
Sepanjang istri mengikuti KKT, Tenry banyak melewatkan waktu dengan baby Ezar. Hal tersebut membuat Tenry menjadi lebih dekat dengan putranya. Setiap kali... Tenry akan pulang rumah sebelum jam lima sore atau selambat-lambatnya jam enam, agar bisa bermain dengan putranya. Jam tujuh malam biasanya baby Ezar sudah mulai rewel menyambut waktu tidurnya.
Di rumah Ci Cun...
"Echa mana, ma?"
Papi yang lelah seharian mengurus beberapa masalah dalam pekerjaan tiba di rumah.
"Tuh... depan aquarium... lagi disuapin suster..."
Tenry mendatangi anaknya. Perasaan sebagai orang tua memunculkan motivasi yang lain untuk bekerja lebih baik lagi. Keinginan untuk menyiapkan jalan bagi hidup putranya kelak telah tersusun rapih di otaknya.
Dia jadi tahu dan sangat menghargai usaha orang tua untuk dirinya, dia gak harus bersusah-payah merintis atau memulai usaha, dia hanya meneruskan apa yang sudah dimulai orang tua. Sekarang pun Tenry udah mulai masuk pada perusahaan sang papa sebagai kontraktor besar di provinsi ini.
"Echa... ngapain..."
Si baby sebelas bulan hanya menepuk-nepuk kaca aquarium dengan mulut mengunyah makanan.
"Main sama ikan ya... nanti papi tambahin ikannya biar tambah rame di dalam..."
"Ii ii ii..."
Celotehan Ezar dengan mata berbinar-binar masih sambil menepuk aquarium membuat Tenry tersenyum. Makanan muncret keluar dari mulutnya.
"Tenry mengambil tissue lalu membersihkan mulut baby yang tengah duduk di kursi tinggi, tempat khususnya saat makan.
"Makan dulu baru main... Sus, bawa ke meja makan aja... biar dia makan sampai habis dulu, baru diajak lihat ikan..."
"Udah gak bisa diam kayak gitu, pak... minta lihat ikan dari tadi..."
"Wah... udah banyak maunya ya..."
"Ii ii ii... papii.. ii..."
Si baby mengoceh lagi.
"Itu ikan sayang... tuh, i i nya lagi nonton..."
Tenry menunjuk Ivy yang ada di ruang keluarga.
"I i Dede..."
"Apa? Panggilannya aneh Ko... i i Ay aja... kayak Sansan..."
Ivy teriak dari dalam ruangan. Tenry gak menanggapi, sejenak dia mengusap kepala si baby. Si baby langsung mengulurkan dua tangannya pada sang papi.
"Papi mandi dulu ya... baru gendong Echa, papi masih kotor dari luar seharian..."
"Papiii eehhe... ekhek..."
Tangan baby Ezar masih terulur dengan kepala mendongak, teralih sepenuhnya dari ikan-ikan kecil warna-warni yang sengaja dibelikan si papi untuk mainan bayinya.
"Makan dulu sayang... ya... nanti baru papi gendong. Ama suka marahin papi juga kotor-kotor udah gendong Echa..."
Tenry dengan cepat meninggalkan putranya menuju ruang atas. Si baby menangis akhirnya. Tangisan baby Ezar membuat Tenry bergegas, kasihan jika putranya menangis lebih lama, biasanya akan berdampak sampai ke jam tidurnya, si baby akan lebih rewel sebelum tidur.
__ADS_1
Tak lama...
"Echa udah selesai makan?"
"Udah papi... udah mulai ngantuk ini..."
Ci Cun menirukan suara cadel sambil menggoyang dua tangan baby Ezar yang matanya sedang menatap layar tv besar. Si baby sudah anteng di tangan oma Cun, oma pasti banyak akal untuk membuat baby Echa tenang. Saat mendengar suara Tenry kepala baby Echa memutar demikian juga tubuh mencari asal suara, saat melihat sang papi, Echa mulai menangis lagi. Tangan otomatis terentang minta digendong.
"Sini... kangen papi ya..."
Baby Echa menjawab dalam rengekan dan tangan menunjuk ke luar, demikian juga tubuh gembulnya.
"Selalu kayak gini kamu sayang... minta keliling-keliling... papi capek loh..."
Gak ada nada sungutan atau keberatan sebenarnya, hati sebagai papi selalu terdorong ingin memenuhi keinginan putranya, walaupun di umur yang sekarang dia gak mengerti apa yang dia minta.
Seperti aquarium ini, Di rumah Beyvie ada aquarium dan baby Ezar saat dibawa ke sana begitu antuasias, matanya sampai melotot dan berbinar-binar saat melihat pertama ikan-ikan warna-warni yang sedang berenang. Maka Tenry membeli aquarium dua sekaligus, satu diletakkan di rumah mereka, satu di letakkan di rumah orang tua.
Tenry mengikuti permintaan baby Ezar, berjalan pelan memutari taman yang lampu-lampunya telah dihidupkan meskipun sore belum sepenuhnya berakhir, masih terlihat warna redup langit di atas sana. Kebiasaan jalan-jalan ini kadang membuat baby Ezar tertidur di pundak papi.
Seperti kali ini, belum lama mereka jalan di luar, baby Ezar mulai menyandarkan kepala di leher sang papi, si papi masih ngomong banyak hal, meskipun gak dimengerti sang baby...
"Besok mami pulang... besok rumah kita rame lagi, ada mami yang suka cerewetin kita lagi hehehe..."
"Mamii..."
Suara mengantuk baby Ezar terdengar.
"Iya... mami kita berdua... mami imut kita, udah mau pulang... Echa kangen mami gak?"
"Mamii..."
Saat yakin anaknya sudah tertidur, Tenry naik ke atas ke kamar mama Cun dan meletakkan putra di tempat tidur anak yang sengaja dibeli Ci Cun dan diletakkan di kamar ini. Tenry memperhatikan sejenak putranya dan memastikan anaknya tidur dalam posisi aman, setelahnya Tenry meninggalkan kamar menuju kamarnya sendiri. Mamanya pasti akan naik secepatnya, meneruskan kegiatannya di kamar sambil menjagai baby Ezar.
Saatnya untuk rehat sejenak menunggu makan malam, berarti juga waktu untuk menelpon istri. Tenry duduk berselonjor di atas tempat tidurnya sebulan ini, menyandarkan tubuh lelahnya di sana.
.
📱
"Koko... hehe... besok Lingling pulang..."
Suara riang dan senang istri terdengar di telinga. Tenry tersenyum, ada nada tidak sabar juga dalam suara itu.
"Iya sayang, tahu... tiap malam dikasih tahu kan..."
"Hehe... gak sabar soalnya..."
Bener kan... sama aja sebenarnya dengan suami, udah gak sabar dengan sesuatu.
"Jam berapa sampe sini? Besok Koko kerja sampai siang aja... nungguin Lingling..."
"Gak tahu pasti jam berapa Ko... pagi semua mahasiswa KKT ngumpul di kantor bupati untuk acara penarikan, setelahnya baru pulang..."
"Oh gitu... Koko jemput di auditorium lagi ya? Kasih tahu Koko kalau udah dekat kampus..."
__ADS_1
"Ehh temen-temen ajak pulang bareng... kita gak naik bus lagi... dari kantor bupati udah bebas katanya boleh pulang sendiri-sendiri... tapi masih ada bus juga sih..."
"Temen satu posko?"
"Bukan Ko... temen kuliah Lingling, kan kita ada banyak yang KKT sama-sama... jadi Koko gak perlu jemput di kampus, mereka bakal anterin Lingling ke rumah."
"Oh gitu... jadi Koko tunggu di ruman aja?"
"Iya... lebih praktis kayaknya, soalnya temen-temen gak ada yang tinggal di seputaran kampus kan..."
Tenry teringat sesuatu... teman kuliah yang KKT kan termasuk Brill.
"Temen Lingling yang mana? Siapa aja?"
"Ada Joy, ada Tory si ketua kelas dan kak Brill sama pacarnya... kita berlima Ko... tadi udah saling wa, naik mobilnya kak Brill..."
"Ehh gak ada... Koko yang jemput aja..."
"Loh... kenapa gak boleh? Lingling yang minta ikut loh..."
"Gak pokoknya... Koko ke sana, Lingling shareloc aja kantor bupatinya..."
"Ihh Koko... gak enak tahu sama temen-temenku..."
"Gak enak sama temen terus tega sama suami?"
Nada suara Tenry berubah sekarang.
"Emang kenapa suami Lingling?"
Tenry bangkit dari tempat tidurnya dengan perasaan kesal, dua kakinya kini berjejak di lantai, posisi tubuh duduk tegak di sisi tempat tidurnya. Ponsel masih melekat di telinganya. Dia selalu tersentak jika nama Brill mencuat, perasaan insecure langsung merajai hatinya dan memunculkan emosi negatifnya.
"Baby... gak usah nanya-nanya kenapa, pokoknya besok Koko jemput, oke? Masa naik mobil orang..."
"Astaga Ko... ya udah terserah..."
Holly gak ingin berdebat, dalam hati masih suka heran setiap kali nama Brill terucap suami selalu meradang. Dia paham suami menyimpan rasa tak senang pada Brill, tapi Holly kesal karena kesannya suami gak percaya padanya. Ingin menutup panggilan aja, tapi dia ingat sekesal-kesalnya dirinya, tetap perasaannya masih jauh lebih baik saat bicara dengan suami dari pada saat mengikuti emosi menutup komunikasi.
Tenry juga diam menenteramkan dirinya, berusaha mengembalikan logikanya di atas perasaan gak nyaman yang muncul sejak nama Brill diucapkan istri.
"Acaranya gak panjang sih Ko... hanya sambutan bupati aja... mungkin jam sepuluh udah selesai... nanti Lingling shareloc besok ya kalau Lingling udah di sana..."
Dengan emosi yang terkendali Holly bicara lembut pada suaminya. Tenry menghembuskan napasnya dengan terukur.
"Iya... besok mau dibawain apa?"
"Hehehe... gak usah... udah mau pulang kan..."
Tawa kecil Holly membuat hati Tenry membaik. Sadar bahwa di antara dia dan istri dirinyalah yang gak bisa menahan gejolak hatinya bila tentang kecemburuan.
.
🦋
.
__ADS_1