Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 95. Tinggi yang Serasi


__ADS_3

Hanie keluar dari rumahnya dengan wajah marah setelah berulang kali coba memberi pengertian pada papanya, papanya tetap bersikeras dengan pendiriannya soal tradisi keluarga turun-temurun, dan soal gengsi dengan tetangga yang udah tahu mereka akan mendapat rumah serta mobil. Ini kali kedua dia datang ke rumah setelah Tenry datang menghadap papa mamanya.


"Pa... jangan terlalu keras kepala... ikutin Hanie aja dulu sekarang, setelah udah resmi nikah baru papa minta sama Holly dan Tenry... gak mungkin Tenry gak ngasih kan, secara udah jadi anak... masa mereka hidup mewah terus orang tua hidup kayak gini..."


Hellen yang mendengar perdebatan Hanie dan sang papa coba melunakkan hati sang papa.


Sang papa hanya mendengus, dia udah gak sabar punya mobil dan yang terutama rumah yang dia incar di bagian jalan raya udah ada pembeli lain yang nawar juga.


"Hellen bener, pa... kalau papa bertahan sama keinginan papa, jangan-jangan bener kata si Hanie si Ko Siong bisa membatalkan pernikahan katanya... mengalah aja dulu dari pada Tenrynya mundur terus gak jadi nikah, hilang deh harapan papa..."


Yosie suami Herlina tiba-tiba nimbrung. Dia juga sudah punya angan-angan sendiri nantinya, punya calon ipar tajir ibarat udah dapet ikan besar sayang kan, jangan sampai lepas aja. Lingkup pertemanan Yosie lumayan luas karena profesinya sebagai makelar jual-beli mobil second, banyak tahu soal siapa aja pengusaha kelas kakap di daerah ini. Cerita temennya yang mendapat fee besar dari Ko Siong saat menjual empat mobil keluarga Tenry baru-baru ini, masih terngiang-ngiang di telinga.


"Rumah di depan keburu dibeli orang kalau lama..."


"Gampang pa... aku bisa gangguin pasaran rumah itu kalau rumah itu yang papa incer... malah bisa buat rumah itu jatoh harganya asal papa ngasih uang gede buat kita-kita... udah kerjaan kita itu..."


"Aku mau beli motor loh... papa udan janji sejak lama, si Holly ternyata punya motor, kata istri si Sony suka nitip di warung mereka kalau ke sini..."


Si Hofny yang masih setengah mabuk dari semalam, udah langsung waras aja dengar pembahasan soal Tenry... maksudnya pembahasan tentang apa yang bisa didapat dari seorang Tenry.


.


🌵


.


Hari lamaran...


Gak seperti orang lain, hari ini puncak tekanan bagi seorang Holly, bukan menjadi hari membahagiakan tapi menjadi hari yang menakutkan. Dia gak meragukan ketulusan cinta Tenry, tapi dia mulai memahami perbedaan besar di antara keluarga mereka.


Meskipun di keluarga Tenry seolah gak memusingkan dari kalangan mana Holly berasal, tapi kegalauannya justru dari keluarganya sendiri. Kelakuan papanya sangat meresahkan dirinya. Holly takut jika di acara lamaran nanti papanya membuat ulah, trauma juga karena papa dan mama suka saling teriak jika salah paham, gimana nanti jika pembicaraan dengan keluarga Tenry gak menyenangkan papanya...


Nalurinya juga mengatakan si Koko gak baik-baik aja dengan permintaan papanya, walau tak bicara apapun tapi ekspresi Tenry belakangan menunjukkan lamaran ini adalah sesuatu yang berat untuknya. Dua hari ini Tenry hanya mengirim chat membuat Holly sedih.


Saat sedang melamun di sofa kesayangan, ponselnya berbunyi dan hanya notifikasi sebuah pesan, padahal dia berharap Tenry menelponnya, berbicara dengannya bukan hanya lewat pesan aja.

__ADS_1


.


Baby... nanti siang dijemput Cici ya buat ke salon, udah ada baju sama sepatu... nanti ketemu di acara kita ya... love you.


.


Itu aja, begitu singkat gak sanggup memuaskan bathinnya yang sedang butuh kekuatan. Holly berdiri dengan lesu menuju kamarnya, dia melanggar apa yang Tenry mau yaitu membuang jauh-jauh sedihnya dengan mengingat hari ini sebagai satu dari rangkaian hari bahagianya... hatinya terlalu berat sekarang gak bisa diajak untuk tenang apalagi bersemangat. Dia jatuh tertelungkup dalam tangisnya lagi.


Airmatanya ternyata adalah hiasan di semua musim hidupnya. Dia merasa sendiri, harusnya ada mama yang mendukungnya... seprainya makin basah.


Jam dua belas lewat, Beyvie dan Ivy menjemput Holly. Di mobil Holly duduk dengan Ivy di deret kedua dan hanya bisa tersenyum kaku.


"Udah makan Holly?" Ivy tersenyum ramah.


"Eh iya... udah..." Holly berbohong karena sejak pagi dia gak bisa makan hanya menangis aja di kamarnya.


"Udah mandi juga kan... hehehe, bentar perawatan langsung ganti baju dan gak pulang rumah lagi..."


"Udah... Vy..."


"Dede aja panggilnya biar ketahuan aku tuh adek imut kalian... Holly kayak seumuran aku sih..."


Beyvie yang duduk di depan bersama supir menimpali.


"Cici ihh... Tapi, aku panggilnya So Holly ya... engg... gak enak banget nyebutin namanya hehehe.... So Lingling aja boleh? Kayak panggilan Koko?"


"Boleh aja De..."


"Hehehe aku bakal dapet temen buat seru-seruan..."


Holly senyum tapi hati perih, mana yang status keluarganya seharusnya, tapi di sisi lain sikap Ivy yang hangat menghibur dirinya.


Sore hari... selesai dengan semua perawatan untuk Holly. Baru sekali ini dia menikmati hal-hal tentang kebutuhan perempuan masa kini, malu juga karena sangat awam dengan semua itu dan merasa rendah diri karena punya kulit rambut wajah dan kuku yang gak terawat . Beyvie jadi memborong semua jenis perawatan di salon langganannya ini dan dibungkus cantik sebagai bagian dari hantaran.


"Udah cantik Ling... jangan nangis lagi loh... biar makeupnya gak berubah..."

__ADS_1


Beyvie tersenyum lembut pada Holly sambil menepuk dua lengannya. Mereka berdiri berhadapan sesaat saat Beyvie mencermati penampilan keseluruhan dari Holly. Cara Beyvie itu membuat Holly nyaman dan tersenyum haru, membenarkan perkataan Hanie tentang keluarga Tenry yang baik, terlebih Cici Bey yang memanggil dia Lingling... nama itu jadi terasa spesial untuknya, seperti sebuah pernyataan sayang buat dirinya.


"Cici tahu aku nangis..." Holly berkata sedikit tersipu.


"Wajah kamu bengkak Ling, terutama bagian mata... tapi udah ketutup makeup... gak kelihatan lagi...


Beyvie berkata sambil membenahi gaun warna Millo yang melekat indah di tubuh kecil Holly. Beyvie prihatin dengan gadis kecil yang bentar lagi jadi ipar. Teringat dulu saat dia mau lamaran, semua diurusin sang mama.


"Cici... harusnya beliin sepatu yang heelsnya lebih tinggi dari yang ini... biar terlihat serasi sama Koko..."


Ivy yang sudah dandan cantik juga memutar-mutar sepatu coklat berhak runcing 7 cm itu.


"Kasihan Lingling entar gak bisa jalan..."


"Itu aja udah tinggi kok De... aku belum pernah pakai heels..."


Holly menjawab bercampur malu dan cemas.


"Tinggimu berapa Ling?"


"150 cm Ci..."


"Hahaha.. Tenten 182 cm... mau heels setinggi apa gak akan serasi, udah gak usah mikir itu... jodoh yang serasi gak tergantung sama tinggi badan..."


"Tinggi aku masih bisa nambah gak Ci? Sekarang baru 161, Cici padahal 168 kan?"


"Tanya mbak go*ogle, masih bisa nambah gak..."


"Padahal aku rajin minum susu sama berenang, kayaknya semua gen yang unggul udah diambil Cici sama Koko deh..."


"Hahaha... iya kamu dapet sisa aja..."


Pembahasan ringan yang membuat hati Holly sedikit lebih lega, sebentar lagi saat-saat bahagianya, semoga semua berjalan baik.


.

__ADS_1


🦋


.


__ADS_2