
"Ling..."
"Iya Ko..."
"Sini... capek ya?"
Tangan Tenry meraih tubuh istri lalu memeluk tepat di pinggang ramping Holly. Dia baru saja duduk di tepi tempat tidur saat Holly masuk ke kamar. Holly menyandarkan seluruh tubuhnya di dada bidang suami dengan dua tangan bertumpuh di bahu suami.
Posisi nyaman seperti ini paling disukai Holly saat mereka berbincang, dia bisa menatap dekat wajah suami yang tak henti-hentinya membuat dia terpikat sekaligus bangga karena wajah ini sangat sempurna untuk Holly.
"Iya Ko... tiga hari ini Adek gak mau mami lepas, nempel terus..."
"Tapi hari ini udah mendingan kan?"
"Iya Ko, udah mau dipegang suster Lena..."
"Imunisasinya udah lengkap kan? Ini yang terakhir?"
"Imunisasi wajib udah sih... ada imunisasi tambahan kalau orang tua mau, banyak... Lingling kasihan Echa ditusuk-tusuk jarum kayak gitu... gak usah aja ya?"
"Kata dokter apa? Ikut aja..."
"Dokter gak memaksa, kan gak wajib hanya tambahan... jadi menurut Lingling gak usah aja. Menurut Lingling sih... tubuh kita itu udah punya mekanisme pertahanan tubuh sendiri, udah ada sistem pertahanan tubuh, vaksin itu hanya membantu aja jika suatu saat ada penyakit menyerang... makanya Lingling mikir gak usah yang tambahan itu, yang penting imunisasi wajibnya udah..."
"Gitu ya... tahu dari mana?"
"Lingling baca lah... nyari di di go ogle..."
"Oh... udah pintar nyari bacaan yang bermanfaat... biasanya..."
Kening suami bergerak-gerak melemparkan tatapan penuh godaan.
"Ushh... jangan dilanjutin... Lingling tahu apa lanjutannya... Koko tuh... bisa gak lupain soal apa yang Lingling searching dulu... udah lama Ko... masih diungkit-ungkit aja... Lingling malu tau gak..."
"Haha sama suami aja malu..."
__ADS_1
"Iya... kan Lingling punya perasaan..."
"Hahaha... ngomong-ngomong... mama udah nanyain, kapan Lingling mulai kerja lagi..."
"Oh? Kirain mama udah setuju Lingling di rumah aja ngurus Echa..."
"Sayang... kita berdua itu jadi harapan mama dan papa untuk lanjutin usaha mereka... Cici gak ada tanggung jawab itu, Cici udah dikasih modal untuk usaha sendiri, selain itu Cici juga ngurus bisnis Ko Kiki... sementara Dede masih kuliah... Kita berdua sekarang yang harus bekerja keras... mama kayaknya udah gak ingin terlalu sibuk... sekarang bukan hanya kafe yang harus Lingling pegang..."
"Tapi... Echa masih kecil Ko... baru delapan belas bulan... Lingling pengen ada di semua tahapan pertumbuhan anak kita... kalau Lingling kerja, nanti waktu Lingling lebih banyak di luar... Lingling gak mau loh ninggalin Echa sama suster, nanti bisa-bisa Echa lebih deket sama suster dari pada sama Lingling... Pokoknya Lingling gak mau kasih sayang dan perhatian Lingling untuk Echa jadi terputus..."
Tenry tersenyum, bila tentang Echa istrinya bisa berpikir secara dewasa dan punya keberanian untuk bersikap.
"Koko tahu gak, tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak itu jadi tahun yang penting untuk pembentukan emosi, kondisi mental dan karakternya kelak ketika dia dewasa... dia harus tahu bahwa dia disayang, diperhatikan, diurus dengan baik. Seseorang yang kekurangan kasih sayang saat anak-anak itu jadi pribadi yang lemah saat dewasa, emosinya terganggu, otomatis berpengaruh pada karakternya juga..."
"Wow... istri Koko hebat... tahu hal itu..."
"Iya tahu lah... kan pernah janji mau baca-baca soal parenting... makanya Lingling bilang waktu itu mau konsen ngurus Echa... makanya juga walaupun ada suster Lena lebih banyak Lingling yang megang Echa kan... tiap pagi Lingling minta Koko maen sama dia dulu sebelum berangkat kerja... biar anak kita berdua tumbuh dalam ikatan kasih sayang yang dia butuhkan lewat sentuhan kita, lewat cara kita mengurus dia.... gitu loh papi..."
Tenry mengusap kepala Holly, dapat memahami sikap istri, tapi dia telah berencana mengajari Holly mengelola usaha mereka yang sekarang karena dia mulai terjun ke usaha papanya dan mulai mempertajam kemampuannya di bidang usaha yang bergerak di konstruksi, mulai ikut melihat proyek-proyek papanya.
Holly melepas diri dari suami lalu beranjak duduk di tempat tidur mereka berjajar dengan suami. Dalam hati dia belum memikirkan soal aktivitasnya di luar rumah, dia terlalu enjoy merawat putra gantengnya membuat dia melupakan kewajiban lain sebagai menantu Ci Cun.
Permintaannya mengurus Echa dengan tangannya sendiri diiyakan suami, dan baru ingat sekarang ada pernyataan suami yang membolehkan sampai Echa bisa ditinggal.
Ternyata dia harus kembali bekerja gak bisa jadi ibu rumah tangga penuh sesuai keinginannya.
"Lingling harus kerja sekarang ya, Ko? Gak bisa nanti? Nunggu Echa dua tahun?"
Holly masih enggan untuk memulai menjalankan perannya di keluarga ini.
"Kenapa? Apa masalahnya? Sekarang dan nanti itu apa bedanya... lebih baik sekarang..."
"Echa..."
"Jangan khawatir soal Echa, dia gak akan pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian kita, dia juga punya banyak orang yang sayang padanya... Koko dulu juga waktu masih bayi suka dititipkan sama Ama... sekarang Koko sehat kan... gak ada masalah gangguan emosional atau punya kepribadian yang tidak baik... iya kan?"
__ADS_1
Holly hanya menatap suaminya dari samping. Jika dia bisa jujur, dia hanya ingin jadi ibu rumah tangga biasa... dia ingin menambah anak lagi, dia hanya ingin hidupnya diabdikan pada kepentingan suami aja serta menjadi mami yang dekat dengan anak-anak, yang mengurus anak-anak dengan perhatian penuh darinya.
Mereka bukan orang yang serba kekurangan, tidak ada tuntutan soal keuangan, angka digit di rekening gak pernah menyusut tapi malah terus bertambah, punya semua jaminan secara finansial dan punya banyak aset, apalagi yang harus dicari? Dia gak pernah menuntut harus memiliki barang-barang mewah atau punya banyak aset atas nama dirinya...
Pemikirannya yang membuat Holly diam. Tenry coba memahami apa yang ada dibenak Holly.
"Masih ingat permintaan Koko dulu? Koko pernah minta Lingling untuk membantu Koko, minta Lingling untuk kerja keras juga agar semua usaha kita berjalan lancar. Kita punya kewajiban untuk para karyawan... kita punya kewajiban untuk anak kita kan... Koko itu bekerja keras karena Koko harus memenuhi kesejahteraan keluarga dan karyawan kita... makanya kita harus tetap semangat bekerja... Lingling ngerti?"
"Iya Ko..."
"Gitu dong... Lingling pasti bisa jadi mami yang hebat buat Echa, pasti bisa juga jadi istri yang bisa menopang suami..."
"Tapi Ko... Lingling gak bisa kayak mama... "
"Gak harus seperti mama loh... untuk jadi hebat... Lingling yang Koko kenal juga lincah dan kadang gak ada matinya kalau soal kerja... Lingling yang seperti itu udah jarang kelihatan loh..."
"Salah Koko kenapa manjain Lingling..."
"Hahaha... udah gak mau dimanjain?"
"Mau dong... jangan berubah kalau soal itu ya?"
"Haha... dasar..."
Holly membaringkan tubuh lelahnya di tengah antara suami dan anaknya. Memperhatikan lagi posisi tidur anaknya sambil menghembuskan sebuah napas meredakan pikiran yang tiba-tida datang menguasai. Masih berat untuk meninggalkan Echa, sama beratnya dengan membawa Echa ikut ke kafe, atau ke tempat usaha lain... itu pasti tidak nyaman untuk Echa yang sudah jalan ke sana-ke mari, mulai mengeksploitasi semua hal yang dilihat matanya, gak mungkin hanya menahan Echa di dalam ruang office. Tapi jika itu yang diminta mertua, dia sungkan menolak.
.
Happy reading...
Ngejar deadline wktu terbit hari ini sblm jam 24.00, makanya moon maap jika msh byk typo 🙏🙄
.
.
__ADS_1