
Ci Cun dan Ko Siong sedang bersiap untuk berkunjung ke negara T, sudah jadi agenda rutin setiap satu atau dua tahun sekali mereka ke sana. Kali ini bertepatan dengan hari raya tahun baru dalam budaya mereka dan perjalanan kali ini akan lebih lama dari biasanya. Ko Siong dan Ci Cun sekalian memeriksa kesehatan mereka juga, entah kenapa mungkin sudah jadi kepercayaan mereka di negara itu pelayanan medisnya lebih baik.
"Ling... udah catat semua pesan mama?"
"Udah ma..."
"Yang paling penting yang harus kamu lakukan mengatur pembagian bonus untuk semua karyawan, sudah ada aturannya, kamu harus awasi pembagiannya... sebelum hari raya sudah harus selesai..."
"Iya ma..."
"Apalagi ya..."
Ci Cun nampak berpikir sejenak...
"Oh ya... sembako untuk orang tua para karyawan, udah ada catatannya di tiap kantor... ini harus diawasi juga, kadang suka ada karyawan nakal, melebihkan atau gak memberikan pada yang bersangkutan, jadi atur itu dengan baik... semuanya harus selesai sebelum hari raya..."
"Iya ma..."
"Catat itu..."
"Iya..."
Holly mencatat pesan mama mertua yang sedang melihatnya di atas kacamata bacanya, seperti memastikan menantunya mengikuti instruksinya.
"Ingatkan Koko soal libur, hanya dua hari..."
"Iya ma..."
"Kali ini giliran karyawan di Marina yang dapat paket liburan sekeluarga, ingatkan Koko jangan salah... budged gak boleh lebih, Koko suka lembek kalau dirayu karyawan, mama sudah ingatkan managernya kemaren... tapi kadang mereka suka minta tambahan sehari atau tambah fasilitas... Koko suka acc..."
"Iya... nanti aku kasih tahu Koko..."
"Mama sama papa mungkin satu atau bulan di sana..."
Holly menunduk, membayangkan hidupnya sebulan yang mendatang akan seperti apa, kaki bisa jadi kepala sebaliknya kepala bisa jadi kaki, baru membayangkan Holly sudah merasa lelah. Menangani bagian pekerjaannya sendiri menyita begitu banyak waktunya, apalagi sekarang harus ditambah dengan bagian pekerjaan mama mertua, ditambah dengan kesibukan menjelang hari raya ini dengan semua kebiasaan Ci Cun saat merayakannya.
Tak kentara Holly melepaskan napas berat, tiba-tiba hatinya sesak, berarti bakal membiarkan Echa lagi hanya dengan suster Lena.
Nasib jadi istri Koko...
Walau bibir tak mengucapkan keluhan karena sudah melakoni dan menerima jadi istri dan menantu di tengah keluarga yang terbiasa dengan pola hidup yang selalu bekerja keras dan tak boleh loyo atau lengah. Tapi tetap aja kadang dia tertekan dengan semua ini.
"Nanti aku bantuin soal sembako Nso... aku banyak lowong sekarang..."
Ivy bicara saat melihat sedikit perubahan pada raut wajah Holly.
"Bener ya De... syukur deh..."
Ci Cun memandangi Holly kembali dari balik kacamatanya. Dia bukannya gak mengerti kondisi menantunya, tapi tak ada niat untuk mengurangi beban kerja, menantunya harus mampu menangami semua. Sengaja memang dia memutuskan perjalanan kali ini lebih panjang waktunya karena ingin menantunya tahu seperti apa kehidupan yang harus dijalani sepenuhnya di keluarga ini. Dia juga sebenarnya bukannya ingin lebih santai tapi memang sedang mengajarkan kedua anaknya, dan akan terus mengawasi sampai dia tutup usia.
__ADS_1
Bukan tidak puas dengan kinerja sang menantu, dia harus mengakui bahwa Holly boleh dibilang menantu yang sesuai kriterianya, enam tahun dia mengamati gaya hidup sang menantu dan dia cukup puas menantunya adalah tipe orang yang sederhana dan yang terutama bisa bekerja. Dia justru lebih waspada pada anaknya sendiri yang terlihat terlalu sayang dan ingin selalu memanjakan istri, termasuk sangat royal bila menginginkan sesuatu.
Keduanya masih pasangan muda bisa saja gaya hidup di luar sana mengubah anak dan menantunya hingga mereka kendor, sementara persaingan di dunia bisnis semakin keras dan kejam. Dia gak ingin bisnis yang dibangun sejak lama runtuh seketika karena pola hidup dan anak-anaknya berubah santai dan terbuai dengan semua fasilitas yang sekarang dengan mudah bisa diperoleh... dan gak dibarengi dengan cara kerja yang benar.
Banyak contoh rekan-rekannya yang tadinya bisnis mereka berjaya setelah diteruskan anak-anak justru menurun bahkan bangkrut karena gaya hidup suka pelesir dan konsumtif tapi gak mempertahan pola kerja orang tua.
.
🍀
.
Beberapa minggu ini sepertinya kehidupan hanya berputar pada lingkaran yang sama. Selain kesibukkannya yang meningkat, dua kakaknya tak henti menekan Holly soal papa mereka, tidak ada kemajuan tentang arah pembicaraan. Akhirnya Holly menjadi sangat jengkel, semua energi negatif yang telah berkumpul sejak lama di hatinya seperti mau meledakkan isi kepalanya.
Holly berusaha menjaga kewarasannya saat menerima telpon Lina hari ini.
📱
"Oke Lin... aku pergi sekarang, gak jelas apa mau kalian sebenarnya..."
"Gak ada orang di rumah..."
"Loh... jadi apa maksudnya kamu menelpon berkali-kali minta datang, setelah aku bersedia, malah kalian gak ada... aneh tau gak... Aku ke sana sekarang."
Holly menutup telpon lalu naik ke ruang atas. Ini harus diselesaikan sekarang, banyak hal yang menanti untuk dikerjakan jika gangguan ini terus datang itu akan mengganggu pekerjaannya. Dia baru tiba di kafe, baru siap untuk mengerjakan banyak hal yang menjadi tanggung jawabnya, sudah datang gangguan.
Suami telah sibuk dengan proyek-proyek konstruksi yang ditangani perusahaan mereka, dia gak mungkin mengganggu si Koko.
"Mami..."
Ezar yang tadinya hanya melirik saat mami masuk ruangan sekarang malahan berlari menubruk kaki Holly saat melihat Holly mengambil tas dan kunci mobil di meja. Anak kecil ini sudah sangat paham jika maminya membawa tas artinya mami akan pergi.
"Itut... dadah... Adek itut mami dadah..." [Ikut, ikut mami pergi]
Dua tangan terulur dengan kaki kecilnya yang menghentak lantai bergantian.
"Adek... mama perginya jauh... adek di sini sama suster ya..."
"Ndak... itut... eheks... heks... itut..."
Ezar mukai menangis dan masih bersikeras minta digendong sang mami. Tangannya yang terangkat dan tak dilayani sang mami kini memeluk erat kaki Holly.
Hati seorang mami tersentuh terlebih setelah melihat airmata di pipi anaknya. Sejak kesibukan begitu menyita waktu Holly membawa Ezar di sini bahkan sekarang lebih sering menginap di sini, rumah mereka jauh ke arah pinggir kota di dekat bandara, kadang terlalu lelah untuk kembali ke sana.
"Adek... mami sebentar aja... gak lama..."
"Ndak... adek itut... eheks... heks..."
Serasa Holly ingin menangis bersama anaknya, diraihnya anaknya ke dalam pelukan, melepaskan tasnya serta kunci mobil di tempat semula.
__ADS_1
"Nanti mami beli mainan ya... beli robot lagi ya..."
Ya... belakangan hanya ini caranya membujuk sang anak sehingga bisa ditinggal, entah berapa banyak robot yang sudah dibelikan dan entah berapa banyak pula robot yang rusak. Hanya jenis mainan ini yang bertahan sedikit lebih lama dimainkan Ezar.
Anaknya apa punya rasa ingin tahu yang tinggi dan terlalu kreatif dan penuh imajinasi, atau mungkin saja sudah jenuh dijejali mainan sehingga lebih cenderung merusak mainan yang baru dibelikan.
Dia merasa bersalah hari ini karena selalu mengganti kehadirannya dengan benda. Terlalu banyak membaca tentang parenting membuat dia merasa bersalah saat menemukan sesuatu pada anaknya sesuai dengan pengetahuannya tentang itu.
Ezar masih menangis dan mendekap erat leher sang mami.
"Cup cup diam ya Dek... mami gak jadi pergi ya..."
Holly masih melancarkan bujukan dan malah tambah sedih karena biasanya dia akan pergi juga, rasanya seperti secara tidak langsung mengajarkan anaknya untuk berbohong karena setelah anaknya diam dia kan pergi juga.
Sesaat kemudian Ezar diam tapi belum mau diturunkan dari gendongan mami. Holly duduk di sofa kuning ingin menunggu sejenak sampai Ezar melupakan bahwa maminya akan pergi, dia harus mengambil jurus pergi dengan diam saat Ezar sibuk bermain. Tapi Ezar seolah waspada, setiap Holly bergerak dia akan spontan memeluk lagi. Kini anak itu bersandar di dada sang mami.
"Akhir-akhir ini kayak manja ya sus..."
"Iya sih bu... suka rewel juga... biasanya anteng aja main... kemaren kan nangis beberapa jam bu pas ibu pergi..."
"Oh gitu? Kenapa gak kasih tahu, atau telpon aku sus..."
"Ibu sibuknya seperti itu..."
"Iya memang... tapi kan kalau Echa kayak gitu masa aku gak pulang..."
"Ehh biasanya Ci Cun suka ngelarang kalau dia rewel terus saya telpon ibu... makanya saya sungkan bu..."
Holly membuang napas... mereka memang pisah rumah dengan mertua, tapi soal pekerjaan mama mertua saklek dan tetap aja menjadi pemegang otoritas tertinggi untuk keluarga ini dan nampaknya suami mengikuti aja aturan sang mama, selalu menghormati keputusan sang mama soal pekerjaan. Dia akhirnya terbiasa jarang mengeluhkan bila ada yang tidak beres menurut pandangannya. Trauma juga saat mulai membangun tempat ini sempat dikritik sang mama mertua. Mama mertua memang penyayang, tapi soal kerja gak ada toleransi.
Holly mencoba melepaskan Ezar dari pelukan dan gak beranjak dari tempat duduknya. Saat mata anaknya memandang dengan curiga dan gesture tubuh yang waspada, Holly tersenyum masam, dia meraih kepala anaknya lalu mengecup beberapa kali...
"Masih kecil gini udah tahu aja mami bakal pergi... udah gak bisa dibohongi..."
Ezar gak bergerak dari kaki maminya, malah bersandar di kaki maminya, telungkup di paha maminya sambil memeluk paha maminya.
"Gimana aku bisa kerja kalau kayak gini sus... aku juga harus bertemu papa, rumahnya jauh dari sini... oh God... kerjaanku banyak dan anakku rewel gini..."
Holly mengusap punggung anaknya dengan berbagai emosi yang menguasai hatinya. Dia menyandarkan punggungnya yang tiba-tiba terasa tegang... tiap butir airmata berkejaran hingga tumpah membasahi pipinya. Airmata berteman dengannya sejak lama, dan ternyata di musim apapun airmata gak meninggalkan hidupnya.
.
🦋
.
Hii.... makasih untuk semua vote, komen dan likenya... Nanti ya balas komennya, ngejar selesaian bab baru Jika Kamu Cinta...
lv u ...
__ADS_1
.