Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 41. Terima Gaji


__ADS_3

Holly selesai menjemur pakaian, tali berjejer-jejer di samping rumah kost ini penuh terisi. Banyak pakaian laundry yang masuk sedangkan tenaga yang bekerja tinggal tiga orang, satunya menggosok, satunya di bagian penerimaan dan pengambilan laundry, Holly sendiri yang mencuci. Memang ada lima mesin cuci tapi semuanya manual masih perlu tangan manusia. Jangan tanya lagi gimana capenya Holly, tali jemuran yang tinggi membuat kedua tangan kecilnya tambah pegal sehabis menjemur pakaian yang jumlahnya lebih dari seratus potong.


Hari menjelang malam dan Holly tidak sempat menyelesaikan makan siangnya tadi karena omelan bu Rikha memekakkan telinga. Suara bu Rikha gak beda sama suara mamanya bahkan cerewetnya melebihi mamanya. Mamanya akan diam saat sibuk menjahit, tapi bu Rikha kerjaannya hanya memerintah dan memerintah, tangannya hanya menunjuk-nunjuk.


Holly duduk di lantai kamarnya menikmati makanan dingin sisa tadi siang yang dibeli di warung depan. Baru tiga sendok yang masuk ke mulut kecilnya, suara ketukan halus disertai panggilan khas di depan pintu kamarnya. Holly senyum, suara itu jadi penghiburan buatnya belakangan ini, jadi merasa tidak sendiri di lingkungan yang asing buatnya. Meskipun sudah hampir dua bulan di sini, tapi dia tak bisa berinteraksi dengan baik dengan orang-orang di sini, bahkan dua orang yang sehari-hari bekerja dengannya di tempat laundry memperlakukannya tak ubahnya seperti babu mereka.


"Kak Nul..."


Holly menyambut dengan senyum gadis bertubuh lumayan tinggi itu.


"Ini Ling..."


Nuella menyodorkan dua wadah plastik segi empat berisi makanan ke tangan Holly. Holly penasaran apa isinya tapi lebih penasaran soal panggilan Nuella yang berubah, mengingatkan pada dua pria yang dia sayang.


"Ling? Tau dari mana Holly suka dipanggil dengan nama itu?"


"Hahh... masih belum aktifkan fb di ponsel kamu ya?"


"Ehh iya, kenapa memang?"


"Tenry posting foto... satunya foto kamu yang ada tulisan 'Kangen kamu Ling'... so sweet banget sih Tenrynya... satu lagi... kayak lokasi minimart dekat tempat kost Kak yang dulu di belakang fakultas Perikanan..."


"Masa?"


Holly merasa mau menangis...


"Bentar Kak ambil hp..."


Nuella yang lebih dewasa bisa mengerti sesuatu di sini. Holly tidak mengaktifkan aplikasi berlogo sebuah huruf di ponselnya, Tenry yang dia tahu pacar Holly mendominasi wall di akun teman barunya ini, gak pernah dia lihat Tenry datang ke sini, terus sering memposting kalimat rindu. Sedikitnya bisa mengerti bahwa Holly sedang menghindari Tenry. Nuella balik masuk kamar lagi, tangan dan mata di ponsel, kakinya yang satu mendorong pintu agar tertutup.


"Nih liat sendiri... kamu sengaja kan menghindari Tenry?"


Tangan Holly sedikit bergetar menerima ponsel Nuella, memperhatikan postingan si Koko di akun miliknya, ada angka enam hari yang lalu menunjukkan waktu postingan itu. Sebuah foto saat hujan di minimart yang dia pernah lewati di bagian lain kompleks kampus ini.


Koko nyari aku kayaknya...


Pipinya langsung basah.


Koko... Lingling juga kangen, tapi Lingling takut Koko ngelawan Ci Cun kalau Lingling ketemu Koko...


"Ini Kak Nul..."


Holly menyerahkan gawai Nuella dan langsung mengeringkan dua pipinya.


"Kenapa menghindar?"


"Ehh... Holly gak boleh pacaran sama Koko..."


"Kenapa?"


"Mmhm gak papa Kak..."


Holly menjawab sedih.


"Sorry... Kak bikin kamu nangis..."


Nuella sungkan mendesak, nampaknya Holly gak ingin cerita juga.


"Itu ada makanan enak, ada kue juga barusan dianterin kak Mel... Kak pernah bilang ada teman kost yang suka makan sama-sama, ehh dia lebihkan sekarang, buat berdua katanya... dimakan ya?"


"Iya Kak... makasih ya, titip makasih juga buat pacar Kak Nul..."


"Iya... jangan sedih dong, Kak jadi merasa bersalah..."


"Gak papa Kak... udah mulai terbiasa kok..."


"Habisin makannya, kamu kerjanya berat gitu... takut kamu sakit, kelihatan banget loh muka kamu cape..."


"Iya sih, cape banget tadi gak sempat makan siang pula... sekarang tinggal Holly sendiri yang nyuci..."


"Holly, jangan maksain diri kayak gitu, sayang badan kamu sendiri. Udah terima gaji? Hampir dua bulan kamu kerja di sini..."


"Hahh?"


Holly melupakan sesuatu, dia dijanjikan gaji kan ya... tapi dia gak menghitung udah berapa lama dia kerja.

__ADS_1


"Kak Nul nanya, kamu udah terima gaji belum?"


"Ehh belum Kak..."


Holly menjawab pelan.


"Astaga Holly... kamu harus minta, itu hak kamu... ampun deh kamu udah kayak orang kerja paksa jangan sampai gak dibayar tenaga kamu..."


"Iya Kak, nanti aku minta..."


Holly menjawab gak yakin.


"Harus berani minta, kalau gak dikasih berhenti aja, kamu kan tujuannya kuliah, malah waktu kamu habis buat kerja rodi di sini jadinya..."


"Iya Kak... makasih ya..."


"Kak ke kamar ya... mau lanjutin skripsinya..."


"Iya..."


"Boleh Kak manggil Ling juga?"


"Boleh Kak... itu nama dari orang-orang yang sayang sama aku..."


Nuella tersenyum hangat, bersimpati dengan gadis di hadapannya, dibalas Holly dengan senyum sedihnya.


Lama Holly termenung, benar dia gak boleh mengorbankan kuliahnya yang jelas keteteran karena kerjaannya bertambah. Udah pernah gak masuk kuliah beberapa kali karena dituntut bu Rikha untuk selesaikan cucian dulu, udah beberapa kali juga gak masukin tugas karena udah gak sanggup menahan lelah tubuhnya... jadi berpikir mau kuliah apa mau kerja sih? Mana kerjanya belum dibayar...


Holly akhirnya membuka dua wadah plastik berwarna putih ada bis birunya. Wadah berisi nasi, daging masak kecap dan sayur nangka santan langsung menggugah selera, dia mengambil sendok dari piring sebelumnya memilih makan makanan baru yang lebih lezat. Wadah yang satu berisi beberapa kue khas kota ini. Dia senyum melihat makanan di hadapannya, berniat menghabiskan semua untuk mengganti energinya yang terasa habis karena tubuhnya tak istirahat sejak pulang kuliah.


Pintu kamarnya digedor kencang dengan suara besar teriak di depan kamar tepat di suapan terakhirnya. Holly membereskan wadah berisi makanan itu dan meletakkan di meja baru membuka pintu. Bu Rikha ada di depan pintu.


"Ya bu..."


"Antar sekarang pakaiannya bu dokter Linda sama bu dosen Sherly..."


Omg, kapan aku istirahat...


Bu Rikha yang tak menunggu respon Holly segera berbalik jalan lagi.


Holly keluar dari pintu kamarnya dan memberanikan diri memanggil bu Rikha.


"Apa?? Kamu belum mengambil sampah di tiap kamar, pulang dari antar pakaian langsung buang sampah supaya besok pagi langsung diangkat sama tukang sampah."


Suara tak bisa dibantah itu tak menyurutkan keberanian Holly sekarang.


"Bu... Holly mau nanya sesuatu..."


Bu Rikha memghentikan langkah lalu menatap Holly garang. Hati Holly sedikit kecut, tapi dia harus berani. Holly menguatkan hati kemudian.


"Gaji Holly belum ibu bayar, udah mau dua bulan Holly kerja di sini..."


Kalimat itu lancar keluar terlebih setelah melihat Nuella yang sengaja keluar kamar. Dia mendengar percakapan Holly dengan bu Rikha tadi, dan karena hafal tabiat bu Rikha dia terpanggil untuk ikut campur jika bu Rikha macam-macam seperti sama orang kerjanya sebelum ini.


"Gaji???"


Suara bu Rikha dan tatapannya jadi menakutkan. Hati Holly langsung ciut saat bu Rikha mendekatinya. Tapi di belakang bu Rikha Nuella juga mendekat, Holly menenangkan diri.


"Iya... waktu itu bu Rikha bilang Holly digaji kerja di sini..."


Holly menjawab dengan suara bergetar.


"Gak ada perjanjian gaji, kamu tinggal gratis di sini itu gaji kamu!"


Intonasi bu Rikha berubah semakin kasar. Holly mengangah heran dengan jawaban bu Rikha, di belakang bu Rikha Nuella memberi isyarat tangan supaya Holly tetap meneruskan meminta haknya, Holly jadi bersemangat.


"Loh, ibu bilang waktu Holly baru di sini, selain kamar gak usah bayar, Holly juga terima gaji tujuh ratus lima puluh ribu, itu makanya Holly mau kerja bu..."


"Enak aja kamu! Kamu udah gratis tinggal di sini, kamar sendiri lagi, gak saya tambahin orang lain, cukup itu jangan tanya gaji kamu, gak ada gaji!"


Bu Rikha berbalik dan langkahnya tertahan karena ada Nuella menghalangi.


"Bu... bayarkan gaji Holly, jangan mentang-mentang Holly gak nuntut ibu seenaknya..."


"Oh jadi kamu yang nyuruh dia minta ya? Kamu gak tahu perjanjiannya jadi jangan ikut campur."

__ADS_1


"Bu... urusan orang kerja ibu yang dulu aku gak ambil pusing, tapi kalau soal Holly aku ikut campur, tadi aku denger Holly bilang ibu janjiin gaji, jangan ingkar bu..."


"Hei, siapa kamu mau ikut campur urusan orang..."


"Saya temen Holly di sini dan saya gak rela ibu manfaatin tenaga dia kayak yang ibu lakukan sama banyak orang."


"Minggir, kamu keluar dari sini sekarang! Saya gak suka ada anak kost bertingkah kurang ajar. Angkat barang malam ini kamu gak boleh tinggal di sini lagi. Kurang ajar!"


Ibu Rikha menunjukkan jarinya dekat dengan wajah Nuella


"Saya punya hak tinggal di sini, saya sudah bayar bu..."


Bu Rikha meradang mendapati perlawanan Nuella. Dia sebenarnya gak suka dengan gadis ini yang suka menatap dengan pandangan tak hormat menurutnya. Sudah terlalu lama tinggal di sini, bikin jengah karena jadi sok berkuasa di hadapannya. Terlebih beberapa kali berkata terus terang menyerang dirinya...


.


flashback~


"Bu... apa bisa buka pintu kamar depan, kata ibu itu gudang..."


"Kenapa!??!"


Bu Rikha menatap tak senang pada Nuella.


"Banyak barang aku hilang, kayaknya ada di sana semua?"


Bu Rikha tersentak, apa yang gadis ini tahu?


"Gak ada barang kamu di sana, sembarangan... jangan asal menuduh saya mengambil barang milik kamu!"


"Loh saya gak menuduh bu Rikha, saya gak ngomong begitu kan? Atau... apa bu Rikha merasa? Saya hanya bilang mau nyari barang di kamar depan, siapa tahu orang kerja ibu salah simpan barang ke sana... minta kunci bu..."


"Eh, nanti saya cari dulu, nanti saya tanya Sumi dulu jangan-jangan dia salah simpan barang..."


Nuella tertawa di belakang bu Rikha. Dan tak makan waktu lama barang Nuella kembali ke meja di dapur, dan gak pernah lagi barang Nuella hilang sejak saat itu.


end~


.


"Ini uang kost kamu bulan ini, anggap aja saya kasih bonus kamu gak bayar bulan ini, hanya... keluar malam ini juga, mengerti? Kalau kamu gak keluar saya panggil anak buah suami saya melapor kamu melakukan perbuatan tak menyenangkan pada saya!"


Bu Rikha menyodorkan uang seharga sewa kamar kost perbulan. Nuella meringis, dia memang ingin memberi ibu ini sedikit pelajaran tapi malah diusir, sudah malam pula, pakai diancam pula.


"Holly... kamu jangan macam-macam, saya langganan tetap mama kamu, saya bisa berhenti jahit di sana kalau kamu ngelawan saya!"


Bu Rikha pergi meninggalkan tatapan singanya. Nuella tadinya udah malas berdebat toch uang sewa kembali tapi dia langsung emosi lagi mendengar ancaman buat Holly.


"Jangan mengancam saya bu, jangan mengancam Holly, saya punya banyak rekaman kelakuan ibu... saya viralkan mau bu? Istri aparat bertindak semena-mena..."


"Hahh... suami saya bisa atasi itu dia punya pangkat tinggi!"


"Wah udah gak jamannya kayak gitu bu... malah suami ibu bisa dipecat kalau bertindak sembarangan. Malah lebih viral itu... istri mencatut jabatan suami untuk menutupi kelakuan bobroknya..."


"Brengsek kamu! Keluar sekarang!!!"


Segala macam sumpah serapah keluar dari ibu yang katanya istri aparat itu. Holly sejak tadi jadi penonton tapi setelah mamanya diungkit dia jadi merasa bersalah merasa telah memulai sehingga keadaan jadi rumit bahkan Nuella sekarang diusir.


"Maafkan Holly Kak... Seharusnya gak usah nanyain gaji biar bu Rikha gak ngamuk... maaf gara-gara belain Holly Kak Nul diusir..."


Melihat airmata gadis kecil di hadapannya Nuella jadi merasa bersalah juga langsung kepikiran sesuatu. Dia meninggalkan Holly masuk ke kamarnya.


Holly yang ditinggal Nuella tanpa menerima maaf darinya langsung merasa sakit di dadanya, dia menutup kamarnya dan menelungkup di atas tempat tidur, menangis tersedu di atas bantalnya.


Kenapa aku selalu jadi alasan orang-orang yang aku sayang jadi sedih...


.


.


Aduuh Holly, aku juga sedih karena kamu, kenapa kamu selalu menghadapi hal-hal yang menyakitkan....


.


🦋

__ADS_1


.


__ADS_2