Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 141. Berjalan Bersisian


__ADS_3

Di kafe tengah kota, acara syukuran di sebuah ruangan private, perayaan hut pernikahan ke enam untuk Tenry dan Holly sekaligus dengan wisudanya Holly.


Tanggalnya tidak sama, anniversary mereka udah tiga hari yang lalu digabungkan saja dengan syukuran wisuda tepat hari ini. Masih ada moment ulang tahunnya si Ezar yang kedua tapi Holly lebih suka merayakan itu terpisah, terlebih masih ada seminggu lagi.


Tidak banyak yang diundang, hanya keluarga terdekat aja, yaitu orang tua, kakak adik serta sahabat Holly sejak kuliah.


Si mami yang masih dikuasai haru biru karena moment berharganya, masuk ke ruangan itu dan langsung mencari anaknya.


"Echa... Sini sayang..."


Anak batita yang sedang main dengan mainan robotnya bengong melihat Holly yang wajahnya masih tertempel make up.


"Hehe pangling dia bu..."


Suster Lena mengajak Ezar mendekat.


"Itu mami..."


"Adek..."


"Mami... mami..."


Ezar meninggalkan mainannya dan berlari menuju sang mami, Holly meraih Ezar lalu mengangkatnya ke dalam pelukan.


"Mami..."


Si kecil memukul wajah sang mami, seolah memastikan itu beneran maminya.


"Nso... selamat ya..."


Ivy datang mendekati kakak iparnya lalu memberi cipika-cipiki termasuk pipi Ezar yang sedang berada di gendongan sang mami.


"I i..." Ezar menolak tubuh Ivy. Ivy malah tambah mencium batita itu dengan gemas, baru berhenti saat tangan mungil itu menarik rambutnya.


"Sini Dede fotoin Nso Lingling sama Echa..."


Ponsel Ivy terarah pada Holly.


"Kenapa gak ke studio foto, Nso?"


"Ngapain? Dari tadi Koko udah ngambil banyak foto..."


"Lebih bagus kan, biar bisa dipajang di dinding... kan moment penting, banyak loh yang suka ke studio foto setelah wisuda..."


"Hehe, gak kepikiran... Koko juga gak punya foto wisuda selain yang di hp Koko..."


"Iya ya... kasihan juga Koko waktu wisuda gak ada keluarga, sendiri aja... abis kuliahnya kejauhan..."


Ada keluarga yang lain yang harus disapa Holly, sudah duduk dengan manis di sekeliling sebuah meja besar kakak-kakaknya dan keluarga masing-masing. Dulu mereka semua tinggal di bawah atap yang sama, sekarang masing-masing sudah tinggal di tempat berbeda.


Hidup ternyata penuh perubahan. Dulu mereka tak punya hubungan yang hangat, tapi sekarang jalan mereka cukup lebar untuk berjalan bersisian tanpa harus bersinggungan, terlebih kakak-kakaknya jadi segan pada Holly, mungkin karena keluarga Tenry yang lebih dalam banyak hal.


Holly mendekati keluarganya...


"Holly, selamat ya..."


Herlina berdiri diikuti Helny lalu memberi ucapan, awalnya dua kakak perempuan itu agak canggung untuk memeluk tapi Holly segera melingkarkan tangan ke punggung masing-masing mereka lalu memberikan pipinya menyapa dalam ciuman juga. Tak ada dendam yang tertinggal tentang perlakuan mereka dulu, hanya mereka tidak pernah berjumpa sejak Holly menikah.


Holly juga menyapa para kakak iparnya, dan ponakan-ponakannya.


"Mikha... tinggi banget... berapa tingginya?"

__ADS_1


"169 cm Holly...."


Mikha menjawab dengan senyum kecil. Holly dulu banyak mengurus dirinya dan adik-adiknya, dan semua mereka hanya memanggil Holly dengan nama tanpa embel tante, onty atau lainnya.


"Wow... bisa jadi model dong... apalagi tingginya masih bisa nambah kayaknya..."


"Di keluarga kita kamu doang yang pendek kok Holly..."


Lina menanggapi sambil memandang tubuh kecil Holly.


"Iya sih... aku gak dikasih anugrah itu..." Holly senyum dengan ikhlas.


"Tapi hidupmu jauh lebih baik dari kami semua..."


Lina menjawab sedikit iri. Holly diam tapi gak menampik itu, itu lah bagian yang diijinkan Maha Pengasih untuk hidupnya.


"Mama mana?"


Helny sekarang yang bersuara, sejak tadi mama belum masuk ruangan ini.


"Mama ke ruanganku di lantai dua... mau simpan bajunya mama sama tas, cape katanya bawa-bawa tas..."


"Holly... bisa gak kamu bujuk mama untuk ketemu papa?"


Herlina sekarang yang ngomong mengambil kesempatan sebelum mama bergabung di ruangan ini.


"Papa di mana ?"


Holly bertanya pelan, bertahun-tahun tidak bertemu sang papa membuat dia ingin tahu keadaan papa.


"Ada di rumahku... ganti-gantian, kadang papa ke tempat Helny..."


Holly mengeluarkan ponselnya dari tas selempang yang masih menggantung di bahunya.


"Nomor papa masih yang lama..."


"Oh... oke. Kenapa papa gak diajak ke sini?"


Holly menyayangkan sekaligus jadi berharap kehadiran papa, tetap saja itu papanya, jadi kasihan sekarang mendengar bagaimana papa menjalani hidup. Tiga kakaknya yang lain, Hofny, Henny dan Hellen mengikuti mama pindah bersama opa.


"Papa malu sama mertuamu, dan takut bertemu dengan mama..."


"Takut bertemu ya... lalu kenapa aku harus membujuk mama untuk bertemu papa?"


"Ya... yang penting mereka ketemu dulu... urusan perasaan belakangan."


Helny menjawab sekarang.


"Papa pengen rujuk..."


Herlina menyambung seperti melengkapi penjelasan mengenai papa mereka. Holly menatap Herlina dan menemukan kesungguhan pada mimik wajah Herlina.


"Bukannya mama juga nunggu papa datang?"


Holly ingat perkataan mama waktu itu.


"Iya sih... tapi papa takut mama menolak untuk rujuk..."


"Seingatku, mama meminta papa berubah lalu mama menunggu kedatangan papa di sana..."


"Itu yang papa khawatirkan, takut karena papa gak tahu perubahan apa yang mama maksud, takut mama gak melihat perubahan papa, lalu mama menolak papa. Makanya Holly... bicara dengan mama ya? Kasihan papa hidupmya gak keurus..."

__ADS_1


"Nanti aku coba ngomong ke mama..."


Tenry kemudian masuk ruangan, mata langsung mencari sang istri.


"Baby... acaranya kita mulai aja ya... udah jam makan siang..."


"Terserah aja Ko... Mmm Koko udah ketemu Lina sama Helny?"


"Eh belum sih... hai..."


Tenry berjabat tangan dengan Helny dan Herlina sambil memasang senyum.


"Mulai aja ya sayang... udah banyak orang juga..."


"Iya Ko..."


Acara ucapan syukur singkat lalu disambung dengan acara makan siang keluarga. Hepi tak terdefinisikan buat Holly saat merayakan hut pernikahan ke 6 itu dengan mengulang moment wedding cake... saling suap potongan kue, dan Holly melakukan sesuatu kali ini, potongannya sangat besar sampai mulut Tenry penuh, diiringi tawa semua yang hadir.


Tenry yang mendapat moment juga tak melewatkan ciuman di seluruh wajah terakhir di bibir Holly. Si kecil Ezar hanya menatap adegan itu dengan mimik lucunya. Diminta MC untuk mengecup orang tuanya, Ezar hanya diam tenang di pelukan Tenry.


"Koko..."


Tiba-tiba Holly teringat sesuatu..."


"Iya sayang..."


"Kenapa gak ada balon? Tahu gitu Lingling yang pesen sendiri..."


Tenry tergelak, sudah dia duga istrinya gak mungkin melewatkan sebuah perayaan tanpa balon. Tenry gak memberi jawaban hanya mencium kembali kepala sang istri.


Selesai acara makan siang di kafe itu, saat semua keluarga pamit pulang...


"Ko... kita naik aja dulu ya... jangan pulang dulu, Lingling pengen istirahat siang di sini, lagian Echa udah bobo, tunggu dia bangun aja baru kita pulang..."


Tenry hanya mengangguk mengiyakan. Anak mereka sudah lebih dahulu dibawa naik ke ruang atas karena udah tertidur, mama Ibeth akhirnya ikut Hanie pulang ke rukonya... mama Cun entah pergi ke mana bersama Ivy, Beyvie katanya langsung pulang, demikian juga dua kakaknya dan keluarga.


Holly naik tangga, di belakangnya Tenry mengikuti.


"Ngantuk, cape... apa di sini aja sampai malem?"


"Boleh..."


Tenry menjawab singkat. Holly membuka pintu dan langsung teriak saat matanya menemukan ada balon di mana-mana di ruangan bernuansa kuning putih itu. Kali ini balon segala warna ada yang dipasang di plafon rumah, ada yang di lantai, ruangan itu jadi penuh balon.


"Koko? Woooow... Koko suami terbaik deh..."


"Gara-gara balon, Koko dapet gelar suami terbaik... ck ck..."


"Hehehe.... makasih Koko... Lingling sayang banget loh sama Koko..."


"Baby... gak bosan sama balon ya?"


"Gak lah... imut, lucu..."


Tenry masuk kamar, bergabung dengan anaknya melepas penatnya, membiarkan istri yang masih terkagum-kagum dengan balon-balon.


.


Ngantuk guys, editnya besok aja...


Salam bahagia...

__ADS_1


__ADS_2