Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 44. Ingin Memenuhi Semua


__ADS_3

Akhirnya tempat kost serta kamar kost kedua gadis itu sesuai pilihan Tenry, tempat kost yang masih baru dengan fasilitas yang sangat baik dan masih tersedia banyak kamar kosong. Awalnya Nuella menolak karena harga sewa per bulan dua kali lipat harga kamarnya sebelum ini, terlalu mahal, sayang duit. Tenry memaksa karena memang berniat membayarkan kamar Nuella juga, terlebih saat melihat Holly yang nyaman dengan Nuella, ada niat juga di balik itu pengen menitipkan Holly pada Nuella, Holly butuh teman yang tulus sampai dia kuat dan berani membela haknya sendiri.


Kamar kost dibayarkan setahun untuk Holly dan enam bulan untuk Nuella. Uang ternyata berkuasa juga untuk membungkam protes kedua gadis ini, setelah dibayarkan lunas keduanya gak berkutik menerima saja walau ada rasa gak enak. Beda dengan pemilik kost yang jarang-jarang mendapatkan penghuni kost yang membayar di muka sekaligus seperti ini, uang berjumlah besar masuk pantang ditolak. Dia gerak cepat menyiapkan kamar yang diminta supaya dua gadis itu tidak bisa menolak lagi.



"Kamar kostnya kayak gini... ibarat hotel ini udah bintang lima... sok nolak kamunya..."


Rommel ngomong kalem banget, tapi nusuk hati yang denger. Dia membantu Nuella membawa masuk barang-barang ke dalam kamar seluas 3×3 dengan fasilitas lengkap km/wc di dalam, plus ac.


"Bukan nolak Ka Mel... malu kan dibayarin, enam bulan pula... lagian kalau aku sih sayang duitnya, bisa ganti hp yang bagus tau gak..."


"Syukuri aja, ini anugerah... biar tambah semangat bikin skripsi di kamar yang bagus..."


"Iya ya... udah kayak nginap hotel aku sih... anggap aja aku anak orang kaya hahaha..."


"Orang kaya suka gak sayang uang sih ya..." Nuella menyambung lagi.


"Iyalah... yang butuh disayang kan... kamu... makanya ada aku dilahirkan untuk menyayangi kamu..."


Nuella mencibir sementara Rommel stabil dengan ekspresi menggoda yang tak kentara.


"Gaje... Jadi pengen punya kamar kayak gini..."


"Makanya semangat selesaiin kuliah, kemudian kita nikah biar kamu legal pindah ke kamar aku..."


"Kamar kak Mel kayak gini?"


"Jauh lebih besar, lebih bagus, lebih nyaman... atau mau pindah sekarang aja?"


Cowok bersuara kalem itu menatap serius padahal masih melanjutkan menggoda...


"Hahh?? Ayo... emang udah nungguin diajak sejak lama..."


"Ganjen... centil..."


Suara pelan Rommel tapi ada penekanan membuat Nuella cemberut. Satu sentilan keras di jidat ditinggalkan Rommel sebelum beranjak pergi.


"Iiih... sakit... siapa yang mulai sih..."


Nuella menggerutu dan mengusap jidatnya. Rommel berbalik sebelum mencapai pintu, kemudian memberi sebuah ciuman ringan di tempat yang kena sentilan jarinya.


"Udah gak sakit kan? Atau... mau disentil di tempat lain juga, biar aku kasih obat yang sama?"


"Itu udah suara setan... pulang sana udah tengah malam..."


"Hahaha... Aku pergi ya... besok sarapan cari sendiri, nanti siang baru ada makanan..."


"Iya... makasih, Kak Mel..."


"Simpan makasihnya... setelah nikah aku bakal hitung semuanya loh..."


"Ihh..."


Cowok kalem tapi ada aja celetukannya, kadang membuat sakit hati, tapi kadang bikin gemes, kadang setengah bergurau tapi ada benernya, tapi sangat perhatian dan selalu memanjakan terlebih selalu siap bila Nuella butuh bantuan.

__ADS_1


.


Di kamar lain yang saling berhadapan...


"Koko... kenapa keluarin duit banyak banget..."


"Biar Lingling gak ke mana-mana lagi..."


"Ihh... Koko gak percaya Lingling dong... padahal Lingling udah janji kan..."


Tenry tersenyum dan menatap sayang sambil memegang kepala Holly sejenak...


"Percayaaa... Koko ada uang dan pengen bayarin, itu aja... biar Lingling gak mikir mau kerja lagi... tadi denger alasan kalian pindah Koko marah... Koko gak mau Lingling seperti itu lagi... fokus kuliah aja... ya?"


"Tapi kamar ini terlalu bagus..."


Kamar Holly setingkat lebih baik dari kamar Nuella, berukuran 3,5x4 dengan km/wc di dalam dilengkapi ac. Fasilitas yang tersedia lebih banyak, spring bed ukuran 120, meja dan kursi belajar, lemari baju dan rak buku dan ada kabinet terpisah untuk penyimpanan makanan atau alat makan, dan diperbolehkan menambah alat elektronik karena kamar ini ada meteran listrik pulsa sendiri.



"Udah umum kamar kost seperti ini, gak ada yang istimewa... jangan protes lagi, udah dibayar juga kan..."


Akhirnya Holly diam, menonton Tenry yang sedang merapihkan pakaian Holly, gadis itu disuruh duduk tenang aja di atas tempat tidur, Tenry masih geram mengetahui bagaimana Holly menjalani kesehariannya, termasuk hari ini Holly sempat mengeluh badannya sakit dan cape.


"Ehh.. yang di dalam plastik hitam, biar Holly sendiri... itu barang pribadi..."


Tenry tersenyum paham.


"Yang lain nanti Lingling aja yang beresin..."


"Gak ahh, masih ada Koko di sini... tapi udah ngantuk sebenernya..."


"Iya... dikit lagi... nah... selesai..."


Tenry akhirnya selesai, dia menutup pintu lemari lalu duduk di samping Holly.


"Nanti besok Koko bawain kebutuhan Lingling yang lain... Hanie juga mau ke sini besok bawa motor, tadi Koko udah shareloc..."


"Koko pulang sekarang kan?"


"Ngusir ceritanya?"


"Bukan... kan udah mau tengah malam, rumah Koko jauh... dan akunya ngantuk..."


"Baiklah... sini sebentar..."


Tenry mendekap sejenak tubuh kecil Holly lalu bibirnya mampir di ubun-ubun..."


"Besok kuliah jam berapa aja?"


"Pagi jam setengah sepuluh sama sore jam tiga, dua mata kuliah aja..."


"Oke... besok Koko bawain sarapan... gak usah buru-buru bangun, badan kamu kurus begini harus banyak istirahat sekarang dan jangan ngeyel cari kerja lagi... cukup Koko sama Hanie yang kerja buat Lingling, ok?"


"Hehehe... udah kayak siapanya Koko Lingling tuh... dibayarin kost, tadi Koko bilang mau dibawain keperluan Lingling juga... sekalian aja Lingling minta jajan buat besok..."

__ADS_1


Tenry mengambil dompet di tas kecil yang selalu dia bawa lalu mengambil beberapa lembar uang merah, mata Holly langsung membulat...


"Ehhhhh... gak... gak... Holly becanda... Holly punya uang ihh... Ko Tenry ahh..."


Holly bergeser menjauh dengan wajah panik.


"Loh... tadi minta??? Koko ada kok..."


"Gak!"


Sekarang Holly beranjak semakin jauh duduk di kursi belajar. Tenry tertawa geli melihat reaksi Holly, termasuk berubahnya sebutan nama.


"Hahaha... kenapa ekspresinya horor gitu?"


"Abisnya... Ko Tenry jangan gitu dong, gak baik tau suka ngasih banyak barang apalagi uang sama Holly... Holly balasnya pakai apa nanti?"


"Gampang... pakai cinta dan kasih sayang sama rindu... itu aja..."


"Ihh... Holly gak mau hutang budi, nanti yang susah Holly kan..."


Hati Tenry seperti disentil keras dengan pemikiran Holly. Jika ditanya Tenry ingin memberi semua yang dia miliki untuk Holly, tidak pernah menghitung apa yang dia telah berikan. Dia terbiasa punya semua kebutuhan dasar sejak kecil makanya ingin memenuhi semua kebutuhan Holly sekarang, dan dia belum melewati batas itu, mungkin jika itu Glo bukan lagi kebutuhannya yang harus Tenry penuhi tapi keinginan mahalnya.


"Ling... jangan salah mengerti ya... jangan merasa hutang budi juga, Koko lakukan ini karena sayang Lingling...ok?"


Holly diam tak merespon.


"Semua yang Koko kasih itu kebutuhan Lingling... dan buat Koko itu gak berlebihan..."


"Udah banyak kan... waktu itu hp, kata temenku harganya duabelas juta, mahal banget makanya Holly simpan aja takut hilang... sekarang bayarin kost mahal juga... Ko Tenry kayak ngasih beban tuh berat banget tau gak, gimana kalau Ci Cun tahu, ..."


"Astaga sayang... memang gitu kan kalau sayang, suka kasih perhatian sama pacar, jangankan barang atau uang, diri Koko aja udah Koko kasih buat Lingling..."


Tatapan penuh arti yang begitu lembut dengan jarak tak begitu jauh memerangkap Holly dan menyentuh hatinya menyadari tentang seorang Tenry yang peduli dan sayang padanya.


"Siapapun di dunia ini akan melakukan apa yang dia bisa untuk seseorang yang disayang... Lingling mengerti ini kan? Koko juga begitu sama Lingling... jadi jangan jadi beban..."


Tenry berjongkok di depan Holly. Sebuah usapan sayang di lengannya akhirnya meluluhkan hati Holly yang sempat kecut, takut selalu menerima tapi merasa gak punya sesuatu untuk diberikan.


"Koko pulang ya?"


"Iya... makasih Ko..."


Lirih jawaban Holly tapi cukup untuk memaniskan hati Koko menutup malamnya lebih bahagiaaa.


.


🦋


.


.


Guys... jangan dibully jika merasa Tenry terlalu royal... kan Tenry gak beli kost-annya juga 🤦...


.

__ADS_1


__ADS_2