
Bibir Holly memang tak pernah mengungkapkan kesedihannya, tidak mengeluh tentang kesepiannya. Mencoba menjalani keputusannya sendiri, ingatan tentang sebuah perkataan dari kekasihnya waktu itu bahwa dia harus jadi gadis yang kuat, kalimat itu menjadi tempat dia berpegang hingga sekarang, ya dia harus berubah jadi gadis yang kuat, bukan demi siapapun demi hidupnya sendiri. Dia sebenarnya pergi tak begitu jauh karena memang gak punya kesanggupan untuk benar-benar pergi.
Pagi itu Rommel meminta tolong pada Holly untuk menjaga Junior, kakaknya dirawat di rumah sakit karena hamil dan mengalami mual dan muntah parah. Tadinya Holly menolak karena Tenry baru saja menjemputnya, walaupun ingin sekali membantu karena dia merasa dekat dengan Junior. Masalahnya di sini adalah Tenry gak mungkin mengijinkan karena Junior ada di rumah orang tua Keke, mereka sedang berlibur di sana saat kejadian itu.
Tapi kemudiann Holly menerima permintaan Rommel, satu-satunya cara untuk pergi menjauh dari Tenry. Holly meminta Rommel untuk tidak memberitahu Nuella soal itu, karena sadar bahwa Nuella memang sahabatnya tapi punya hutang budi pada Tenry, dia sukar untuk merahasiakan tentang Holly. Rommel tidak terlalu akrab dengan Tenry dan karena butuh Holly dia berjanji menutupi soal Holly dari Nuella. Sampai sekarang, Nuella gak curiga pada Rommel.
Kondisi kehamilan Keke yang tidak baik, terus mual dan muntah sepanjang hari bahkan terus berlanjut melewati trimester pertama membuat Holly tetap dibutuhkan di rumah besar yang ada di sebuah perbukitan dekat kota ini.
"Holly..."
Keke memanggil Holly yang baru saja keluar dari kamar anak-anak. Keke sedang berbaring di sofa, dia jenuh hanya berada di kamar lebih dari empat bulan ini, bahkan sepanjang kehamilannya dia hanya berbaring di tempat tidur. Kata dokter dia mengalami hiperemesis gravidarum kondisi morning sick yang parah pada kehamilannya kali ini. Karena dia hamil di usia tiga puluh tiga tahun dan ada riwayat yang sama dari mama Virda ketika hamil Bonita dan Rommel, ditambah dengan punya warisan diabetes dari sang papa sehingga kehamilan kali ini dia juga mengalami diabetes gestasional, gula darahnya meningkat karena kehamilannya.
Holly mendekati Keke dan duduk di sofa seberang.
"Iya kak..."
"Niol udah bobo siang ya?"
"Iya kak... baru aja..."
"Yica dan Via mana?"
"Yica di kamar opa oma, kak... kalau Via kan ikut om Ben, hari ini terima raport..."
"Oh? Tadi pagi bilangnya gak boleh ikut ke sekolah kan, orang tua aja yang boleh datang..."
"Dia maksa pengen ke ruko katanya bosan di sini terus kak... makanya dibolehin sama om..."
"Via gak pamit..."
"Takut gak dijinin kak Keke katanya..."
"Anak itu... ya tapi kasihan juga terkurung di sini gak ke mana-mana berbulan-bulan..."
Keke muntah lagi, di samping dia sudah ada ember yang sengaja ditempatkan sang mama saat dia minta keluar kamar. Holly membantu Keke duduk dan menahan Keke hingga mual dan muntahnya berakhir. Setelah membersihkan wajah dan tangan Keke, Holly membantu Keke minum.
"Udah mendingan kak?"
"Iya... makasih ya..."
"Kak Keke mau tiduran lagi?"
"Bantu kak Keke ke kamar papa aja, belum lihat papa beberapa hari ini..."
Tertatih-tatih mereka berdua menuju ke kamar paling besar di rumah ini. Berat badan Keke memang turun drastis, tapi tetap aja tubuh kecil Holly kelabakan untuk menopang tubuh lemah itu saat berjalan.
"Ike... mau ke mana..."
Mama Virda yang baru keluar kamar itu langsung meletakkan piring bekas makan suaminya dan buru-buru membantu menopang tubuh Keke."
"Mau... lihat papa, ma..."
"Iya... pelan-pelan aja ya..."
Papa Ramly kondisi fisiknya tidak baik hampir setahun ini karena penurunan fungsi ginjal akibat diabetes yang diderita bertahun-tahun. Kondisinya sama dengan Keke, terbaring lemah di tempat tidur, tidak mau dirawat di rumah sakit karena situasi pandemi. Ada rasa trauma juga karena ada beberapa keluarga dekat dan teman papa Ramly yang dibawa ke rumah sakit dan terpapar virus itu dan tidak lagi pulang ke rumah tetapi langsung ke tempat peristirahatan terakhir.
__ADS_1
"Ike... sayang, kenapa ke sini..."
"Bosan di kamar Ike... lagian ini udah mulai berkurang..."
"Mami? Udah bisa jalan mi?"
Lisya ikut mendekat ingin memapah maminya, maka Holly melepaskan pegangan tangannya pada tubuh Keke. Papa Ramly sedang duduk bersandar di headboard tempat tidur.
Keke duduk di dekat papa Ramly yang telah bergeser lebih ke tengah tempat tidur, Holly sendiri kembali ke kamar anak-anak, mengontrol anak asuhnya si Junior, si Lisya ikut keluar bersama Holly.
"Kasihan kamu... udah bisa makan?"
"Iya udah mulai bisa makan roti... kalau nasi masih Ike muntahkan..."
"Honey... buatkan sesuatu yang Ike suka..."
Papa Ramly melihat ke arah istrinya, yang penuh kasih sayang merawat suaminya.
"Mau dibuatin apa Ke..."
"Gak usah ma... nanti aja, kalau Ike udah bisa makan banyak, ini belum bisa mencium aroma macem-macem..."
"Untungnya Ike bisa minum susu walau sedikit..."
Mama menimpali sambil duduk di pinggiran tempat tidur.
"Sekarang udah berapa bulan, nak?"
Papa bertanya sambil meraih tangan putrinya...
"Ike coba ya mulai makan sedikit-sedikit... kamu kurus sekali, kasihan babynya... perut Ike hampir tidak terlihat..."
"Iya pa..."
"Papa juga harus berusaha sehat dong... mau menyambut cucu kedua..."
Mama Virda memijit-mijit kaki suami.
"Ini cucu yang keempat honey..."
"Maksud mama... cucu kandung..."
"Mereka semua sama buatku, honey..."
"Papa sih harus sehat juga demi Rommel, dia udah pengen lamaran loh, Nuella udah wisuda..."
Mama menyambung lagi, sudah lama ingin memberitahu hal ini pada suaminya.
"Honey... kalau aku tidak bisa, minta Ben saja, ada Noniek ada Lody, kalian yang pergi biar tidak terlalu lama Rommel menunggu..."
"Papa juga beresiko tinggi pergi-pergi sekalipun papa udah sehat, ma..."
"Mama bingung mikirin pesta nikah kayak apa situasi begini..."
"Ya... keadaan seperti ini honey... buat di sini aja, halaman kita luas banget pestanya outdoor aja sewa tenda... yang penting nikahnya bukan pestanya... toch gak bisa mengundang banyak orang..."
__ADS_1
.
Di luar, Holly duduk di teras yang menjadi tempat kesukaannya, Holly bersiap untuk mengikuti ujian semesternya matkul terakhir secara daring. Laptop sudah menyala sudah masuk ke sebuah aplikasi meeting, menunggu dosen yang belum bergabung.
"Kakak... mau belajar?"
Lisya datang dengan sebuah juice kemasan kotak di tangannya.
"Iya Yica... kakak mau ujian... makanya kakak mintol liatin Niol ya..."
"Iya, nanti Yica bantuin... Adek sih bobo siangnya lama kan... tapi nanti Yica liatin..."
"Makasih Yica pintar..."
Beberapa saat berlalu, ujian belum dimulai, Holly berbalasan chat dengan dua sahabatnya. Mereka masih penasaran di mana Holly berada. Tapi kali ini chatnya hanya saling memastikan kesiapan ikut ujian akhir.
"Kakak... belum mulai ya?" Yica datang lagi.
"Belum Yica..."
"Ini Yica kasih juice biar kakak semangat menjawab..."
"Waah Yica pengertian banget, tahu aja kakak lagi takut sama ujiannya..."
"Takut? Kakak gak belajar?"
"Ada sih..."
"Ya udah... gak usah takut..."
Holly selalu dapat sedikit melupakan kesedihannya karena anak ini jadi seperti temannya, suka sekali melakukan sesuatu bersama Holly, berbeda dengan Via yang cenderung lebih pendiam dan lebih banyak memegang ponsel.
"Kakak... kenapa suka sekali duduk di sini? Mau pagi, siang, malam kakak paling banyak di sini..."
"Mmm... kakak suka pemandangan di sini..."
"Ohh gitu... semua orang yang datang ke sini, suka bilang begitu... eh kakak tahu gak, ini juga tempat favorit papi, tapi karena mami sakit, makanya papi lebih sering di kamar menemani mami..."
Holly melemparkan tatapannya ke arah bawah, ke arah kota. Sebenarnya bukan pemandangan indah kota di bawah sana yang menarik minatnya untuk selalu berada di sini, tapi lebih kepada ada seseorang yang dia sayang tinggal di bawah sana, sebuah cara dia melepas rindunya adalah berlama-lama di sini dan memandang ke sana.
Pekerjaannya praktis hanya mengurus Junior dan menemani anak-anak, tidak terlalu merepotkan, justru dia bersyukur menerima pekerjaan ini karena keluarga Rommel memperlakukannya dengan baik, berbeda saat pelarian terdahulu. Di sini bukan hanya keramahan semua orang yang dia dapatkan tapi semua kebutuhannya diperhatikan oleh Keke. Jauh dalam hati dia merasa seperti menemukan keluarga yang lain lagi dalam hidupnya.
Tapi tetap saja hatinya nelangsa. Setiap kali si om Benaya turun ke kota, ingin rasanya minta ikut karena dia tahu Tenry sekarang tinggal di kamar kostnya, ingin muncul di depan Kokonya dan mengakui bahwa terlalu berat ternyata menjalani perpisahan ini. Tapi lagi-lagi janji pada Ci Cun menahannya, dia takut sesuatu yang lebih hebat terjadi di keluarga Tenry.
Enam bulan sudah, tapi hati ini masih merasa sakit, dan sulit untuk mencoba melupakan dan menganggap Tenry bukan siapa-siapa lagi di hatinya... semua ruang dalam hidupnya dipenuhi nama dan cinta untuk Tenry...
Jadi???
.
.
🦋
.
__ADS_1