Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 12. Gak Enak Hati


__ADS_3

Ada sebagian orang yang kerjaannya setiap hari marah-marah aja, apa aja ditanggapi dengan marah, terbiasa membentak orang dan terbiasa dengan kalimat sinis dan menyakiti. Orang seperti ini gampang sekali meledak, istilahnya sumbunya pendek. Mama Lisbeth salah satunya... tapi mama tetap punya sisi lembutnya sebagai mama yang melahirkan Holly.


Hanie tiba di rumah dan sedang memutar anak kunci pintu kamarnya ...


"Han, kamarmu kamu kunci sejak tadi?"


"Iya... kan mama lihat saat aku pergi... kenapa?"


"Berarti Holly gak ada di rumah..."


"Udah malam begini?"


Hanie memperhatikan jam di tangan kirinya... jam setengah dua belas.


"Udah tidur kali ma, mama tahu sendiri dia gak pernah keluar rumah malam-malam..."


"Makanya, tapi dia gak ada di kamar, gak ada di mana-mana. Tadi... mama... mungkin dia pergi karena... tadi itu..."


Mama yang biasanya sangar, kali ini terlihat begitu berbeda, wajah seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.


"Tadi kenapa?"


"Tadi mama lihat Holly menangis saat di dapur, terus..."


Mama menghembuskan napas dengan kasar.


"Ma??"


"Mama kan udah pernah ngomong dia gak perlu beresin rumah atau masak, dia gak mau denger. Tadi dia kerja sambil nangis, mama suruh berhenti... dia gak berhenti. Malah makin tambah jadi nangisnya... mama gak ngerti. Han, dia gak lari dari rumah kan???"


"Yakin mama gak bentak atau ngomong sembarangan? Mulut mama suka gak difilter, kasar, nyelekit..."


Mama tidak menjawab mencoba mengingat-ingat apa isi omongan tadi.


"Aku cari dia ke depan..."


Hanie langsung pergi lagi, kali ini jalan kaki aja. Di mulut lorong Hanie mengedarkan pandangan mencari-cari sosok adiknya di warung bakso, di warung kecil yang jualan sembako sama segala macam snack milik temannya... dan bebetapa tempat lain. Hanie menyeberang dan mencoba mencari di antara orang-orang yang lagi nongkrong di beton setinggi pinggang yang memajang sepanjang bagian itu... gak ada. Hanie berjalan hingga ke ujung jalan lebar ini, tak menemukan sosok Holly. Dia menyeberang lagi dan coba mengintip di kios-kios kopi yang dia lewati, walau merasa tak mungkin Holly masuk ke dalam sana, penuh dengan bapak-bapak yang main kartu atau catur bahkan halma.


"Han..."


Sonny, salah satu tetangga juga teman semasa SMA memanggil tepat di depan warung sembako berukuran tiga kali dua meter miliknya, kios sekaligus tempat tinggal Sonny beserta anak-istrinya.


"Son..."


Hanie duduk di sebuah kursi plastik di depan kios, dagangan Sonny penuh di dalam warung, belum kasur untuk mereka tidur, gak ada tempat untuk masuk dan duduk di dalam, bahkan dagangan Sonny sebagian diletakkan di trotoar jalan. Hanie memperhatikan dua anak Sonny yang masih lari-larian, masih kecil-kecil udah tengah malam begini belum tidur.


"Minta air mineral Dina..."


Hanie mengeluarkan uang lima ribu perak dari saku jaketnya dan menyodorkan pada istri Sonny yang sedang menatap Hanie. Istri Sonny adik kelas mereka dulu.

__ADS_1


"Masih kerja di toko bangunan?"


Dina menyodorkan satu botol air dan uang seribu rupiah, sementara Sonny sedang mengejar dua bocah yang sudah menyeberang jalan.


"Masih lah... di mana lagi..."


Hanie meneguk setengah isi botol itu. Sonny datang dengan dua anak di gendongannya, kemudian meletakkan dua anak itu di atas kasur.


"Tadi, kayak lihat Tenry deh, di sini... tapi aku gak yakin sih kalau itu dia... dia kuliah di Aussie kan?"


Hanie mengangkat kepalanya saat memikirkan sebuah kemungkinan...


"Udah selesai, udah pulang ke sini juga, mungkin yang kamu lihat itu Tenry, Son..."


"Mmm... rambutnya pirang ya? Tadi dia bawa mobil sedan hitam..."


"Dia ke sini berarti..."


"Tadi mobilnya parkir depan warung, lama... terus dia turun dan balik lagi buru-buru dan langsung pergi... aku lihatnya sepintas aja sih, makanya ragu..."


"Tenry belum tahu ini warung kamu Son, kalau dia tahu pasti mampir lah dianya..."


....


Lorong menuju rumah sudah mulai sepi karena sudah lewat tengah malam, kecuali di jalan besar tadi, semakin larut semakin ramai justru. Kelurahan ini adalah kompleks perkampungan nelayan, ada di ujung jalan boulevard. Sebagian besar masih penduduk asli, belum tergusur lebih ke pinggiran kota karena perkembangan bisnis. Di jalan yang sama kurang lebih dua ratus meter dari sini arah ke pusat kota, rumah-rumah penduduk telah berganti menjadi bangunan cafe atau resto dan hotel.


Jadi bagian ujung jalan ini menjadi semacam tempat nongkrong kaum pinggiran kota ini, di mana banyak kios tempat minum kopi seharga tiga ribu perak, jajanan kecil seperti kacang atau jagung rebus, martabak dan gorengan, serta jejeran warung bakso dan penjual bubur dan kolak. Tentu di antaranya ada satu dua penjual miras terselubung.


"Sampai sini aja, Ko... Ko Tenry pulang aja..."


"Panggilnya Koko aja..."


"Kenapa?"


"Lingling lucu deh, suka sekali bertanya..."


"Kok lucu?"


"Hahaha... baru aja dibilangin..."


Tenry mencubit gemes pipi kiri Holly. Di belakang mereka ada seseorang sedang mengikuti. Melihat sikap Tenry pada Holly, dia semakin yakin bahwa Tenry bukan sekedar peduli karena Holly adalah adiknya. Dan dia terhenti melihat sesuatu yang dilakukan Tenry, di jalan setapak yang menanjak refleks Tenry meraih tangan Holly dan menggenggam tangan kecil itu.


Holly awalnya coba melepaskan, tapi tangan itu begitu besar, tangannya hampir masuk seutuhnya dalam genggaman Tenry. Holly yang berjalan sedikit di belakang Tenry melihat tangannya sendiri dalam genggaman tangan lelaki yang minta dipanggil Koko aja.


Tadi sore, tangan ini megang tangan pacarnya, sekarang megang tangan aku... aku siapa? Apa aku udah jadi pelakor?


Holly meringis tak berdaya. Saat tiba depan pintu, Holly menarik tangannya dengan sedikit paksa.


"Makasih ya Ko... Holly langsung masuk ya..."

__ADS_1


Holly hanya melirik sedikit lalu langsung membuka pintu. Tenry ingin meraih Holly untuk sebuah ciuman selamat malam, tapi dia sadar belum ada apa-apa di antara mereka. Tenry memutar tubuhnya karena pintu sudah tertutup dari dalam, berjalan dengan langkah ringan menuruni jalan dan tersenyum kecil karena kejadian malam ini sesuatu yang tak diduga dan membuatnya hepi.


"Ten..."


Tenry berhenti dan agak salah tingkah.


"Han... tadi aku..."


Tenry tak meneruskan kalimatnya dan hanya menunjuk dengan tangan ke arah rumah Hanie.


"Kamu dari rumahku Ten?"


Hanie pura-pura tak tahu, padahal hatinya sekarang kacau mengetahui satu fakta tentang Tenry malam ini.


"Eh... iya, tadi aku... anterin Lingling pulang..."


"Kita perlu ngomong Ten..."


Hanie berbalik dan langsung berjalan.


"Motor kamu mana?"


Tenry menjejeri langkah Hanie mencoba rileks dan bersikap biasa padahal dia mulai was-was karena sudah menduga apa yang akan diomongkan Hanie.


"Di rumah..."


Jawaban pendek Hanie membuat Tenry kehilangan kata untuk melanjutkan percakapan, melangkah dengan diam sampai ke ujung lorong. Hanie juga, dia bingung harus memulai dari mana bicara soal Holly dan Glo.


"Kita ke mana?"


Akhirnya Tenry buka suara saat memperhatikan Hanie yang hanya berhenti di jalan besar...


"Kita ke Cafe sebelah sana..."


"Jalan kaki?"


"Naik mobil lah, udah cape jalan nyari kalian tadi..."


Kalimat ketus Hanie membuat hati Tenry ketar-ketir, sahabatnya jarang sinis padanya, kali ini... dia harus berhadapan dengan Hanie yang pastinya akan cenderung menyuruh dia memilih Glo...


Koko Tenry mulai gak enak hati yaaa...


.


.


🦋.


.

__ADS_1


Happy reading, guyssss 💚


__ADS_2