Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 37. Harus Ada yg Membuat Keputusan


__ADS_3

Sudah dua hari ini Holly mengurung diri, hanya keluar sebentar di pagi hari lalu masuk lagi ke kamarnya hingga menjelang sore, melewatkan makan siang, menangis sedih hingga akhirnya tertidur. Sepanjang hari pula Hanie sibuk di bawah bahkan makan siang dia lakukan di meja kerjanya, gak sempat naik ke atas. Hari ini saat toko tutup, Hanie baru ingat Holly gak biasanya gak muncul membantu di toko, dua hari ini pula dia jarang berbicara dengan adiknya.


Menaiki tangga ponselnya berbunyi, dari Tenry.


📱


"Han... Lingling kok gak ngejawab panggilanku... dia di mana?"


"Kayaknya di kamar deh seharian ini, aku gak sempat ngecek dia...bentar ya..."


"Gak usah dimatikan..."


"Iya..."


Di depan kamar, kamar itu terkunci dari dalam.


"Ling..."


Hanie menggedor pintu kamar Holly berkali-kali... Akhirnya pintu terbuka, dan Holly menerobos keluar tanpa mempedulikan Hanie yang berdiri di sana.


"Kamu tidur seharian?"


Hanie bertanya sambil mengikuti dari belakang tapi Holly gak menjawab, terus melangkah malas menuju ruang makan dan langsung melempar tubuh kecilnya di sofa panjang itu, tempat favoritnya saat bermalas-malasan, berbaring menghadap sandaran sofa.


"Ling... ada Tenry nelpon nyariin..."


"Hmmm..."


Holly hanya berguman tanpa berbalik badan dan tak menghiraukan tangan Hanie yang menyodorkan ponsel. Akhirnya Hanie menempelkan ponsel itu di telinga Holly.


"Han... Lingling mana?"


Suara gak sabaran terdengar di telinga Holly.


"Ini Holly..."


Holly menjawab pendek, suaranya serak juga lemas. Energinya habis karena dua hari ini kerjaannya hanya menangis, tadi gak makan siang pula jadi tambah lemes.


"Ling... kenapa suaranya kayak gitu? Lingling sakit lagi?"


"Gak... masih ngantuk Ko... nanti aja ya..."


.


Tangannya mengambil ponsel yang menempel di sisi kepalanya itu lalu mencari Hanie, tapi Hanie udah masuk ke kamarnya, Holly mematikan panggilan lalu berdiri berniat membuat teh hangat. Ponsel dia letakkan di meja.


Di seberang sana, Tenry memandang heran ponselnya, heran karena gadisnya dua hari ini beberapa kali memutus pembicaraan telpon begitu cepat. Tenry menelpon lagi, tidak diangkat, beberapa kali mencoba akhirnya Hanie yang mendengar ponselnya terus-menerus meraung keluar dari kamar, dan merasa aneh adiknya malah mengacuhkan itu padahal jelas terbaca id penelpon di layar...


📱


"Ya..."


"Han... mana Lingling, aku belum selesai ngomong, dia udah matiin aja hpnya..."


Hanie menatap dengan sorot tanya, Holly membalas dengan isyarat di balik meja makan, dia sedang menikmati tehnya.


"Dia tidur lagi Ten, mungkin bener-bener ngantuk... nanti aja kamu telpon lagi..."


"Ya udah... nanti bilangin ya, jam delapan aku telpon lagi ke hp dia..."


"Sip..."


.


"Kenapa?"


Hanie gak bisa menahan rasa ingin tahu, duduk berhadapan dengan Holly sekarang, menelisik wajah adiknya, baru tahu adiknya sedang tidak baik-baik aja, wajahnya sembab terlihat sekali bagaimana keadaan hatinya. Holly hanya menatap gelas berisi teh yang masih mengepulkan hawa panas. Kemudian...

__ADS_1


"Han, aku ngekos boleh? Aku gak usah dibeliin motor..."


"Kenapa?"


"Aku gak ingin lagi bertemu Koko... kami gak boleh punya hubungan lagi..."


Suara lirih terdengar, mata Holly memerah, tapi dia bisa mengendalikan emosinya hingga tak ada airmata yang meluncur, dan bagi Hanie ekspresi wajah adiknya menjawab kecurigaannya sejak kemarin.


"Ling? Kamu denger ya saat kita bicara di rumah sakit?"


Holly mengangguk pelan.


"Tenry pasti marah Ling, dia pasti cari jalan buat kita semua..."


"Gak ada jalan... Koko gak boleh ngelawan mamanya... kamu juga gak bisa Han... aku yang bisa di sini, aku aja yang ngalah..."


Perih hati Holly, berulang kali dia memikirkan ini sepanjang dua hari ini dan berulang kali juga hatinya teriris, bahkan sekarang pun dia masih aja sakit mengatakan itu. Airmata menetes, segera dia hapus.


"Ling... jangan seperti itu, pasti ada jalan kok, sabar aja ya... Ci Cun hanya khawatir sama Cici sekarang, nanti dia gak akan ungkit lagi..."


"Han... kamu ingin aku lanjut kuliah kan?"


"Iya lah... kenapa emang?"


"Kamu mau biayain kan kuliahku?"


"Iya lah..."


Holly mengangkat kepalanya...


"Aku mau kamu biayain kuliahku tapi kamu juga harus iyain permintaan Ci Cun..."


"Maksudnya?"


"Kamu gak boleh nolak lagi keinginan Ci Cun, jadi aku juga gak nolak kamu biayain kuliahku..."


"Aku sendiri yang mikir kayak gitu, gak aneh kok..."


Hanie menatap dalam wajah adiknya, jelas ada kesedihan lagi di wajah itu tapi jelas juga dia udah bertekad dengan apa yang barusan dia lontarkan, belum pernah Hanie melihat wajah adiknya seyakin itu.


"Kamu serius?"


"Iya..."


"Beneran mau udahan sama Tenry?"


Selintas ada ragu menghampiri hatinya, tapi sudah berulang-ulang dia menguatkan hati ini menerima ini, dia kemudian mengangguk lagi.


"Aku gak ingin Koko jadi pembangkang sama Ci Cun, kayak mama selalu bilang sama kita berdua... aku suka sedih soal itu. Kalau aku pergi, Koko gak mungkin lagi melakukan itu... aku denger sendiri Ci Cun gak bisa nerima aku, jadi aku gak boleh maksa kan..."


Kali ini Holly membiarkan airmatanya menetes lagi, hatinya tetap aja sakit meskipun dia sendiri yang memutuskan mengambil langkah ini.


Hanie gak bisa ngomong apapun merasa surprise dengan cara berpikir adiknya, dia juga resah tapi memilih mengabaikan karena merasa buntu gak tahu harus bersikap seperti apa. Dia gak mau mengambil sikap sekarang menunggu setelah kondisi membaik. Ini malah adiknya yang cepat mengambil langkah, adiknya yang rapuh tapi kenapa justru hari ini dia yang kelihatan berbesar hati? Atau hanya berusaha tegar tapi menyembunyikan kehancurannya?


"Minggu depan aku udah mulai ospek... jadi aku mau nyari kost besok..."


"Ling... pikirkan lagi, tunggu aja dulu lah jangan buru-buru, nanti kamu juga yang sakit hati, aku gak mau kamu seperti itu..."


"Iya... iya hatiku memang sakit Han... tapi kamu bilang gak semua harus dibawa sedih... hiksss..."


Tangisan tak terbendung, dia sukar mengenyahkan perasaan sayang untuk Tenry, gak mungkin juga dalam dua hari ini dia bisa, tapi dia harus mengalah demi kebaikan bersama.


"Aku akan belajar ngatasin ini, makanya aku pergi aja..."


Hanie hanya memandang Holly dengan sedih, tapi setidaknya ada sesuatu yang beda dari adiknya hari ini, dia mulai menunjukkan bahwa dia mampu mengatasi sendiri.


"Han... aku ngekost aja ya?"

__ADS_1


"Beneran kamu gak apa-apa milih cara ini?"


Hanie masih khawatir.


"Aku harus bisa Han..."


"Bisa nyari kost sendiri?"


"Bisa, udah berapa kali ke kampus, udah hapal jalan..."


"Bawa motor aja... udah lancar kok kamu udah ada SIM juga... Tetep meskipun ngekost kita beli motor buat kamu..."


Hanie akhirnya menyetujui saja keputusan Holly, meskipun dia masih ragu, semoga kesibukan kuliah bisa membantu Holly mengurai kesedihannya.


"Tapi jangan kasih tahu Koko ya... jangan bilang apa-apa..."


"Kamu niatnya mau pergi diam-diam gitu?"


"Gak ada cara lain kan?"


"Kamu kuliahnya cuma di sini doang, seberapa besar sih kota ini, dia pasti nyariin sampai ketemu tau gak..."


"Koko gak bisa maksa kan kalau akunya yang milih udahan..."


Tatapan dan suara sendu Holly tapi udah gak menangis lagi.


"Kalau Tenry nanya, aku harus jawab apa?"


"Bilang aja kamu udah ngelarang, tapi aku yang maksa..."


Harus ada yang membuat keputusan, tapi kenapa justru gadis kecil yang rapuh ini yang melakukannya, bukan mereka berdua yang notabene lelaki yang seharusnya jauh lebih tegar dan kuat dan seharusnya yang lebih berani menghadapi resiko.


"Udah makan Ling?"


Hanie mengalihkan pembicaraan.


"Belum..."


"Ya udah siap-siap ya... kita makan di luar aja, bosan beli makanan di warung depan, aku pengen makan yang lain..."


"Makan di mana?"


"Kamu yang milih..."


"Makan di mall boleh?"


"Boleh... kalau ada yang pengen dibeli buat keperluan kuliah sekalian aja..."


"Iya..."


Ke mall mungkin bisa mengalihkan sedih sejenak, terutama menikmati makanan yang lezat bisa menjadi obat yang mujarab buat tubuhnya yang lelah dua hari ini terus menangis. Holly melangkah ke kamar dengan perasaan yang sedikit membaik.


"Tenry pesan tadi, jam delapan mau telpon kamu..."


Hanie teriak sebelum menghilang di kamarnya sendiri.


Ahh... jadi sedih lagi mengingat nama itu.


.


Hi... cuaca dingin karena hujan terus mengguyur sepanjang malam, seperti hati Holly... tapi yang pasti matahari akan terlihat setelah semua awan hujan selesai dengan tugasnya, seperti kata orang-orang selalu ada mentari sehabis hujan, itu janji kesetiaan dan yang tak pernah diingkari sang Maha Pemberi Hidup....


Semangat....


.


🦋

__ADS_1


.


__ADS_2