
Saat teristimewa bagi Tenry, memeluk hati-hati dengan lengan kuatnya putra pertamanya. Perasaan luar biasa sebagai papi memunculkan rasa memiliki dan keinginan untuk melindungi dan membanjirinya dengan kasih sayang.
Baby boy dengan panjang 46 cm dan berberat 2,6 kg, itu menggeliat di dekapan tangannya kemudian meringkuk nyaman di dada Tenry dan terlihat sangat kecil di tangan papi.
Berjalan satu minggu sejak keluar rumah sakit, setiap pagi Tenry punya kebiasaan baru, setelah baby boy dimandikan oma Cun, si papi baru menjemur baby boy untuk mendapatkan hangat surya pagi.
"Ko... udah lima belas menit..."
Hati-hati Holly berjalan mendekati Tenry yang berdiri di teras rumah bagian atas. Mereka pindah lagi ke atas karena kamar baby ada di atas.
"Dia tidur?"
Holly mengusap pelan kaki babynya
"Iya... baru beberapa menit dijemur langsung tutup mata lagi..."
"Hehehe... kerjaan baby baru lahir itu kan tidur sama mimi... anak mami bangun dong pagi-pagi..."
Holly menusuk-nusuk lembut pipi babynya.
"Biarin aja sayang, kan sejak jam lima tadi belum tidur lagi... gak usah diganggu..."
"Hehe... Lingling gemes pengen lihat dia buka mata lagi..."
Si baby seperti mendengarkan permintaan mami, menggerakkan kepala mungilnya lalu membuka mata dan tiba-tiba menangis kencang.
"Eh... sayang... marah ya mami gangguin bobonya... maafkan mami ya sayang..."
Holly menepuk-nepuk kaki mungil babynya.
"Bawa sini... udah waktunya minum susu..."
Mama Ibeth memanggil dari ambang pintu dengan dot susu di tangan. Tenry lalu menyerahkan babynya pada sang mama.
"Sini cucu oma... udah laper ya..."
Oma Ibeth untuk pertama kalinya ikut melihat cucunya sejak dilahirkan, memperhatikan dan turut mengemong hingga sekarang. Saat kelahiran lima cucu sebelumnya dia sibuk menjahit, bahkan gak punya waktu untuk menengok ke rumah sakit. Oma Ibeth duduk di sebuah single sofa dengan baby boy di pelukannya.
Begitu dot susu kecil itu melekat di bibirnya, dengan cepat bibir baby mungil itu bergerak sesuai nalurinya saat mendapatkan sumber makanannya.
"Udah bisa menyusui?"
Tenry menggandeng lengan istrinya yang masih suka kesakitan di bagian jahitan di perutnya,
"Gak bisa Ko... ASI nya gak keluar..."
Perasaaan Holly tiba-tiba berubah. Dia telah berusaha makan dengan baik, terus mencoba menyusui babynya, tapi selalu ditolak bibir mungil itu hingga ASI nya tidak bisa keluar. Perasaan sedih tiba-tiba datang menguasai hingga dengan cepat pipinya basah dengan airmata.
__ADS_1
"Baby... jangan sedih sayang..."
"Lingling juga pe.. pengen baby Lingling mendapatkan ASI ekslusif tapi tapi... gak ada yang keluar Ko..."
Tenry menuntun istrinya ke kamar mereka, lalu mendudukkan di sebuah kursi yang ada di ruangan itu, Tenry sendiri berjongkok depan Holly.
"Gak usah sedih ya... gak semua berjalan menurut keinginan kita..."
Tenry mengusap pipi istri dengan sayang sekaligus mengeringkan airmata di pipi yang lebih berisi sejak masa kehamilan.
"Tapi... rasanya Lingling bukan mami yang baik buat baby kita, gak bisa memberikan makanan yang paling baik untuk pertumbuhannya..."
"Heii... jangan ngomong kayak gitu... Lingling udah berikan yang terbaik buat anak kita selama sembilan bulan, udah menanggung rasa gak enak dan gak nyaman karena dia, gak ada alasan untuk menyebut diri sendiri bukan mami yang baik..."
Ibu telah melakukan segalanya sejak embrio itu tumbuh menjadi janin hingga berwujud manusia sempurna. Berbagi denyut jantung, berbagi makanan lewat darah yang mengalir dalam setiap pembuluh darah, memberikan tempat ternyaman dalam sebuah ruang khusus di rahimnya. Ibu memberikan cinta yang amat besar sejak awal kehidupan tercipta.
"Tapi kasihan baby kita... gak bisa dapatkan ASI dari Lingling..."
"Sayang... banyak bayi yang juga tidak mendapatkan ASI tapi hidup sehat..."
Holly berusaha menghentikan tangisnya, lalu tangannya mengusap sendiri airmatanya.
"Sekarang fokus sama pemulihan tubuh Lingling aja, kalau udah pulih, bisa menggendong sendiri dan bisa ngerawat sendiri bayi kita kan..."
"Mmh... mama udah ambil babysitter Ko..."
"Gak papa... Koko setuju soal itu, besok-besok kalau Lingling udah bisa kerja, bayi kita udah terbiasa sama suster, nolong Lingling juga kan..."
Kepala Holly mengangguk, wajah masih sedih. Tenry menjepit hidung si mami yang masih berwajah murung.
"Sayang... mikir apa lagi... Gak boleh ngikutin perasaan sedihnya... gak baik loh buat Lingling..."
"Gak tahu kenapa Ko... sedih aja, takut juga babynya kenapa-napa..."
Tenry berdiri lalu mengangkat lembut tubuh istrinya hingga berdiri, memeluk dengan hangat... beberapa hari ini dia memperhatikan istrinya murung, tadinya dia pikir karena tubuh yang belum pulih sepenuhnya, atau menahan sakit akibat jahitan di perut, tapi ternyata terbawa sedih karena gak bisa menyusui buah hati mereka.
"Baby... hehe Koko bingung sekarang... Lingling suka bilang baby juga untuk anak kita, buat Koko sih baby itu yaa Lingling..."
Tubuh istri masih dalam pelukan suami, kini kepalanya mendongak menatap suami lalu menanyakan pertanyaan yang sudah lama tersimpan di otaknya.
"Kita manggil apa baby kita?"
"Ezar aja? Eliezer... kalau disingkat Eli.... udah banyak orang dipanggil Eli, Ezer... mmmh kurang enak di telinga... Ezar aja ya?"
"Iya... boleh... terserah Koko aja... paling-paling nanti jatohnya dipanggil Koko juga kayak papinya hehehe... kayaknya di etnis kita panggilan semua lelaki Koko panggilan semua perempuan Cici... hehehe..."
Tenry tersenyum menanggapi kalimat serta reaksi istrinya sekarang, istrinya memang lagi moody ternyata. Dari yang dia baca, itu gejala yang dialami banyak ibu yang baru melahirkan, kelelahan, susah tidur, suasana hati yang berubah-rubah, mudah cemas, mudah menangis.
__ADS_1
"Perutnya masih sakit?"
"Udah semakin baik Ko..."
"Berarti udah bisa gendong bayi kita..."
"Iya... tadi udah kok sebelum dia mandi..."
"Iya, biar dia tahu siapa maminya... biarpun menggunakan dot, usahakan tiap kali dia mimi susu Lingling yang gendong ya... mama tadi bilang sama Koko kayak gitu..."
"Mama siapa? Ada dua mama di sini..."
"Mama Cun... mama mau ajarin Lingling mandiin bayi kita juga..."
"Iya... Lingling mau belajar semuanya... dulu sih suka mandiin ponakanku tapi udah bisa jalan, bukan yang masih umuut kecil kayak baby kita. Tau gak Ko... mama tuh gesit banget mandiin baby kita... berani megang baby cuman dengan satu tangan..."
"Dulu mama gak pakai babysitter, Ling... kita mama yang urus sejak lahir... nanti kita udah sekolah baru mama punya banyak ART..."
"Oh gitu..."
"Sekarang papi mau mandi... mau pergi mengontrol kerjaan..."
Holly sekarang mengiyakan aja setiap kali Tenry menyebut dirinya papi, kadang jadi ikutan manggil papi, ternyata panggilan itu enak aja diucapkan.
"Mmm... papi ehh Koko jangan lama-lama ya... makan siang di rumah kan?"
"Hehe... kenapa? Koko udah lama gak keliling loh liatin semua usaha kita..."
"Iya deh..."
"Nanti sore Koko usahakan pulang lebih awal... ya?"
"Iya..."
Tenry berjalan menuju kamar mandi. Perubahan status sebagai papi diikuti perubahan lain, dorongan untuk bekerja lebih giat menjadi bertambah. Ada tanggung jawab baru bukan lagi hanya sebagai suami tapi juga sebagai orang tua. Rangkaian besar rencana untuk anak sudah bermain-main di benaknya. Dia harus menjamin kebutuhan anaknya bukan hanya dalam kebutuhan akan kasih sayang tapi juga dalam hal-hal bersifat materi.
Eliezer... ada yang bisa nambahin nama baby boy milik Tenry dan Holly? (Aku kehabisan ide hahaha, ada yang nanyain juga mau request nama kan..... 😄😄)
.
🦋
.
Guyssss, harusnya udah tamat... tapi dengan alasan yg pernah aku sampaikan, ini jadi bertele-tele... hehehe, aku bingung jg gimana baiknya 🙄
.
__ADS_1