
Pagi-pagi Holly membuka akun medsosnya yang baru berumur kurang lebih sebulan seumuran sama ponselnya. Temannya baru puluhan aja, itupun teman sekolah dan para tetangga dan umumnya gak akrab. Holly gak punya kesempatan buat sekedar main sama teman selain itu dia minder karena gak bisa seperti teman-temannya yang sukanya pamer ini-itu, Holly punya apa semua hasil lungsuran. Lingkungan sekolah dan rumah sebenarnya gak jauh beda, berada di pinggiran kota dengan profesi pada umumnya nelayan sederhana yang pendapatannya bergantung cuaca di laut, udah jelas di mana kelas sosial mereka. Tapi tetap aja banyak yang suka pamer punya barang mewah, Holly jadi minder bergaul, merasa bukan siapa-siapa
Tapi Tenry yang buatin medsosnya Holly sengaja memasang foto selfie mereka berdua jadi FP, itu mungkin jadi daya tarik bagi teman dan tetangga yang jadi penasaran untuk kepoin Holly. Foto itu jadi banjir komen, kenapa banjir? Karena ada yang sampai beberapa kali komen mempertanyakan siapa cowok ganteng itu, beneran pacaran, masa sih bisa ngegaet cowok seganteng itu, hasil editan kali, dan lain-lain. Holly membaca semua komen itu dengan hati sedih merasa dilecehkan dengan beberapa komen negatif itu, tapi Holly belum berani membalas, belum berani buat status, baru aja melek gadget, masih takut salah posting.
Dan yang beneran banjir komen ngalahin status artis populer yang baru aja punya baby adalah status baru si Koko yang ditag ke Holly, mungkin gerah baca semua komen di foto profil yang meragukan beneran dia ini eksis atau cuma hasil rekaan Holly... sebuah foto Holly dengan caption yang disemat hanya satu kata dengan huruf kapital 'MINE'. Beragam komen rata-rata teman si Koko ada beberapa teman Holly yang ngasih emoticon cinta. Beberapa komen dijawab si Koko yang memastikan siapa Holly.
Postingan si Koko beberapa hari yang lalu itu mengangkat pamor Holly, sekarang permintaan pertemanan menyerbu, notif bertanda merah menyentuh sembilan ratus lebih, tapi Holly masih ragu untuk konfirmasi, semua nama asing buat dia.
Sebuah panggilan di messeng*er di tengah keasyikan berselancar di aplikasi bermilyar umat berlogo sebuah huruf. Holly ragu untuk menjawab, itu dari Lesly teman SMA sekaligus tetangga, tapi beberapa kali panggilan tak berhenti juga, akhirnya...
"Iya..."
Holly menjawab canggung.
"Holly... kamu tinggal di mana sih sekarang...?"
Tumben perhatian?
"Aku tinggal di tempat Hanie kerja..."
"Oh... pantesan gak kelihatan di kompleks, kirain kamu jadi ART di mana..."
Ehhh?? What??
"Temen-temen ngajak kamu main ke mall ... kita mau nonton... ikut yuk... kan udah lama gak ketemu kita..."
Tumben ngajak-ngajak, biasanya gak akrab juga?
"Kita seru-seruan, abis nonton kita jalan ke mana... emm gini aja kita ketemu di Mantos, kamu wajib datang ya, jangan enggak... bagi no wa kamu..."
"Serius kalian ngajak aku..."
Holly masih merasa heran dengan ajakan itu. Sebelum ini dia gak pernah diajak hangout, meskipun tetanggaan Lesly gak pernah berteman baik sama Holly. Kayaknya sejak kelas satu SMA temen yang bener-bener temen cuma Chika doang, naik kelas tiga Chika pindah ke kampung ikut mamanya yang menikah lagi, praktis setelahnya Holly gak memiliki teman lain. Mereka suka geng-gengan, gak ada yang mau Holly masuk geng mereka. Paling-paling mereka menyapa Holly saat butuh nyalin PR aja. Terakhir saat ketemu di sekolah waktu acara kelulusan, Lesly bahkan gak ngomong atau sekedar menyapa padahal duduk sebelahan.
"Serius lah... masa gak sih... Eh tapi pacar kamu diajak dong, biar bisa kenalan sama kita..."
"Hahh? Koko gak mungkin ikut, dia sibuk banget..."
"Cie cie...manggilnya Koko... cocweet deh..."
__ADS_1
Holly memerah juga pipinya, pembicaraan soal Tenry selalu memberi efek indah setiap kali.
"Hol... bagi no wa ya... nanti sore jangan lupa udah janjian ke Mantos..."
Sambungan terputus, Holly bingung mau menanggapi seperti apa ajakan itu, lagian kenapa nama Ko Tenry di bawa-bawa, aneh aja tiba-tiba ada yang coba menjalin hubungan baik sementara dulu gak pernah menganggap Holly.
Hanie muncul kemudian membawa soto ayam untuk sarapan kali ini...
"Ling, nasi di magic masih ada kan..."
"Iya masih ada..."
Holly berdiri mengambil mangkok untuk tempat soto ayam yang dibeli Hanie.
"Selesai sarapan belajar bawa motor lagi ya... biar tambah lancar. Hari ini langsung di jalanan aja, gak usah di lapangan lagi..."
"Iya... tapi aku takut berpapasan sama mobil besar..."
"Lama-lama gak takut lagi, makanya jangan berhenti, rasa takut pasti hilang dengan sendirinya kalau udah lancar..."
"Tapi kamu ikut ya, takut sendiri di atas motor..."
"Iya..."
"Han... temen aku ngajak jalan bentar sore, aku ikut apa gak ya?"
"Terserah kamu..."
"Tapi aku gak nyaman sama mereka, emang gak deket kok..."
"Ya udah kalau gak nyaman... jangan pergi..."
"Gak apa-apa kayak gitu... nolak ajakan mereka?"
"Gak lah, hidup kamu sendiri kan, terserah kamu mau apa..."
"Gak dibilang sok nantinya atau apa?"
"Pasti ada, cuek aja... mereka punya hak ngajakin kamu, kamu juga punya hak menolak, simple aja gak usah dipikirin..."
__ADS_1
"Kayaknya mereka penasaran sama Koko... pengen ngebuktiin beneran aku punya pacaran..."
"Dari mana tahu mereka penasaran soal itu?"
"Kamu gak lihat status Koko?"
"Ada sih... temen-temen heboh, terus pada DM aku konfirmasi soal itu, kan mereka tahunya Tenry sama Glo..."
"Temen kalian tahu aku adikmu Han?"
"Belum sih..."
"Kelihatan banget ya aku gak cocok sama Koko? Banyak yang gak percaya..."
Holly bersuara terdengar hopeless .
Hanie menatap adiknya yang berubah ekspresinya, ada banyak luka selama ini, jadinya hal sederhana pun bisa menjadi sumber kesedihan.
"Gak usah terganggu Ling, mereka gak percaya terserah mereka, gak perlu juga kan kamu nunjukin atau ngasih pembuktian, gak ada faedah itu... jalanin aja lah..."
Hanie jadi gak tega melihat Holly, setelah tinggal hanya berdua semakin terlihat bahwa batinnya sangat rapuh, gak kuat menghadapi hal-hal yang sepele bahkan. Komentar orang apa perlunya ditanggepin, tapi itu aja sudah jadi gangguan emosi buat Holly.
Jadi kepikiran untuk mengalah saja demi Holly, dia harus menemukan cara bagaimana menolak kemauan Ci Cun. Dia harus tetap mendukung adiknya sepenuhnya biar dia menjadi kuat untuk menghadapi apapun, untuk berani menghadapi setiap kenyataan dan untuk bersikap pantang menyerah, termasuk mendukung hubungan Holly dengan Tenry. Berharap juga Tenry konsisten dengan perasaannya untuk Holly yang baru aja mengenal hubungan semacam ini, gak tega jika suatu saat Holly patah hati.
"Habisin makannya, Ling..."
Hanie bersuara saat melihat Holly tak meneruskan makannya.
"Udah kenyang..."
"Makan... pantas kamu kurus, walaupun ada sesuatu yang kamu pikirin tapi jangan sampai gak makan. Ling... gak semua harus kamu pikirin, termasuk ocehan orang atau komentar miring. Nikmatin aja hidup kamu, kamu yang punya pacar kan, terserah apa kata orang mengenai hal itu... mereka punyai hak menilai, kamu punya hak untuk gak peduli penilaian mereka... jangan terganggu dengan apa kata orang ya?"
Ponsel di meja berbunyi...
"Tuch... Tenry pasti... yang penting kan kamu hepi sekarang jadi pacarnya Tenry, banyak temen cewek ngincar posisi kamu loh, nungguin kapan Tenry putus sama Glo... hahaha, aku juga gak nyangka malah jadian sama kamu... udah angkat telpon sana, aku tunggu di bawah, jangan lama-lama..."
Secercah senyum di wajah muncul kemudian sebelum mengangkat telpon yang dirindukan...
.
__ADS_1
🦋
.