
Hampir dua jam Holly menunggu di kios milik Sonny, akhirnya orang yang ditunggu melintas pelan dan memarkir motor tak jauh dari kios itu. Dina istri Sonny yang lebih dulu melihat.
"Holly motormu datang..."
Holly bergerak cepat dan mengejar seorang bapak yang dia tahu bernama Utu.
"Om Utu... om..."
Pria gendut itu berbalik dan hanya menatap dengan tatapan tidak ramah.
"Om... saya mau mengambil motor saya..."
"Motor itu? Motornya papamu?"
"Motor saya om..."
"Gak bisa... saya sewa tiga hari, masih sehari lagi saya pake..."
Si om Utu berbalik pergi. Holly berlari kecil karena langkahnya pendek sementara pria yang dikejarnya panjang dan cepat. Mereka masuk sebuah gang sempit sekarang.
"Om... saya kembalikan uang sewanya..."
"Dua ratus lima puluh ribu..."
"Kan tinggal sehari lagi..."
"Iya tapi nyusahin saya harus cari motor lagi, kalau gak mau besok malam baru ambil motornya..."
"Iya, iya om... ini uangnya..."
Pria itu berhenti dan segera mengulurkan tangannya meminta uang. Holly mengambil uang dari saku jeansnya lalu menyodorkan senilai yang diminta tapi sempat melirik menyesal saat uang itu berpindah tangan dan berganti dengan kunci motornya.
Tadi dia berjanji membelikan fried chicken untuk lima ponakan yang merengek, dan terpaksa harus menunda itu dulu, motornya kembali itu lebih penting dan pulang secepatnya sebelum papanya melihat motornya dan meminjam lagi.
.
Holly membawa tubuh kecilnya ke sofa hitam kesayangan, baru sampai di toko. Papa mulai mengusik hidup tenangnya. Motor miliknya awalnya hanya meminjam sehari, berlanjut mulai sering dua tiga hari, dan kejadian kemudian seminggu gak dikembalikan, ternyata motornya disewakan.
"Lain kali jangan dipinjamkan lagi motornya..."
Suara Hanie langsung terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang muncul dari tangga. Hanie baru pulang pasti melihat motornya diparkiran.
"Kan papa yang minjam, masa tega..."
"Kamu gak tahu papa? Lama-lama barang pinjaman gak dikembaliin..."
"Papa tadi bilang kamu anak durhaka, bukannya papa yang dibeliin motor malah aku katanya..."
"Selamanya kalau kita gak penuhin keinginannya pasti dicap durhaka..."
Hanie duduk dengan tubuh capenya di kursi makan.
"Mau dibuatin teh panas?"
"Iya..."
Holly membuatkan teh manis panas untuk Hanie, untuk dirinya sendiri dia membuat coklat hangat meminum sampai setengah bagian lalu kembali ke sofa lagi, duduk sambil mengangkat kedua kakinya.
"Kasih ke papa aja motornya, Han? Papa dapet duit dari sewain motor..."
"Gak..."
"Tapi kasihan juga gak ada penghasilan..."
"Papa aja yang malas, Ling..."
"Udah tua katanya, jadi bas itu kerjaannya berat..."
__ADS_1
"Alasan! Dari dulu papa banyak dalih soal kerja, mama kita yang kasihan tidurnya hanya berapa jam sehari... makanya meskipun mama kasar aku ngerti. Dulu mama gak gitu kok, aku masih punya ingatan masa kecil soal mama yang sayang sama anaknya... mungkin karena papa yang kayak gitu makanya mama berubah..."
Hanie anak ketiga dalam keluarga, bisa mengingat lebih banyak kenangan. Holly jadi paham sekarang kenapa Hanie setiap gajian selalu menyisihkan uang buat sang mama, dan jadi mengerti juga dari mana warisan gen malas tiga kakaknya.
Mungkin juga mama sayang padanya, tetapi karena beratnya tanggung jawab yang harus dipikul, harus bergumul dengan kejaran kewajiban, memenuhi tuntutan dan kesulitan keuangan bertahun-tahun hanya sendiri, merubah karakter mama yang sesungguhnya dan mengerus rasa sayang seorang ibu.
Airmata menitik di pipinya menyadari telah menyimpan rasa marah untuk sang mama di sudut hatinya. Tak pernah dia tunjukkan dan selalu mencoba menerima sebagai anak, tapi kejadian di acara lamaran sempat membuat dia bertekad setelah nikah gak akan peduli lagi pada mama.
Hal yang paling diingat tentang mama adalah sekalipun dengan nada kasar dia akan telaten mengajari sesuatu sampai Holly bisa, gak akan meninggalkan dia mengerjakan sendiri selalu mengingatkan stepnya sampai dia paham dan lincah. Holly sadar sekarang dia bisa mengerjakan semua urusan ibu rumah tangga dengan bersih dan rapih karena mamanya juga, ada untungnya sebenarnya menjadi seperti upik abu di rumah sendiri, gak canggung nantinya setelah menikah.
"Han... besok bisa anterin aku gak... mau beliin mama mesin obras, mesin obras mama udah gak bisa diperbaiki lagi... harus pakai mobil pick up..."
Holly mengeringkan airmatanya. Jadi niat memberikan barang yang paling mama butuhkan sekarang.
"Emang punya uang? Kan mahal..."
"Punya... kan aku kerja 9 bulan dapet gaji gak aku pake..."
"Lihat nanti ya... kamu tahu aku sibuk banget Ling... harus bolak balik ruko Cici Bey sekarang..."
"Ruko belum selesai direhab?"
"Iya... akhirnya satu deret itu direhab semua, enam unit bukan hanya satu aja... ruko lama jadi mulai dari ubin semuanya diganti baru..."
"Mau dijual sama Cici Bey?"
"Gak, mau disewain aja, tapi aku dapet satu sih..."
"Jadi milik kamu? Serius? Cici ngasih gitu aja?"
"Gak... Tenry harus bayar nyicil berapa kali..."
"Kakak-adik gak ada ngasih gitu aja ya, harus beli juga..."
"Uang gak ada istilah kakak-adik, Ling..."
"Ini ratusan juta, Ling..."
"Oh my God... uang Koko banyak amat?"
"Hehe... Mungkin gak bayar penuh sih, lucu-lucuan mereka aja kayaknya... paling Tenry bayar setengah aja, atau cuma DP doang... duit kayak bolak-balik ke mereka aja..."
Holly terpekur sesaat...
"Han... kenapa Koko beliin kamu ruko, padahal yang minta rumah si papa..."
"Oh itu... Tenry ngomong ke Ci Cun aku mau nikah terus udah janji mau ngasih rumah buat hadiah pernikahan. Tenry mau beliin rumah dua kamar buatku... tapi Ci Cun ngasih tawaran lebih baik pilih salah satu ruko Ci Cun aja biar bisa bermanfaat buat istriku buka usaha nanti, nah Cici tahu hal itu juga... Cici nawarin rukonya, sekalian rehab tapi aku harus awasin rehabnya..."
"Wahh... kalau banyak duit tinggal milih... tunjuk yang mana, hehehe... enak kayaknya nanti aku jadi orang kaya..."
"Yang mau jadi istri orang kaya... baru nyadar ya kamu?"
"Hehehe... sejak pindah sama kamu di sini terus pacaran sama Koko aku dibilang orang kaya sama temen-temen... hehehe padahal numpang hidup aja..."
"Entar beneran jadi orang kaya kamu... hati-hati aja banyak semut yang ngerubutin..."
"Semut?"
"Iya... nanti setelah nikah kamu jadi manis Ling... hehehe..."
"Manis?"
"Iya, orang-orang suka makan yang manis-manis kan..."
"Emang aku es cream, permen, brownies? Masa dimakan? Apanya yang manis?"
"Lingling dari dulu emang manis..."
__ADS_1
Tenry muncul di tangga...
"Nah... ini salah satu semut yang suka jilatin yang manis-manis..."
Holly menatap Hanie gak mengerti. Hanie segera menghabiskan teh manisnya lalu masuk kamar, dirinya yang bau asem udah gak cocok dengan atmosfir yang dibawa oleh calon suami adiknya.
"Koko... itu maksud Hanie apa?"
"Bentar..."
Si Koko yang udah terpancing dengan kata manis tadi langsung melancarkan serangan manis di beberapa bagian wajah calon istri, dan terakhir menyesap manisnya bibir mungil itu.
"Baru minum coklat atau makan coklat?"
"Eh? Itu..."
Holly yang terbius sesaat hanya menunjuk gelas berisi coklat yang tersisa setengah. Si Koko menikmati lagi, sensasi rasa semakin mengundang dan memikat hati.
"Mmm... manis... Lingling memang manis..."
Lagi... bibir seolah menikmati satu gelas besar penuh kopi instant manis kesukaannya yang gurih karena creamer dua sendok, zat adiktif yang bekerja di neuron otaknya membuat dirinya gak memberi jedah untuk Holly.
"Koko... ihhh..."
Tapi Holly belum bisa menyingkirkan rasa ingin tahu, gagal fokus pada tawaran membaur rindu hingga mendorong dada Tenry dan menjauh tapi hanya bisa sejengkal karena tubuhnya langsung dilingkari dua tangan sang kekasih.
"Baby... bentar lagi dong, belum puas..."
"Jelasin dulu..."
"Apanya?"
"Itu tadi... Hanie bilang setelah nikah Lingling dikerubutin karena berubah jadi manis... terus Koko cium bilang aku manis... bingung kan?"
"Itu aja gak ngerti? Lingling gak bodoh kan, masa gak bisa mikir..."
"Ihh masa Lingling bodoh..."
"Coba, Koko pengen denger Lingling jelasin..."
Sesaat kemudian Holly tertawa kecil.
"Apa ayo?"
"Hehe... Itu manis yang berbeda..."
"Tahu dong berarti..."
"Iya... tapi mesti mencerna dulu..."
"Iya... istri Koko harus pintar dong..."
"Belum istri Ko... sebulan lagi..."
"Iya... nanti kalau udah jadi istri, kamu pasti lebih manis lagiii... sini..."
Aktivitas yang sempat tertunda langsung disegerakan...
"Manis... Lingling memang selalu manis..."
.
Ya... hari ini yang biasa aja ya guys, dengan sedikit hiasan manis...
.
🦋
__ADS_1
.