Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 134. Balon dan Obsesi


__ADS_3

Perayaan hari ulang tahun Eliezer Mishael Tanos yang pertama...


Seperti perayaan hari ulang tahun anak pada umumnya, acara dan pernak-pernik ulang tahun bertemakan anak pastinya. Acara dibuat di depan rumah mereka, di jalan depan yang diubah menjadi arena pesta. Empat tenda ukuran 4x6 dipasang berjejer sepanjang jalan dari depan rumah mereka hingga depan rumah Beyvie yang berhadapan dengan rumah orang tua mereka.


Hiasan paling dominan adalah balon berwarna navy digabung dengan warna putih, kuning dan biru muda di beberapa bagian. Ribuan balon boleh dikata ditata dengan apik dan manis di sisi kanan kiri sepanjang tenda-tenda. Mengingat maminya baby Echa sangat terobsesi dengan balon, tak heran jika kali ini ulang tahun anaknya dihias begitu heboh dengan balon.


"Mami... ini gak ada hiasan lain? balon semua?"


Tenry tergelak sambil menatap barisan balon yang dibentuk seperti sosok anak kecil dengan balon teratas seperti wajah karena berbentuk emoticon senyum.


Di mana-mana balon... ada untaian balon yang menggantung di sepanjang railing tenda, di langit-langit tenda ada banyak balon gas helium yang menempel dengan pita pita yang memanjang di setiap ujung bawah balonnya, di tiap sisi tiang tenda ada balon gas yang terikat dengan tali. Di beberapa spot foto ada balon yang ditata beberapa warna membentuk seperti pelangi dengan awan putih di tiap ujungnya, ada yang terdiri dari balon bulat besar kecil seperti sebuah frame untuk berfoto.


Tema hari ulang tahun baby Echa rupanya semua tentang balon berbagai ukuran dan berbagai bentuk, bukan tentang salah satu tokoh superhero atau figur kartun anak seperti yang biasa dalam acara hari ulang tahun anak.


"Lucu tahu gak Papi... ini Dede yang nyari vendor hutnya... mereka nyanggupin... dan hasilnya sangat memuaskan... Lingling suka banget Pi... hehehe..."


Holly mendekati suami dan langsung memeluk pinggang suami. Ekspresi riang dan sangat senang di wajah mungil yang masih aja terlihat seperti anak baru lulus SMA itu sangat jelas terpancar. Sudut bibirnya selalu terangkat dan matanya seperti mengerjap-ngerjap saat memandang di setiap titik venue pesta anaknya. Tenry menyambut tubuh istrinya dengan sebuah rangkulan.


"Ini sih mami yang tergila-gila sama balon, hahaha..."


Tenry mengacak rambut pendek istrinya lalu tangan itu singgah di pipi mencubit gemas pipi istrinya. Jiwa kekanakan istrinya menjadi dominan di waktu tertentu.


"Iya Koko... Nso Lingling dari tadi ngeliatin semua balon dengan mata jatuh cinta, hehehe... baru sekarang nemu orang segitu sukanya sama balon... beneran Ko... Nso Lingling kayaknya satu- satunya ibu-ibu yang buat pesta ulang tahun anaknya kayak gini hihihi... tau gak vendornya aja sampai kaget, biasanya orang mesen dekor pesta satu paket aja... Nso pesan dua puluh lima paket, terbanyak sepanjang sejarah mereka menghias di pesta anak... omaigat..."


Ivy yang ikutan jadi seksi bagian umum yang sibuk banget karena antusias juga mewujudkan ulang tahun ponakannya biar meriah ikut menyela.


Holly ikut tergelak, gak menampik sejak tadi dia berulang-ulang melihat semua bentuk dekor yang telah selesai dipasang.


"Abisnya semua yang mereka tawarkan lucu, hehe... Nso ambil aja semua, kan yang bayarin semuanya Koko... hihihi..."


"Dasar... dikasih kebebasan malah ngelunjak tuh..."


Tenry mencubit lagi kali ini di bagian hidung istri yang masih bergelayut manja di pinggangnya. Holly senyum-senyum aja, dia tahu itu bukan sebuah sindiran atau kalimat keberatan karena dia sangat royal hanya untuk balon.


"Nanti Ko... balon gasnya mau dilepas pas Echa selesai tiup lilin... keren pasti deh... Lingling nyesel tahu gak waktu kita nikah gak lepasin balon gas ke langit... jadi kali ini Lingling pengen nebus itu... mau lepasin balon dua ratus lima puluh buah hehe..."


"Astaga istriku... umur berapa sih sekarang?"


"Dua puluh tiga bentar lagi dua puluh empat... umur istri gak hafal... ihh..."


Tenry kembali tergelak.


"Iya tahu kok, maksud Koko umur segini masih terobsesi sama balon, kayak anak kecil... hahaha..."


"Biarin... emang anak kecil kan... Koko nganggap Lingling anak kecil, ya jadinya kayak gini, hihihi. Anggap aja pesta ini kumpulan dari semua ulang tahun Lingling sejak kecil yang hanya sekali dirayain..."


Holly tersenyum dengan mata berkaca-kaca, Tenry menatap sang istri menemukan pandangan mata istrinya yang mengembun. Tenry tersenyum penuh arti, jika ini memberi kebahagiaan untuk sang istri, dia tak akan pernah komplain, toch ini gak seberapa mahal juga, jauh lebih murah dibanding keinginan istri orang lain.


Selain airmata istrinya, sisi kekananakan istrinya justru yang membuat dia jatuh cinta berkali-kali. Dia gak pernah terbebani dengan sikap naif istrinya, tapi justru di bagian inilah dia merasa berfungsi sebagai suami, karakter istri yang seperti inilah yang demikian mengisi ruang hatinya. Keinginannya untuk memanjakan istri selalu muncul setiap kali Holly berikap kekanakan.

__ADS_1


Sangat mungkin suatu saat istrinya akan berubah menjadi seperti Beyvie atau Ci Cun, dewasa, tegas dan lugas, gak bergerak berdasarkan emosi, tapi sekarang dia menikmati punya istri yang seperti ini, yang bisa begitu menikmati kebahagiaan hanya karena balon.


.


Anak-anak yang terundang adalah anak-anak para karyawan dan dari keluarga besar. Semua anak dipakaikan kaos oblong berwarna biru muda untuk anak laki-laki dan warna pink untuk anak perempuan. Kaos-kaos dengan tulisan putih nama lengkap baby Ezar di dada depan langsung diminta dipakaikan saat anak-anak datang. Ini jadi salah satu gift ulang tahun di samping hampers berisi mainan dan snack.


Ada banyak tamu penting orang-orang dewasa yang datang ikut memeriahkan pesta baby Ezar.


Renske datang bersama si junior, Franklin Delano Roosevelt Manoppo serta si bungsu Margareth Thatcher Manoppo (Kalau Holly terobsesi sama balon, Papi Ben terobsesi sama nama besar pemimpin dunia).


"Kak Keke... makasih udah dateng... wahh Niol udah setinggi ini... ganteng lagi... makin mirip om Ben deh..."


Holly seakan mau berjingkrak kesenangan menyambut tamu istimewanya.


"Bukan Niol kak... aku Franklin..."


Junior menjawab dengan suara tegas dan muka seriusnya.


"Dia udah gede Holly, gak mau dipanggil seperti itu lagi..."


Keke tersenyum simpul, kelakuan anaknya yang harus dia maklumi setiap kali nama masa balitanya disebut orang, dia suka protes.


"Ohh... maafin kak Holly ya, abis kak Holly taunya nama itu aja, udah lupa nama panjangnya... nama salah satu presiden Amerika kan ya?"


"Iya... aku juga cita-citanya mau jadi presiden..."


Junior menjawab dengan dagu terangkat dan mata berbinar tapi pancaran serius tetap nyata.


"Franklin kak Holly... aku Franklin..."


Junior protes lagi.


"Maaf... kak Holly belum terbiasa... aduuh Nio... eh Franklin pintar ya... kak Holly jadi berharap Echa nanti kayak Franklin..."


Junior menunjukkan rasa senang di wajahnya saat mendengar perkataan Holly, dia keren dan kak Holly bilang pengen adik bayi itu jadi seperti dirinya.


"Masih suka main truck?"


"Iya, masih kak... itu hobi papi juga, koleksi truck mainan..."


Junior menjawab dengan cara yang sama, intonasinya terjaga, seperti cara orang dewasa tapi suara masih suara halus anak seusianya.


"Kalau kamu ke rumah sekarang ini, di mana-mana truck semua, rasa-rasanya sampai pajangan dan vas bunga di meja mau diganti truck aja..."


Keke menjawab entah kesal atau pasrah dengan mainan bernama truck yang jadi semacam penyaluran jiwa kekanakan seorang Benaya di balik tampilan dewasanya yang begitu tegap, tegas dan berwibawa.


"Hehehe... mungkin karena om Ben kadang kerjaannya berhubungan dengan alat-alat berat, kak Keke..."


"Hehe... mungkin aja Holly..."

__ADS_1


Holly sekarang mengelus pipi si cantik Margareth.


"Ini princess cantik ini siapa namanya ya..."


"Margie kakak... nama aku tuh Margareth, tapi papi mami manggil aku Margie..."


Margareth menjawab manis. Anak-anak Keke dan Ben memang sopan dan manis.


"Namanya bagus banget... Margie juga cantik banget, kayak kak Keke deh punya lesung pipit hehehe..."


"Makasih kakak..."


Margie menjawab sambil senyum menunjukkan dengan jelas lesung pipitnya.


"Ayo kak Keke, ke rumahku aja ya... di sini terlalu ramai... ayo Franklin, Margie..."


Holly mengantar mereka masuk ke dalam rumah. Sejak tadi dia melayani tamu-tamu dan keluarganya. Si baby yang jadi pusat acara sore ini, malah sedang bobo tanpa peduli dengan acara yang telah disiapkan untuknya.


.


"Nso... gimana sekarang... acara games udah selesai semua, bagi-bagi hadiah udah, sekarang acara tiup lilin..."


Ivy si seksi sibuk di semua bagian acara pesta ini masuk ke dalam rumah.


"Aduuuh... Echa masih bobo, gimana ya..."


"Gak mungkin anak-anak diajak nyanyi-nyanyi lagi... udah gak sabar mereka minta snacknya..."


"Iya kasihan juga ya... anak-anak pasti bosen kalau kelamaan... Nso bangunin Echa aja kali ya, udah lama juga dia bobo..."


"Iya... aku mau nyari Koko juga... kan harus bertiga tiup lilinnya..."


"Iya... Koko tadi lagi ngobrol dengan Hanie di teras samping..."


Holly naik ke ruang atas mengambil baby Ezar, dia juga gak sabar mau tiup lilin sama lepasin balon gas, haha... beneran si mami yang lebih enjoy dengan pesta hari ulang tahun ini ketimbang anaknya.


.


Akhir pesta yang manis, baby yang tertidur dengan puas bahkan hanya muncul di sisa acara, untungnya di acara terpenting dan khusus buat dia yaitu puncak acara hut, baby kecil yang tak mengerti bengong dengan mata Asianya menatap begitu banyak anak-anak, menatap balon-balon tanpa reaksi apapun dan hanya senyum malu di gendongan sang papi saat si mami meniup lilin seorang diri. Tapi selebihnya keluarga kecil ini pasti bahagia, nampak di wajah Tenry dan Holly. Baby Ezar yang sadar kamera sejak usia beberapa bulan, selalu tertawa atau tersenyum saat diminta bergaya untuk pengambilan foto... itu yang paling menggemaskan banyak orang.


.


🎈🎈🎈


.


Hi.... kakak semua, terima kasih karena masih membaca cerita ini...


Jangan malas ngasih komen dong minimal likenya.... aku jarang minta kan hehehe 😄

__ADS_1


.


__ADS_2