Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 8. Kalau Koko Pengen


__ADS_3

Mobil Tenry berhenti Di sebuah tempat makan kekinian semacam foodcourt di sebuah sisi kawasan bisnis di pinggiran pantai. Ini sudah jam sebelas, sebenarnya bukan waktu sarapan lagi. Tempat makan ini baru buka, beberapa karyawan nampak masih beberes, tapi terlihat sudah ada pengunjung lain di sini. Holly belum pernah ke sini sebelumnya.


Tidak banyak tempat yang pernah didatanginya di kota ini, tidak semua daerah dia tahu. Ke mall saja bisa dihitung dengan jari, sesekali dia dipaksa ikut bila kakaknya perlu seseorang untuk mengawasi para ponakan bermain di playground, bukan untuk beli sesuatu bagi dirinya. Dia juga gak suka ke mall karena rasa takutnya naik escalator dan lift, dan sebenarnya dia suka sedih jika melihat anak gadis seusianya bisa memilih dan membeli sesuatu, dia tak punya hak istimewa itu. Semenyedihkan itu hidupnya 🤔 --author gak lebay kan nulis orang yang takut naik eskalator atau lift--


Tempat makan ini serba terbuka dengan konsep kafe industrial dengan banyak aksen besi berwarna hitam. Ada semacam dek di bagian atas dengan konsep lesehan. Lantai beralaskan karpet tebal seperti rumput berwarna hijau, banyak bantal besar warna-warni yang tergeletak di sisi tiap meja pendek, kontras dengan dominasi warna hitam di kerangka bangunan bahkan di kerangka meja kursi yang tersedia di situ. Tenry mengajak Holly naik ke dek itu dan mengambil posisi agak pojok di sebuah meja khusus dua orang.


"Duduk aja, Ling... nyaman kok..."


Holly duduk dengan canggung di atas bantal besar warna orange sambil mengamati sekeliling. Tenry langsung memesan makanan tanpa bertanya lagi pada Holly. Sambil menunggu Tenry memainkan ponselnya, Holly diam aja, sesekali pandangannya beredar di ruangan, melihat orang-orang yang duduk makan, tak ingin memandang si Koko yang kali ini duduk berhadapan.


"Ling, nomor ponsel kamu berapa?"


"Nomor aku udah lama gak aktif Ko..."


Holly menjawab tanpa memandang Tenry. Teringat ponselnya yang lebih banyak dia simpan di antara baju-bajunya daripada dia gunakan. Ponsel pemberian Hanie setahun yang lalu saat Hanie ganti ponsel. Dia gak enak selalu meminta uang buat beli pulsa dari Hanie, akhirnya dia simpan aja satu-satunya benda berharga miliknya, dia tahu benda itu akan sangat dibutuhkan saat kuliah.


"Ponselnya mana?"


"Di rumah..."


"Nanti kita mampir ambil ponsel kamu ya..."


"Buat apa juga...gak usah, Ko..."


Holly sedapat-dapatnya menyembunyikan semua tanya di hati juga menyembunyikan perasaan tak nyaman berduaan, sejak berangkat tadi si Koko sudah mengacaukan semua sistem dalam tubuhnya, tangan dan kaki yang dingin juga debaran yang selalu muncul di dadanya. Tenry hanya tersenyum melihat sikap Holly yang terlihat gugup, dia kemudian berselonjor nyaman hampir berbaring di depan Holly, kakinya masuk di bawah meja menyentuh telapak kaki Holly yang duduk bersila. Bahkan sekarang bagian tumit kaki yang putih itu ditumpangkan di salah satu kaki Holly. Tenry seolah tak menyadari tingkahnya dan tak juga mengangkat kakinya hingga Holly menggeser perlahan kakinya lalu meraih es kopi yang sudah ada di depannya, menyeruput hampir setengah.


"Jangan banyak minum dulu, keburu kenyang..."


Holly tak jadi meneruskan minum, melempar pandangan ke sampingnya, sebuah pemandangan laut terpampang, pemandangan lautan tenang menarik perhatianya sekalipun sinar cahaya siang mentari membuat mata tak nyaman.


"Kamu ada rencana kuliah ya, Ling?"


Suara khas si Koko terdengar setelah lama terdiam.


"Iya Ko..."


Holly tersenyum samar. Dia selalu excited membicarakan tentang ini.


"Ngambil apa?"


"Administrasi Negara..."

__ADS_1


"Mmm... FISIP kan ya?"


"Iya..."


"Kapan seleksi masuknya?"


"Lagi nunggu pengumuman, Ko... kalau gak salah awal Juni..."


"Oh gitu... jadi kerja di toko buat ngisi waktu doang ya..."


"Gak juga sih, Holly pengennya kerja terus, pengen nyari uang buat kuliah... kan banyak juga biayanya."


"Nanti gak fokus kuliah jadinya kalau harus kerja juga..."


"Gak papa, yang penting Holly bisa kuliah..."


"Tapi kayaknya mamaku gak tahu kamu kerja di toko, bisa-bisa kamu gak terima gaji nantinya. Biasanya mamaku yang acc kalau nambah karyawan..."


"Iya, Hanie udah jelasin sih... mmm Ko, gimana caranya biar Holly bisa keterima kerja..."


Tenry menatap dalam wajah Holly, melihat kesungguhan niat gadis ini yang nyata di wajah kecilnya membuat dia ingin melakukan sesuatu.


"Oh... gak ada ya..."


Holly mengalihkan pandangan ke lantai. Rasa sedih merayap dengan cepat, dia harus nyari tempat kerja yang lain berarti, tapi di mana ya yang menerima karyawan berstatus mahasiswa nanti? Karena sama sekali gak mungkin mengharapkan biaya dari orang tua, harus usaha sendiri, dia juga tak ingin memberatkan Hanie.


Tenry tak tega melihat ekspresi sedih itu lagi, sejak pertama melihat Holly, Tenry melihat garis sedih dalam raut wajah mungil Holly.


"Nanti Koko ngomong ke Hanie deh, ke mamaku juga, nanti kita lihat ya gimana biar kamu bisa diterima, gampang sih itu... kan jadi karyawan toko gak perlu ijazah S1 juga..."


Holly mengangkat wajahnya...


"Bisa?"


"Bisa, bisa..."


Tenry tersenyum, tak sanggup mematahkan semangat gadis imut ini.


Holly tersenyum lebih lebar dari senyum yang tadi, dia memang beberapa kali bertanya ke Hanie sebelum ini, tapi Hanie selalu menjawab pendek: nanti aja, kerja aja, gampang, tidak memberi kepastian untuk statusnya. Tenry melihat sesuatu terpancar dalam ekspresi Holly, sebuah harap memercik di sana. Pandanganya terputus dengan kedatangan pelayan membawa pesanan.


"Nah makanan kita udah dateng, nih punya Lingling, habisin ya...?"

__ADS_1


Tenry memperbaiki posisinya kini duduk bersila lalu mendorong sebuah piring berisi pasta di depan Holly.


"Kalau Lingling mau yang ini juga boleh..."


Sebuah piring berisi sandwich juga didekatkan pada Holly. Tenry sendiri langsung menikmati sepiring nasi goreng berwarna putih bertabur sayuran. Masih ada 2 piring lain, entah apa nama menu itu. Holly menatap bingung, mereka hanya berdua dengan makanan sebanyak itu.


"Ayo makan Ling..."


"Ini banyak banget, Ko... emang bisa habis semua?"


"Hahaha... cicipi semuanya ya, sengaja Koko pesan banyak biar kamu cepat besar..."


"Ko Tenry... masa pertumbuhan aku sudah lewat kali..."


Holly menjawab setengah malu setengah senang, tapi mulai merasa nyaman bersama si Koko. Melihat tampilan makanan langsung menggugah selera, Holly memilih sandwich dan mulai makan perlahan, sesekali pandangannya bertemu dengan Tenry. Holly tak ragu senyum buat si Koko sekarang, walau hanya sebuah senyuman tipis dari bibir tipisnya. Tenry menangkap raut wajah senang dari Holly dan di dalam hatinya terpanggil akan sesuatu, seperti sebuah janji akan sering membawa Holly jalan seperti ini, ingin melihat gurat sedih di wajah Holly sepenuhnya menghilang.


Dari tempat mereka makan, mobil Tenry arahkan bukan ke tokonya tapi ke rumah Holly. Tak lama mobil Tenry tepikan di sisi jalan sebelum lorong masuk rumah Holly.


"Ayo turun, kita ambil ponsel kamu dulu sebelum balik ke toko..."


"Ko Tenry mau apain ponsel Holly? Itu ponsel lama bekas Hanie juga udah gak bagus Ko..."


"Gak akan aku apa-apain Ling, hanya mau ganti nomor baru aja, biar bisa kamu pake lagi..."


"Gak usah, Ko... nanti sama lagi, berikutnya gak Holly isiin pulsa atau data."


"Ambil aja, nanti Koko yang..."


"Gak, Ko... balik aja ya, nanti takutnya Holly ditahan disuruh ngerjain apa sama orang rumah, malah gak bisa ke toko lagi..."


Holly memotong kalimat Tenry, sebenarnya dia tidak takut disuruh kerja lagi, justru dia takut menerima kebaikan hati Tenry, nalurinya membisikkan itu, mulai banyak yang Tenry lakukan, jika dia mengijinkan yang ini mungkin ada yang lainnya dan dia merasa tidak boleh menerima lagi perhatian demi perhatian si Koko.


"Kalau Koko pengen ngobrol sama kamu gimana dong... atau beli aja nanti kamu ganti sendiri..."


Nada pada kalimat terakhir sangat berbeda membuat Holly coba mencerna maksud Ko Tenry dalam diam.


.


.


🐣

__ADS_1


__ADS_2