Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 26. Gak Menolak Keinginan


__ADS_3

Hanie duduk diam agak jauh dari meja kasir. Seperti biasa Ci Cun datang menjemput uang, mengambil semua nota barang untuk diperiksa, mengecek stok barang juga mengecek progress bangunan di lahan sebelah, kadang memeriksa sepintas CCTV. Kurang lebih satu jam berkutat di meja itu, Ci Cun juga memeriksa dengan teliti semua sales invoice sambil sesekali bertanya pada Hanie. Toko lagi sepi, para karyawan berdiri di tempat sejauh mungkin dari meja kasir, rada takut kalau Ci Cun datang ke toko, meskipun baik pada karyawan tapi kalau soal kerjaan Ci Cun sangat tegas dan gak ada kompromi. Termasuk Holly, sejak merasa udah sehat lagi dia mulai bantu-bantu melayani pengunjung, tapi begitu melihat Ci Cun Holly langsung sembunyi.


"Han... udah selesai. Masukin ke tas uangnya..."


"Gak dihitung ulang Ci?"


"Udah kamu hitung kan... gak usah..."


Ci Cun memasukkan semua kertas yang tadi diperiksa ke dalam tasnya.


"Besok tutup lebih awal aja, jam enam sore ada syukuran di rumah, semua diundang ya, suruh langsung ke rumah aja nanti ada mobil jemput ke sini..."


"Iya Ci... ulang tahun si Dede ya..."


"Iya, sekalian dia udah lulus, syukuran tokonya Koko juga..."


"Cafenya Cici Bey belum ya?"


"Oh itu... belum. Ci belum ijinkan buka, masih ada kendala dan ada hal yang harus diatur ulang..."


"Oh gitu ya, beberapa kali aku lewat kayaknya udah siap Ci tempatnya..."


Ci Cun diam sejenaknya kemudian menatap lurus di wajah Hanie.


"Han... Ci udah gak bisa mengikuti permintaan kamu waktu itu untuk kasih waktu buat kamu mendekati Cici... udah berapa tahun loh kamu diam aja. Cici memang gak punya sisi bertemu pria baik Han, entah kenapa sial terus. Makanya Ci minta kamu, udah gak bisa nunggu kamu siap... gak akan pernah siap kamu Han... kalau gak mulai dari sekarang..."


"Tapi Cici Bey punya pacar..."


Hanie melirik di sekitar, gak enak jika ada karyawan yang menguping pembicaraan.


"Pacarnya sama seperti yang kemaren-kemaren... punya niat gak baik. Kamu yang minta untuk mendekati Cici lebih dulu... alasanmu biar hubungan kalian lebih natural gak berkesan dijodohkan... oke Ci setuju soal itu... dan Ci tunggu kamu mulai... sering-sering ke rumah temuin Cici..."


Hanie gelagapan, pernyataan itu datang juga akhirnya, dia pikir dengan dia diam tak menanggapi berharap Ci Cun lupa, berharap juga Beyvie bertemu orang yang disukai Ci Cun, ternyata tidak sesuai harapannya.


"Ci Cun berharap sama kamu loh... Cici mudah kok dideketin tunjukin aja perasaan dan perhatianmu, dia pasti luluh. Cici sebenarnya gampang banget jatuh cinta, itu yang Ci takutkan selama ini, dia selalu bertemu orang yang tidak tepat dan malah nyakitin dia..."


Aduuh perasaan cintaku bukan buat Cici Bey... masa harus pura-pura ngasih perhatian... entar Cici jatuh cinta beneran gimana dong... terus Tenry sama Holly gimana?


Hanie belum berani mengungkapkan sesuatu, tempatnya juga tidak kondusif, dia juga takut Holly mendengarkan. Hanie gak ngomong apa-apa lagi meskipun Ci Cun masih menatapnya. Ada rasa sesak, lebih dari sekedar sebuah tuntutan untuk dirinya seperti sebuah beban, harapan yang Ci Cun berikan padanya terlalu besar untuk dia terima. Gak enak untuk membantah atau menolak keinginan wanita yang memperlakukan dirinya sangat berbeda dengan karyawan lain, bukan semata-mata karena dia berteman dengan Tenry, tapi sejujurnya dia merasakan kasih sayang dari Ci Cun, merasa bahwa wanita ini mengisi kekosongan dirinya yang sejak lama tak merasakan perhatian seorang mama.


Faktanya dia punya mama, tapi mama tidak bisa memberikan rasa hangat dan kepedulian seorang ibu untuknya. Seharian mama berkutat dengan jahitan diburu kebutuhan keluarga besar karena kadang hanya dia sendiri yang bisa menghasilkan uang. Dari mama bangun sampai tidur lagi gak mengacuhkan anak-anaknya. Dulu dia sering kabur dari rumah pernah lebih dari sebulan tanpa dicariin, ada dan gak ada di rumah gak masalah buat orang tuanya.


Berada di tengah keluarga Tenry dia belajar tentang kehangatan sebuah keluarga, sesibuk-sibuknya keluarga ini mereka selalu gak lupa berbagi kehangatan dan itu menular pada seorang Hanie. Dengan interaksi sekian tahun perlahan tumbuh rasa hormat dan sayang juga untuk Ci Cun.


Dia perlu bantuan Tenry sekarang, dia yakin Tenry akan memperjuangkan cintanya untuk Holly.


.


🌳


.


Tenry muncul di toko bangunan menenteng sebuah tas kertas. Pintu toko sudah setengah tertutup, masih ada beberapa transaksi pembayaran yang sementara dilayani Hanie. Rencananya toko tutup setengah jam lagi jadi karyawan masih melayani pembelian tanpa layanan antar di tempat.


"Han... Lingling mana?"


Tenry mengedarkan pandangan.

__ADS_1


"Ehh... bentar ya..."


Hanie sedang sibuk di mejanya hanya menjawab pendek entah untuk siapa. Hanie meneruskan menghitung uang merah puluhan juta pembayaran sejumlah item.


"Pengantaran besok pagi ya, pak..."


Tenry gak sabar menunggu jawaban Hanie kemudian berputar ke beberapa bagian toko mencari sendiri si kesayangan.


"Lingling... Ling..."


Tenry setengah berteriak. Beberapa karyawan senyum melihat sang boss celingak-celinguk di antara barang-barang. Mereka sudah mencium hubungan istimewa orang yang punya toko itu dengan gadis kecil adiknya Ko Han, beberapa kali kedatangannya di sini menyiratkan hubungan itu.


"Si Lingling udah naik ke atas ya Han?"


Tenry teriak ke arah kasir.


"Belum kok, barusan aku lihat di depan sana..."


Tenry melihat seorang karyawan yang memberi isyarat dengan tangannya menunjukkan sebuah tempat. Tenry mendekati tempat itu dan menemukan Holly sedang duduk di sebuah kursi plastik pendek di bagian depan dekat pintu masuk, tersembunyi dengan sebuah lemari display berisi segala jenis gembok. Gadis itu mendongak dan tersenyum malu pada sosok yang menjulang tinggi di depannya. Melihat raut wajah gadis kecil itu Tenry langsung gemas...


"Lingling lihat Koko lewat kan tadi?"


"Iya..."


Holly masih tersenyum, sekarang si Koko berdiri dengan kaki bersilang dengan siku bertumpu pada lemari display.


"Sengaja sembunyi kan?"


Tenry dengan tatapan menyelidik, mobilnya parkir pas di depan lemari display itu berarti saat datang tadi Holly sudah melihat dirinya. Holly mengangguk dengan muka semakin merah. Entah kenapa juga dia sembunyi padahal udah kangen.


Tenry mengacak rambut Holly disambut wajah tersipu-sipu Holly yang segera menyembunyikan wajahnya tertunduk hanya berani menatap sepatu sport kekasihnya.


Tenry tertawa, sebuah sikap kekanakan dari Holly tetapi kenapa jadi seperti sebuah tindakan romantis baginya, alam pikirannya langsung cerah dan hangat, hatinya bergemuruh dengan dentingan nada bahagia. Tak berapa lama tangan besar terulur meraih tangan kecil gadisnya.


"Ayo siap-siap, ada acara di rumah Koko..."


Tenry menarik tangan Holly lembut dan membawa Holly menuju ruang atas, melewati Hanie tanpa bicara apapun. Hanie hanya melirik mengerti tujuan Tenry ke sini adalah Holly. Sementara Holly berjalan mengikuti dengan wajah sedikit tersimpan di belakang Koko, dia masih malu setiap kali si Koko mengandeng tangannya depan orang banyak.


Di ruang atas Tenry langsung duduk di sofa sambil meraih sesuath dari tas yang dia bawa.


"Sana mandi... pakai ini ya nanti..."


Tenry mengeluarkan sebuah kaos oblong berwarna putih bersablon kalimat berbahasa Inggris, sama dengan kaos yang dikenakan Tenry.


"Kita couple-an?"


Mata Holly membulat.


"Gak mau?"


"Ihh... Holly malu Ko..."


Tenry menatap Holly menyimpan senyum.


"Kenapa harus malu?"


"Terus kenapa harus couple-an?"

__ADS_1


Bukannya menjawab Holly balik bertanya.


"Emang kita pasangan kan?"


Holly diam tapi merasa keberatan harus menggunakan baju yang sama persis dengan si Koko, ini kan acaranya di rumah Koko ada banyak keluarga Koko pastinya, Holly merasa risih seperti sebuah pengumuman ke orang-orang bahwa mereka pacaran, dia masih takut tentang hal itu.


"Holly pakai baju punya Holly aja ya?"


Mencoba bernegosiasi saat mendapati pandangan serius Tenry.


"Lingling gak mau mengakui kita pacaran, gitu?"


"Ihh bukan... bukan Ko... gak gitu..."


"Jadi?"


Masih menatap dengan senyum yang tetap ditahan, masih meneruskan sikap seriusnya walau udah gak tahan ingin mencium bibir mungil yang kini mengerucut di antara raut wajah yang memancar tak berdaya seolah telah melakukan sebuah kesalahan.


Holly duduk di sofa dekat dengan Tenry.


"Holly masih malu aja, gak nyaman juga, pasti jadi perhatian orang-orang..."


Suara kecilnya nyaris menghilang karena rasa gak enak menguasai hatinya, dia bukan tidak mau mengakui hubungan itu, hanya mungkin rasa rendah diri berada di sana dan jadi bahan pembicaraan, dia belum bisa melupakan komen negatif orang-orang di akun fb*nya. Sekilas dia memandang Tenry kemudian memandang jari tangannya sendiri yang dia tekuk.


Tenry yang tadinya hanya ingin menggoda Holly sekarang jadi merasakan sesak di dadanya. Gadisnya bukanlah seseorang yang akan merasa hepi diakuin sebagai kekasihnya, bukan seseorang yang akan pamer saat jadi kekasihnya, tapi status itu justru membuat dia gak percaya diri. Tenry akhirnya meraih tubuh mungil itu memeluk Holly, perasaan sayang meluap sekarang, tangan mengusap kepala Holly. Sebuah ciuman manis mendarat di dahi Holly. Sesaat tadi dia begitu ingin menyambar bibir Holly, tapi selama ini setiap kali ada hasrat itu dia harus menyimpan hasratnya berganti dengan keinginan untuk membuat gadis kecil ini nyaman saja bersama dirinya. Dia harus banyak bersabar dan mengendalikan diri sebagai kekasih sampai Holly benar-benar bisa menerima apapun darinya.


"Pakai aja ya... ada buat Hanie juga... itu mama yang ngasih... Mama biasa gitu kalau ada acara, suka bagi sesuatu buat karyawan. Jadi nanti semua karyawan pake kaos kayak gini, hanya beda warna aja..."


Holly melepaskan diri dari pelukan nyaman Tenry,


"Beneran bukan cuma berdua Koko? Tadi Koko bilang..."


"Apa mmm?"


Tenry tersenyum manis, tangannya masih merangkul sayang. Holly gak bisa menjawab, wajah Koko begitu dekat dengannya, dadanya seketika bergemuruh. Perlakuan lembut Tenry memacu jantungnya menjadi penuh irama cinta. Tenry yang sesaat tadi menyimpan gejolak hatinya akhirnya lepas kontrol wajahnya segera bergerak lalu bibirnya menempel merasakan kelembutan bibir mungil Holly. Tubuh Holly menegang, matanya mengerjab, alam sadarnya mengolah sensasi keintiman yang membuat seluruh kulitnya meremang. Ciuman terlepas hanya beberapa detik tapi Tenry merasa gak cukup sehingga meneruskan lagi dengan sebuah lu matan kecil. Saat Tenry melepas dan menjauhkan wajahnya, Holly tersadar lalu segera berdiri dengan canggung serta malu.


Koko ngapain tadi itu?


Holly berjalan tak bicara apapun menuju kamarnya.


"Ling... ini kaosnya..."


Holly berbalik dan menyambar kaos yang disodorkan Tenry sambil menunduk. Tangan Tenry manahan tangan Holly.


"Bentar... ini ada celana jeans, ada sneaker juga... dipake yaa..."


Tenry mengeluarkan sebuah kaos oblong yang sama milik Hanie dari dalam tas itu kemudian menyodorkan tas kertas ke tangan Holly. Holly menyambar dengan cepat lalu segera ke kamar, menahan sebuah rasa indah yang menguasai tapi ada rasa aneh juga karena ini pengalaman pertama buatnya. Tenry tersenyum melihat reaksi Holly, tapi gak menyesali apa yang dia lakukan, terlebih saat melihat Holly hanya kaget tapi gak marah dan gak menolak walaupun malu.


Seperti ini ciuman ya? Kok rasanya hepi banget digituin?


Holly terduduk di tempat tidurnya, tak urung ada senyum di wajah saat mengingat moment barusan. Dia kemudian mengintip isi tas di pangkuannya.


.


🦋


.

__ADS_1


.


Happy Reading.... 😊


__ADS_2