Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 80. Koko yang Bingung


__ADS_3

Rumah ini terasa berbeda sejak Beyvie gak ada, putri tertua di rumah ini sejak menikah pindah sementara di rumah suaminya, dan itu jauh agak di pinggiran selatan kota ini, sementara rumah mereka ada di bagian utara, termasuk pinggiran kota juga.


Ko Siong membangun dua buah rumah sekaligus berhadapan dengan rumah ini untuk Beyvie dan Tenry dan baru di tahap awal, mungkin setahun lagi baru selesai. Dia berkeinginan anak-anak tetap ada dekat dengan mereka meskipun sudah menikah. Yongky nampaknya gak bisa melawan mertua, sudah punya rumah sendiri sebenarnya tapi dia bersedia pindah nanti.


Tenry duduk lebih lama di meja makan sekalipun sudah sejak tadi dia selesai sarapan. Hanya pagi seperti ini dia bisa bicara dengan mama.


Sang mama sekarang kembali sibuk, meneruskan mengelola kafe milik Beyvie sebelumnya, dan dia mendapatkan kesenangannya lagi untuk bekerja, setelah menyerahkan semua usaha ke tangan putranya kini dia memperluas bisnis kuliner dengan membangun kafe yang kedua.


Ci Cun sudah tahu pola tingkah putranya, menunggu di ujung meja sesuatu yang penting yang sangat terlihat dari air muka anaknya.


"Ma..."


"Ada apa?"


Mama langsung menyambar cepat, kesibukan sudah menunggu tapi dia tahu anaknya sedang memerlukan dirinya.


"Koko kayaknya mau nikah..."


Ci Cun menatap lama, Tenry menghindari tatapan tegas sang mama. Ini sesuatu hal yang sulit untuk disampaikan sehingga sulit juga Tenry untuk tetap melihat wajah sang mama. Dia takut terhadap apa yang akan dia temukan, bagaimana jika di air muka itu terbaca penolakan, ya dalam hal ini dia merasa belum percaya diri mengungkapkan keinginannya apalagi untuk mendebat sang mama.


"Koko sendiri gak yakin..."


Tenry melihat mamanya sekarang, dan ekspresi wajah mamanya sulit dia pahami terlebih kalimat mengambang sang mama, entah sebuah pertanyaan atau cara lunak untuk menolak.


"Yakin sih..."

__ADS_1


Tak menanggapi kalimat pendek Tenry tapi kini mama jelas bertanya dengan munculnya lipatan di dahinya dengan kening seperti menyatu menunggu penjelasan.


"Koko... sebenarnya masih ingin menunggu Lingling selesaikan kuliahnya..."


"Begitu lebih baik Ko... kamu fokus menangani pekerjaanmu dulu, usaha baru mulai jalan bagus lagi setelah pandemi..."


Tenry terdiam, dia memang belum punya alasan yang cukup untuk menikah. Celetukan yang lahir dari keinginanannya untuk mencegah Holly pergi lagi telah jadi issue penting belakangan ini buat Holly dan dia gak ingin mengecewakan gadisnya.


Tenry merasa bingung dengan dirinya sendiri yang malah ragu untuk keputusan sepenting ini.


"Ini keputusan besar Koko... harus yakin bukannya bertindak secara impulsif... sama seperti membangun rumah fondasinya harus kokoh, dasar yang Koko punya untuk menikah juga harus kuat... jangan hanya karena emosi... apa Linglingmu sudah siap juga? Ko... mama masih melihat dia seperti Ivy, belum dewasa..."


Tenry diam memikirkan ini, entah kenapa dia ragu tentang hal semacam ini, apa dia realistis atau benar kata mama, hanya berupa dorongan sesaat yang tak memikirkan konsekuensi dibalik keputusan ini.


"Mama sama sekali gak melarang Koko nikah, umur Koko sudah cukup untuk itu. Mama dulu juga menikah muda... dan mama sempat merasakan bagaimana sulitnya menyesuaikan diri dengan papa yang jauh lebih tua, sulit menyesuaikan dengan tuntutan Ama yang keras... untung papamu bisa sabar membimbing mama..."


"Kalau Koko yakin bisa membimbing Holly... silahkan... tapi siapkan dirimu sendiri. Holly mungkin saja bisa lebih cepat dewasa setelah menikah, lebih cepat menyesuaikan dengan tuntutan keadaan... Tapi di sini Koko yang harus yakin dulu..."


Tenry menghembuskan napas lega, ternyata mama menanggapi dengan baik walaupun menyerahkan sepenuhnya pada dirinya untuk memutuskan, yang penting di sini niatnya sudah tersampaikan, dan ternyata gak perlu berdebat. Lebih lega lagi mama gak mempermasalahkan soal Holly meskipun menilai belum dewasa.


Tenry berdiri dari kursinya lalu mendekati sang mama, tiba-tiba dia menginginkan pelukan sang mama. Tanpa suara dia berjongkok di samping kursi dan tangannya masuk melingkari pinggang sang mama. Terakhir bermanja seperti ini kapan? Itu sudah lama sekali.


Ci Cun yang kaget menerima perlakuan anaknya sedikit tersentak tapi kemudian menggeser mundur kursi dengan bertumpu pada dua tumitnya sehingga anak lelakinya lebih leluasa menyandarkan kepalanya di pangkuan.


"Kenapa Ko..."

__ADS_1


Di sudut matanya menggenang air penanda emosi. Kesibukan sering memperlebar jarak dengan anak-anak dan melupakan sentuhan fisik seperti ini yang ternyata masih dibutuhkan putranya walaupun dia sudah beranjak menjadi lelaki dewasa.


Memori masa kanak-kanak anak lelaki yang sangat diharapkan lahir di tengah keluarga sekarang melintas. Bagaimana Tenry yang mengekori dia ke manapun dia pergi termasuk saat Ci Cun masuk dalam kamar mandi, anak itu akan menunggu di depan kamar mandi dan terus bertanya apa mamanya masih di dalam, semacam ketakutan anak kecil mamanya gak keluar lagi dari sana.


Dan anaknya yang baru saja minta ijin untuk menikah kini menikmati pelukan seorang mama. Anak tetaplah anak berapa pun usianya.


Saat Tenry mengangkat wajahnya entah kenapa serbuan rasa yang lahir dari kasih sayang seorang mama menguasai Ci Cun hingga kemudian dia meraih kepala Tenry dan mengecup ubun-ubun anak itu seperti yang selalu dia lakukan dulu.


Moment penuh haru terputus kemudian...


"Sudah... sana... mama mau kerja... jangan cengeng, udah minta nikah loh..."


Ci Cun mendorong dua bahu anaknya lalu berdiri dan bergegas ke kamar, meninggalkan anaknya yang masih jongkok di tempatnya.


Ahhh Ci Cun gak asiiik... gak ngerti apa Tenry masih pengen moment ini lebih lama. Jadi ingat kalau memeluk Holly pasti selama yang dia mau...


Di kamar Ci Cun menangis... anak-anak telah beranjak dewasa dan ternyata saatnya sudah datang untuk melepaskan anak-anaknya dengan kehidupan pilihan mereka sendiri. Perasaan sedih saat melepas Beyvie menikah muncul lagi. Anak adalah milik yang berharga dibanding semua materi yang berhasil dia dan suami kumpulkan selama ini. Dengan materi yang dia punya sekarang, dia bisa pergi ke mana saja dan bisa membeli atau membangun apa saja yang dia mau. Tapi perasaan memiliki yang melekat pada anak-anak itu tak bisa dibandingkan dengan apapun.


.


🦋


.


Utk kk yang lagi sibuk mempersiapkan hari bahagia besok hari... semangat menyambut hari indah penuh sukacita...

__ADS_1


.


.


__ADS_2