
Suami istri sedang baring pelukan di tempat tidur mereka, kini saatnya melepas lelah sepanjang hari. Tenry mengusap-usap punggung istri yang sebulan ini gak berhenti merengek minta berhenti meminum pil KBnya, pengen hamil, semakin sering mengulangi permintaannya setelah Beyvie melahirkan baby perempuan yang lucu.
"Kenapa belum boleh, Kokoo..."
"Iya... Lingling belum siap... masih kuliah juga..."
"Lingling udah siap Ko... mamaku malahan hamil di usia 16 tahun. Kata Cici Bey, mama ngelahirin Cici juga saat mama masih kuliah..."
"Itu beda sayang.... Lingling berbeda..."
"Apanya yang beda sih, kita sama-sama perempuan kan, Koko tuh nikah sama perempuan..."
"Emang boleh nikah sama laki-laki..."
"Kalau Koko mau... sekarang di negara lain membolehkan itu..."
"Apa sih... ngomong sembarangan..."
"Tapi kalo nikah sama satu species gitu gak ada yang bisa hamil hihihi... terus gimana cara mereka main ya... hihihi..."
"Hush... anak kecil mikir yang gak-gak... awas ya kalau browsing soal itu juga..."
"Hihihi... gak lah. Tapi ya... Koko bilang Lingling anak kecil tapi digempurin terus hampir tiap malam..."
"Otak kamu ya... udah bener-bener tercemar, omongan udah gak jauh-jauh soal begituan..."
"Kan udah lengkap teori sama praktek... hihihi..."
"Iiiih... mancing-mancing Koko aja, Koko capek udah ngantuk juga... diam sekarang..."
Tenry menjitak pelan kepala istrinya.
"Koko yang mulai tadi... makanya... Lingling tuh bisa hamil kan...karena nikahnya sama laki-laki... pengen hamil sekarang pengen punya anak... Lingling gemes tau gak liat baby Sansan... pengen punya juga yang sama lucu gitu, baju-bajunya lucu-lucu, sepatunya lucu-lucu... ihhh..."
"Punya anak kayak punya boneka aja, mau yang lucu-lucunya... tanggung jawab ke anak itu yang harus dipikirin..."
"Lingling bisa kok ngurus anak Lingling sendiri, Koko gak tau aja ponakan-ponakanku itu ada yang dari bayi udah Lingling jagain, urusin, mandiin, suapin... terakhir Lingling jagain Junior kan... jadi Lingling bisa bertanggung-jawab kok... apalagi ngurusin anak Lingling sendiri..."
"Sekarang Lingling kalau pengen ngemong anak pergi ke rumah Cici aja... bantuin Cici aja dulu jagain Sansan... besok-besok kita pasti punya anak sendiri..."
"Kapan punya anak sendiri, kalau Lingling dilarang hamil..."
"Nanti kan... kita hanya menundanya..."
"Kapan... sekarang aja yaa... Lingling berhenti aja minum pilnya ya..."
__ADS_1
Tenry gak menjawab, hanya menarik tubuh kecil istrinya lebih dekat padanya, memeluk lebih erat. Entah kenapa saat melihat Beyvie hamil membawa perut besarnya seperti tersiksa membuat dia gak tega saat membayangkan tubuh kecil istrinya mengalami kondisi yang sama. Agak aneh memang tapi seolah dia gak siap melihat istrinya menderita saat hamil. Ketegangan yang dia lihat pada Yongky kakak iparnya saat Beyvie melahirkan juga membekas. Dokter aja bisa sepanik itu karena tahu reziko yang dihadapi seorang wanita saat melahirkan, katanya panggul Beyvie kecil... apalagi Holly.
"Kokoo..."
"Hmmm?"
"Ihh... Lingling gak boleh ngejawab kayak gitu..."
"Iya sayang... maaf, Koko ngantuk... tidur aja ya... besok Koko harus ke luar kota..."
"Tapi Koko belum bilang iya..."
"Emang Koko belum mau Lingling hamil sekarang... nanti ya... kita nikmatin dulu hidup berdua kayak gini, Koko belum puas pacaran..."
"Kita udah nikah ihh..."
"Iya nikah berasa pacaran, bisa puas melakukan yang Koko mau sama Lingling... udah ya... bobo sekarang..."
Holly akhirnya diam dalam kekesalan hatinya, semua cara membujuk dan udah omongin semua penjelasan yang dia tahu, udah minta bantuan Ko Yongky untuk menjelaskan juga, tetap aja gak bisa membuat suaminya mengubah keputusan. Mana setiap malam tangan suaminya sendiri yang meminumkan pil KB itu, gak mungkin lolos atau pura-pura lupa minum.
"Apa Koko gak mau punya anak dari Lingling sebenarnya..."
Mulut istri belum bisa terkunci.
"Kita udah bahas itu... jangan diulang lagi..."
"Masih gak ingin diganggu anak-anak aja... masih pengen kasih perhatian penuh buat Lingling aja dulu..."
"Tapi..."
Tenry mencium lembut bibir istrinya. Bukan jawaban yang jujur sebenarnya, gak mungkin dia bilang terus terang ada semacam ketakutan tersembunyi tentang sebuah reziko jika istrinya yang bertubuh kecil itu hamil.
"Selamat bobo sayang... Koko semakin sayang Lingling... jadi istri yang nurut ya..."
Lembut suara suami, sebuah ciuman panjang di dahinya serta usapan di punggungnya akhirnya bisa menenangkan pikiran Holly, walaupun kekecewaan tersimpan sekarang di dasar hatinya.
Ada kekhawatiran kelamaan ber-KB justru berakibat gak baik ke depannya, tapi nasihat pernikahan tentang tunduk dan hormat pada suami membuat Holly melepaskan sebuah tarikan napas pasrah, suami adalah kepala rumah tangga mereka, yang mengayomi dirinya, dia harus belajar percaya pada keputusan suami untuk kebaikan rumah tangga mereka, walau tak bisa memahami jalan pikiran suaminya soal anak.
.
☘️
.
Penolakan terus-menerus dari sang suami soal kehamilan mengganggu kestabilan emosi Holly, walau berusaha untuk bersikap sewajarnya, tapi tetap aja hatinya galau, dia mulai sering dilanda kesedihan. Dia lebih banyak diam sekarang, menghindari pembicaraan soal kehamilan, walau gak bisa untuk gak memikirkan itu, terlebih jika Cici Bey datang berkunjung membawa si baby Sansan.
__ADS_1
Sejak tadi siang baby Sansan dititipkan sama Holly di kafe bersama seorang suster, Cici Bey sedang mengontrol beberapa usahanya. Udah sering baby Sansan di bawa ke sini, Holly dengan rela hati menjagai baby lucu yang udah berusia tiga bulan lebih, di hatinya dia menyimpan dalam-dalam keinginannya sendiri, kehadiran Sansan jadi seperti hiburan buat dirinya.
"Yayang oma ternyata di sini ya... dijagain mami Lingling ya..."
Ci Cun masuk ruangan Holly dan langsung mendekati cucunya yang bermain bersama Holly di stroller bayi.
"Cici dari tadi belum pulang, Ling?"
Mama mertua jadi ikutan memanggil Holly dengan sebutan yang sama seperti Tenry.
"Belum ma..."
"Terus Dedenya haus gimana..."
"Ada kok ma... masih ada beberapa botol lagi persediaan buat Sansan..."
"Kasihan cucu oma, mimi ASI tapi pakai dot... nanti kamu jangan kayak Cici ya Ling..."
Holly tersenyum masam, kapan dia bisa punya baby sendiri kalau yang punya benih enggan benihnya tumbuh di dalam rahimnya.
"Kalian udah nikah berapa lama sih..."
Ci Cun bertanya sambil mengangkat Sansan dari stroller.
"Lingling sama Koko?"
Holly balik bertanya.
"Iya..."
"Udah lima bulan ma..."
"Udah lama juga... belum ada tanda-tanda ya mama mau ketambahan cucu..."
Holly merasa sakit di dadanya, berarti baik Tenry maupun Beyvie gak pernah ngasih tahu sang mertua tentang penundaan kehamilan dirinya. Holly diam.
"Kalau udah punya banyak cucu, kalian yang kerja, mama ngurusin cucu aja... ini kebahagiaan mama sekarang, punya cucu dari kalian... moga-moga Lingling cepat hamil ya..."
Rembesan airmata membuat Holly berpaling, pura-pura mengurus sesuatu di meja kerjanya. Setelah mengeringkan airmata Holly keluar dari ruangan itu.
"Mama liatin Sansan ya, Lingling mau kontrol di luar dulu..."
Holly menuju bagian belakang kafe itu, mencari tempat yang jarang didatangi orang dan melepaskan sedihnya di sana.
.
__ADS_1
🦋
.