Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 21. Seperti Anak Sendiri


__ADS_3

Hidup seperti selalu tidak berjalan baik untuk Holly. Dia terkondisi menjadi pribadi yang tidak menuntut. Hanya, dia termotivasi oleh seorang guru SMA yang mendorong dia untuk memiliki cita-cita dan keinginan merubah hidup. Dan saat dia baru mau melangkah keinginannya untuk kuliah ditentang dan disepelekan. Sejak itu dia terus-menerus bersedih dan tertekan, meskipun Hanie sudah mengatakan sanggup membiayai, hatinya belum plong karena tak ingin menjadi beban buat Hanie. Dia ingin punya penghasilan sendiri, tapi Hanie bersikukuh tidak membolehkan dia bekerja. Satu lagi yang juga menjadi tekanan buat Holly, sikap Ko Tenry membuat dia merasa telah merusak hubungan Ko Tenry dan Glo. Sekarang dia terkapar, selain tekanan batin tubuh fisiknya juga menyerah.


Di rumah sakit Medika, ternyata suhu badan Holly mencapai 40° membuat dia sempat kehilangan kesadaran. Ada dua pria yang begitu khawatir dengan kondisi Holly, terus menerus memperhatikan dari balik kaca saat penanganan awal di IGD. Tindakan untuk Holly dipermudah dan lancar karena salah satu dokter yang menangani adalah sepupu Tenry yang sudah dihubungi Ci Cun. Tenry dan Hanie menunggu di selasar IGD itu, jam-jam yang dilewati dengan penuh kecemasan menanti kepastian apa sakit yang diderita Holly.


"Tenry..."


Dokter Reiner keluar dari ruang besar yang penuh berisi pasien yang sementara diobservasi mendekati Tenry dan Hanie.


"Gimana Rein..."


Tenry berdiri dari kursi stainlessteel yang tersedia di selasar itu.


"Pasien DBD jadi harus rawat inap. Pasien akan dipindahkan ke kamar..."


"Aku urus administrasinya Ten..."


Hanie berdiri juga dan siap melangkah.


"Sudah diurus, jangan khawatir, pasien akan dipindahkan di ruang Mawar kelas 1 ada di lantai 3..."


Dokter Reiner menjawab dengan senyum khas yang biasa dia tampilkan untuk menenangkan keluarga pasien.


"Pasti mama yang urus Han..."


Tenry menimpali. Tanpa basa-basi lagi dokter Reiner berbalik pergi.


"Masih kritis gak Rein?"


Tenry mengejar sepupunya, yang akhirnya berhenti.


"Masih harus dipantau terus, jangan khawatir, justru bagus kalian langsung bawa pasien ke sini di hari pertama dia demam jadi bisa ditangani dengan cepat... tokomu harus disemprot, banyak pasien DBD dari wilayah itu..."


Dokter kepala bagian penyakit dalam di rumah sakit ini langsung pergi lagi, dia datang lebih pagi di rumah sakit karena permintaan Ncim yang dia hormati, Ci Cun menelpon meminta dia menangani langsung, kalau bukan Ncimnya dia gak akan datang sepagi ini, terutama di IGD Rumah Sakit ini gak kekurangan dokter bahkan dokter ahli selalu ada.


.


🦗


.


Di kamar rawat inap untuk dua pasien, untung saja hanya ada Holly di sini sehingga Tenry dan Hanie lebih leluasa. Biasanya hanya satu orang penjaga yang dijinkan di dalam ruangan, tapi mungkin khusus kamar ini diperbolehkan. Holly sudah sadar, pakaiannya sudah berganti dengan pakaian rumah sakit, panasnya sudah turun sedikit, tapi mukanya masih merah dan terlihat menahan sakit, matanya terus tertutup.


"Ling..."


Tenry tidak beranjak dari sisi brankar dan tidak melepaskan tangan Holly yang bebas infus.


"Minum ya..."


Tenry mengambil sebuah gelas berisi cairan isotonik yang wajib diminumkan pada pasien. Tenry mendekatkan sedotan putih ke mulut Holly. Holly hanya menyesap sedikit lalu melepaskan sedotan. Dahinya berkerut menahan sakit.


"Apa yang sakit?"


Holly tak menjawab.


"Sayang... bilang apa yang sakit, biar Koko tahu..."


Hanie hanya memperhatikan dari sisi lain brankar itu, mengusap-ngusap tangan adiknya yang terpasang selang infus. Belum pernah ada kejadian seperti ini, salah satu dari mereka terpaksa dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


"Mama..."


Lirih suara Holly dalam keluhannya, suara yang kemudian menyadarkan Hanie bahwa dia belum memberitahu orang tuanya soal Holly.


"Ten... bentar aku telpon mamaku... baru ingat belum kasih tahu mereka..."


Hanie keluar dari kamar itu, di luar dia menelpon sang mama.


📱


"Ma... Holly dirawat di rumah sakit Medika, kena DBD..."


"Baru kalian rasa, akibat melawan orang tua, sekarang cari mama juga kalian..."


"Ma, Holly sakit..."


"Rasakan akibat dari anak yang tak tahu terima kasih..."


"Astaga ma... kenapa tega sama anak sendiri..."


"Kalian juga tega sama mama, sekarang kalian dapat balasannya."


"Ma... Holly butuh mama, bisa gak mama lebih perhatian sama Holly... kasihan dia ma..."


"Kenapa harus masuk rumah sakit segala, Medika lagi, apa kamu banyak uang? Minta obat sama Mantri di sini juga sembuh itu, ada puskes juga, kenapa ke rumah sakitnya orang kaya hahh? Jangan suruh mama bayar ya, mama gak punya uang..."


"Ma, DBD itu harus dirawat, lagian aku gak minta uang untuk bayar rumah sakit, aku hanya minta mama peduli sama anak sendiri... datang ke sini, liatin anak mama lagi sakit..."


"Iya iya... nanti mama ke sana. Tapi jangan suruh mama yang jaga, mama lagi banyak jahitan, sudah!"


Sambungan terputus. Hanie merasa nyeri di dadanya. Apa yang dia harapkan? Sejak lama dia tahu bahwa empati di keluarganya sangat rendah, tak ada sikap saling peduli yang ada sikap saling memanfaatkan, saling menyalahkan. Keluarganya miskin kasih sayang dan perhatian, entah bagaimana keluarganya bisa bertahan hidup bersama di bawah atap yang sama. Dan sejauh yang dia ingat, mama bukan sosok yang akan merawat anaknya yang sakit. Dan ajaibnya selama ini umumnya sakit mereka hanya flu atau batuk dan itu dihadapi sendiri, sembuh sendiri kadang tanpa minum obat.


Hanie masih berdiri bersandar di dinding, menghembuskan napas sesaknya. Saat mengangkat kepala dia melihat Ci Cun dan seorang ART datang dengan beberapa tentengan di tangan. Malah Ci Cun yang tidak dia harapkan, udah muncul di sini. Ini yang dia kagumi dari Ci Cun, sangat peka dengan hal-hal semacam ini, jiwa sosialnya tinggi. Karyawan dan keluarga yang kena musibah atau masuk rumah sakit pasti segera ditengok, bawa macam-macam pula. Hanie melangkah cepat kemudian mengambil kantong plastik besar dari tangan Ci Cun.


"Gimana Holly?"


"DBD, Ci..."


"Iya, Reiner udah kasih tahu... kondisi sekarang gimana?"


"Masih sama..."


Ci Cun masuk dan sedikit mengangkat alisnya saat melihat Tenry duduk di sisi tempat tidur dengan kepala yang sangat dekat di wajah Holly. Tapi perhatiannya segera tertuju pada Holly.


"Holly..."


Kelembutan seorang ibu tak bisa tertahankan dari seorang Ci Cun, tangannya mengusap kepala Holly perlahan, hatinya langsung trenyuh melihat kondisi gadis kecil yang baru sekali dilihatnya tapi langsung terkesan di hatinya. Sepintas bertemu Holly di ruang atas dia merasa Holly seperti Hanie saja untuknya, bukan orang lain lagi.


"Mama..."


Suara lirih Holly terdengar lagi, sejak tadi pagi baru kata itu yang keluar dari bibir Holly. Hanie yang mendengar itu mengusap sayang lengan adiknya, sedikit berandai... seandainya mama seperti Ci Cun.


"Ling... minum lagi ya?"


Suara lembut Tenry, serta tindakannya untuk Holly membuat Ci Cun semakin terusik, tapi melihat mimik wajah khawatir Hanie di sebelah Tenry, tampang sama dua laki-laki itu membuat Ci Cun menyimpan lagi sesuatu yang mengelitik hatinya.


"Kepalanya sakit ya?"

__ADS_1


Cui Cun bersuara lagi. Holly sedikit membuka mata dan mulai menyadari bukan hanya Hanie yang ada di dekat dirinya.


"Maaf... Holly udah ngeropotin semua..."


Lirih ucapan yang keluar tapi sanggup didengar oleh semua.


"Jangan dipikirkan, ya... biar Holly cepat sembuh..."


Ci Cun masih masih mengusap pelan kepala Holly, dia pernah kena DBD dan salah satu yang masih diingat adalah kepala yang sangat nyerih.


"Holly udah dikasih makan?"


"Udah... makannya dikit..."


Tenry yang menjawab.


"Nanti coba dikasih lagi, Ci ada bawa bubur di termos, kasih yang baru nanti... kamu yang jaga ya Han?"


"Iya, mama gak bisa..."


"Bukannya ada adik atau kakak perempuanmu Han?"


"Mereka... gak bisa juga..."


Hanie menjawab ragu karena bukan mereka gak bisa tapi gak mau padtinya, gak perlu ditanya kesediaannya.


"Ya udah... nanti kalau Holly perlu ke kamar mandi, panggil suster jaga..."


"Iya..."


"Ci pergi ya... ada makanan buat kalian berdua, ada jus jambu buat Holly, paksa dia minum sama cairan isotonik... Han, Ci juga bawa keperluan pribadi buat Holly ada di tas plastik hitam kasih tahu suster jaga. Mmm kepala Holly sakit diusap-usap aja, Han..."


Ci Cun bilangnya Hanie tapi mata menatap Tenry agak lama, seperti sedang mencari sesuatu.


"Kamu gak pulang dulu Ko?"


"Nanti ma..."


"Iya... besok jangan lupa ke Marina..."


"Iya ma..."


Tenry menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari Holly dan menggantikan tangan mamanya mengusap kepala Holly.


"Holly... usahakan makan ya, minum juga biarpun sedikit harus sering..."


Holly membuka mata dan mengangguk lemah.


"Terima kasih Ci..."


Ci Cun memberi senyum lembutnya sambil mengusap tangan Holly. Ci Cun keluar dari kamar, Hanie sudah pernah cerita soal keadaan keluarganya, jadi dia memahami jika Hanie sendiri yang harus menjaga Holly. Prihatin juga pada anak gadis itu, entah kenapa sejak melihat pertama, jadi ingin memperlakukan seperti anak sendiri.


.


.


🦋

__ADS_1


.


Hi.... terima kasih sdh membaca cerita ini... 🥰


__ADS_2