Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 47. Cici Sayang


__ADS_3

Hanie menghembuskan napas pelan, mengontrol sikapnya kemudian masuk ke dalam rumah putih megah itu. Jika ditanya tempat mana yang dia anggap sebuah rumah yang sebenarnya, rumah inilah yang akan dia sebutkan. Dia punya kamar sendiri di sini tapi enggan dia gunakan lagi setelah mengetahui maksud Ci Cun untuknya.


Lama dia gak datang ke sini, terakhir kali mungkin saat Ivy ulang tahun. Sejak Ci Cun harus mengawasi penuh keadaan Beyvie, Ratnie orang kepercayaan Ci Cun lah yang keliling menangani keuangan. Uang toko biasanya diambil sendiri oleh Ratni, jadi hampir-hampir dia tidak pernah bertemu Ci Cun, dan itu membuat Hanie sedikit tenang.


Tapi hari ini dia dipanggil khusus, rasa was-was yang menguasai hatinya sejak informasi itu datang semakin terasa, walau berkali-kali dia menenangkan diri dengan mengatur napasnya.


"Sore... Ci Cun..."


Sedikit bergetar suara Hanie menyapa Ci Cun yang sedang duduk di salah satu kursi outdoor di teras dekat kolam renang. Ci Cun sedang mengawasi dari jauh kegiatan Beyvie, baru kali ini dia keluar dari kamarnya dan ini sudah hampir dua jam putrinya berada di antara bunga- bunga miliknya. Ci Cun membiarkan saja dari pada dia harus melihat Beyvie hanya meringkuk di tempat tidur, ini lebih baik.


"Han... duduk..."


Hanie mengambil kursi terjauh dari Ci Cun, belum siap dengan apapun yang akan Ci Cun tanyakan atau katakan, begitu menegangkan sekarang, terlebih Ci Cun berubah gak banyak bicara dan gak ada senyum seperti biasa. Dia gak pernah datang menjumpai Beyvie seperti keinginan Ci Cun, mungkin dia akan disalahkan soal itu. Dia juga tak tau harus jawab apa jika disuruh nikah secepatnya, sepertinya dia akan dipaksa soal itu.


Dalam hati Hanie merutuki sikap lemahnya di hadapan Ci Cun.


"Cici Bey... gimana... sehat?"


Menghilangkan canggung, Hanie akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan.


"Itu... dia ada di belakang kamu... apa kondisi itu bisa disebut sehat?"


Ci Cun menjawab dengan tanya sambil memandang Beyvie dengan ekspresi sedih yang sangat kentara. Hanie membalikkan badannya, tadi dia tidak memperhatikan, sekarang dia ikut sedih melihat Cici Beyvie yang sedang berjongkok di antara bunga berdaun lebar. Sosok itu sangat jauh berbeda, bukan lagi Cici yang energik dengan banyak kesibukan yang dia lakoni, sekarang dia seperti patung hidup dengan hanya satu ekspresi, membeku dalam sikap murung yang dalam.


"Seperti itu Cici... Han, dia jongkok udah lebih dari setengah jam, untuk berdiri atau bergerak dari sana dia perlu dibantu, berjalan dia perlu dituntun, dia akan meringkuk dengan posisi yang sama di tempat tidur sepanjang malam dan gak akan tidur tanpa obat penenang... pola makannya pun gak normal, kadang beberapa hari gak makan, kadang makannya banyak sekali... kondisi Cici menyedihkan..."


"Dokter bilang apa Ci?"


"Kita gak ke dokter lagi, dia tidak punya keinginan apapun sekarang, otaknya seperti kosong, tapi jika tahu akan ke dokter dia akan ngamuk dan menangis sejadi-jadinya, dia menolak..."


"Apa dokter dipanggil ke sini?"


"Sama... Awalnya, dia antusias kalau ke psikiater, tapi sebulan ini dia seperti ini... Ci Cun udah gak tahu mau buat apa lagi biar Cici sehat..."


Hanie baru sekali ini melihat Ci Cun kehilangan cahaya di matanya, seperti gak punya kekuatan lagi menanggung tekanan soal Beyvie, udah beberapa bulan sejak masalah itu. Dalam diam dia mengamati Beyvie dan hatinya juga trenyuh dengan keadaan Beyvie yang sekarang. Sebelum ada ide menjadikan dia menantu, seperti pada Tenry sikap Beyvie ke Hanie sangat baik, seperti seorang kakak cerewet untuk dirinya, tapi juga suka kasih perhatian. Beyvie memang tipe royal yang suka beli sesuatu, gak terhitung barang yang sudah diberikan buat Hanie. Belakangan aja sikap Beyvie jadi ketus dan kasar.


"Han... coba kamu bicara sama Cici... siapa tahu dia mau bicara, atau mau kalau kamu ajak dia konseling..."


"Ci... terakhir aku ngomong dengan Cici Bey... Cici terlihat sangat marah sama aku... takutnya jika aku ajak ngobrol tiba-tiba... dia marah-marah lagi, itu gak baik mungkin untuk Cici..."


Ci Cun akhirnya hanya menatap sedih anak gadisnya yang masih betah gak berpindah atau bergerak dalam posisi yang sama.


"Mungkin Tenry lebih pas untuk bicara dengan Cici Bey..."


"Koko lagi marah sama Ci Cun... dia pergi pagi-pagi pulang larut malam..."


"Oh..."


"Coba kamu tolong kasih pengertian sama Koko, Han..."


"Eh... kita... eh kami belum bertemu belakangan ini, Ci... baru sekali dia menelponku..."


"Biasaya dia suka ke toko kan?"


"Gak pernah lagi Ci... dia juga marah sama aku kayaknya..."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ehmm... gak papa Ci... salah paham aja... gak masalah Ci... nanti juga reda sendiri..."


"Apa karena Holly pergi dari toko, menghindari Koko katanya?"


"Ehh?? Ci Cun tau itu?"


"Koko yang bilang..."


""Iya... dia marah karena aku membiarkan Holly pergi..."


"Han... apa Tenry memang... eh sayang sama adikmu? Dia bilang gak mau melepas Holly, gak mau mengalah..."


Suara sangat lirih seorang mama yang terjepit di dua sisi, dua anak yang dia sayang, tak tahu harus apa untuk bertindak sekarang. Dia merasa kehilangan dua anaknya sekaligus dengan cara berbeda. Dia meminta Hanie datang, karena dia gak punya tempat untuk bicara sekarang, suaminya sedang sibuk dengan beberapa proyek besar gak bisa diajak ngomong untuk saat ini, Ivy masih terlalu kecil untuk ikut menanggung keadaan ini, walau dia tahu Ivy juga ikut terganggu.


"Iya Ci... aku lihat seperti itu. Saat dia mutusin Glo, aku kaget juga dia cepat beralih pada Holly. Maafkan adikku Ci... dia masih anak-anak, karena itu dia gak bisa menolak Tenry..."


"Koko kalau ingin sesuatu suka nekat, terakhir ini dia minta beliin mobilnya yang sekarang, semakin Ci menentang semakin dia menginginkan itu... Tenry seperti itu kan dari dulu... Soal Holly, Ci gak menyalahkan Holly... dia seperti kamu aja buat Ci... tapi masalahnya adalah Cici, Cici harus sembuh dulu..."


"Ci... aku bisa bantu apa aja kalau soal kesembuhan Cici Bey... tapi maaf Ci... mungkin jangan membebani Cici Bey dengan niat hati Ci Cun menjodohkan kamu berdua, jangan-jangan itu juga salah satu masalah Cici Bey..."


Ci Cun menghela napas dalam, mencoba menjernihkan pikirannya sendiri. Tenry pernah ngomong soal itu, sekarang Hanie. Apa dia kehilangan perspektif yang benar karena harapan hati sebagai mama yang tidak ingin anaknya terjebak dan terpuruk lagi pada hubungan merusak dengan lelaki lain? Ya... dia gak mau ada lagi lelaki lain yang memanfaatkan Beyvie. Hanya Hanie lelaki yang tidak akan melakukannya?


Kapan ini berakhir?


"Ci..."


"Baik... baik... Cici sembuh dulu, ya... Cici sembuh dulu... Tapi... Ci Cun minta Hanie jangan mencari gadis lain ya..."


Ahhh... Hanie gak bisa menjawab atau meyanggupi ini. Dia memang gak akan mencari yang lain lagi karena dia sudah punya seseorang di hatinya sejak lama, walau belum memiliki sepenuhnya dan berharap gadis itu masih mau menunggu...


.


Di kamarnya setelah selesai membersihkan diri, Tenry membaca sebuah pesan dari Hanie soal kondisi Cicinya dan soal mamanya yang butuh bantuan Hanie juga Tenry untuk kesembuhan Cici tersayang. Sentuhan halus menyapa di sudut nuraninya, kenapa harus Hanie yang meminta, dan kenapa dia gak memikirkan Cicinya?


Tenry tergerak untuk melihat keadaan Beyvie. Perlahan dia membuka pintu kamar, matanya menangkap dua perempuan di tempat tidur, dengan terang lampu tidur dia memastikan itu Ivy dan Beyvie. Saat telah duduk di tepi tempat tidur di sisi dalam, samar dia menangkap tubuh kurus cicinya dalam posisi menyamping, mata tidak tertutup dan terlihat cekung.


"Cici gak akan tidur sampai pagi, Ko... sering banget seperti itu..."


Ivy bersuara pelan saat membalikkan tubuhnya menghadap Tenry.


"Kamu belum tidur De..."


"Mau bujuk Cici minum obat dulu, udah capek ngebujuk, tetap gak ada reaksi..."


"Gak kasih tahu mama?"


"Mama sekarang udah gak maksa-maksa Cici buat ngapain, termasuk minum obat... kasihan kayaknya mama udah cape juga, makanya beberapa hari ini aku minta mama tidur di kamar mama aja, aku gantian yang temenin Cici..."


Tenry merasa sebuah sembilu menusuk dadanya, ada perasaan bersalah karena bersikap tidak peduli pada Cicinya. Hanya waktu di rumah sakit dia melakukan iyu, tapi setelah Holly menghilang dia teralih sepenuhnya pada gadisnya.


"Cici... geser dikit dong, aku mau tidur di sini..."


Beyvie tidak bereaksi, entah matanya mengarah ke mana, seperti tidak mendengarkan Tenry. Tatapan kosong Beyvie membuat sudut mata Tenry basah. Perlahan dia menggeser tubuh Beyvie yang masih membeku dengan sentuhan Tenry.


"Cici udah sebulan ini gak ngomong apapun Ko..."


Ivy pun terlihat menangis, pipinya dengan cepat menjadi basah. Tenry memposisikan diri menghadap Cicinya lalu memeluk Cicinya dengan lembut, menyimpan airmata dan rasa bersalah yang semakin kental.

__ADS_1


"Cici tidur ya... aku sama Dede akan tidur di sini terus sampai Cici bisa tidur sendiri lagi... ya kan De..."


"Iya Ko... iya..."


Ivy juga membaringkan diri dan ikut memeluk Beyvie dari belakang. Beberapa saat berlalu dengan keharuan yang menguasai baik Tenry maupun Ivy, keduanya tidak lagi menahan airmata membasahi wajah masing-masing, memeluk Beyvie dengan sayang berharap Beyvie menyadari kehadiran mereka berdua.


Hanya kesunyian, tengah malam sudah sangat terasa, tapi ketiga kakak beradik ini belum tertidur, sesekali ada gerakan dari Tenry dan Ivy, tapi tangan mereka tetap mendekap Beyvie.


"Tenten... Tenten..."


Suara sangat pelan masuk ke telinga Tenry, dia melonggarkan pelukannya lalu menatap Cicinya.


"Cici ngomong Ko... Cici ngomong lagi..."


Ivy mengangkat kepalanya dan bersandar di lengan Cicinya Tenry tersenyum melihat Cicinya yang sedang menatap padanya, ada sedikit riak di sana.


"Cici butuh apa? Haus?"


Beyvie hanya memandang wajah Tenry, perlahan tangannya terangkat ke pipi Tenry.


"Tenten... nangis..."


Tenry menghapus airmatanya.


"Kenapa?"


Beyvie mulai merespon, Ivy di belakang yang tahu gimana Cicinya selama sebulan ini, tertawa dalam tangisnya, sesuatu yang baik terjadi sekarang. Dia mencari jemari Beyvie.


"Cici... kita nangis karena Cici, Cici harus sehat ya..."


Beyvie meluruskan tubuhnya, telentang sekarang dengan kepala memghadap Ivy, menemukan wajah yang sama sedang penuh airmata.


"Cici minum obat ya... biar bisa bobo, biar matanya cantik lagi... ya?"


Beyvie menatap lama, tapi kemudian menggeleng. Ivy mengalihkan pandangan pada Kokonya meminta bantuan untuk ikut membujuk.


"Peluk Cici aja..."


Kalimat pertama dari mulut Cicinya membuat Ivy mengangguk berkali-kali.


"Iya... iya, Koko juga kan?"


Tenry tak menjawab tapi tangannya langsung mendekap Cicinya, ditimpali tangan kecil Ivy.


"Tutup mata ya Ci..."


"He eh..."


Tangan Cici yang memegang kedua tangan adiknya di atas perutnya menegaskan sesuatu... semoga ini awal Cici sembuh.


Thank God...


Ci Cun menarik pelan pintu kamar anak tertuanya dengan airmata yang kini berganti, awalnya karena kesedihan yang pekat, sekarang berganti sebagai rasa syukur, ketiga anaknya ada di satu kamar, itu sesuatu yang tak ternilai buat seorang mama melihat anak-anak saling peduli dan saling sayang.


.


🦋

__ADS_1


.


__ADS_2