan kayaknya, padahal air mineral yang itu dibilangnya air yang terjaga kemurniannya kaya mineral yang dibutuhkan tubuh, bahkan sampai diambil ke pengunungan mana...

__ADS_1


Holly segera berlalu, terlebih setelah melihat pandangan tak suka dari Glo, dia tahu dia tak diinginkan ada di ruangan ini.


"Aku nyari Tenry, dia gak di sini ya?"


"Gak. Minggu ini sekali doang dia mampir ke sini. Tenry gak tahu kamu datang?"


"Ada kok, dia yang jemput aku kemaren... tapi hari ini gak ada kabarnya, telpon aku gak dia jawab..."


"Tenry lagi sibuk sih... mau buka toko baru sebentar lagi..."


"Sesibuk-sibuknya dia, masa dia lupa aku dateng ke sini..."


"Bukan lupa kali, Glo... memang lagi sibuk aja..."


"Emang dia berubah kok... dua minggu ini... aku bingung aja... Waktu dia di Aussie kayaknya gak sesulit ini deh menghubungi dia..."


"Dia beneran sibuk sih kalau aku lihat, dia pulang ke sini udah disambut pekerjaan yang banyak. Sepertinya beberapa usaha mereka udah diserahkan ke Tenry... terus yaa kamu tahu sendiri Ci Cun kayak gimana orangnya, kalau kerja ya kerja, gak ada santainya..."


Hanie mencoba memberi penjelasan walau hatinya tahu bahwa tidak persis seperti itu kenyataannya. Tenry minggu kemaren sering ke sini, dan sering dia lihat membiarkan panggilan Glo.


"Han... jujur sama aku, Tenry punya pacar lain ya?"


"Kenapa nanya kayak gitu? Udah gak percaya Tenry kamu, Glo?"


Hanie menyembunyikan resah di hati, pacar sih belum punya, tapi dia mulai menunjukkan perhatian pada gadis lain, dan itu adiknya.


"Iya... abisnya, dia berubah... Kita ketemu kemaren aja, kayak gak suka aku datang ke sini..."


Glo mengatakan dengan pelan tapi seperti sebuah tusukan untuk Hanie. Glo baik padanya dulu, gak pilih-pilih atau gak remehin dia meski tahu keadaan Hanie, entah dia tulus atau karena dia tahu Tenry begitu akrab dengannya, gak ada yang tahu hati seseorang. Tapi dia prihatin jika beneran Tenry berubah pada Glo, sayang banget hubungan sekian lama berakhir begitu saja.


"Jawab Han... Tenry punya pacar kan?"


"Glo... itu aku gak tahu... tapi dua minggu di sini masa secepat itu dia punya pacar baru, lagian setahu aku dia gak punya waktu untuk itu, dan apa sih yang gak diomongin Tenry ke aku, kalau tertarik pada seseorang pasti dia ngasih tahu aku..."


"Terus kenapa dong dia seperti itu ke aku?"


"Aku gak bisa jawab itu, Glo... itu hal pribadi di antara kalian berdua... tanya aja sendiri Glo..."


"Gimana caranya, aku udah ke rumah mereka, tapi ternyata udah pindah ke mana, aku gak tahu... cuma toko ini aja yang aku hafal jalannya karena deket rumah aku yang dulu."


"Iya... mereka udah lama pindah, agak susah jelasin alamatnya sih..."


"Kamu telpon dong, suruh Tenry ke sini..."


"Dia gak akan jawab juga Glo... bukan cuma kamu aja yang gak dia jawab telponnya..."


Hanie coba mengelak, dia sungkan mencampuri urusan Tenry, dan dia tak ingin menyulitkan posisi temannya, lagipula dia bakal kena labrak Tenry. Di satu sisi pengen menolong Glo juga, dilema.


"Kayaknya percuma aja aku ke sini, dia tetap gak nanggepin aku..."


Glo mulai terisak, Hanie tambah risau dan semakin merasa bersalah, karena bisa sebenarnya menyuruh Tenry ke sini. Jika feelingnya benar bahwa Tenry mulai suka adiknya, Tenry tentu gak ingin Holly melihat Glo bersama Tenry, walau dia pesimis bahwa Holly belum tahu siapa Glo, mereka berdua pernah menyinggung soal Glo di depan Holly.


"Ko Han... Ling..."

__ADS_1


Tenry masuk di ruangan itu dan tak melanjutkan kalimatnya karena keburu mengenali Glo, bahkan mendengar tangisan Glo. Hanie segera berdiri dan beranjak meninggalkan ruangan itu. Isyarat matanya menunjukkan bahwa Tenry harus menangani pacarnya sendiri. Tenry gak bisa menghindari Glo, jujur dia ke sini karen pengen ketemu Holly, sementara Holly langsung bersembunyi saat melihat mobil Tenry masuk ke halaman tadi. Banyak tempat yang bisa menyembunyikan tubuh kecilnya di toko bangunan ini, banyak tumpukan bahan bangunan dan banyak bahan bangunan bervolume besar, dia bisa mengamati Tenry tanpa terlihat. Dia ingin bertemu Koko baik hati itu, tapi dia menahan dengan keras keinginan itu. Koko bukan untuk dirinya, terlalu besar jika punya mimpi itu, dan dia tak punya apapun untuk mengubah impian itu menjadi realita.


__ADS_2