
Di ruang makan keluarga, pagi hari sebelum keluarga ini bergiat dalam rutinitas.
Ivy yang mendominasi percakapan. Holly hanya menjawab seperlunya pertanyaan Ivy atau pun pertanyaan Ci Cun soal kafe. Tenry duduk tenang di samping Holly, sekarang dia bersikukuh meladeni Holly sarapan.
Sebuah kesadaran datang akhirnya bahwa benar istrinya cenderung diam bahkan pasif, berkali-kali Tenry menanyakan tapi Holly selalu menjawab gak ada apa-apa. Sejak itu Tenry kembali bertindak posesif, bahkan di meja makan Holly tidak bisa menolak lagi disuapi atau diambilkan minum oleh suami, meskipun harus mengabaikan kalimat godaan Ivy dan lirikan mertua.
"Udah? Masih banyak loh..."
"Koko ngambilnya kebanyakan, udah tahu Lingling makannya sedikit..."
Holly menjawab lirih, matanya melirik sejenak bubur di piring yang masih setengah. Tangannya meraih gelas berisi coklat hangat tapi didahului suami yang kemudian mendekatkan gelas itu di mulutnya.
"Hadeeh Koko, kayak Nso Lingling gak bisa makan sama minum sendiri aja..."
Ivy sinis pada Kokonya dari seberang meja, dia berkali-kali melihat iparnya protes dengan sikap Kokonya tapi Kokonya gak peduli.
"Cepetan sana, mobil jemputan udah ada tuh..."
Tenry mendelik dan meneruskan meladeni istri menghabiskan coklat hangat hingga tetes terakhir.
"Kalau aku punya pacar, gak mau yang kayak Koko, terlalu posesif aku gak bebas gak bisa ngapa-ngapain, terlalu ngatur... diiih... ogah punya pacar kayak Koko..."
"Anak kecil mau pacaran... berangkat sekolah sana..."
Tenry menjawab ketus dengan lirikan mata tajam membuat Ivy berdiri mengambil tasnya lalu pamitan. Ci Cun terlihat gak peduli, dia belajar menahan diri untuk menilai anak atau menantunya sekarang, mereka punya kehidupan sendiri, punya kebiasaan sendiri. Dia hanya masih campur tangan untuk hal-hal menyangkut urusan bisnis mereka saja.
Tak lama Ivy kembali...
"Anterin Ko... mobil jemputannya udah pergi..."
"Kamu sih terlalu santai, udah dari tadi kan klakson mobilnya bunyi..."
"Dia datang kepagian, biasanya jam segini kan baru nyampe sini... masa aku gak sarapan..."
"Aku aja yang anterin De..."
Holly berdiri dari tempat duduknya, tapi tertahan sama tangan Tenry.
"Gak Ling... kita mau lihat rumah kita, interiornya udah selesai kemaren... minta Om Fecky aja De..."
"Om Fecky jadi sopir papa sekarang, si Ode lagi minta berhenti sementara, istrinya melahirkan..."
Mama menimpali.
"Ma... Dede bawa mobil sendiri aja ya..."
"Parkir di mana? Murid gak boleh parkir mobil di halaman sekolahmu, heran juga aturan sekolahmu itu..."
Si Koko yang menanggapi sekarang.
"Biar muridnya gak bawa mobil Ko, halaman seluas itu gak akan bisa nampung mobil murid... makanya ada aturan itu... Kalau kedapatan, suka ditanyain SIM juga..."
"Kamu udah punya SIM?"
"Udah dong, kan bareng Nso Lingling ngurusnya... dibantuain polisi cakep mantannya Cici..."
Ivy mengulangi meminta ijin...
__ADS_1
"Mama? Dede telat nanti... Dede bawa mobil ya..."
"Iya..."
Mama menjawab pendek. Untuk soal seperti ini Ci Cun bukan mama yang ketat, dia hanya mama yang akan berhitung soal pengeluaran yang mewah dan mama yang kolot bila soal penampilan, soal nilai dan norma yang dia anut.
"Cari tempat parkir yang aman De..."
"Siyaaap Ko..." teriak Ivy yang sudah mencapai pintu keluar.
Tenry bangkit lalu menarik lembut tangan sang istri.
"Yuk lihat rumah kita..."
Holly mengikuti langkah suami menuju depan rumah ini, di mana terletak bangunan rumah mereka yang baru selesai yang berdampingan dengan rumah Cici Beyvie. Ada beberapa rumah lain yang masih tahap pengerjaan, semua milik sepupu Tenry, rupanya beberapa kapling telah di jual Ko Siong khusus untuk kerabat mereka saja.
Rumah dua lantai bercat putih baik dinding maupun kusennya, bergaya modern minimalis dengan beberapa aksen hitam di bagian fasad rumah.
"Suka tamannya gak?"
Tenry bertanya saat mereka masuk ke bagian halaman rumah tanpa pagar itu.
"Suka..."
Rumah udah seratus persen selesai, pengerjaan interior sudah selesai serta furniture sudah lengkap, tinggal dihuni aja.
"Nanti pelan-pelan pindahin barang kita ya..."
Tenry memegang dua bahu istrinya sambil berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya, touring di rumah baru mereka.
"Suka kan dapurnya?"
Tenry tersenyum saat menatap ekspresi serius istrinya, hati kecilnya berkata istrinya tidak menunjukkan antusiasme terhadap rumah mereka, walaupun sejak tadi berkata suka, tidak seantusias saat mereka sering singgah di sini pulang kerja ketika bangunan rumah sudah jadi dan masuk dalam tahap finishing.
"Yuk lihat kamar kita..."
Tenry membimbing Holly naik ke lantai dua. Hanya ada tiga kamar besar di atas dengan ruang tengah yang luas, kamar terluas adalah kamar mereka berdua.
Holly hanya melihat sepintas kamar mereka, sementara Tenry mengecek interior di dalam kamar, ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Holly bergerak ke arah kamar lain yang berhadapan dengan kamar mereka, ada dua kamar di sana, dia pernah minta sesuatu untuk salah satu kamar itu.
Saat masuk ke kamar itu perasaan kecewa langsung menyerbu, di berpindah ke kamar di sebelah sama saja tidak seperti yang dia minta pada suami waktu itu. Dengan sedih Holly bergegas turun ke bawah, suara langkah kakinya terdengar oleh Tenry.
"Baby... udah selesai lihat-lihat?"
Holly gak menjawab hanya melanjutkan langkah dengan buru-buru, memburu airmata yang sudah menyerbu ujung mata, sedih telah menguasai hati, ternyata suaminya gak mengakomodir soal interior kamar anak seperti yang dia minta sebelum ini, dan itu menunjukkan bahwa anak tak ada dalam perhitungan dan prioritas suaminya untuk hidup mereka ke depan di rumah ini.
"Sayang..."
Tenry segera mengejar Holly, dari tempatnya dia bisa melihat raut wajah istrinya yang sedang menahan tangis. Tepat sebelum Holly mencapai pintu keluar tangan Tenry sudah menangkap tubuh mungil istrinya.
"Lingling... kenapa?"
Tenry melihat airmata luruh dari mata istrinya tak terbendung dengan suara tangisan sedih seperti pada malam itu. Tangisan istri yang telah lelah menanggung sendiri rasa frustrasi dan kekecewaannya, tangisan yang lahir dari kumpulan rentetan kesedihannya yang memuncak hari ini.
"My baby..."
Tenry memeluk istrinya dengan hati bertanya-tanya apa yang telah terjadi.
__ADS_1
"Ada apa sayang... kasih tahu Koko ya... kenapa sekarang gampang sedih? Apa masalahnya?"
Tangisan semakin menjadi dalam dekapan suami, bahunya berguncang hebat dan Tenry kaget dengan reaksi istrinya yang menangis dengan cara yang belum pernah dilihatnya sebelum ini.
"Sayang..."
Getaran tubuh istrinya membuat Tenry memeluk dengan erat, memberi banyak ciuman di kepala sambil tangan mengusap kepala itu. Tenry menunggu hingga tangisan Holly mereda tanpa menghentikan ciuman di kepala.
Tenry mengangkat tubuh istri yang seoerti kehilangan daya karena tekanan emosinya, memeluk dengan sayang sambil bergerak menuju sofa kulit warna cream. Dia duduk di sana dengan memangku istrinya, mengeringkan airmata di wajah yang masih senggukan, membelai sayang pipi itu, lalu kembali menciumi wajah istri dengan penuh kasih sayang.
Hatinya turut mencelos melihat luapan emosi istri dalam tangis sedihnya. Dalam diam kilas balik sikap istrinya satu-satu bermunculan. Tak ada kemanjaan, tak ada sanggahan atau pertanyaan setiap kali mereka bicara, hanya anggukan tanda persetujuan untuk hal apapun yang Tenry tanyakan. Awalnya dia pikir karena sakit gigi sehingga istri malas ngomong, tapi saat ke dokter gigi tak ada masalah dengan gigi istrinya.
Saat menyimpulkan sikap istri yang cenderung pasif padanya, Tenry jadi tahu sekarang ada masalah yang disimpan istri dan itu berhubungan dengan dirinya.
"Sayang..."
Tenry mencium lembut dahi Holly sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Lingling sakit hati sama Koko ya?"
Wajah mereka begitu dekat, kepala Holly ada di dadanya, Tenry memegang dagu Holly dengan satu tangan mengarahkan wajah itu hingga mata mereka bertatapan. Masih ada kristal bening yang keluar dari dua mata istrinya. Perlahan Tenry menghapus dengan ibu jarinya.
"Maafkan Koko ya?"
Istri mulai menangis lagi... Hati Tenry terguncang saat paham bahwa benar dialah sumber sedih istrinya.
"Sayang... Koko minta maaf, Koko sayang banget sama Lingling, maaf udah buat Lingling sedih dan banyak menangis selama ini..."
Tenry menciumi kedua mata istrinya, rasa asin airmata sedih itu memicu airmata yang sama lolos dari matanya sendiri.
"Maaf sayang... Koko ingkar janji, Koko pernah bilang gak akan buat Lingling menangis lagi... nyatanya Lingling sedih karena Koko..."
Pasutri itu kini menyatu dalam tangisan, tangisan yang mulai merekatkan lagi batin mereka, bahwa mereka itu sejiwa seperasaan.
Setelah emosi terurai, banjir airmata berganti banjir ciuman dan banjir kalimat cinta, hingga akhirnya keduanya bisa saling tersenyum. Holly sekarang gak enggan lagi untuk melekat manja di dada suami, kehangatan pelukan yang pernah coba dia singkirkan dari hatinya, kini menjadi satu hal yang paling dia rindukan dan tak ingin keluar dari sana.
"Kasih tahu Koko... apa yang buat Lingling sesedih ini... bilang terus terang ya... Koko tahu itu soal Koko..."
Tenry berucap lembut sambil mengatur anak rambut di pelipis istrinya, bibir kembali mampir sesaat di bagian hidung bangir istrinya.
"Sayaaang... gak usah ragu, Koko gak mau Lingling sedih lagi karena hal itu, jadi... sekarang kasih tahu Koko..."
Tenry menatap lembut penuh cinta dengan sebuah senyum, berharap istri bisa melepas semua gundahnya apapun itu.
"Koko sama sekali gak tahu ya?"
Suara serak istrinya akhirnya terdengar.
"Iya... maafkan Koko... makanya cerita... ya?"
Holly menarik napas perlahan, ya saatnya untuk terbuka, hatinya lelah menyimpan sendiri.
"Lingling tuh kecewa sama Koko... karena... karena Koko gak mau Lingling hamil, Koko gak mau punya anak dari Lingling... udah hampir setahun kita nikah kan... mama walaupun gak pernah nanya langsung kenapa Lingling belum hamil, tapi mama selalu ngomong penasaran gimana wajah anak kita berdua nanti... banyak saudara juga suka nanyain kenapa Lingling belum hamil kan... Lingling sedih Ko... Koko juga gak ngomong sama mama kalau Lingling Koko paksa minum pil itu..."
Istri yang irit ngomong sebelum ini sekarang berkeluh kesah soal kekecewaannya. Tenry membuat napas beratnya perlahan, soal anak ternyata... dia berpikir selama ini jika mereka sudah sepakat soal itu...
.
__ADS_1
🦋
.