
Tujuan cinta seorang Tenry adalah memiliki Holly dan berkomitmen hidup bersama sepanjang sisa hidupnya... bertemu tujuan sederhana Holly, dia merasakan hidup yang bahagia bersama Tenry dan jatuh cinta, di ingin tetap menjaga cinta dan bahagianya agar tidak pergi dari hidupnya.
Tujuan yang lebih besar yang melampaui tujuan diri sendiri, menjadi tujuan bersama untuk setia pada pernikahan dan cinta mereka... dijabarkan dalam beberapa bagian acara di resepsi ini, mulai dari simbol ritual makan kue penganten, wedding kiss yang membius semua orang, meneguk wine dengan tangan bersilang, dan berakhir dengan nasihat pernikahan dari dua wakil keluarga.
Acara yang paling melelahkan adalah menerima ungkapan selamat dan berselfie dengan para undangan yang naik ke panggung tempat mereka berdiri.
"Kak Keke... makasih udah dateng... Yica, Via... aduh Nioool, kakak kangen loh..."
Holly segera mengangkat tubuh anak asuhnya dulu, hampir terjatuh karena berat tubuh Niol dan juga heels di kakinya. Secepatnya Junior dia turunkan lagi sambil tertawa. Dia kemudian memeluk dua anak itu satu-satu... Via yang sudah jauh lebih tinggi darinya juga dia peluk erat.
"Kakak sombong... gak main ke rumah lagi..."
"Hehehe... nanti kakak main ya..."
Holly mencubit pipi Lisya yang cemberut padanya. Junior bersikap malu-malu langsung merapat lagi pada maminya.
"Babynya mana kak? Gak diajak?"
"Di rumah... dijagain opa oma..."
"Oh... opa oma gak dateng ya..."
"Iya Holly, mereka nitip salam aja, maklum opa kondisinya gak boleh cape sekarang, jadi udah terbatas aktivitasnya..."
"Oh... iya... Holly nitip salam juga ya... semoga opa sehat-sehat terus..."
"Adiknya Niol cowok apa cewek?"
"Adek Niol cewek, Niol ndak ada temennya..."
Niol menjawab malu-malu pertanyaan Holly yang menunduk menyamakan tinggi dengannya.
"Temen Niol papi dong..."
Lisya menjawab adiknya.
"Kita selfie dulu yaa... banyak yang antri..."
Keke memutus obrolan setelah melirik antrian yang panjang di belakang.
"Ko... mau foto bareng Kak Keke..."
Holly mengamit tangan suaminya. Tenry dan Benaya yang sedang ngobrol langsung bergabung, Via mengambil foto selfie beberapa kali."
"Kak Keke jangan turun dulu..."
Holly meminta salah satu fotografer yang mengabadikan setiap moment di sepanjang acara untuk mengambil foto dengan keluarga Benaya.
"Tau gak Holly, salah satu pemilik perusahaan tempat om Ben kerja itu papanya suamimu..."
"Oh? Wahh... pantesan tadi om ngobrol lama sama Ko Siong..."
"Udah papa mertua kali, gak sopan manggil nama lagi..."
"Hehehe... masih sulit ngucapinnya Kak Keke..."
"Mmm aku pengen foto sama anak-anak, Kak Keke boleh tolong foto?"
Holly meminta ponsel suaminya lalu menyerahkan pada Keke.
"Ayo, gak boleh lama loh, antriannya udah panjang..."
"Iya... iya... ayo Niol..."
Foto lagi dan foto lagi, mereka begitu dekat di hati Holly meskipun hanya beberapa bulan bersama, sebuah keluarga lain untuk dirinya, yang mengajarkan kehangatan meskipun tanpa ikatan darah.
"Nah... udah... ayo anak-anak, kita beri kesempatan yang lain untuk jabat tangan... Holly selamat berbahagia ya..."
Keke mengamit lengan Via kemudian memberi kode pada suaminya yang selalu melirik istrinya meskipun terlibat percakapan dengan Tenry.
__ADS_1
"Jangan lupa main ke rumah ya kakak..."
"Iya... nanti kakak ke rumah kalian, pengen lihat babynya juga..."
Lisya pamit lalu turun sambil memegang tangan Junior. Benaya sekarang memberi selamat pada Holly, lalu keluarga itu turun.
Banyak undangan terhormat yang menghadiri acara ini termasuk keluarga gubernur kemudian keluarga walikota. Saat dua orang nomor satu di daerah ini yang ternyata kakak beradik akan memberi selamat, sejenak area disterilkan alias tamu-tamu yang lain diminta menunda sejenak keinginan untuk memberi ucapan, hingga kedua keluarga pejabat itu masing-masing bisa mendapatkan waktu yang leluasa untuk itu.
"Ibu kaget anak ibu ada di sini jadi salah satu teman yang mendampingi penganten prianya... temannya Tenry rupanya ya?"
Ibu walikota yang sangat cantik sekarang sedang bersalaman dengan Tenry, bapak walikota masih mengobrol sejenak dengan Ko Siong.
"Oh iya... jadi teman saya juga, bu... tapi sebenarnya teman kuliah istri saya..."
"Ohh begitu ya... kalian tetap solid ya... kalian harus tetap berteman baik meskipun udah menikah... masih lanjut kuliah kan?"
Tidak menyebut nama, tapi tatapan ibu cantik dengan make up tanpa cela dan tatanan rambut tinggi ini mengarah pada Holly.
"Iiiya bu... masih..."
Holly menjawab grogi.
Sang ibu kemudian memanggil assistennya, membisikkan sesuatu lalu berpindah menyalami Holly plus cipika-cipiki, menyalami mama dan opanya Holly lalu kembali ke depan Tenry dan Holly.
"Bentar ya... anak ibu hanya Brill, lagi dicariin biar kita foto bersama..."
Tenry tersenyum saja menanggapi permintaan ibu pejabat yang satu ini. Tadi juga ibu gubernur minta berfoto dengan mengajak anak-anaknya, minus Bierna yang katanya udah ke luar negeri lagi.
Brill datang, Holly salah tingkah memandang Tenry yang sedang senyum tipis menyambut Brill. Bu walikota mengajak suaminya dan memberi kode pada fotografer yang stand by di depan. Dalam beberapa kali pengambilan gambar dengan arahan si fotografer akhirnya acara foto dengan keluarga pejabat selesai.
Brill turun lebih dulu tanpa ngomong apapun, Holly hanya memandang sepintas tapi penasaran kenapa Brill mengambil sikap seperti ini, datang ke pernikahannya bersikap seolah teman dekat mereka tapi sejak tadi saat sesi foto dengan bridesmaid dan bridesgroom gak terlihat senyumnya.
Kenapa juga maksain diri sok gentlemen Brill? (Otor nanya serius Brill, apa yang ada dalam hatimu, gimana tanggapan kamu soal pernikahan Holly sebenarnya? 🥲😶)
Kenapa memaksa datang sih...
Holly menyimpan tanya dalam hati.
.
.
"Cape sayang?"
Tenry berjongkok di depan istrinya. Para orang tua sudah turun dari panggung.
"Iya... memakai heels menyakitkan... gak menerima kekurangan dan berusaha menyangkali tinggi badan ternyata melelahkan sekali..."
"Hahaha... Koko gak minta loh Lingling harus sempurna malam ini... udah ditawarin kan pakai alas kotak yang sana... gak mau..."
"Malu ahh... lebih kelihatan kali Lingling tuh pendek kalau berdiri di situ, takut juga nyangkut di gaun... jadi insiden malu-maluin kan..."
Holly membuka sepatunya dibantu Tenry yang melanjutkan dengan memijit betis Holly.
"Nanti aja Ko... malu masih banyak orang loh di bawah sana..."
"Kenapa harus malu, kita udah sah melakukan apapun bahkan depan orang-orang..."
Tenry tersenyum menggoda.
"Ihh Koko... kelihatan tuh mukanya udah pengen banget malam pertama hehehe..."
Tenry menangkup kedua sisi pipi istrinya...
"Emang kamu tahu malam pertama itu... kita mau ngapain?"
Rasa penasarannya sejak tadi tercetus kemudian. Muka Holly memerah, dia coba melepaskan kedua tangan Tenry.
Apa sih nanya-nanya di sini...
__ADS_1
Holly sekarang salah tingkah untuk sesuatu yang berbeda, terlebih seorang fotografer masih mengabadikan moment mereka berdua, Holly menangkap dari tadi ada salah seorang fotografer yang hanya khusus mengambil gambar mereka berdua aja.
"Baby... jawab..."
Tenry masih menahan tangannya di tempat semula, menatap semakin dalam dengan keinginan yang semakin menguat di pikirannya.
"Baby..."
Kepala Tenry mendekat berniat mengambil ciuman. Dua tangan Holly segera menahan dada suami.
"Iya... tau..."
"Mau ngapain?"
"Ihh masa nanya lagi sih... udah ahh, Koko juga tau kan..."
"Iya tapi apa?"
"Hubungan suami istri lah..."
Tenry tertawa. Ternyata istrinya gak polos-polos amat, sebelum ini sempat menggoda dirinya karena memang udah paham. Sebuah ciuman mampir lembut di bibir Holly.
"Tau dari mana?"
"Lingling browsing di hp..."
Holly menjawab rendah dengan muka semakin merah.
"Hahaha... udah punya persiapan dong... awas nanti gak ada acara menunda ya... Koko pikir harus diajarin dulu, ihh nih kepala kecil ternyata berjalan baik..."
Tenry gak bisa menahan gemasnya, serbuan ciuman di seluruh bagian wajah istri tanpa menghiraukan sikon langsung aja dinyatakan, siapa yang bisa menahan hasrat seseorang yang baru jadi suami dan menjelang masa melepaskan status perjaka...
"Koko... sabar dong... bentar lagi kan, lagian Koko tetap harus ajarin Lingling, Lingling nonton you tubenya bagian foreplay doang, gak kuat nerusin itu..."
Tenry terperangah gak kuat dengan kejujuran sang istri, sampai istilahnya lancar aja disebutkan mulut mungil itu. Berapa banyak dia mencari tahu?
"Astaga nih anak... ihh... ayo berdiri... bikin Koko tambah gak sabar aja... Kita langsung ke hotel..."
"Udah jadi istri Ko... bukan anak kecil lagi... lagian ganti bajunya di sini bukan di hotel..."
Tenry tertawa.
"Iya... istri kecil tepatnya..."
Holly berdiri dan meraih sepatunya yang segera berpindah ke tangan Tenry.
"Gak mau pakai lagi?"
"Udah pegel banget kakiku Ko..."
"Masa gak pakai alas kaki, jauh loh sampai kamar..."
"Gak papa..."
"Sini Koko gendong..."
Dua tangan Tenry langsung mengangkat tubuh kecil istrinya, dia ingin memangkas waktu biar segera pergi dari sini.
"Ko..."
"Udah jangan protes... nunggu kamu jalan biasa makan waktu..."
Holly pasrah pada kehendak kuat suami sekarang, dirinya bukan miliknya lagi, ada otoritas suami atasnya sekarang.
.
🦋
.
__ADS_1
Hanya mengingatkan guys... ritmenya sedikit lambat...
.