
Pagi yang basah dan dingin, sejak semalam hujan deras mengguyur kota ini, bisa dipastikan air menggenangi beberapa bagian kota, pasti ada luapan air di mana-mana termasuk di jalan-jalan. Kota masih sepi, orang-orang mungkin masih enggan keluar rumah bahkan keluar dari selimut tebal mereka. Tapi di rumah ini, hal yang semacam ini bukan sebuah alasan untuk keluarga ini tak segera memulai aktivitas harian, semua terbiasa bangun pagi-pagi, setelah melakukan beberapa hal pribadi mereka terbiasa duduk mengitari meja makan sebelum akhirnya masing-masing pergi dengan aktivitasnya.
Ci Cun sejak tadi sudah ada di sana memeriksa banyak nota berwarna pink serta beberapa bendel kertas lain yang masing-masing diikat karet gelang. Untungnya meja makan bergaya klasik modern ini muat untuk sepuluh orang sehingga aktivitas sarapan anak-anaknya tidak terganggu. Sementara Ko Siong sang kepala keluarga baru saja berpamitan menuju sebuah lapangan di tengah kota, tempat dia olahraga pagi, berjalan kaki mengitari lapangan itu.
"Ten... aku mau beli mobil baru, bagusnya tipe apa ya?"
Beyvie si anak tertua sedang melihat beberapa katalog, langsung bertanya saat adiknya duduk di sampingnya.
"Di-acc gak?"
Tenry mengarahkan dagu ke arah sang mama.
"Uang aku sendiri, bebas dong buat beli apa..."
"Biarpun uang sendiri mana bisa kalau gak di-acc Ci Cun..."
Mama mengerling sedikit dari tempatnya tapi segera tak acuh lagi.
"Minta bantuan papa aja, kayak aku..."
Tenry melanjutkan dengan suara rendah.
"Iya juga sih... masa kamu doang yang dibolehin ya... gak mau juga pakai uang aku sendiri, wajar kan anak minta fasilitas... kan buat pakai kerja juga... lagian mobil yang ada udah tua semua, mobil yang aku suka pake acnya udah gak dingin, gerah tau gak... cape juga..."
"Belum perlu mobil baru, semua mobil kita masih layak pakai..."
Ci Cun melepas kacamatanya di samping tangan kanannya, menatap dua anaknya.
"Tapi modelnya udah ketinggalan ma, kayak gak mampu beli yang baru deh... Jual aja semua mobil itu sebelum harga jualnya semakin turun, terus ganti yang baru biar kita lebih nyaman ke mana-mana..."
"Kalian selalu ngasih alasan kenyamanan... padahal itu budaya konsumtif aja... gak ada ganti mobil, Cici..."
Mama memberi penegasan sambil menggunakan kembali kacamatanya.
"Mama gak adil deh... si Tenten dibolehin, masa aku gak..."
Mama terusik dan menatap tajam pada anak gadisnya.
"Mama tanya kamu, Cici... orang tua mana di dunia ini yang tidak dipertanyakan soal keadilannya sama anak-anak? Usaha sekeras-kerasnya untuk bersikap adil tetap akan dianggap tidak adil oleh anak-anaknya... jangan ngomong soal adil tidak adil. Kalian tahu mama selalu berusaha memberi yang terbaik buat kalian. Tenry juga beli mobil gak mama setujui waktu itu, mama ingin mengajarkan soal nilai dan kegunaan sesuatu sama kalian, paham?"
"Ma sekarang nilai dan kegunaan sebuah barang itu bertambah, bukan hanya satu tapi kalau boleh lebih dari satu manfaat lain yang bisa kita peroleh. Nyetir mobil tua beda sama nyetir mobil baru, lebih nyaman mobil baru dan gak cape, jadi ada manfaat lain yang bisa kita peroleh, bukan sekedar memperlancar mobilitas kita..."
"Iya, bicara kalian pintar sekarang..."
"Ya kan kita disekolahin, pasti pintar dong..."
Mama mengatupkan mulutnya tak menanggapi lagi.
"Aku ganti mobil ya?"
Mama diam, Beyvie memberengut kecewa, belum ada pergantian cuaca, di luar dan wajah mama masih sama. Beyvie beranjak ke teras samping, mengurus bunga saja, cari obat yang manjur buat kecewanya dengan melihat yang hijau dan fresh.
"Ma... aku mau ke J besok..."
Tenry melepaskan sebuah brosur mobil yang dipegangnya dan meraih mangkok untuk menikmati bubur plain dengan ditemani telur mata sapi setengah matang, menu sarapan simple kesukaannya.
"Ko... ngapain? Yang di Marina dikit lagi buka loh..."
Mata mama masih meneliti semua nota di depannya.
"Ada urusan ma... gak lama kok beberapa hari aja..."
"Ko... gak bisa ditunda setelah toko di Marina beroperasi? Koko tahu sendiri mama awam soal teknologi, konsep toko yang sekarang mama gak paham loh, sistemnya mama gak tahu... apalagi supermaket online itu lebih gak ngerti mama... tuntasin dulu semua urusan Marina..."
Ci Cun menatap Tenry, pandangan serius di balik kacamata baca yang bertengker di hidung.
"Ini juga penting ma, menyangkut hidup orang lain, hidup aku juga..."
Suara rendah Tenry terdengar sambil memotong telur mata sapi dengan sendok.
"Maksudmu apa? Apa sih urusannya?"
"Aku mau anterin Glo pulang..."
Terpaksa Tenry berterus terang.
"Glo? Siapa itu?"
Mata memandang makin serius.
"Glorya Haydemans, mama gak ingat?"
"Glo? Mama lupa Ko..."
__ADS_1
"Anaknya branch manager bank Mandi*ri dulu..."
"Ohhh... pak Rick Haydemans..."
"Papanya Glo mama gak lupa..."
"Iya, yang nolong mama soal pinjaman dulu, mama ingat lah... Koko masih pacaran sama Glo? Glo ada di sini?"
"Aku mau anterin dia pulang ma, makanya mau ke J... paling dua hari udah balik..."
"Kenapa gak bawa Glo ke rumah?"
"Untuk apa, aku juga jarang ketemu..."
"Loh... Koko bukan anak remaja lagi kan, yang suka menyembunyikan pacarmu dari mama... kayaknya hubungan kalian udah dari jaman Koko SMA kan... mama pengen ketemu, Ko..."
"Lebih baik gak usah ma, gak perlu..."
"Apa sih nih anak... mama pengen tahu juga gimana pacar Koko sekarang, dulu gak terlalu kenal karena mama anggap hubungan di umurmu waktu itu, kalian gak begitu serius, eh ternyata bertahan juga hubungan kalian, mama pengen lebih kenal Glo lagi..."
"Ma... gak usah, gak penting, lagian aku udah gak pengen lanj..."
Ponsel Tenry di meja berbunyi.
Dering itu tadinya dering spesial, sekarang jadi bunyi yang begitu mengganggu.
"Itu telpon siapa yang sering kamu abaikan?"
Mama rupanya sudah memperhatikan itu. Tenry diam tak menjawab, dia malas membahas hubungannya dengan Glo.
"Itu dari pacar Koko ma... Glo cintaku namanya..."
"Dede... ahh..."
Tenry sedikit membentak adiknya, Ivy memberengut.
"Bawa Glo ke sini Ko..."
"Ma, gak usah mendesak seperti itu... nanti dia malah jadi berharap lebih, dan aku tidak suka itu..."
"Sudah pacaran lama kan, apa tidak berpikir untuk serius?"
"Nanti, tapi bukan Glo..."
"Koko... jangan permainkan perasaan orang..."
Mama memandang sikap dingin Tenry, menyadari anaknya tak ingin diintervensi lebih jauh lagi. Tenry meneruskan sarapan paginya. Kemarin hari akhirnya dia bertemu Glo, tidak enak hati gadis itu sudah memohon-mohon untuk bertemu. Tenry mengajak Glo pulang dan menjanjikan mengantarkan Glo, bahkan langsung membelikan tiket untuk pergi berdua.
"Ma... mau Dede tunjukin sesuatu?"
"Apa lagi De... video aneh-aneh kamu lagi?"
"Gak... kali ini mama pasti tertarik..."
Ivy mendekati mama yang duduk di kepala meja lalu membuka sesuatu di ponselnya dan menunjukkan pada sang mama.
"Siapa ini Dede? Artis idola kamu? Mama melarang kamu ngikutin gaya dia ya... rambutnya aneh kayak Kokomu itu... masa pakaiannya seperti itu... gak sopan, astaga... berani sekali memperlihatkan bagian tubuh pribadi..."
Mama menggeserkan layar ponsel dengan mimik tak suka. Ivy membisikan sesuatu...
"Hahh? Yang bener? Dia?"
Tenry menyadari sesuatu saat mata mama melotot padanya. Tenry menangkap wajah takut adiknya.
"Ma... Koko, Dede berangkat sekolah ya..."
Ivy segera menyambar ranselnya dan bergegas pergi, merasa bersalah pada si Koko. Pasti mama akan menyerang Kokonya dan dia akan kena getahnya karena sudah menunjukkan foto-foto Glo dari akun media sosialnya.
"Tenry..."
Alamat serius jika Ci Cun sudah menyebut namanya. Tenry sedang menduga sumber masalahnya, tadi dia asyik makan jadi tidak menyimak percakapan mama dan sang adik.
"Ini Glo?"
Ponsel adiknya masih di tangan mama, sangking takutnya tadi Ivy lupa memgambil lagi ponselnya. Tenry mencondongkan kepalanya dan bisa mengetahui apa yang membuat mata mamanya begitu tajam.
"Iya..."
Tenry menjawab ringkas, sudah tahu ke arah mana mama akan melanjutkan kalimat berikutnya.
"Tenry... itu alasanmu gak mau mama ketemu Glo? Bagaimana dia bisa menghormati kamu nantinya, dia sendiri tidak bersikap hormat menjaga tubuh sendiri. Mama tidak suka wanita dengan sikap seperti ini jadi menantu mama, suruh dia memperbaiki penampilannya jika mau serius denganmu."
Tenry diam saja, dia memang tidak ingin membahas Glo, tapi tidak bisa menghentikan itu sejak tadi. Dia sudah menduga reaksi mama, baru foto aja mama sudah terlihat antipati, gimana kalau lihat langsung.
__ADS_1
"Tenry... mama tidak akan toleransi ya... dari penampilannya udah ketahuan gimana gaya hidupnya..."
Tenry masih diam, percuma menanggapi mama, sikapnya sama dengan mama lagi pula dia juga sudah punya tekad melepaskan Glo.
"Tenry!"
Mama jadi kesal dengan sikap diam anaknya.
"Udahlah mama... gak usah dibahas, aku malas bahas soal dia..."
"Ini harus dibahas Tenry... ini soal yang penting..."
"Mama... bahas Glo gak penting sekarang, mama ngerti gak sih, aku gak suka bicara soal dia, dari tadi mama maksa terus..."
Ci Cun menatap intens wajah anaknya, mulai mengerti sesuatu pada sikap Tenry.
"Kalau Koko juga gak nyaman, jangan diam aja, kasih tahu sikap Koko sendiri dan kasih tahu bagaimana norma dalam keluarga kita..."
"Iya Ci Cun... makanya ijinkan anakmu mengantar Glo pulang... Dia anak gadis orang dan orang tuanya tahu dia ke sini karena aku..."
"Iya... gak lebih dua hari."
"Iya... iya... mmm... masih pengen ketemu Glo?"
Tenry memasang mimik serius padahal sedang menggoda sang mama. Sang mama melengos dan langsung serius lagi dengan hitung-menghitung berapa keuntungan bulan ini. Tenry tersenyum melihat sikap mamanya. Tenry menyesap gelas teh hangat miliknya.
"Ma... aku berangkat ya..."
"Ke mana? Ini masih pagi, bareng mama aja satu jam lagi... mama beresin ini dulu..."
"Belum langsung ke Marina, mau mampir sebentar..."
"Mau ketemu Glo?"
"Gak lah... aku sedang merintis jalan yang baru, yang beda banget..."
Tenry senyum simpul, sejak bangun pagi sudah merencanakan sesuatu, sebentuk wajah imut bermain-main lagi di pelupuk matanya.
"Koko mau ke proyek papa?"
"Ci Cun... jangan cari tahu urusan anakmu, dia udah dewasa sekarang..."
"Dewasa apa..."
Mama memajukan bibir tipisnya. Tenry tertawa.
"Hahaha..."
Tenry menuju mobilnya berniat ke sebuah perkampungan nelayan di sisi utara kota ini. Ada rasa yang entah sejak kapan menguasai hatinya, sebentuk rasa yang semakin hari semakin indah saja, tapi akan lebih terasa makna keindahannya jika rasa ini lebur saat melihat langsung sebentuk wajah itu. Sekuat-kuatnya Tenry menahan rasa rindunya, tapi hari ini dia tak ingin menahan lebih lama lagi. Rasa sungkan karena hubungannya dengan Glo belum tuntas, dan dia tak ingin ada salah paham dengan Hanie, maka dia tak mencari Holly lagi. Memang pernah ke toko akhirnya karena gak kuat menahan diri, mencari di beberapa sudut tempat biasa Holly suka nongkrong, tak ada bayangan gadis itu, ingin bertanya pada Hanie tapi masih gak enak, salah seorang karyawan bilang Holly gak ke toko lagi.
.
"Halo, dek... siapa namanya?"
Tenry menyapa seorang anak berseragam merah putih yang baru keluar dari rumah bercat biru, rumah yang menjadi tujuannya pagi ini.
"Mikhaela om..."
"Ponakannya Hanie sama Holly?"
"Iya om..."
"Dek, tante Holly ada?
"Gak ada, udah pergi kata mama..."
"Pergi? Ke mana? Pergi kerja ya?"
"Bukan, tante Holly gak tinggal di rumah lagi..."
"Hahh? Tante Holly tinggal di mana?"
"Gak tahu om..."
Anak kecil itu segera berlari menuruni jalan setapak itu meninggalkan Tenry yang terhenyak. Holly kemana? Di toko kan gak ada juga... Ahhh rindu semakin membuncah...
.
.
🦋
.
__ADS_1
Hi.... readers
Belum tahu mau ngomong apa, hanya menyapa aja... semoga suka alurnya 😊