
Sesuatu sementara terjadi di hati Holly, sejak Tenry hadir dan menunjukkan perhatian, beberapa kali kontak fisik, kemudian menegaskan hubungan mereka membuat Holly merasakan sesuatu. Ada rasa yang beda memang, rasa yang membuat dadanya berdesir lalu mengantarkan kehangatan pada seluruh jiwanya, rasa yang mulai mengikat hatinya. Dan nama Ko Tenry selalu muncul di benaknya sekarang.
Ini mungkin yang namanya rindu... ingin melihat si Koko terus, ingin dengar suara khasnya suara yang tidak terlalu ngebass, tapi tetap terdengar maskulin dan itu menenangkan. Ingin melihat senyum yang seperti magnet seolah mengajak sudut bibir Holly ikut terangkat. Meskipun hatinya seperti itu, Holly belum benar-benar nyaman dengan status baru ini. Pacaran... selain memang belum pernah, dia gak tahu apa yang harus dilakukan seorang cewek untuk pacarnya, dia juga masih risih saat berdekatan dengan Tenry, walau dia menikmati setiap hal yang Tenry berikan untuknya.
Holly sedang memandang foto Tenry di ponselnya bergantian dengan membaca chat Tenry. Dia mengharapkan ponsel itu berbunyi, dia masih enggan menelpon walau ingin. Ko Tenrynya sedang sibuk, sejak keluar rumah sakit Tenry baru sekali datang, itu pun gak lama. Ini sudah beberapa hari berlalu, kerinduan sudah begitu pekat dalam hati.
"Ling... ayo sarapan..."
Hanie baru sampai, setiap pagi dia keluar membeli sarapan. Holly yang sedang berbaring malas di sofa membalikkan badannya.
"Beli apa, Han?"
"Nasi bungkus sama sate ayam..."
"Duluan aja, Han..."
Holly balik badan menghadap sandaran sofa lagi, ponsel masih dalam genggamannya. Sejak sembuh dari sakit, dia lebih banyak tiduran tubuhnya masih tetap lemas, tulang-tulangnya seperti belum mampu menopang tubuh kecilnya. Istilahnya Hanie, dia sudah bekerja over kapasitas sehingga sekalinya berhenti juga sakit maka badannya jadi tak bertenaga. Selera makannya juga belum kembali.
"Ling... jangan diikutin terus malas makan, nanti kamu lama pulihnya... nasi bungkusnya lembut, kamu pasti suka..."
"Iya, Han... dikit lagi aku makan..."
"Aku buatin susu ya..."
"Nanti aja... aku buat sendiri..."
Hanie memulai sarapannya.
"Han... di rumah mama siapa yang beresin rumah sama masak ya? Waktu mama jenguk di rumah sakit... mama minta aku pulang ke rumah kalau udah sehat..."
Holly bertanya tanpa mengubah posisinya.
"Jangan dipikirin, fokus aja sama cita-citamu, kita ninggalin rumah karena itu. Nanti Ling... kalau kamu udah kuliah sesekali kamu bisa pulang... tapi jangan sekarang..." tegas Hanie sambil terus mengunyah.
Holly tidak melanjutkan, sekalipun dia resah soal meninggalkan rumah, merasa seperti anak yang egois, tapi dia tak ingin membuat Hanie kecewa, Hanie melakukan ini karena mengerti dan mendukung keinginannya untuk kuliah.
"Ling... makan sekarang aja, ayo..."
Suara Hanie yang tegas membuat Holly berdiri dari sofa dan duduk di hadapan Hanie, dia meletakkan ponselnya di atas meja makan. Mata Hanie langsung menyipit memperhatikan benda berwarna putih itu, dari sekali lihat dia bisa menaksir harga ponsel itu, Holly gak mungkin beli sendiri, Hanie aja merasa sayang duitnya hanya untuk membeli ponsel merek itu.
Pasti Tenry yang ngasih...
Seseorang naik ke lantai atas, si Opo Rully yang membawa air mineral galon, Hanie tadi meminta bantuannya membeli persediaan air minum.
"Po... ikut sarapan..."
"Udah Ko Han... saya mau langsung buka tokonya, udah ada beberapa karyawan di depan..."
__ADS_1
"Iya... minta Silvie tangani kasir ya... saya turun sebentar lagi..."
"Iya, Ko Han..."
"Ada dua truk pasir masuk pagi ini sama dua truk batu, itu diturunkan di depan rumah tua, Po..."
"Iya Ko Han..."
Si Opo menurunkan galon di dekat dispenser lalu bergegas ke bawah lagi. Hanie menggeser piring berisi nasi bungkus dan dua tusuk sate ke arah Holly, sementara Holly masih duduk bengong di hadapan Hanie
"Masih ada obat, Ling?"
"Udah habis... kan untuk tiga hari aja... gak usah balik kontrol dokter ya, aku udah sehat kok..."
"Sehat apa... tuh muka masih pucat gitu... makanya makan..."
"Iya..."
Holly menarik piring miliknya, di saat yang sama Tenry muncul di tangga.
"Han..."
"Eh...Ten..."
Tenry menyapa Hanie dan langsung duduk di samping Holly, tangannya langsung mengusap pelan kepala Holly. Hanie yang melihat itu jadi salah tingkah, ini sesuatu yang awkward melihat Tenry bersikap sayang pada Holly, beda aja dibanding saat dulu Tenry mesra-mesraan dengan Glo di depannya. Mungkin karena Holly adiknya... tapi Tenry nampaknya gak risih sedikitpun.
"Makan apa Ling?"
Mereka udah jadian...
"Lingling harus makan banyak loh... udah kurus eh malah sakit... tambah kurus sekarang..."
Tenry sekarang mengeluarkan daging sate dari tusuknya...
"Tambah malas makan sih dia..."
Hanie nyeletuk, setelahnya dia bingung... dia seperti mengaduh pada Tenry. Menghilangkan galau yang mulai merajai, Hanie berdiri kemudian mengganti galon di dispenser yang sudah kosong setelah itu menghilang ke kamarnya, dia tak akan diacuhkan Tenry. Dia hafal bagaimana kelakuan sahabatnya itu, Tenry tak akan melihat yang lain jika sedang memanjakan gadisnya.
"Sini... Koko suapin..."
"Eh... gak usah Ko... Holly makan sendiri..."
Tenry gak menggubris penolakan Holly, tangan Holly yang coba mengambil kembali piring berisi makanan justru dia genggam, satu tangan yang memegang sendok kini mengarah ke mulut Holly.
"Buka mulutnya..."
Sebuah perintah yang lembut, dari wajah yang memancarkan keteduhan, dengan sorot mata yang penuh isyarat cinta, Holly kemudian hanya bisa menurut membuka mulutnya. Dengan telaten Tenry menyuapkan makanan sambil sesekali melakukan yang lain, membenahi rambut di pelipis, mengusap sayang di bagian belakang kepala, dan Holly jadi seperti anak kecil yang diam dan patuh hanya membuka mulutnya jika makanan sudah tertelan sempurna.
__ADS_1
"Udah Ko... kenyang..."
"Tanggung... habiskan aja ya..."
"Iya..."
Tenry tersenyum lalu mengusap pipi yang sedikit menggembul karena baru menerima suapan.
"Koko kangen..."
Tangan membenahi rambut lagi, Holly memandang Tenry yang juga sedang menatap dirinya, tak bisa bicara tapi hati seperti menggelegak ingin mengungkapkan rasa rindunya juga.
"Lingling kangen Koko gak?"
Sinar lembut di wajah si Koko membuat Holly tak ragu untuk menyuarakan isi hati.
"Iya... Holly kangen..."
Holly menjawab pelan saja dan membuat Tenry tersenyum, jiwanya sepenuhnya telah dikuasai cinta untuk Holly. Sebuah kecupan lembut dia arahkan di pelipis Holly menyalurkan hasrat cintanya, hasrat untuk menjadi pelindung bagi gadis yang rapuh ini, hasrat untuk menyingkirkan semua sedih yang membungkus Holly dan mengganti dengan kasih sayang dan kebahagiaan... dia telah bertekad untuk itu. Holly mengerjapkan kedua matanya, merasa seperti berada di sebuah surga kecil, surga yang mengalirkan air yang sejuk di jiwanya, seluruh aliran darah mengalirkan rasa indah dari kecupan itu ke seluruh pori-pori tubuhnya.
Tangan Tenry kembali mengusap pipi Holly yang sedikit berubah warna, sedikit hawa panas berkumpul di wajahnya.
"Makan lagi... dua suapan lagi..."
Holly mengangguk dalam senyum.
"Lingling cantik saat senyum..."
Tenry mengalihkan tatapan ke piring, sementara hati Holly semakin bergemuruh, pujian itu semakin menambah rona di wajahnya.
.
.
Jangan sedih sayangku... tersenyumlah
Akan ada hari di mana cinta menyapamu, menggapaimu, tumbuh dihatimu...
Bila cinta datang... sambutlah, singkirkan ragumu, jadikan milik hatimu seutuhnya.
.
🦋
.
Hi...
__ADS_1
Pembaca.... terima kasih sdh singgah di sini 😁💚😁
.