Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 70. Menginginkan Lebih


__ADS_3

Pagi-pagi, Holly baru dari ruko Rommel, dia bisa membeli pulsa kapan aja pada Rommel dan kebanyakan dia ke sana pagi-pagi. Setelah ngobrol beberapa hal, pulsa sudah terisi, Holly berjalan pulang sambil melakukan panggilan pada Hanie.


.


📱


"Han... Aku mau ke toko..."


"Udah pulang kamu?"


"Udah... kemaren dijemput Koko..."


"Oh... gitu... dicariin mama, masa kamu cuma kirim kue sama minuman..."


"Hehe... iya nanti aku pulang... bareng kamu ya bentar sore?"


"Boleh... udah ya... aku di motor, mau lanjut ke rumah sakit..."


"Kamu sakit?"


"Gak... mau nengok Ci Cun..."


"Ci Cun? Sakit?"


"Iya... udah empat atau lima hari, Tenry gak kasih tau?"


"Gak..."


"Oh? Oke ya..."


.


Holly langsung lemes mendengar Ci Cun sakit. Dengan lunglai dia naik ke lantai atas kost-an yang mulai ada satu dua penghuni lain, masuk ke dalam kamarnya dan memutar kunci pintu dengan berbagai pertanyaan dan prasangka yang bertalu-talu di otaknya.


Apa karena Koko maksain Ci Cun merestui hubungan kami? Jangan-jangan Ci Cun shock dikasari Koko mungkin? Pantas Koko sedih kemaren? Kenapa Koko gak kasih tau aku? Pantas kemaren meluk aku sampai lama banget, apa Koko akhirnya mau melepasku demi Ci Cun? Aku harus gimana?


.


Di rumah sakit, Hanie masuk ke kamar inap Ci Cun, hanya di pagi hari dia bisa datang melihat Ci Cun, kekhawatiran juga ada dalam hatinya meskipun wanita berhati baik ini bukan mamanya.


Ada Tenry, dia yang menjaga rupanya, terlihat baru saja terbangun dari tidur. Ci Cun nampak sedang tidur di brankar rumah sakit, masih pucat.


"Ten..."


"Han... dari toko?"


"Iya lah... mau dari mana memangnya..."


"Lingling mau ke toko hari ini..."


"Iya... barusan dia menelpon bilang hal yang sama, nanti sore minta ditemenin pulang ke rumah..."


"Oh gitu... hpnya masih bisa digunakan ya..."


"Emang rusak?"


"Gak, chargernya kelupaan di rumah Nuella, nanti malam aja aku bawa ke toko kalau kalian udah pulang. Dia mau nginap di toko, di kost sepi, penghuninya pada pulang..."


"Oh... hari raya sih ya..."


Tenry bergerak ke kamar mandi dan setelah beberapa saat kemudian keluar dengan wajah lebih segar. Tenry menuju meja makan yang tersedia di ruang VVIP ini, ada makanan untuk dirinya sebagai bagian dari service rumah sakit, dia tidak terlalu rewel soal makanan, terlebih ada tersedia bubur plain dan telur ayam kampung rebus, itu cukup.


"Udah sarapan Han?"


"Udah... kamu aja. Sendirian ya jagain Ci Cun?"


"Ada papa juga, tapi pagi-pagi udah pergi..."


Hanie berpindah dari sofa ikut duduk di depan Tenry.


"Mau minum yang hangat... buat sendiri..."


Hanie melihat persediaan di meja berbagai pilihan ada, Hanie memilih satu sachet coklat instant lalu menyeduh...


"Mau aku buatkan sekalian?"


"Kopi instant aja... creamernya dua sendok..."


Minuman hangat siap dan Hanie duduk lagi di tempat semula.


"Ci Cun sakit apa, Ten..."


Hanie bertanya dengan suara pelan...


"Belum tahu, Rein janji hari ini akan menjelaskan apa sakit mama..."


Hanie melihat kekhawatiran yang besar terpancar di wajah Tenry, mungkin sesuatu yang buruk, baru sekarang Ci Cun terlihat tak berdaya seperti ini.


"Semoga bukan penyakit berbahaya..."

__ADS_1


Hanie menyatakan harapannya dengan suara volume rendah, takut didengar Ci Cun.


"Ya... aku harap begitu..."


.


🌱


.


Menunggu hasil pemeriksaan menyeluruh terhadap mamanya membuat Tenry lemes beberapa hari ini, dari yang ringan hingga kondisi terburuk sudah dipaparkan sepupunya dokter Reiner sebelumnya, dan dia takut menerima yang terburuk.


Tenry ada di ruangan sepupunya, diminta menunggu oleh semacam sekretaris atau assisten karena sedang ada rapat, maklum Reiner juga punya posisi dalam managemen Rumah Sakit ini, orang tuanya sebagai salah satu pemilik.


Setengah jam menunggu, Tenry udah berniat kembali ke kamar mamanya, pintu terbuka, Rein masuk tanpa jas putih baju atau stetoskop sebagaimana biasa. Tampilan resminya dengan jas warna gelap serta dasi di leher membuat dia terlihat bukan seperti seorang dokter tetapi seorang pengusaha.


"Ten... siapa yang jagain Ncim?"


Si dokter yang usianya baru tiga puluh lima itu duduk di kursinya.


"Ada mbak Sin. Saat kamu wa tadi aku langsung ke sini, gak tahunya masih lama nunggu..."


"Iya sorry... biasa, selesai rapat masih ada rapat kecil lain di luar ruangan..."


"Mama sakit apa? Parah?"


Tenry langsung ke inti. Dokter Reiner memandang dengan serius dengan tangan terkunci di atas meja. Tenry jadi gelisah, tatapan Reiner menunjukkan ada sesuatu yang buruk telah terjadi. Rein mengambil sebuah berkas dari dalam sampul putih besar berlogo rumah sakit ini.


"Udah siap mendengarkan?"


Sikap Rein membuat Tenry kacau.


"Papa udah kamu kasih tahu?"


"Aku masih menimbang baik-buruknya, Ten..."


"Mama sakit apa Rein?"


Suara Tenry berubah, sedikit bergetar menahan prasangka dan kekhawatiran tentang sesuatu yang tidak diinginkan keluarganya.


"Ten... aku marah waktu itu, Ncim dibawa ke sini oleh karyawan, kamu di mana? Kamu anak lelaki satu-satunya di keluarga, Bey sakit Ncim juga, kamu harus lebih concern soal keluarga, Pek Siong juga pemeriksaan labnya kurang bagus..."


"Saat aku pamit pagi-pagi mama sehat kok..."


"Dia stress belakangan karena Bey... stress mengundang segala macam sakit. Makanya ikut ngerawat Bey juga, depresi seperti dia butuh waktu untuk sembuh, kalau semua keluarga peduli itu penting untuk dia..."


"Iya Rein, aku tahu juga... aku ikut liatin Cici kok... udah... sekarang apa sakit mama?"


"Ncim... hanya anemia... itu aja..."


"Maksudnya?"


"Ya itu maksudnya. Hanya perlu istirahat, minum obat, makanan sehat, dan menghindari stress..."


"Artinya sakit mama gak berbahaya? Bukan kanker atau ginjal yang rusak atau thalasemia seperti yang kamu jelaskan waktu itu?"


"Bisa berbahaya jika gak diobati dengan tepat, dan bukan semua penyakit yang kamu sebutkan tadi. Ncim memasuki masa menopause dan kondisi ini bisa menimbulkan anemia... paham?"


"Oh my God, Rein... barusan kamu... kayak yang sakit mama berat banget... kamu udah bikin aku takut beberapa hari ini..."


"Takut? Takut kehilangan Ncim?"


"Astaga Rein... mulutmu asal ngomong..."


"Aku udah lihat ratusan orang pergi selama karierku..."


"Iya kamu... tapi jangan ngomong seperti itu tentang mama."


"Makanya jangan suka sakitin mama..."


"Kapan aku sakitin mamaku?"


"Emang dia pernah ngomong saat dia tersakiti karena kamu?"


Tenry diam tapi dalam hati membenarkan pernyataan sepupunya, menyadari dia banyak menyakiti hati mamanya akhir-akhir ini. Walau demikian dia menghembuskan napas lega, segala pikiran yang berkecamuk soal mama langsung lenyap dari otaknya.


"Thank you pak dokter, kamu sukses mempermainkan perasaanku..."


Tenry senyum masam pada sepupunya yang sempat membuat adrenalinnya meninggi, lalu keluar dari ruangan itu.


.


Saat di kamar, sambil memandang mamanya yang tertidur di brankar Tenry mengusap sayang tangan mamanya, pelan saja, tak ingin membangunkan, tapi malahan usapan itu membuat mamanya membuka mata.


"Koko? Ini jam berapa?"


"Jam tiga sore..."


"Papamu belum datang?"

__ADS_1


"Papa mampir rumah sebentar ambil baju ganti sekalian mandi katanya, barusan papa menelpon... Cici minta ikut, ma... mau lihat mama... udah maksa-maksa setiap hari..."


"Cici ngomong sendiri?"


"Iya... Cici sejak tahu mama sakit, rajin minum obat sama makannya banyak, cuma kadang-kadang masih suka bengong atau bingung sih... tapi dia makin baik ma..."


"Oh... terima kasih, doa mama dikabulkan, terima kasih..."


Ci Cun tersenyum dan menangis bersamaan. Tenry mengusap sejenak kepala mamanya.


"Udah dong jangan nangis lagi, Cici udah sembuh, yakin aja ya..."


Tenry membantu mama mengeringkan airmata dengan tissue.


"Iya... iya, Tuhan berkemurahan buat Cici... mama nangis karena bersyukur..."


"Mama butuh apa? Minum?"


"Iya..."


Tenry mengambil sebuah gelas berisi air putih bersama sedotan lalu membawanya dekat ke mulut sang mama, minum beberapa teguk lalu mendorong pelan gelas itu.


"Mbak Sin mana Ko?"


Mama menanyakan ART setia mereka yang biasanya datang berjaga sepanjang siang hari.


"Duduk di luar ma..."


Mama menatap anak lelakinya yang sudah duduk dekat dengan tempat tidur rumah sakit.


"Koko... mmm, Holly mana?"


Tenry menatap mama, sedikit kaget mama menanyakan Holly, ada rasa was-was sekarang. Tadinya dia bertekad melawan Ci Cun kalau soal Holly, tapi dengan kondisi mamanya yang sedang sakit, dia ingin menghindari pembahasan ini, tak ingin membuat mamanya stress.


"Ada... ma... pengen makan buah?"


"Ko..."


Ci Cun menarik tangan Tenry dan memegang tangan itu, Tenry hanya bisa menunggu sekarang apa yang akan diucapkan mamanya yang tidak menanggapi saat dia mengalihkan pembicaraan.


"Mama gak akan memaksakan lagi keinginan mama untuk Koko dan Cici, mama salah telah meminta Holly mengalah demi Cici dan Hanie, maafkan mama..."


Tangan Ci Cun sekarang mengusap sejenak kepala anaknya yang bisa dijangkau karena dekat dengan tempat tidurnya.


"Mama tahu mama gak bisa mengatur masa depan kalian, tugas mama hanya mendoakan supaya kalian punya masa depan yang baik, termasuk siapa jodoh kalian. Mengenai Cici mama berserah saja pada Tuhan, Dia pasti punya rencana yang baik untuk Cici, yang penting sekarang buat mama Cici sembuh..."


Tenry sejenak terpana tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut mamanya yang selama ini terus meminta mereka menolong Beyvie dengan cara menerima pengaturannya menjodohkan Beyvie dengan Hanie. Seorang mama yang memilih berdamai dengan ketakutannya tentang nasib putri tertuanya, memilih pasrah dan ikhlas dan memilih membangun harap untuk masa depan putrinya tanpa harus mengorbankan putranya. Sang mama tersenyum lembut sekarang.


"Artinya... Lingling... mama setuju Lingling jadi menantu mama?"


"Menantu? Koko udah gak sabar mau nikah?"


Si mama tersenyum menggoda, wajah bahagia Tenry membuat dia lega dan tenang, dan hatinya sendiri menjadi ringan setelah memutuskan kemudian mengucapkan hal yang selama ini jadi pertarungan dalam batinnya.


Tenry tersipu dan wajahnya semakin bahagia, ucapan mama menunjukkan restu, kapan saja dia bisa nikah sekarang... eh tapi...


"Lingling harus selesai kuliah dulu ma, itu satu-satunya cita-citanya, Koko gak ingin mengganggu itu... Koko harus bersabar sampai dia selesai..."


"Oh... masih lama dong mama punya menantu?"


"Hahaha..."


Tenry tertawa senang. Percakapan terindah dalam hidupnya dengan sang mama membuat wajahnya benar-benar bersinar sekarang. Tenry mengambil ponselnya dari saku celana.


"Mau telpon Holly?"


"Iya... ma, pengen jemput Lingling ke sini... kasih tahu dulu biar dia siap-siap..."


"Sayang banget ya... panggilannya Lingling..."


"Panggilan sayangnya baby... dia imut..."


"Udah sana... telinga mama sakit denger kalian terlalu terus terang soal beginian..."


"Hahaha..."


Wajah Tenry berbinar membicarakan dengan bebas soal kekasihnya. Tapi kemudian...


"Ma... kalau papa udah ada, Koko pamit mau jemput Lingling aja..."


"Gak jawab telpon dia?"


"Abis batere pasti, chargernya ketinggalan di rumah temennya kemarin..."


Ahhh... sakit sang mama juga mendatangkan hal baik untuk dirinya dan Holly, gak sabar menanti bahagia yang utuh bersama Holly, bahkan baru beberapa menit mendapat restu mama, pikirannya sudah berkelana, mungkin Holly mau diajak nikah muda... Khayalan bebas Koko semakin bebas... Saat seseorang mendapatkan sesuatu yang katanya 'itu aja cukup'... secepatnya dia menginginkan lebih...


.


🦋

__ADS_1


.


__ADS_2