Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 27. Benalu atau Parasit?


__ADS_3

Rombongan karyawan dari tokonya Hanie sudah tiba lebih dahulu. Sedangkan Tenry, Hanie dan Holly menyusul beberapa saat kemudian dengan mobilnya Tenry. Hanie yang nyetir, Tenry duduk di samping, sesekali melirik Holly yang duduk diam di jok belakang lewat kaca spion. Sejak berangkat Holly menjauh dari Tenry, masih tertinggal rasa canggung dan malu efek ciuman pertama sehingga dia gak ngomong apapun.


Tiba di rumah besar dengan halaman yang begitu luas di bagian belakang, suasana pesta langsung terasa. Ada tiga buah tenda besar di bagian belakang itu, garasi mobil yang besar di belakang rumah pun telah berubah menjadi area untuk makan. Sudah banyak karyawan, benar ternyata banyak di antara mereka sudah menggunakan kaos dengan tulisan sama, hanya warna mereka biru dengan tulisan putih. Holly mencari warna seperti yang dia gunakan, tidak nampak di halaman.


Tenry mengandeng tangan Holly, walaupun gak nyaman Holly gak berusaha melepaskan tangannya terlebih setelah si Koko senyum sangat lembut, senyuman yang mengisyaratkan bahwa gak apa-apa seperti itu. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah melewati karyawan dari semua usaha keluarganya Tenry yang jumlahnya ada ratusan. Holly berjalan jengah di belakang Tenry hati kecilnya sungkan menerima tatapan yang beragam, ada yang mencari tahu siapa mereka yang mengenakan seragam warna keluarga inti bos mereka, ada yang sepertinya maklum, ada yang penasaran penuh tanya, dan mungkin ada yang menatap iri.


"Dede..."


Hanie lebih dahulu sampai di ruang tengah yang besar itu langsung mencari Ivy untuk memberi ucapan. Holly segera melepaskan tangannya dari genggaman Tenry.


"Ko Han... mana kado untukku..."


Kedua tangannya terulur di depan dadanya. Hanny memberikan tas kertas di tangannya.


"Makasih Ko Han, sesuai request-an kan??"


"Astaga Dede... kado pakai request..."


"Iya dong Ko, biar gak mubazir, udah kadonya mahal-mahal akunya gak suka gak butuh... prinsip efektif-efisien kayak mama..."


Tenry mengacak rambut adiknya, memberi pelukan hangat dan sebuah ciuman di kepala. Ivy segera melepas pelukan sang Koko lalu mengintip ke tas kertas di tangan.


"Dede..."


Hanie menarik tubuh Ivy juga lalu memeluk sejenak.


"Happy Birthday ya, De... "


"Makasih Ko Han... Koko gak ngasih kado?"


Ivy menatap penuh harap wajah Kokonya.


"Udah kok... Koko simpan di kamar kamu tadi pagi..."


"Ishh Koko suka gitu, suka sembunyiin kadonya... Koko simpan di mana sih?"


"Cari sendiri... permintaan kamu mahal banget tau gak, jangan bilang Ci Cun harganya entar Koko kena semprot..."


"Dede liat Koko beli baru waktu itu padahal udah punya kan... makanya Dede minta Koko beliin... abisnya mau minta mama pasti kena ceramah soal pemborosan... Dede malu kan sama temen-temen suka dibilang kudet, gak asiik, gak nikmatin hidup... Koko simpan di mana iPhonenya?"


Tenry mengangkat bahu sambil tersenyum melihat muka gak sabar adiknya. Wajah berengut adiknya sekarang menatap sosok di antara Tenry dan Hanie, jadi penasaran ada cewek menggunakan kostum khusus keluarga. Cewek yang sejak tadi hanya diam menyaksikan interaksi hangat di depan mata. Dulu Hanie gak peduli padanya, belakangan aja Hanie terlihat begitu sayang padanya, mungkin karena pengaruh bergaul sama mereka?


"Itu siapa?"

__ADS_1


Ivy menunjuk Holly dengan matanya...


"Adiknya Ko Han... Holly namanya..."


Hanie segera mengenalkan adiknya sebelum Tenry menjawab, walaupun setuju aja jika Tenry mengakui hubungan spesial mereka, tapi Hanie masih ingin berhati-hati, Ivy bukan gadis yang bisa menyimpan sesuatu dari Ci Cun, dia takut Holly menghadapi sesuatu di sini.


"Wah... adiknya Ko Han imut... temenan sama aku yaa, aku Ivy, Holly... Ko Han kok baru sekarang bawa Holly ke sini sih, baru aku tahu Ko Han punya adik seumuran aku..."


"De... Holly udah lulus SMA..."


Tenry menjawab sambil tertawa.


"Ciyus? Masasih? Emang umur berapa Hollynya?"


"Tujuh belas, De..."


Hanie kembali menjawab.


"What? Gak percaya ahh..."


Walau masih ragu tapi raut senang muncul di wajahnya, terlebih saat melihat wajah Holly yang masih malu-malu Ivy jadi pengen temenan aja.


"Holly, ikut yuk... aku kenalin ke temen-temenku..."


Ivy langsung menarik tangan Holly menuju teras depan tempat teman-teman sekelasnya sedang ngumpul.


"Sore Ci..."


"Han? Udah lama?"


"Baru sampai Ci..."


"Ci gak tahu ke mana si Koko, kamu liat dia gak?"


"Tenry jemput kami Ci..."


"Oh? Ci gak tahu, ehh kaosnya dia yang ngasih? Ada buat Holly juga..."


"Iya Ci... Holly juga pake kok..."


"Holly mana?"


"Ada di depan Ci sama Dede..."

__ADS_1


"Oh ok... bantuin Cici di atas Han... Cici lagi bagi kaos buat karyawan..."


"Iiiiya Ci..."


Dengan berat hati Hanie naik ke atas, lantai atas itu lantai khusus untuk anak-anak di keluarga ini, kamar tidur mereka juga ada ruangan khusus untuk mengakomodir hobby masing-masing, lantai itu lebih private karena tidak ada tamu bahkan keluarga mereka yang diijinkan naik ke atas.


"Cici... ada yang bisa aku bantu?"


Hanie bertanya setelah menetralkan hatinya, dia tahu maksud Ci Cun dan dia tahu hati Beyvie.


Beyvie hanya memandang sepintas, rasa kesal di hatinya langsung meningkat melihat wajah Hanie, dia baru menerima telpon dari Jim yang membatalkan kedatangannya malam ini dengan alasan belum berani berhadapan dengan orang tuanya, rasa kesal karena pacarnya selalu menolak permintaannya untuk bertemu orang tuanya, rasa kesal karena mamanya terus mendesak dia untuk mengambil mobilnya dari Jim, dan sekarang ada wajah anak sok polos berdiri di depannya.


"Aku gak perlu bantuan... turun aja..."


Beyvie berkata dengan nada dongkol yang sangat kentara.


"Ci Cun yang minta..."


"Gak usah pake nama mama, jangan munafik. Aku gak suka cara kamu... kotor tahu gak... aku tahu motif kamu apa, pura-pura aja jadi anak berbakti mau balas budi... tujuan kamu lebih besar kan parasit yang mau menguasai semuanya, jahat dan licik!"


"Bey... kata-katamu yang jahat, kamu kenal aku sejak lama, gak ada niat seperti itu..."


"Gak ada gimana? Udah terbukti Han, gila aja aku disuruh nikah sama kamu. Kamu pintar mainin trik kamu, pelan tapi pasti, bagus banget... kamu ambil hati mama karena kamu tahu mama yang berkuasa di sini, hebat. Tapi ingat Han... sampai kapanpun aku gak akan pernah setuju dengan keinginan mama, ngerti? Jangan coba-coba kamu!"


"Aku juga gak setuju Bey..."


"Alahh... jangan sok lemah dan gak berdaya kamu, sok suci, udah kelihatan kok usaha kamu menjilat papa dan mama, aku jadi kayak bukan siapa-siapa di mata mereka, jadi kebalik kamu yang jadi anak kesayangan mereka... aku akuin kamu berhasil... tapi busuk dan menjijikkan."


"Bey... kamu tahu siapa aku..."


"Ya ya...makin tahu siapa kamu, gak sudi aku kenal kamu, jangan pernah tunjukin wajah munafik kamu di depanku! Benalu tetap benalu, sekuat apapun kamu gak akan pernah jadi pohonnya, dan aku akan membersihkan benalu itu dari keluargaku, paham?"


Beyvi melempar tumpukan kaos yang masih dalam plastik ke tubuh Hanie kemudian masuk ke kamarnya. Hanie merasa sakit di dadanya, kalimat Beyvie sangat merendahkan dan menghina dirinya. Tapi benar kata Beyvie dia memang gak berdaya dengan permintaan Ci Cun. Dengan hati yang begitu tertusuk dia membereskan kaos yang bertebaran di kakinya, memisahkan menurut ukuran dan memasukkan ke dalam plastik hitam berukuran besar, tugasnya harus dia laksanakan membagi kaos itu pada karyawan di luar rumah, masih banyak yang belum menerima seragam untuk acara ini. Hanie turun dengan langkah gontai, berpapasan dengan Ci Cun di lantai bawah Hanie berusaha senyum menutupi gundah dan sakit akibat penghinaan Beyvie dan gak menghiraukan tatapan penuh tanya dari Ci Cun, biarlah dia memahami sendiri.


.


🦋


.


Terima kasih yang setia di awal-awal...


Mohon dukungannya 😁😁😁😁

__ADS_1


.


💚


__ADS_2