
Hari selalu melelahkan untuk tubuh kecilnya setelah seharian beraktivitas. Ternyata setelah membiasakan diri beraktivitas, menekan sedalam-dalamnya pertentangan dalam batin, Holly bisa memberikan diri untuk menekuni tugasnya sebagai seorang istri dan menantu, ikut menangani bisnis keluarga.
Di satu pihak skripsinya terbengkalai.
Sore hari, setelah keliling seharian di empat kafe mengurus beberapa hal di sana, menyetir sendiri bolak-balik. Sesudah makan siang dijemput suami ke gudang sembako yang besar di area pelabuhan, mengerjakan sesuatu di sana, kemudian balik ke sini lagi.
"Sus... Echa udah makan kan?"
"Makan bu... ini malah udah minum susu..."
"Habis makannya?"
"Gak habis sih bu... diacak-acakin sama Echa, dibuang-buang..."
"Biasanya gitu kalau nasinya kurang lembut, Echa gak terlalu suka, sus..."
"Iya... tadi ambil nasi dari dapur bu..."
"Besok bawa rice cooker kecil punya kita, suster tolong masak sendiri punya Echa, jangan ambil dari dapur lagi..."
"Iya bu..."
"Lauk pakai apa tadi?"
"Saya coba kasih siomay Echa gak suka bu... dikasih onion rings juga sama..."
"Gak dicoba menu yang lain?"
"Adanya ayam goreng krispi sama kentang dan sosis... bapak gak bolehin itu..."
"Echa juga gak terlalu suka ayam... iya jangan dikasih sosis sama kentang dari kemasan..."
Holly sedih, pola makan anaknya berubah, sedih gak bisa memberi perhatian sepenuhnya sekarang.
"Besok sus... makanan Echa buat dari rumah pagi-pagi, minta Nita buatin..."
"Iya bu... kasihan dia, makanan di sini gak cocok buat dia..."
"Apa Echa dikasih snack atau permen sama karyawan?"
Holly seperti biasa menjadi cerewet bertanya banyak hal soal anaknya saat ditinggal. Apalagi kali ini ditinggal agak lama.
"Gak ada bu... kan udah dikasih tahu ke mereka... gak boleh ngasih makanan apapun sama Echa..."
Holly memandang anaknya yang tertidur di dalam stroller, jadi kasihan karena anaknya gak bisa tidur dengan bebas di tempat tidur sejak mengikuti dirinya ke tempat kerja beberapa waktu terakhir ini.
"Tadi Echa nangis lama bu..."
"Ehh kenapa?"
"Tadi ada customer keluarga dengan anak kecil, lebih besar dari Echa, dia bawa mainan mobil-mobilan, dimainin sama anak itu, Echa ngeliat terus ngikutin anak itu... sempat dipegang sama Echa mobil-mobilannya, terus direbut sama anak itu... tangan Echa sempat dipukulin pakai mobil-mobilan itu... nangis deh bu..."
"Aduuuh... kasihan anakku... tangan yang mana sus?"
__ADS_1
"Tangan kanan, di bagian punggung tangan, tadi memang merah sih bu... tapi setelah agak lama, saya coba tekan-tekan Echa gak merasa sakit..."
"Aduuh, sakit hati sih dia itu... besok bawa mainan lebih banyak sus..."
"Iya bu..."
Sedih Holly bertambah, perasaan bersalah selalu muncul setiap kali ada laporan tentang ketidaknyamanan anaknya di sini. Tapi kafe ini letaknya di tengah-tengah di antara semua kafe dan area kerja mereka berdua sehingga paling strategis untuk jadi tempat persinggahan dalam mobilitas harian mereka. Memamg ruang officenya lebih nyaman, tapi masalahnya kafe ini paling ramai pengunjung,
Rasa lelah di tubuhnya bercampur dengan rasa bersalah mengaduk-aduk perasaan Holly, airmatanya menetes tak tertahan, terlebih saat memperhatikan wajah anaknya. Dia jarang bermain dengan Echa sekarang, walaupun Echa ikut di bawa ke tempat kerja, dia gak punya banyak waktu, giliran di rumah punya waktu, anaknya telah tertidur. Mungkin tubuh kecil anaknya sama tertekannya dengan dirinya karena pola keseharian yang berubah.
"Kenapa bu?"
"Ehh... gak papa sus... sedih aja, kasihan Echanya harus kayak gini, gak nyaman kan harus bertemu banyak orang setiap hari, gak bisa main dengan bebas... udah pasti di sini banyak kumannya, meskipun selalu dibersihkan, namanya tempat publik kan..."
Holly tambah terseduh, hingga akhirnya menutup wajahnya dengan dua tangannya. Dia menahan suara tangisannya karena gak ingin mengganggu anaknya. Suster Lena berdiri serba salah, dia tahu kepedulian majikannya serta bagaimana protektifnya pada anak yang diasuhnya. Gak dilaporin takut salah, dilaporin jadi kasihan majikannya jadi menangis seperti anak kecil sekarang,
Hampir dua tahun ikut menjaga Echa membuat suster Lena memahami bagaimana hati majikannya. Kalau Echa sakit majikannya ini paling repot dan paling sedih, rasanya gak akan meninggalkan anaknya walau sedetik.
"Mmm bu... mungkin lebih baik Echa di rumah aja... gak usah dibawa-bawa kayak gini... Echa kurus sekarang loh bu..."
Holly mengangkat mukanya yang penuh airmata, menelisik anaknya dengan seksama... airmata semakin terburai saat dia menganggukkan kepala membenarkan kondisi anaknya.
"Maafin mami dek... aduuuh mami egois... hiks..."
Beberapa saat suster Lena hanya memandangi majikannya yang menangis sedih, dia bersimpati tapi gak tahu harus berbuat apa, dia juga seorang ibu yang justru meninggalkan anaknya hanya diasuh oleh suami dan ibu mertua. Tangisan kecil Holly ikut menjalar pada suster Lena, tiba-tiba terbersit rindu pada anaknya yang baru satu.
Mau minta cuti dulu... jadi kangen anakku...
Suster Lena membatin sambil menyapu sudut matanya.
.
📱
"Udah sampe mana Ko? Koko udah jalan ke sini?"
"Belum... Koko sebentar lagi baru berangkat... sabar nunggu ya?"
"Lingling pulang duluan aja, Lingling cape..."
Akhir kalimat, suaranya berubah, sedihnya menyeruak lagi.
"Kenapa? Lingling sakit?"
"Gak, cape aja... Lingling pulang ya... Lingling bawa mobil deh..."
.
Mobil suka diparkir satu buah di kafe ini untuk mobilitas Holly.
.
"Bisa nyetir kah? Katanya cape..."
__ADS_1
"Boleh... yang penting mau pulang rumah..."
"Yah udah kalau gitu... hati-hati ya... Echa gimana?"
"Itu dia... mami sedih karena Echa... papi pulang cepat ya... nanti mami mau ngomong soal Echa..."
"Echa sakit?"
"Gak... tapi mami perlu ngomong soal Echa sama papi... cepat pulang ya pi?"
"Iya sayang..."
.
Panggilan selesai, Holly berdiri dan beranjak keluar ruang kantor.
"Sus siap-siap pulang aja... ini kunci mobilnya, masukin semua bawaan kita..."
"Baik bu..."
Dengan lesuh Holly mencari supervisor kafe ini. Dia pengen usul ke suami juga untuk merekrut manajer kafe aja, dia udah keteteran karena harus membagi waktunya di empat kafe. Pola kerja yang Ci Cun tinggalkan di kafe ini harus dia tata ulang, perbaiki lagi biar kayak suaminya yang lebih mudah pekerjaannya karena di masing-masing usaha yang dia pegang punya seorang manager. Dia seperti merasa bahwa Ci Cun sengaja melakukan itu biar dia bisa belajar banyak hal. Tapi dia merasa harus ambil keputusan sekarang, anaknya juga perlu dirinya.
Holly melambai memanggil Sam si supervisor kafe ini.
"Ya bu?"
"Perhatiin lagi soal kebersihan toilet sama wastafel ya... ingatkan petugas di bagian itu... jangan kayak tadi pagi... pengunjung betah kalau semuanya bersih..."
"Iya bu..."
"Saya mau pulang..."
"Baik bu..."
Holly melenggang dengan punggung yang terasa kaku menuju parkiran saat melihat suster Lena sudah mendorong stroller bayi keluar dari ruangan.
Di pikirannya sekarang mulai merangkai apa yang akan dia utarakan pada suami tentang pekerjaan, tentang anak mereka yang butuh lingkungan yang sehat, dan tentang skripsinya yang sudah tertunda beberapa bulan ini.
Dia siap berargumen dengan suami, dia merasa perlu menandaskan pendapatnya sebagai istri. Sedikitnya dia tahu beban finansial keluarga mereka dan mertuanya. Entah untuk urusan perusahaan konstruksi besar milik mertuanya, tapi yang dia tahu semua usaha mereka yang ditangani suami berjalan baik, income sangat bagus dan stabil, gak ada cicilan yang tinggi untuk mobil rumah atau apapun, mereka selalu membayar cash. Apa yang dikejar keluarga ini... jika sebenarnya keadaan keuangan sangat baik...
Holly tertekan sekian bulan dengan beban pekerjaan, beban kuliah, dan beban tentang anaknya. Dan dia gak ingin menyimpan lebih lama lagi.
.
Guys... apa tamat aja ya? Soalnya responnya makin berkurang, mungkin tingkat penasaran terhadap alurnya udah gak sebanyak dulu... Hehe...
Tapi... makasih banyak buat yang masih memberi tanggapan baik... aku sangat menghargai itu 🙏
.
Salam sayang [hihihi]
.
__ADS_1
Lingling💙Koko
.