
"Beneran sakit perut ya kalau kita ciuman? Hahaha..."
Tenry menarik dua lengan Holly dari bagian belakang, Holly sedang menelungkup di dua pahanya dengan dua tangan menutupi wajahnya.
"Sayang... bangun dong... haha..."
Tenry berhasil menarik Holly dan langsung memeluk Holly, dia masih tergelak kesenangan menikmati reaksi Holly yang masih sama saat mereka ciuman kedua kalinya. Dengan satu tangannya Tenry berhasil menyingkirkan tangan Holly dari wajah yang masih bersemu merah itu dan satu tangan lagi belum lepas dari lengan Holly.
"Koko ahh... Lingling udah pernah bilang jangan seperti itu..."
"Beneran sakit perut ya?"
Pertanyaan masih sama dengan mimik muka menahan geli.
"Gak persis begitu... tapi kayak ada sesuatu terjadi di perutku, lemes sampai kakiku, seperti... ya kayak gitu Koko... udah ahh, malu ahh..."
"Kenapa yang pertama gak ngomong apa-apa..."
"Itu... itu gak lama kan... tadi... ahh udah Koko, kenapa bahas yang kayak gitu sih..."
Gak ada tempat untuk dia bersembunyi karena ada dalam pelukan Tenry, paling gampang adalah menempelkan wajahnya di dada Tenry.
"Hahaha..."
Holly belum ingin kembali meskipun Tenry coba merayu, alasan yang dia ucapkan adalah gak ingin sendiri di kost-an, tapi yang sesungguhnya dia masih memikirkan janjinya pada Ci Cun.
Karena ingin melewati saat berdua akhirnya Nuella menyarankan mereka ke sebuah tempat wisata di balik bukit ini, di sebuah pantai, jaraknya hanya setengah jam saja. Di sinilah mereka, gak turun dari mobil, hanya numpang parkir sebenernya di kawasan wisata ini, Tenry betul-betul tak ingin ada gangguan saat berdua dengan Holly.
"Ling..."
"Mmm..."
"Koko gak suka jawabnya kayak gitu..."
"Iya... iya..."
"Koko minta kado ulang tahun..."
"Hahh? Iya iya... nanti sesudah liburan Lingling nyari sesuatu buat Koko... tapi uang Lingling gak banyak loh, gak bisa yang mahal-mahal ya..."
"Koko gak minta barang kok..."
Holly masih bersandar nyaman dalam pelukan Tenry, ke depan mungkin bermanja seperti ini menjadi gak mungkin jika hubungan mereka usai, mungkin ke depan ada gadis lain yang akan mengisi tempat di pelukan Koko... sesaat rasa nyeri melintas di dadanya.
"Koko minta apa dari Lingling..."
Holly menjawab sambil memainkan salah satu kancing kaos polo yang digunakan Tenry.
"Bayar hutang."
"Apa?"
__ADS_1
Tenry menaikkan dua alisnya, mulai ketagihan menggoda Holly karena selalu suka dengan reaksi kekanakan Holly. Holly menjauhkan tubuhnya, ingin protes tapi ingat ini jadi sebuah hadiah ulang tahun untuk si Koko, mulutnya hanya terkatup. Tenry menunggu dengan sabar, apa kali ini Holly mau melakukan permintaan yang tidak serius sebenernya.
Ciuman kilat khusus akhirnya datang dari Holly tepat di bagian rahang, bukan di pipi, gak berasa apapun karena terlalu singkat, reaksi Holly setelahnya yang justru membuat perasaan indah bertumpuk-tumpuk di hati, semakin melengkapi sukacita di hari bahagianya.
"Gitu doang..."
"Iiih udah dong ... gak ada hutang lagi, gak usah diungkit-ungkit ya..."
"Baru sekali...belum lunas..."
"Ihhh..."
"Hahaha..."
Senda gurau dan godaan-godaan manis seorang Tenry mewarnai suasana di dalam mobil itu. Tak lama setelahnya masing-masing bersandar di jok yang udah setengah diturunkan.
"Ling... kita unik tau gak?"
"Maksud Koko?"
"Kita dihubungkan dengan angka delapan..."
"Apanya... Lingling gak ngerti..."
Holly memutar kepala mencari tatapan Tenry, dengan masih bersandar di jok...
"Kita berbeda delapan tahun, bulan kelahiran sama, tangan kelahiran berbeda delapan hari... unik ya?"
"Iya... ehh masih ada lagi... Lingling genap delapan belas tanggal delapan belas, hari ini Koko genap dua puluh enam di tanggal dua puluh enam... wah... amazing... Kita kayaknya udah ditakdirkan untuk jadi pasangan..."
Holly masih memandang Tenry tapi gak berani menanggapi, jujur dia juga senang dengan hal yang disebutkan Tenry tentang fakta hubungan dan keunikan yang mengikat mereka berdua, tapi soal takdir jadi pasangan dia gak bisa mengaminkan itu. Dia takut berharap lagi, batu sandungan hubungan mereka terlalu besar. Guratan kesedihan tanpa dia sadari nyata dalam ekspresinya.
Tenry mengamati reaksi Holly yang sekarang, menguatkan prediksinya bahwa Holly sedang tidak baik-baik saja, dia sedang menyimpan sesuatu yang besar karena dengan cepat wajah itu beralih menjadi sedih.
Tenry meraih tangan Holly dan menggenggam hangat.
"Akhir-akhir ini Koko ngerasa Lingling agak beda..."
"Beda apanya? Biasa aja..."
"Kan pernah Koko bilang, yang ada di hati atau pikiran terlihat di ekspresi kita... wajah Lingling sekarang banyak sedihnya... kenapa sayang... apa yang membuat Lingling suka sedih hmm?"
Lembut suara Tenry, Holly gak tahan lagi untuk tetap bersitatap, kepalanya kini lurus menghadap ke depan.
"Jangan seperti waktu itu... waktu kita pulang ke rumah Lingling... gak mau cerita. Sekarang... harus cerita ada apa..."
Holly gak berani bicara.
"Sayang???"
"Mmm... nanti ya... Kalau Lingling udah siap, nanti cerita... sekarang gak bisa ngomong aja... hari ini hari bahagia Koko kan... masak Lingling nangis terus di hadapan Koko..."
__ADS_1
"Udah pintar ngeles sekarang ya..."
"Gak kok... Lingling belum berani ngomong..."
Holly memandang keluar saat mata mulai mengembun dan berubah menjadi butiran kristal, Holly pura-pura menurunkan jendela dan membuang ludah untuk menyembunyikan airmatanya.
Tenry meraih tubuh kecil itu menghadap dirinya, menalar awal kesedihan itu muncul lalu...
"Sesuatu yang menganggu itu... soal kita?"
"Ehh... gak gak..."
Holly gugup seketika.
"Jangan bohong Ling... sejak Koko ngomong soal takdir kita sebagai pasangan, Lingling langsung sedih..."
Susah payah Holly menahan diri, tapi tatapan Tenry seperti sebuah pisau yang mengupas semua kulit yang menutupi apa yang sebenarnya ada di hatinya.
"Ling... cerita ya... ini permohonan Koko, ini Koko anggap hadiah ulang tahun Koko..."
"Lingling gak bisa Ko... gak bisa cerita..."
"Ling... kita cari jalan keluar sama-sama asal Lingling cerita ke Koko..."
Holly menggeleng, dia takut Tenry ngamuk sama Ci Cun, dia takut hubungan keluarga mereka yang terlihat harmonis itu jadi hancur karena dirinya, dan dia sungguh tertekan sekarang ini, gak berdaya dan gak tahu apa yang harus dia lakukan... satu-satunya pelepasan emosinya hanyalah airmatanya.
Tenry tergugu, antara rasa ingin tahu yang besar dan rasa menyesal mengungkit sesuatu yang akhirnya hanya membangkitkan rasa sedih di hati Holly.
"Sayang... maafkan Koko terlalh memaksa..."
Tenry membiarkan Holly menangis, hatinya turut tersayat saat menyadari kerapuhan gadisnya, tapi dia gak berdaya juga karena Holly gak ingin membagi bebannya. Tepukan di pundak meredakan tangisan Holly. Pertanyaan mulai banyak di otaknya tapi dia mengendalikan diri hanya diam memeluk Holly. Setelah tangisan Holly redah, Tenry memutuskan untuk mencoba dengan cara lain... dia melepaskan pelukannya, mulai saja membicarakan, gak usah menunggu Holly mengungkapkan sendiri, mungkin terlalu sukar untuknya.
"Ling... Koko menduga Lingling sedih itu karena hubungan kita, Lingling diam gak cerita ke Koko, itu gak akan menyelesaikan masalah, yang ada Lingling jadi sedih terus, nangis terus... Membicarakan masalah kita berdua jauh lebih baik dibanding hanya menyimpan sendiri. Dan Koko mau jika itu tentang kita berdua maka kita berdualah yang harus cari jalan keluarnya, tapi harus mulai dengan membicarakannya, kasih tahu ada apa... Lingling ngerti maksud Koko kan?"
Lugas Tenry meminta Holly terbuka
"Iya... ngerti..."
"Sekarang... kasih tahu Koko ya... apa penyebab kesedihan Lingling...."
Holly menatap Tenry.
Ngomong sekarang? Gimana cara kasih tahunya? Apa Koko gak akan marah sama Ci Cun?
"Mau cerita ya?"..
Akhirnya Holly mengangguk...
.
🦋
__ADS_1
.