Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 52. Permintaan Kecil


__ADS_3

Mobil gak mungkin masuk lorong sempit itu, gak ada tempat untuk parkir ataupun putar arah, jadinya Tenry memarkir di jalan besar, di depan sebuah kios sembako kecil.


Demi kesopanan Tenry turun dan meminta ijin pada pemilik kios.


"Siang... boleh numpang parkir di sini?"


Si pemilik kios senyum-senyum memandang Tenry, sejak mobil sedan itu mundur mengambil posisi dia sudah mengenali karena pernah parkir di tempat yang sama beberapa waktu yang lalu.


"Boleh aja Ten... tapi ongkos parkirnya mahal ya... karena nutupin daganganku..."


Tenry memincingkan mata lalu akhirnya tersenyum lebar...


"Hei... Sonny... waduh kenapa perutmu maju ke depan sekarang... lagi hamil ya kamu?"


Keduanya tertawa bersama sambil melakukan salaman ala pria.


"Ini casing bapak-bapak dua anak Ten..."


"Oww... nikah sama Dina jadinya?"


"Mau sama siapa lagi Tenry, gak ada yang mau sama dia aku doang yang mau..."


Dina berbicara dari antara barang dagangan mereka, wajahnya menyembul keluar dari gantungan macam-macam snack di kios itu.


"Ala... sombong kamu ya setelah jadi istri, siapa yang maksa-maksa nikah..."


Sonny menimpali sang istri yang sekarang manyun.


"Hahaha... kalian masih kayak gitu ya gak berubah..."


Holly keluar dari mobil dan menyapa teman kakaknya.


"Sonny, Dina..."


Gak ada sapaan atau embel-embel kak, kakak atau bang atau mas di kompleks ini. Bahkan orang yang jauh lebih tua pun hanya disebut nama atau julukannya.


"Holly... keren mahasiswa ya sekarang... udah pindah sama Hanie katanya... gak pernah kelihatan..."


"Holly ngekost Din..."


"Ciee jadi pacar Tenry sekarang...."


Holly tersenyum masam gak menanggapi, pasti dia udah sering digosipkan di lingkungan ini, akunnya sering dikepoin tetangga-tetangga, makanya dia malas main sosmed, si Koko aja yang suka posting foto mereka berdua.


"Denger-denger papamu sakit loh, parah udah komplikasi..."


"Oh? Mama gak bilang kemaren waktu nelpon aku..."


"Katanya darah tinggi sama jantung kumat... eh bawa ke dokter bilang Hanie, kayaknya minum obat sembarangan itu, suka dicariin obat warung sama Hellen."


"Oh iya... Holly ke rumah aja ya..."


Di lingkungan ini, rumah berdempetan, apa yang gak diketahui tetangga, semua mulut kayak toa berita menyebar cepat dan diceritain menurut versi masing-masing.


Tenry masih asyik bernostalgia dengan Sonny, ditungguin Holly dengan gak sabar terlebih saat denger papanya sakit, walaupun papa gak pernah menunjukkan rasa sayang buatnya selama ini tapi tak mengubah fakta pria itu tetaplah seorang papa untuknya


Holly menguncang pelan lengan Tenry...


"Ko... Holly duluan deh, Koko ngobrol aja dulu entar Koko nyusul ya..."


"Eh... gak, sama-sama aja... Son, kapan-kapan kita ngumpul ya, nanti aku bilang Hanie sama Ezrah..."


"Sip... sip..."


Tenry membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan beberapa kantong besar belanjaan mereka. Tangan mereka berdua gak muat untuk mengangkat semua belanjaan, masih ada pizza satu meter sama beberapa kantong ayam goreng terkenal.


"Wah... ngeborong ya Holly..."


Dina langsung keluar dari kiosnya, jadi kepo sama apa yang ada di mobil itu.


"Hehe, maklum... di rumah banyak orang..."


"Kapan-kapan aku belanja di kios kamu aja kalau ke sini..."


Tenry melirik wajah Sonny, temen semasa SMA, sambil menurunkan semua kantong plastik putih jumbo bermerek sebuah swalayan terbesar di kota ini.


"Oh... aku tungguin... barangkali ada yang kelupaan beli..."


"Eh... udah kok Sonny..."


Holly langsung menjawab, takut si Koko masih mau nambah sesuatu. Sementara Tenry memindai dagangan Sonny.


"Beras... yang gak ada. Yang kemasan itu berapa liter?"


"Hitungnya kilo Ten... yang itu 5 kg, 78 ribu..."


"Ambil 2 aja dulu Son..."


Tenry menyodorkan tiga lembar uang merah.


"Ini kebanyakan, bisa dapat tiga..."


Sonny hanya melihat tapi Dina langsung menyambar uang di tangan Tenry...


"Mintanya dua Son... sengaja dilebihkan... iya kan?"


Tenry tertawa, gak sengaja menarik uang baru tiga lembar tapi Tenry membiarkan kelakuan Dina.

__ADS_1


"Aku bantuin ngangkat barang deh..."


Sonny melotot pada istrinya yang langsung keluar jiwa matrenya asal melihat uang merah.


.


🌿


.


Di rumah... anak-anak langsung rame mendapatkan makanan langka buat mereka, sekarang ada di depan mata dalam jumlah yang banyak pula. Hidung langsung kembang-kempis sangking senangnya.


"Sini... aku bagiin satu-satu ya... jangan rebutan..."


Lima ponakannya tumben gak berantem dan patuh sama Holly. Udah hafal kelakuan semua ponakannya maka dia membeli ayam crispy masing-masing satu dus berisi dua potong ayam, perkedel, sama nasi.


"Simpan di kamar masing-masing ya, buat makan malam... jangan makan punya orang, nanti aku gak beliin KF C lagi kalau nyuri punya orang..."


"Iya... iya..."


Kompak mereka menjawab, belum bergeser karena masih ada yang mereka inginkan. Ada rasa haru bertemu mereka lagi, dulu kayaknya mereka begitu menjengkelkan dan menyusahkan, tapi melihat mereka sekarang rasa kangen begitu menguasai, ingin meladeni mereka lagi seperti dulu. Holly senyum-senyum melihat pandangan mereka yang tertuju di pizza satu meter, sementara tangan memegang erat jatah kentucky mereka. Holly pura-pura sibuk dengan kantong kresek berisi segala macam keperluan dapur.


"Holly... kentucky yang lain punya siapa?"


Mikha ponakan paling besar menunjuk tumpukan dus berwarna putih bertuliskan KF C itu.


"Itu buat orang besar... oma opa sama yang lain juga..."


"Mama papaku dibagi gak?"


"Iya... ada..."


"Terus... pizzanya buat siapa?"


Holly melihat anak-anak yang udah mode ngiler tingkat dewa.


"Hehehe... buat kalian lah..."


"Yeeeey..."


Gak hitung sampai tiga anak-anak sudah berebutan.


"Ehhhhh... stop, aku gak akan ngasih kalo gini caranya... duduk dulu yang manis..."


Ajaib... mereka mendengarkan Holly sekarang.


"Bilang makasih dulu sama.... Ko... mereka manggilnya apa dong?"


Holly memandang Tenry yang baru masuk lagi dengan kantong belanjaan yang lain, tadi berdua Sonny, mereka masih balik ke mobil.


"Biasa aja..."


"Oh... ya udah om Tenry aja..."


Tenry menatap ponakan Holly satu-satu.


"Bilang makasih sama Om Tenry yang beliin semua ini..."


"Makasih Om Tenry..."


"Iya..."


Holly kemudian mengambil piring dan membagi pizza, ada 2 toping dalam satu dus, jadi masing-masing dapat dua.


"Habisin yang ini dulu..."


"Nanti boleh nambah?"


Si kecil Lois bertanya penuh harap.


"Iya boleh..."


"Snacknya?"


Si bongsor Julian rupanya sudah mengintip isi salah satu kantong belanjaan itu.


"Nanti minta mama kalian ya... eh... sini dulu, ada tapinya... piring kotor bawa ke dapur ya?"


"Iya..."


Anak-anak langsung menghilang dari dapur. Holly merasa hepi bisa berbagi dengan keluarganya walaupun notabene belinya pakai uang Tenry, tapi dia senang melihat kegembiraan ponakannya. Holly kemudian melanjutkan membereskan semua belanjaan.


"Ko... udah ketemu mama kan?"


"Iya... udah sempat ngobrol..."


"Mmm, tumben rumah bersih gini..."


"Baguslah, kamu gak perlu kerja lagi..."


Holly tersenyum, tapi mikir siapa yang sekarang bersihin rumah, gak rapih-rapih amat sih, lantai juga gak dipel, tapi paling tidak gak ada sampah berserahkan di mana-mana dan piring gelas bersih rapih di lemari piring. Tapi cucian udah segunung di kamar mandi, Holly hanya melihat saja karena ada mesin cuci sekarang.


Semua persediaan makanan kering, ada bihun, mie keriting, telor, sama botol-botol kecap dan saos tomat udah tertata di kitchen set tua milik mama, begitu juga beberapa jenis bumbu basah. Gak tahu juga apa ada yang masak sekarang, tapi Koko Tenry memaksa membeli bahan makanan sama segala macam sabun dengan kemasan besar.


"Udah selesai... yuk ke depan lagi..."


Holly menyimpan dua kantong plastik berisi snack di kamar mama, takut dibongkar para ponakan setelah pizza mereka habis. Sempat menengok sejenak pada papanya yang sedang terlelap. Di ruangan mama, ada Henny juga dan ini yang surprise buat Holly, Henny lagi ngejahit pakaian.

__ADS_1


"Ma... buat mama..."


Mama melirik sinis tapi gak bersuara, mungkin segan ada Tenry teman Hanie. Tapi tak urung tangannya terulur juga meraih kantong kresek yang Holly kasih. Henny menghentikan kegiatannya, menatap kepo pada kantong yang mama pegang. Raut malu terpancar walau tak kentara, mama mengeluarkan isi dan langsung menempelkan di badannya, sebuah blouse dan celana casual berwarna gelap.


"Ini yang aneh, tukang jahit malah beli baju toko... emang gak pernah bisa jahitin baju sendiri kan..."


Tante Rosma seorang pelanggan lagi nungguin bajunya kelar memandang seperti menginginkan juga apa yang sedang dicoba mama Ibeth di depan cermin.


"Kenapa warnanya gelap Holly..."


Mama gak terlihat apa senang atau gak dibelikan baju, malah mengeluh soal warna.


"Kan mama jarang keluar atau hadir acara, paling-paling pergi melayat... makanya aku milih warna itu..."


"Buat aku ada?"


Henny bertanya asal tapi berharap.


"Lain kali Hen..."


"Banyak uang kamu sekarang?"


Suara besar mama membuat Holly menarik napas. Si Mama gak bisa ngucapin terima kasih ya, malah kedengaran sinis pertanyaannya.


"Ada sedikit ma... makanya bisa beli buat mama papa..."


"Itu kantong yang kalian bawa masuk apa? Banyak banget..."


Henny berdiri sekarang sambil meluruskan badannya.


"Itu... kebutuhan harian sama makanan, Koko Tenry yang beliin sih..."


"Ada jatah buatku?"


"Ada buat semua...."


"Ma, aku makan dulu yaa... cape juga. Tenry... sering-sering ya bawa sajen..."


Henny berjalan melewati Tenry yang sedang berdiri bersandar dekat pintu. Holly terpikirkan sesuatu...


"Koko ke depan aja ngobrol sama Sonny, dari pada bengong di sini, dikit lagi Lingling nyusul... ya?"


Tenry mengiyakan, sebenarnya masih sungkan karena statusnya beda sekarang, dulu kayak bebas aja keluar-masuk rumah ini karena Hanie.


"Tante... saya pamit..."


Mama Ibet menganggukkan kepala hanya menatap sekilas. Tenry pergi sebelumnya mengusap kepala Holly, interaksi yang sempat diperhatikan orang rumah termasuk sang papa yang langsung menerobos masuk dan duduk dengan santainya di sebuah kursi plastik dekat bu Rosma.


"Kamu pacaran sama Tenry?"


Papa ngomong langsung sambil menatap Holly, entah apa tujuannya, hanya mengkonfirmasi atau mau melarang karena Holly baru tujuh belas.


"Iiiya..."


"Baguslah... cepet-cepet nikah kalau gitu, papa udah pengen istirahat..."


"Kamu kebanyakan istirahat, dasar pemalas. Mau apalagi kamu?"


Mama langsung membentak tapi papa santai aja, Holly yang malu karena masih ada tante Rosma.


"Eh ses Ibeth nanti aja saya suruh anak saya ke sini jam lima ya, tapi harus udah selesai bajunya..."


Tante Rosma langsung beranjak pergi.


"Pa... papa sakit apa?"


Holly coba menengahi biar acara saling teriak itu jangan berlanjut.


"Sakit?? Yang sakit otak papamu!"


Suara mama masih tinggi. Dan Holly jadi tahu bahwa sakit itu modus papanya, seperti biasa.


"Holly... ingat kalau kamu nikah papa minta rumah yang bagus sama mobil, papa udah cape hidup susah... Tenry kan anak orang kaya, kecillah kalau papa minta itu... itu persyaratannya baru kamu bisa nikah, dan harus secepatnya..."


Mata Holly terbelalak. Apa dia gak salah denger? Ini sungguh memalukan untung gak didengar orang lain, Tenry baru sekali ini datang ke rumah, emang tadi dia ngelamar? Lagian dia belum ada rencana menikah. Beneran si mama otak papanya lagi sakit.


Ampun... papa waras gak sih? Apa kata Koko? Ci Cun? Ini aja masih takut ketahuan...


Holly sesak dan seperti seseorang baru saja mematikan sakelar bahagia di hatinya, perasaan senang berada di rumah langsung lenyap seketika. Holly masih berdiri gak bergerak di tempatnya, tiba-tiba dia merasa sia-sia datang ke sini dan menyesali mengajak Tenry ke sini.


"Kamu harus tahu balas budi, kalau gak ada orang tua kamu gak ada kan... pintar kamu cari calon suami, gak seperti dua kakakmu, numpang selamanya di rumah mertua... Oh ya... sekarang papa minta beliin tv yang lebih besar biar papa gak rebutan sama anak-anak... mau papa pasang di kamar aja... bilang sama Tenry, itu permintaan kecil..."


Kenapa harus punya papa seperti ini, tak pernah merasakan sentuhan sayang sejak ia mengerti siapa sosok papa di hidupnya, seingat Holly papa hanya memperhatikan Hellen. Dan sekarang sang papa hanya bisa memberikan sebuah masalah padanya. Tanpa pamit Holly beranjak menuruni lorong dengan pipi yang mulai basah.


"Kalau ke sini lagi tvnya udah ada ya..."


Suara keras papa menyertai langkah gontai Holly.


.


🦋


.


Hi.....


Tengkyuuu utk support kalian...

__ADS_1


Semoga ada yg tergerak ikutan komen dan ngasih jempol 💚


.


__ADS_2