
"Sebanyak apa Koko sayang Lingling?"
"Mmmh?"
"Seberapa banyak Koko sayang aku?"
"Sebanyak yang Koko bisa berikan..."
"Iya... berapa banyak itu?"
"Koko gak tahu berapa banyak, Lingling yang udah rasain gimana sayangnya Koko sama Lingling selama ini..."
"Iya iya... tapi kan ada ukurannya..."
Tenry mengernyit, bingung mencari jawaban yang diinginkan istrinya, gak mendapatkan ide Tenry akhirnya memilih diam, hanya mengusap-ngusap kepala istri yang tengah bersandar di lengannya. Mereka sedang duduk di sofa panjang menghadap jendela kaca menikmati pemandangan sebagian kota malam hari dari salah satu kamar hotel yang ikonik di negara ini.
Sehari di negara Singa, sejak tiba di sini kemarin malam Holly begitu antusias sehingga beberapa tempat terutama icon negara ini telah mereka datangi. Karena lama tidak berolahraga, seharian ini lebih banyak berjalan kaki membuat Tenry merasa cape, terutama dirinya lumayan sibuk sebelum pernikahan mereka.
Tapi istrinya yang kecil seperti punya energi yang besar sejak semalam, mengikuti langkah kecilnya yang berjalan seolah gak merasakan cape, mungkin juga karena senang bisa menginjakkan kaki di sini, sebuah negara kecil tapi punya banyak sekali tempat wisata.
"Koko... kenapa gak menjawab..."
Holly ternyata masih menunggu jawaban dari Tenry.
"Ehh... tadi nanya apa?"
"Ihhhh... masa lupa, gak nyimak berarti..."
"Iya... Koko cape soalnya, udah malas mikir..."
"Masa kayak gitu harus mikir, pertanyaan Lingling tuh soal perasaan, soal hati..."
"Coba ulang kalo gitu... apa pertanyaan Lingling?"
"Seberapa banyak Koko sayang istri Koko... gak susah harusnya jawabannya..."
"Tadi Koko udah jawab kan... tapi Lingling gak puas... Koko gak tahu jawaban apa yang Lingling mau..."
"Misalnya Ko... sebanyak pasir di laut atau sebanyak bintang di langit... atau sebanyak air di laut..."
"Ohh? Hahaha... Koko gak bisa mikir ke situ... ya udah seperti itu aja... ihh... istri Koko unik deh..."
Sebuah ciuman sayang di pelipis sang istri.
"Koko pilih jawaban yang mana?"
"Semuanya... hahaha..."
Tenry gemas karena bentuk pertanyaan istrinya ternyata udah ada jawabannya, harusnya dikasih tahu pilihannya.
"Semua?"
"Iya sayang... kan sama aja tuh, siapa coba yang bisa menyebutkan jumlah pasir, jumlah bintang, atau berapa meter kubik jumlah air laut... itu sama-sama gak bisa dihitung sayangku... itu alegori yang sama..."
Tenry menyimpan senyum, memahami pembicaraan ringan dengan konsep asal sang istri soal hitungan cinta, pola pikir sederhana yang berdasar pada yang baik dan benar itu adalah yang besar atau banyak jumlahnya.
"Ling... logikanya... pasir, bintang dan air laut gak bisa dihitung... jika jadi ukuran buat rasa sayang... berarti itu kasih tanpa batas serta sayang yang luar biasa..."
"Iya gitu... Lingling mau Koko seperti itu, Lingling juga mau kayak gitu... sayaaaang banget sama Koko..."
Tenry mengelus sayang pipi sang istri. Kehidupan bersama sudah dimulai, akan ada hal-hal kecil, akan ada hal-hal besar yang akan menjadi pembelajaran buat mereka bagaimana hidup bersama dalam pernikahan yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Ling... Koko mungkin gak akan bisa seperti itu, Lingling juga pasti sama... kita akan saling menuntut juga setelah kita saling memberi karena kita manusia yang terikat hak dan kewajiban, ada ukuran adil dan tidak adil... makanya Koko bilang tadi, Koko sayang Lingling sebanyak yang Koko bisa berikan..."
"Gitu ya Ko..."
"Iya... menikah itu gak hanya ada manis-manisnya, sayang-sayangan terus... besok-besok kita pasti marahan juga... beda pendapat juga, kalau Koko gak suka pasti Koko bisa marah sama Lingling...mungkin udah gak dibujuk lagi kalau Lingling merajuk.."
"Ihh Ko... Lingling gak mau kayak gitu... Lingling mau kita jangan kayak mama sama papa, marahan terus, papa tuh suka kasar sama mama... Koko jangan gitu ya nanti sama Lingling..."
Tenry melingkari tubuh kecil istrinya dengan dua tangannya. Pikiran sang istri tentang menikah mungkin masih sebatas 'aku mencintaimu ayo menikah dan kita akan hidup bahagia sampai akhir'.
"Kita gak akan bisa menghindari itu... baby... tadi aja masih ingat kan saat mau makan siang... Lingling belum pengen makan masih pengen lanjut jalan sama foto-foto, tapi Koko gak bisa seperti itu, Koko udah terbiasa makan tepat waktu... perbedaan seperti itu bisa jadi masalah ke depannya... kalau Lingling ngeyel gak mau dengerin Koko atau kalau Koko gak bisa ngerti maunya Lingling, kan bisa marahan kita... Lingling ngerti kan?"
"Iya ngerti... mungkin kalau misalnya kita ke sini lagi dua tahun lagi terus kayak tadi... mungkin Koko ngomong kayak gini... ya udah sana jalan-jalan sendiri, aku mau makan, nanti ketemu di hotel... hihihi..."
"Apa sih... Koko lagi serius..."
Tenry mencubit pipi istrinya yang lagi terkikik sendirian, entah bagian mana yang lucu.
"Tapi...Lingling jadi pengen tahu, Koko bisa tega gitu ninggalin Lingling kalau kejadiannya kayak tadi?"
"Mungkin... yang lain-lain Koko bisa kompromi tapi kalau soal makan tepat waktu itu keharusan buat Koko..."
"Tapi... kenapa kemaren-kemaren Koko kayak pernah jalan sama Lingling terus kita telat makan... Lingling minta makan di rumah terus Koko iya aja..."
"Itu... mmmh gak tau kenapa... iya aja, oke aja... tapi sekarang gak bisa lagi..."
"Berubah dong sekarang, sayangnya udah gak sebanyak dulu..."
Tenry tersenyum masam, belajar itu butuh waktu, menyamakan cara berpikir perlu waktu.
"Ling... saat nikah, saat itulah hidup Koko buat Lingling, buat keluarga kita kelak... itu ukuran cinta Koko buat Lingling, semoga seterusnya dan sampai selamanya Lingling tetap menjadi cinta buat Koko... soal Koko marah atau jengkel atau bentuk emosi lain, itu gak ada hubungannya dengan berkurang atau bertambahnya rasa sayang dan cinta. Kalau Lingling menjengkelkan lantas Koko marah itu reaksi yang wajar, dan bukan berarti Koko udah gak cinta... paham?"
"Tidur sekarang ya... Koko cape..."
"Mau Lingling pijitin?"
"Boleh... boleh..."
Suami istri itu berpindah ke tempat tidur mereka. Holly mengambil hot cream dari tas kecil berisi segala macam obat, Tenry sudah berbaring setelah membuka kaosnya.
"Koko gak suka pakai itu Ling... panasnya gak tahan... bawa minyak kayu putih gak?"
"Ada..."
"Pakai itu aja campur dikit sama lotion..."
"Oh? Emang bisa?"
"Iya... Koko biasa pijit pakai campuran itu..."
Holly mulai memijit suaminya perlahan.
"Berasa gak Ko?"
"Bisa lebih ditekan lagi gak? Iya seperti itu, pijitnya dari arah bawah sampai punggung..."
Holly melakukan seperti permintaan Tenry, rasa panas terasa di kulitnya saat menyentuh tubuh Tenry.
"Ko... badan Koko hangat... Koko sakit?"
Holly berpindah mendekat ke bagian kepala Tenry lalu meraba dahi suami.
__ADS_1
"Iya Ko... badan Koko hangat loh..."
"Iya... sehabis mandi Koko udah mulai rasa gak enak..."
"Minum obat penurun panas dulu... ada kok..."
Dengan kuatir Holly menarik bed cover menutupi tubuh atas suami yang telanjang, lalu bergegas mengambil obat dan segelas air putih.
"Ini Koko... duduk dulu terus minum obat..."
Tenry melakukan permintaan istri, meminum obat kemudian berbaring seperti semula.
"Pijit aja sayang... Koko hanya cape... setelah tidur besok pasti Koko udah sembuh lagi..."
"Bener Ko? Lingling takut Koko sakit... apa ke rumah sakit aja?"
Suara Holly yang berubah seperti mau menangis membuat Tenry membalik badannya tidur terlentang sambil memandang sang istri.
"Koko gak papa sayang... udah biasa kayak gini kalau kecapean... pijit aja ya... terus kita tidur..."
"Bener gak papa?"
"Iya..."
Senyum suami sedikit meredakan rasa kuatir Holly, tangan kecilnya mulai memijat dengan sepenuh hati, ingin suaminya bisa nyaman dan bisa tidur pulas. Setengah jam kemudian suara dengkuran halus terdengar dari mulut Tenry. Hati-hati Holly meraba dahi suami, masih hangat. Holly meneruskan memijat kedua kaki Tenry meskipun tangan kecilnya udah pegal sejak tadi.
"Baby... Koko tertidur ya?"
"Iya..."
"Berapa lama?"
"Setengah jam kali..."
"Udah... gak usah dipijat lagi... Lingling tidur juga ya..."
"Koko pakai kaosnya..."
"Iya..."
Sesaat kemudian setelah membersihkan tangan, mengurangi cahaya lampu di kamar dan menutup gordyn Holly berbaring di samping suami.
"Kasihan istri Koko... cape ya pijitin Koko..."
"Iya... tapi gak papa, yang penting Koko hilang capenya..."
"Iya... lebih enakan sekarang... makasih ya sayang..."
Sebuah ciuman sayang menutup aktivitas mereka, dua sejoli itu melepas lelah mereka. Tenry mengubah rencananya sebelum jatuh tertidur lagi, besok gak ada acara jalan-jalan, dia punya alasan yang gak bisa ditolak istri, plus alasan lain yang tersembunyi.
.
🦋
.
Masih lambat alurnya... makasih masih tetap baca terutama makasih selalu ngasih jempol, apalagi yg ngasih komen, vote dan hadiah...
Maaf belum bisa balas komen ya...
.
__ADS_1