
Kebaikan hati seperti sebuah jalan yang terbuka untuk pemulihan hubungan. Wajah garang mama Ibeth luntur saat mesin obras baru masuk ruangan jahitnya. Ada senyum merekah, tidak ada suara, hanya ada dua tepukan kasar mampir di bahu kecil Holly. Sekalipun dengan muka meringis Holly menafsirkan itu sebagai ungkapan terima kasih sang mama. Kekecewaan terhadap mama berubah menjadi serpihan kecil yang mulai terbang dan perlahan menguap.
Holly membawa pulang juga TV dan dispenser dan beberapa barang lain yang dibelikan Tenry waktu dia kost dan menempatkan itu di ruang jahit mama. Dia tahu mama paling malas keluar dari sana hanya untuk mengambil minum, dan sesekali mama perlu rehat dengan menonton TV.
"Ma... jangan lupain minum air putih, mama banyak duduk loh... lama-lama punggungnya bisa sakit... ini aku letakkan di sini biar mama gampang untuk minum."
Holly menata beberapa gelas dan kelengkapan untuk minum lain termasuk beberapa toples kecil berisi gula kopi teh di atas lemari kabinet warna coklat muda.
"Tenry yang beli ini semua?"
Mama tiba-tiba bertanya.
"Mesin obras aku yang beli, aku pernah kerja sembilan bulan gajinya aku simpan, lihat mesin obras mama rusak kemaren, aku pikir belikan itu aja buat mama..."
Mama Ibeth duduk lagi di depan mesin jahit meneruskan pekerjaan. Bagaimanapun ibu tetaplah ibu, keluhan Holly saat di restoran membekas di hatinya, terlebih dia dapat membaca tatapan luka anak bungsunya saat acara berlangsung. Mungkin benar anaknya merasa tidak disayangi, tidak diperlakukan dengan baik.
Dan anak yang mengeluh waktu itu hari ini berbuat sesuatu untuk dirinya, rasa haru tergambar jelas di wajah lebar sang mama, kemudian mama mengusap cepat airmata yang jatuh, dia gak mau menangis depan anaknya.
"Pakaian mama untuk acaraku udah mama jahit?"
"Belum... baru digunting..."
"Jangan terima jahitan dulu lah ma... selesaikan seragam keluarga dulu, gak sampai sebulan lagi loh..."
"Iya..."
Holly tersenyum simpul, gak biasa mama menjawab pendek tanpa nada kasar atau jawaban berisi kalimat-kalimat negatif yang menyakitkan hati.
"Ma... aku pergi ya... gak bisa lama, gak bisa bantuin mama beres-beres rumah... ada yang harus aku urus bareng Ko Tenry..."
Melihat mama hanya memperhatikan jahitannya dan gak menjawab atau menoleh, Holly keluar dari ruangan itu, dia mau menghindari bertemu papanya juga.
"Holly..."
__ADS_1
"Iya ma?"
Suara besar sang mama menghentikan langkahnya yang sudah berada di jalan paving. Holly berbalik lagi...
"Mmm... gak... gak ada..."
Mama Ibeth enggan untuk menyampaikan sesuatu, kalimat yang hendak dia ucapkan seolah tertahan di tenggorokan bahkan dia kesusahan untuk menyusun sebuah kalimat yang mewakili perasaannya. Dia tak mengingat lagi kapan pernah bersikap baik pada anaknya dan terlalu berat untuk memulai lagi.
"Mama butuh sesuatu?"
Mama Ibeth menggelengkan kepala. Hanya Hanie dan Holly yang selalu menanyakan ini padanya, yang selalu melakukan sesuatu untuknya, yang peduli dengan keadaannya.
"Aku gak bawa uang sekarang, aku masih punya kok kalau mama butuh..."
"Gak...gak... Hanie baru aja ngasih uang..."
"Gak papa ma, nanti aku titip Hanie ya, mungkin aku gak bisa ke sini beberapa hari ini..."
"Ehh... jangan... kamu masih banyak kebutuhan untuk persiapan kamu nikah, mama... mama gak bisa ngasih apa-apa..."
Mama Ibeth masih gak tahu bagaimana harus mengungkapkan seperti apa isi hatinya sekarang, dia gak sedang meminta uang tapi Holly menafsirkan seperti itu.
"Aku pergi ya ma..."
"Ehh... jangan... bukan itu, mama... mama bukan mau minta uang... mama mau bilang kalau... mama gak pernah gak sa... gak sayang kamu... mama mungkin hanya gak punya waktu untuk itu... kalau mama menyuruh kamu mengerjakan semua pekerjaan yang harusnya mama lakukan... itu... itu karena hanya kamu yang mau nurut sama mama...Jadi mama... mama sayang Holly..."
Akhirnya dengan terbata mama menyatakan apa yang ada dalam pikirannya sejak acara lamaran, sejak Holly mengatakan beberapa kalimat yang merobek hatinya saat itu.
"Mama..."
Holly mendadak keluh, dia baru saja mendengarkan sebuah kalimat terbaik yang pernah terdengar di rumah ini, mama bilang sayang, itu hal terindah dalam hidupnya. Bukan lagi suara ceret air panas yang akan terus berbunyi melengking tajam dengan uap panas sampai kompor dimatikan, seperti itu mama selalu, kalimatnya seperti berasal dari emosi tegangan tinggi, selalu mendidih dan meluap-luap.
Tapi... kali ini kalimat sang mama begitu menggugah emosi Holly. Sebelumnya dia menitikkan airmata karena merasa diperlakukan dengan gak adil, tapi airmata yang ini karena dia merasakan kesejukan karena mengetahui hati mama untuknya. Semasa tinggal di rumah ini dia tidak merasakan apa yang namanya kebahagiaan, dia menemukan itu setelah meninggalkan rumah, tapi kalimat pengakuan sang mama seperti menghapus semua jejak sakit hati di memorinya.
__ADS_1
"Mama..."
Holly mendekati sang mama yang sudah kembali menjahit. Baru sekali ini wajah mama terlihat punya emosi sedih, Holly gak menahan ini lagi keinginan untuk memeluk sang mama dia lakukan.
"Ma... aku sayang mama juga... maaf ya... aku pergi dari rumah... maaf ya aku nyakitin mama..."
Tangan mama Ibeth sedikit bergetar karena emosi yang menyeruak, dia berhenti menjahit lalu dengan kaku memeluk putrinya, dorongan yang datang dari hati seorang mama yang sesungguhnya mengasihi anak-anaknya, tapi harus mengendap ke dasar hati tenggelam karena semua tekanan hidupnya.
Tangisan dua perempuan, melepaskan semua kenangan buruk di antara mereka. Ikatan bathin seorang mama dengan anaknya adalah yang paling kuat di dunia ini, apapun keadaannya dan bagaimanapun rusaknya sebuah hubungan ikatan itu akan tetap ada.
"Kamu baik... kamu anak baik... mama.... mama yang harus minta... minta ma...af..."
Pelukan semakin erat, menjadi pertanda ada awal yang baru untuk mereka berdua. Holly mendapatkan sebuah kebahagiaan menjelang dia meninggalkan orang tua dalam artian dirinya akan menjadi tanggung jawab suaminya tak lama lagi.
"Kamu dan Hanie anak mama yang paling manis... maafkan mama ya..."
Tidak ada yang lebih indah untuk memulai sebuah hubungan baik selain didasarkan pada sebuah permintaan maaf. Tidak ada yang terlalu tinggi untuk melakukannya, termasuk kedudukan sebagai seorang ibu bukan sebuah alasan yang menghalangi untuk meminta maaf kepada anak-anaknya jika merasa berbuat salah. Keindahan hubungan baru dimulai dari sana.
.
Dengan lega dan perasaan yang sangat bahagia, Holly berjalan turun dari jalan setapak itu. Senyumnya merekah indah di wajahnya. Dia mengerti sekarang bahwa tidak ada ibu yang akan membiarkan anak-anaknya mati kelaparan, ketika mama menjadi satu-satunya yang menghasilkan uang untuk kebutuhan keluarga oleh karena keadaan papanya, dan mama mengambil tanggung jawab itu.
Mama yang menghadapi kesulitannya sendiri, lelah bertengkar dengan papa, mendapatkan Holly yang mau mengambil sedikit tanggung jawabnya, meskipun masih kecil tapi mama membagi bebannya pada Holly. Holly memahami ini sekarang, dan tak menyesal lagi tentang keadaannya di masa lalu.
.
Jika kita bisa melihat yang tak terlihat dari sebuah tindakan seseorang, kita akhirnya bisa memaklumi dan menerima alasan kenapa kita menderita karena tindakan menyakitkan itu...
Sabarlah... pasti yang terbaik akan datang...
.
🦋
__ADS_1
.