
Praktis setelah ditinggal Ko Siong dan Ci Cun bepergian, Tenry dan Holly tidak punya waktu untuk sedikit bersantai. Sekembalinya ke lantai dua kafe di pusat kota yang beralih jadi rumah utama pasangan ini, yang ada di pikiran adalah rencana pekerjaan untuk besok hari, bahkan sering mereka berdua masih harus memastikan pekerjaan sepanjang siang, memeriksa beberapa hal lewat ponsel, laptop masing-masing atau pc di rumah itu. Percakapan keduanya pun tidak akan bergeser dari topik-topik tentang pekerjaan.
Holly berusaha menyesuaikan diri untuk melangkah bersama suami, susah payah coba menjaga ritme hidup dari tekanan pekerjaan, tekanan hubungan dengan keluarganya, dan terutama tekanan sebagai mami yang merasa berdosa meninggalkan anaknya seharian.
Tenry selepas makan malam tak seperti biasa masih lanjut dengan pekerjaannya, kali ini mendekati istri yang duduk di sebuah sofa bed. Tenry baru saja menambahkan itu di sini sejak mereka lebih banyak di sini, memberi dia pilihan saat ingin beristirahat sejenak di siang hari tapi enggan masuk kamar.
"Kepala Koko sakit Ling..."
Kepala suami menyeruduk masuk ke pangkuannya sementara tangannya memindahkan laptop yang sedang dipangku istri.
"Kokooo... Lingling belum selesai... dikit lagi, setelah itu Lingling pijit kepalanya... bentar ya..."
Holly mempertahankan laptop di tangannya.
"Lagi apa sih..."
Si Koko akhirnya duduk di sofa itu dan kepala bersandar manja di bahu istri sambil mata mengintip memandang layar laptop ingin tahu pekerjaan istri.
"Ini... klien kita minta bonus hari raya, Lingling lagi pelajari skema pemberian bonus tahun lalu... lagi lihat juga klien mana yang layak untuk dapat bonus tahun ini..."
"Dari tadi... belum selesai juga?"
"Belum Ko... ini Lingling harus mempelajari nilai bonus... Lingling tuh suka lambat mengingat angka, membanding-bandingkan angka-angka. Kalau tahu dulu nikahnya sama Koko Lingling tuh milih kuliah di Fakultas Ekonomi aja... ini pusinggg Ko..."
"Makanya diprint aja data yang perlu, membaca langsung di kertas lebih mudah dari pada lihat bolak-balik di layar seperti itu bikin mata cape... Koko selalu print kalau harus lihat beberapa file sekaligus."
"Gak papa Ko, gak usah print ahh... buang-buang kertas..."
"Udah kayak Ci Cun gaya penghematannya..."
"Hehe, menuju menantu perempuan terbaik berarti... hehehe... udah jungkir balik gini kerjanya..."
"Emang mama punya menantu perempuan lain?"
"Mungkin kalau Koko nikah lagi hihihi..."
Holly terkikik seperti telah mengatakan sesuatu yang lucu.
"Ling... itu gak lucu ya... mau nyuruh Koko poligami?"
"Eh gak gak gak... enak aja, Lingling mati aja kalau Koko gitu, ihhhh... Lingling sebel sama Koko."
Holly melepaskan laptop di meja kopi di depan mereka dan melangkah hendak masuk kamar. Tenry langsung menahan salah satu tangan istri. Holly menarik tangannya berusaha melepaskan dari cengkeraman suami.
__ADS_1
"Ehhh mau ke mama..."
"Mau bobo..."
"Loh katanya masih harus selesaikan pekerjaan..."
"Udah males, udah cape juga..."
"Merajuk nih ceritanya..."
"Gak ihh... lepasin tangan Lingling..."
"Katanya mau pijitin Koko loh... kepala Koko sakit sejak tadi siang..."
"Biarin... Koko nyebelin... masa mau poligami..."
"Lah... bukannya Lingling yang ngomong sendiri tadi? Bukan Koko loh... coba inget..."
Holly berhenti menarik tangannya, keningnya hampir menyatu karena mencoba mengembalikan ingatan belum lama ini soal ucapannya, tak lama bibir yang mengerucut tertarik kedua sisi, tersenyum malu menyadari tingkahnya.
"Bener kayaknya ya... itu Lingling yang mulai..."
"Nah kan... makanya jangan asal ngomong..."
"Lain kali jangan ngomong sembarangan..."
Tenry serius sekarang.
"Iya Ko..."
"Apalagi hal-hal seperti selingkuh, poligami, itu hal-hal yang sensitif! Jangan dibawa becanda, yang sakit hati banyakan Lingling loh..."
"Iya Ko..."
"Sini duduk lagi di sini..."
Tenry selalu tersentuh apabila dalam satu situasi kemudian istrinya menjawab singkat, 'iya Ko'... Seperti sikap kepasrahan dan ketundukan seorang istri pada otoritasnya sebagai suami, rasa sayang akan meluap setiap kalinya. Tenry membawa Holly duduk di sampingnya.
"Susah banget sekarang duduk berdua kayak gini..."
Tenry merangkul pundak istrinya, tadinya berniat bermanja-manja pada istri, sekarang terbalik malah dia yang mengusap-ngusap lengan istri, sesekali dia mencium kepala yang menempel di dadanya.
"Abisnya kita kerja terus. Apa kayak gini terus kita Ko? Setiap hari sibuuuk terus... sampai tua?"
__ADS_1
"Gak lah... buktinya mama dan papa, di umur mereka sekarang sudah bisa lebih santai kan..."
"Hahh? Masih berapa tahun lagi itu... dua puluh lima tahun?"
"Mungkin saja..."
"Aduuuh Ko... Apa gak ada sedikit waktu aja buat kita senang-senang, setelah kerja keras kan... sesekali harus ada waktu untuk memanjakan diri sendiri... Karyawan aja dikasih bonus liburan sekeluarga... masa kita gak..."
"Mereka perginya bareng teman-temannya mereka... satu kantor itu bersama keluarga masing-masing... rame mereka, family gathering..."
"Apapun namanya yang penting mereka ada waktu liburan... kita perlu juga loh keluar dari kesibukan kita dan rehat sejenak, ada kesempatan untuk bersama-sama..."
"Iya sayang... Koko juga masih punya hutang liburan kan... nanti kita rencanakan kapan ya, kita pergi bertiga Echa..."
"Oke oke... Lingling suka ide itu... Tau gak... ini Lingling juga udah suntuk banget dengan semua ini, rasanya tiap hari gak ada waktu memikirkan yang lain, selalu berderet tuh apa lagi yang masih harus Lingling kerjakan..."
"Iya sayang... Koko ngerti, nanti kita liburan juga, tapi deket-deket sini aja dulu ya... mama papa gak ada, kita gak bisa pergi lama-lama..."
"Kapan?"
"Pas libur lah... dua hari, cukup gak?"
"Iya... wah... gak sabar nunggu itu, pengen tiduuuur seharian Lingling mah..."
"Jalan-jalan Ling... masa tidur, di rumah aja kalau gitu..."
"Hihihi... tidur enak tanpa takut telat bangun itu kayaknya mahal banget buat Lingling..."
Tenry mengecup lama kepala sang istri, dia sangat paham hal ini, tapi ini bagian dari perjuangan hidup mereka, berjuang bukan untuk hidup yang lebih baik sebenarnya... ternyata berjuang untuk mempertahankan apa yang telah ada di tangan itu jauh lebih berat.
"Baby... Koko sayang banget istri Koko..."
Tenry meraih tubuh istri dan berbaring bersama saling memeluk di sofa bed itu. Cerita demi cerita masin diteruskan, tangan istri pun tak lupa mengusap sayang kepala suami, dan sebaliknya usapan sayang di punggung istri menjadi bahagian yang merenggangkan otot mereka yang lelah.
Ritme indah mengalir di sofa itu dalam kebersamaan yang sekarang langka. Mereka bernafas, malam melanjutkan pada siang, musim berganti, putaran waktu terus berjalan, dan jika di antara sederet kesibukan mereka bisa menyisikan waktu untuk dinikmati berdua, di situlah denyut keluarga akan terus berfungsi... pembicaraan berdua meskipun berisi hal-hal yang remeh dan sederhana, bisa menjadi tambahan energi untuk sebuah ritme hidup dalam keselarasan.
.
Hi semua... memikirkan alur, mungkin gak ada lonjakan berarti lagi hehehe, jangan bosan ya...
.
🦋
__ADS_1
.