
Sejak istri ikut KKT kebahagiaan sehari-hari jadi terganggu, benar-benar merasakan bahwa istri adalah pelengkap jiwa, apalagi anak tersayang jadi mengungsi ke kamar oma Cun. Oma Cun punya aturan ketat soal kepantasan, jadi ART dan suster pindah ke rumah orang tua selama istri tidak ada, jadinya Tenry ikutan pindah ke kamar semasa lajang, tidur sendiri setiap malam jadi terasa asing dan gak enak.
Kali kedua Tenry datang ke lokasi posko KKT istri, kali ini sendiri karena niatnya adalah menjemput istri. Holly boleh ijin dua hari, minggu dan senin. DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) berbaik hati memberi ijin dua hari ketika tahu Holly seorang ibu dari bayi sepuluh bulan. Anggota posko yang lain hanya boleh ijin sehari. Karena di hari minggu tidak ada kegiatan, jadi pagi-pagi Tenry udah berangkat dari kota, ingin memanfaatkan waktu dua hari bersama istri secara maksimal.
Holly udah siap-siap sejak semalam...
"Jadi pulang hari ini kan, Holly?"
Bunda Maya bertanya saat anak-anak asuh ditambah anak sendiri ngumpul sarapan bersama di meja makan.
"Jadi bunda... suamiku dikit lagi sampai..."
"Oh... dijemput suami toch... kirain mau pulang pakai taxi gelap, bunda sudah pesankan padahal..."
"Iya... gak dibolehin sama suamiku, bun... hehe..."
"Sayang banget ya suaminya... dulu ketemu suami di mana sih, Holly..."
Selly teman sekamar Holly adalah orang yang paling penasaran soal Holly. Awalnya, dia gak terlalu peduli soal Holly, terlebih dari penampilan Holly yang gak ada manis-manisnya, outfit kaos oversize dan celana jeans atau celasa training besar dengan pinggang berkaret, terlihat kedodoran di tubuh kecilnya. Mulai penasaran saat Holly bilang itu baju suaminya, sengaja bawa baju suami biar gak terlalu kangen.
Tambah penasaran saat lihat langsung suami Holly yang segalanya terlihat sempurna, semua yang jadi kriterianya untuk calon suami masa depan dimiliki suami Holly. Makanya dia mulai senang mengulik informasi apapun tentang Holly.
"Ehh... Suamiku temen baik kakakku sejak SMP..."
"Oh... dijodohin sama kakakmu ya?"
"Gak... terjadi begitu aja, tau-tau dia suka terus kita pacaran, terus nikah..."
"Jadi penasaran deh... lucu kali ya ada temen kakak datang ke rumah terus suka kita terus nikahin kita... kayak Holly..."
Si Hana ratu halu di antara mereka bicara dengan mata menghayal.
"Kamu punya kakak cowok Han?"
Rivanna menimpali.
"Iya... punya..."
"Kamu harus dandan cantik tiap kali ada temen kakakmu datang ke rumah kalau gitu, biar mereka tertarik... hehe..."
Hana tersenyum masam.
"Holly minta tips dong, cara ngegaet temen kakak jadi pacar, apalagi yang tajir kayak suamimu..."
Selly kembali ke laptop, rasa penasaran sama Holly dan suaminya masih berlanjut.
"Ehh... gak tahu, gak pernah kepikiran atau sengaja ngegaet Ko Tenry... waktu itu Ko Tenry sering main ke rumah... aku masih anak SD sampai SMP kelas satu atau dua... lupa..."
"Serius? Terus gimana awal jadiannya?"
Holly jadi risih, kenapa Selly jadi suka nanya-nanya soal kehidupannya? Tapi saat melihat sekeliling, semua orang di situ nampaknya menunggu ceritanya. Dengan perasaan sungkan Holly akhirnya menjawab rasa penasaran mereka.
"Ehh... awalnya mmm... Ko Tenry kan lanjut kuliah di luar negri empat atau lima tahun di sana, pulangnya sering ketemuan sama kakakku lagi... ya ketemu aku juga... terus ya jadian akhirnya... gitu aja..."
Holly hanya memberikan gambaran singkat, gak ingin menjelaskan detail awal mula dia dan Tenry jatuh cinta.
"Aku masih penasaran loh... suamimu yang duluan naksir atau kamu sih?"
Selly belum berhenti.
"Suamiku lah... hehe udah ya nanya-nanya soal aku... jadi malu hehe..."
"Jadi pengen pacaran sama temen kakakku..."
Hana kembali nyeletuk.
"Astaga Hana..."
"Atau kalian aja, ada yang mau gak jadian sama kakakku, dia udah selesai s1, ganteng tau gak..."
"Yee yang promosiin kakaknya... kenalin ke kita kalau gitu...
__ADS_1
Meyta sekarang ikutan meramaikan suasana meja makan...
Bunda Maya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak asuhnya, setiap pagi obrolan mereka di sini gak jauh-jauh dari topik ini.
"Kalian... siapa yang mau jadi menantu bunda..."
Ujaran bercanda itu langsung mengubah suasana yang ramai jadi sepi. Gak mungkin ada yang mau, anak cowok bunda Maya masih SMA dan culun banget penampilannya, khas anak yang besar di desa.
"Hahaha..."
Bunda Maya tertawa terbahak...
"Bunda tahu pasti gak ada yang mau cowok udik macam Soleman... hahaha..."
Semua anak cewek di ruangan itu akhirnya cengengesan sekaligus lega tapi gak menanggapi takut menyinggung perasaan bunda Maya. Holly seorang yang tertawa sambil bersyukur, pembahasan teralih sekarang dari dirinya dan suami.
"Kalian anak kota... pilihan kalian tentu seperti suaminya Holly... ya kan... ganteng, modis, kaya lagi..."
Holly langsung tersenyum kecut, dia gak tersinggung tapi jadi gak nyaman soal suaminya dijadikan patokan dan kriteria standar. Dia gak merasa memilih Tenry dengan cara itu, murni karena mereka berdua sama-sama jatuh cinta...
"Iya sih bunda... bukan gak mau sama Soleman sih... umur dia jauh di bawah kita kali, hehehe..."
Meyta menjawab basa-basi, padahal emang Soleman jauh banget dari kriterianya. Dari nama aja udah kuno banget. Soal fisik... tinggi di bawah standar, wajah sangat standar, kulit kasar kehitaman karena terbakar matahari, pokoknya keseluruhan penampilannya, amit-amit untuk dijadikan pacar.
"Siapa sih yang gak mau cowok seperti suaminya Holly untuk dijadiin suami, bunda... gak munafik ya kalau aku... duda pun aku mau tuh. Makanya Holly, kamu tuh mujur banget dapat suami idaman semua orang... jagain suamimu entar direbut orang..."
Ucapan Selly membuat Holly mengernyitkan dahi, secara tersirat ada sesuatu di balik kalimat itu, tapi Holly sungkan menafsirkan lebih, mereka belum cukup akrab.
"Kak Holly... ada tamu nyariin kakak..."
Anak bungsu bunda Maya datang menginterupsi percakapan mereka.
"Oh... bunda aku pamit ya..."
Holly segera berdiri, merasa senang akhirnya bisa pulang lagi ke rumah walau hanya untuk beberapa saat. Setelah dua minggu tinggal di rumah orang, rumah sendiri adalah tempat ternyaman yang setiap malam dia rindukan, terutama karena suami dan anaknya ada di sana.
"Suaminya diajak masuk dulu, diajak sarapan sekalian..."
"Iya bund..."
Di depan, di teras rumah, Tenry menunggu sambil berdiri dengan senyum terpasang di wajah. Dari jendela rumah dia sudah menangkap siluet tubuh mungil istrinya yang berjalan cepat datang menemuinya.
"Koko..."
"My baby..."
Suami sudah membuka dua tangan isyarat menunggu untuk saling memeluk. Holly menubrukan tubuhnya sendiri masuk ke pelukan suaminya. Kepala Holly tengadah, Tenry menunduk mencium sekilas bibir istrinya, ekor matanya menangkap teman-teman istrinya ikutan keluar dari rumah. Tapi kali ini istri masih mendongak dan berkata...
"Cium lagi Ko... kangen ciuman Koko..."
Tenry tertawa... jika istrinya tahu di belakang dia banyak penonton sekarang, pasti istrinya akan segera melepas pelukan mereka. Tenry yang sejak dulu tidak mengambil pusing setiap kali ingin melakukan sesuatu pada istrinya, kali ini pun mengabaikan beberapa orang di depannya berpura-pura tidak melihat mereka. Maka keintiman kecil di depan rumah orang, di kampung orang, ada penonton pula, terjadilah. Ciuman mesra dilabuhkan Tenry di bibir istrinya, dia juga kangen kan bermesraan seperti ini.
"Ekhemmm..."
Suara orang berdehem membuat Holly melepaskan ciuman juga pelukannya pada suami.
"Segitu kangennya, depan jalan langsung gass gak lihat sikon..."
Suara sinis Selly menghentikan drama indah pasangan suami istri yang sedang menyatukan rindu. Wajah Holly memerah, melebih warna merah saat kulitnya terbakar matahari. Malu tak terdefinisikan saat melihat empat temannya berdiri di depan.
"Hehe maaf... mmm Koko diajak bunda sarapan dulu..."
Holly menghadap Tenry sekarang, menyembunyikan wajah malunya di depan teman-temannya.
"Masuk dulu Ko Tenry... lagian kalian suami istri, udah biasa kali ngelihat suami istri yang baru ketemu suka kayak tadi... ayo Holly bawa suamimu ke dalam..."
Rivanna menengahi melihat Holly salah tingkah. Tenry sih senyum cuek, malah sekarang mengusap-gusap kepala istrinya.
"Ko... ayo..."
"Kita langsung pulang ya... Koko pengen sarapan berdua Lingling... nanti mampir di suatu tempat aja... sekarang ambil barang aja, ada yang mau dibawa pulang?"
__ADS_1
"Ada... Lingling belum sempat nyuci... banyak pakaian kotor..."
"Ya udah, Koko ambil barang terus kita langsung berangkat..."
Beberapa saat setelah pasangan muda yang terlihat begitu saling sayang itu pamit lalu menghilang dari pandangan...
"Enaknya jadi Holly, punya suami tampan dan kaya, bucin pula... jadi pengen punya suami kayak suami Holly..."
Selly ngomong perasaan hatinya.
"Banyak doa biar keinginannya terkabul, tapi hati-hati jangan keinginannya jadi berbelok... pengen punya suami Holly..."
Rivanna mulai gerah dengan Selly yang terlihat begitu antusias ngebahas tentang suami Holly.
"Ehh maksudnya apa ya..."
"Jangan sampai ngeliat suami orang lalu jadi menginginkan suami orang, alias jadi pelakor..."
Rivanna meninggalkan Selly di teras rumah ini. Selly hanya cemberut, tapi masih melanjutkan hayalannya.
Di mobil...
Suami tengah jengkel...
"Dari tadi nanyain Echa melulu, sabar aja kenapa, bentar lagi kita sampai sayang..."
"Hehehe... abis mami kangen tau gak..."
"Tau... tau... tapi ini loh suamimu juga kangen loh... susah banget tau gak nahan keinginan hati setiap malam..."
"Keinginan apa papi?"
"Nanya lagi... tambah ingin deh papi..."
Holly sangat mengerti keinginan apa yang dimaksud suami sekarang.
"Kita mampir hotel, mau?"
Holly menganggu suami dengan mimik menahan tawa...
"Ngapain?"
Suami jadi pengen sesegera mungkin tiba di rumah. Sekarang menambah kecepatan mobil, menyalip beberapa kendaraan sekaligus. Mobil mereka sih gak usah diragukan soal kelincahannya merambah jalanan.
"Biasanya suami istri yang pengen berduaan suka check in..."
"Hahh... baby... dapat ide dari mana?"
Suami memandang gemas, dari mana muncul ide absurd sang istri.
"Di novel... suka ada cerita suami CEO yang gak bisa nahan keinginannya nyuruh assistennya atau sekretaris pribadinya booking hotel cuman buat lepasin hasrat... hehehe..."
"Otak Lingling beneran udah gak suci sejak awal kita nikah..."
"Hehehe... tapi Koko dapat senengnya kan... hehehe..."
"Iyaaa... nakal Lingling tuh..."
"Mau mampir hotel gak?"
Holly masih mengoda suami. Tangan Tenry menjitak sayang kepala istri mungilnya, kecil-kecil istrinya ini sedikit melebihi kadar mesumnya kadang-kadang...
"Dasar..."
"Hehehe..."
.
🦋
.
__ADS_1
Hi..... mana komennya yaa... kok sepi sih?
.