
Holly menimbang-nimbang apa yang harus dia sampaikan pada Tenry, menimbang juga gimana perasaan Ci Cun jika tahu dia mengadu pada Tenry, bukan sesuatu yang mudah untuk mengatakan yang sebenarnya.
Tapi si Koko sedang menunggu... jok mobil sudah tegak lagi dan tak ada peluang untuk Holly menghindari rasa ingin tahu Tenry yang sangat dijelas di sorot matanya.
Holly memandang jemari tangannya.
"Lingling... gak bisa... terus jadi pacar Koko... maafkan... maafkan Lingling Ko..."
Baru mengucapkan sebuah kalimat airmatanya langsung seperti sungai kecil di pipinya. Hati Tenry sakit di sini, tapi berusaha gak terbawa emosi, ingin Lingling menjelaskan semuanya.
"Kenapa... ?"
Suara Tenry pelan dan sedikit bergetar.
"Lingling kasihan lihat Cici... Lingling juga pengen Cici sembuh..."
"Apa hubungannya sama kita?"
Tenry mempertahankan suara lembutnya walau rasa geram mulai menguasai hatinya.
"Kalau... Lingling pergi... Hanie bisa... bisa membantu Cici..."
"Ci Cun yang minta?"
Kali ini suara Tenry berubah sepenuhnya.
"Lingling yang janji..."
"Janji? maksudnya?"
Baik suara dan sorot mata berubah tajam sekarang.
"Lingling janji... janji melepas Ko...ko..."
Suara Holly pelan dan terbata menangkap perubahan pada Tenry yang matanya terus memandang Holly.
"Janji sama siapa?? Sama Ci Cun?? Kenapa berani janji seperti itu? Ahhh!!"
Sekarang Tenry gak bisa mengontrol suaranya, intonasi kemarahan kental dalam kalimatnya. Holly tersentak melihat kemarahan Tenry, menatap Tenry di balik tirai airmatanya. Tenry yang terbawa emosi keluar dari mobil dan tak sadar membanting pintu meluapkan emosinya di sana.
Selama ini Tenry selalu memperlakukan dirinya dengan sayang dan manis, lembut dan gak pernah sekali saja bersikap kasar, menghadapi Tenry yang marah Holly jadi takut dan semakin sedih, membuat suara tangisan keluar dari mulutnya, membawa tubuhnya menelungkup lagi di atas pahanya.
Saat matanya melihat bayangan Holly dari luar mobil, Tenry tersadar kemudian, Tenry memang marah Holly mengatakan akan melepas dirinya, tapi gadisnya terlihat sedang tertekan dan lemah bahkan sekarang menangis dengan sedihnya. Ingin Tenry meninju sesuatu sekarang karena menyesal tak menahan diri tadi. Dia segera memutari mobilnya dan membuka pintu di sisi Holly duduk. Suara tangis langsung terdengar saat dia membuka pintu, oh apa yang telah dia lakukan pada gadis kecilnya, Tenry meraih tubuh lemah Holly.
"Maafin Koko sayang... maafin Koko..."
Tenry memeluk dengan erat sambil mengusap kepala Holyy yang masih tersedu di dadanya.
"Sayang... Koko salah ngebentak... maafin ya..."
Ini mungkin puncak sedihnya, berhari-hari tangisan begitu lekat dengan dirinya dan sekarang dia gak sanggup menghentikan tangisannya. Mata Tenry ikut basah, sejak awal ini yang menarik dia untuk mendekati Holly, airmata gadis itu seperti sebuah magnet yang menarik dia untuk memberikan kasih sayang, berjanji pada diri sendiri untuk membuat airmata itu tak akan menjadi penghias hidup Holly lagi. Tapi saat ini dia tahu dialah penyebab tangisan tersedu-sedu itu.
"Koko sayang Lingling, Koko marah karena gak mau kehilangan Lingling... maafin ya..."
Masih menangis Holly kemudian ikut memeluk Tenry dengan dua tangan kecilnya, kaos polo navy yang dikenakan Tenry basah di bagian dadanya.
__ADS_1
"My baby..."
Tenry mengecup-ngecup puncak kepala Holly kemudian, setelahnya Holly melepas diri, masih senggukkan dia mengambil beberapa helai tissue di dashboard, Tenry mengambil tissue di tangan Holly lalu mengeringkan wajah Holly, kemudian menahan sejenak di area hidung...
"Buang ingusnya..."
Holly menuruti. Dengan hati-hati Tenry merapihkan geraian rambut setelah selesai mengeringkan bekas airmata. Tangisan sudah berhenti, tertinggal jejak tangisan yang membuat dada Holly sesekali terangkat. Mata yang bengkak diusap perlahan dengan dua ibu jarinya, lalu mengecup sayang kedua mata itu. Tangan masih di pipi mengarahkan dengan lembut wajah Holly sehingga pandangan mereka bertemu.
"Maaf udah buat Lingling nangis..."
Sorot mata sedih yang memancar membuat Tenry jatuh sejatuh-jatuhnya, dia bukan pencinta atau penganut aliran kesedihan, tapi kesedihan Holly adalah alasan dia jatuh cinta.
Mata masih saling memandang, kali ini dua tangan Holly terangkat memegang pergelangan tangan Tenry.
"Masih ingat gak... Lingling pernah janji juga sama Koko?"
Holly menggangguk...
"Apa janjinya?"
"Gak akan ninggalin Koko..."
Holly menjawab pelan, jawaban yang dikuti tetesan airmata.
"Ssstt... jangan nangis lagi, harus jadi gadis kuat mulai sekarang..."
"Tapi Lingling juga udah janji sama Ci Cun, Lingling akan meninggalkan Koko... Lingling harus gimana?"
Tenry tersenyum perih... dua hal bertolak belakang diucapkan dari bibir yang sama oleh seorang gadis yang gak punya kekuatan untuk merealisasikan salah satu dari janji itu. Bila terdesak, dengan karakternya yang sekarang dia yakin Holly akan memilih melepaskan dirinya.
Terdiam sejenak...
"Janji sama Koko..."
"Lingling sayang Koko?"
Kali ini dengan cepat Holly menjawab...
"Iya..."
"Berarti janji sama Koko yang harus Lingling lakukan..."
"Tapi Ci Cun..."
"Ssstt... itu urusan Koko, pernah Koko bilang kan? Koko akan mempertahankan hubungan kita..."
Holly melepas dua tangannya dan menunduk, Tenry pun memindahkan tangannya di lengan Holly.
"Ko... jangan kasarin Ci Cun ya... jangan marahin Ci Cun juga... Holly minta Koko harus ngomong baik-baik..."
Tenry tertawa pelan, gadisnya malah mengkhawatirkan mamanya.
"Iya... Koko akan bicara baik-baik..."
"Holly takut Ci Cun marah karena ngaduh sama Koko..."
__ADS_1
"Sayang... Ci Cun sebenernya baik, tapi keadaan Cici membuat Ci Cun seperti itu... "
Holly memandang Tenry sekarang, butuh sebuah keyakinan bahwa ini tidak apa-apa dia memberitahu Tenry yang sebenarnya.
"Baby... belajar percaya sama Koko ya, Koko udah bilang Koko akan cari cara untuk kita berdua... jadi Koko minta jangan pernah realisasikan keinginan mama ya... ngerti kan maksud Koko?"
Holly mengangguk samar dan membuang pandangannya
"Baby... lihat Koko..."
Tenry menunggu Holly melihat dirinya lagi, setelah mendapatkan pandangan Holly...
"Jangan pernah pergi dari Koko... ini permintaan Koko, tapi Koko gak akan minta Lingling berjanji sekarang, gak akan memaksa, Koko ingin itu jadi keinginan Lingling sendiri..."
"Maksud Koko?"
"Koko sayang Lingling, sangat sayang, tapi Koko gak akan memaksakan cinta dan sayang Koko, Koko ingin Lingling melakukan karena Lingling sayang sama Koko..."
Holly menatap Tenry, lama... menemukan sorot sayang yang begitu indah, mendamaikan jiwanya yang beberapa hari ini terbungkus kekalutan, sepenuhnya memberikan keteduhan. Mata itu yang paling menarik hatinya dari seluruh fisik Kokonya. Perlahan satu tangannya terangkat dan menyentuh mata Tenry.
Tenry mengerjap dalam senyuman membiarkan dan menikmati rasa yang mengalir dari sentuhan Holly beberapa saat kemudian...
"Lingling suka mata Koko..."
"Kenapa?"
Tenry bertanya lembut, tapi hatinya melambung, senang rasanya mengetahui apa yang Holly sukai tentang dirinya. Dia mengusap sayang lengan Holly.
"Mmm... mungkin karena selama ini yang Lingling dapatkan adalah tatapan marah atau jengkel dari keluarga Lingling sendiri, tatapan gak bersahabat dari teman-teman... Tapi Koko beda cara Koko melihat Lingling... beda..."
Holly tersenyum malu saat selesai mengungkapkan isi hatinya. Rasa sayang Tenry meluap sekarang, dia membawa Holly ke dalam pelukannya.
"My baby..."
"Lingling sayang Koko..."
"Hahaha... Koko seneng banget dengerin Lingling bilang sayang kali ini... biasanya harus Koko yang nanya duluan..."
"Kenapa sekarang jadi baby, Ko... Lingling bukan bayi kan..."
"Itu panggilan sayang... ihhh gemes Koko..."
Bayangkan aja apa yang akan terjadi selanjutnya jika Koko gemes sama Lingling... 🤔🤔🤔
.
Musim akan selalu berganti... kasih yang sejati tetap abadi...
.
.
Menyempatkan nulis di sela-sela kegiatan tiga hari ini yang lumayan padat...
Happy Passover untuk temen-temen yang merayakan...
__ADS_1
Dan selamat menunaikan Ibadah Puasa untuk teman-teman yang sedang menjalankannya...