
Jam lima pagi, Holly hampir gak bisa tertidur. Sepanjang malam hingga menjelang pagi, setengah dari waktu untuk tidur itu dia habiskan dengan berputar, berguling dan menangis memeluk bantal, serta memeluk jaket si Koko, bau parfum yang tertinggal membuat dia yakin itu jaket milik pria itu yang entah bagaimana ada di kamarnya. Jaket yang menjadi salah satu penyebab tangisnya berkepanjangan, awalnya menangis rindu di sisi lain jaket yang sama membuat dia menangis begitu sedih. Dan setengah waktu lagi dia duduk melamun dan ditutup dengan membereskan pakaian miliknya di tas ransel besar milik Hanie, sisanya dia simpan di sebuah kantong plastik hitam besar.
"Han... Hanie... Han..."
Holly menggedor kamar kakaknya, terus memanggil sampai akhirnya pintu terbuka.
"Ling... ada apa? Kamu sakit lagi?"
Hanie menatap khawatir di antara rasa kantuk yang masih berat menguasai, dia juga susah tidur semalam.
"Gak... anterin aku pulang ya?"
"Hahh?? Pulang ke mana?"
"Ke rumah mama, ayo Han sekarang aja..."
"Kenapa??"
Matanya mulai terbuka, pikirannya mulai berjalan meskipun kepala masih terasa berat. Hanie berjalan ke arah sofa hitam dan duduk dengan malas di sana sambil mengacak rambut sendiri menghilangkan kantuk yang masih begitu menggoda.
"Ini masih subuh Ling? Ada apa sih? Kenapa juga tiba-tiba mau ke rumah mama lagi... kan udah jelas aku ngomong waktu itu, kita pindah ke sini karena cita-citamu, harus berhasil dulu baru kamu bisa dihargai di rumah sendiri..."
"Gak apa-apa aku gak jadi kuliah, Han... aku pulang aja, aku terima kok nasib aku yang sekarang, aku gak pantas dapatkan itu, itu semua bukan untukku."
Mata Hanie terbuka sempurna sekarang, suara hopeless itu menunjukkan adiknya kembali down, apa yang dia dengar semalam sih, tampang kusut sepertinya tidak tidur belum lagi mata yang bengkak seperti habis menangis dalam waktu yang lama.
"Sini Ling..."
Tangan Hanie terulur mau menjangkau tangan adiknya yang belum bergeser dari posisi berdiri depan pintu kamarnya.
"Sini..."
Suara Hanie begitu berbeda, suara lembut tapi tegas penuh kekuatan dari seorang kakak. Tangannya masih terulur dengan sinar mata yang memancar menunjukkan rasa sayang. Dia sedang menghadapi adiknya yang gampang runtuh pertahanannya, adiknya yang selalu berdiri di tepi tebing yang rapuh, dan kadang gak yakin untuk berpegang pada uluran tangan seseorang. Itu membuat dia jadi melupakan sedih miliknya sendiri, dia harus kuat karena dia laki-laki gak ada kata cengeng dalam kamusnya, setiap masalah pasti akan menemukan jalan keluar, hanya perlu kesabaran dan daya juang serta pikiran yang positif.
Dia berhasil bangkit kembali dari rasa sakit dan rasa terhina semalam setelah berjam-jam merenung. Dia yakin dengan apa yang dia kerjakan selama ini dan dia yakin juga sudah bertanggung jawab sesuai kemampuannya. Mungkin saja banyak kesalahan karena dia bukan manusia setengah dewa, tapi setidaknya dia berhasil menerapkan prinsip kejujuran dalam kerjanya, beberapa kali dia bisa membuktikan jika ada selisih dalam keuangan itu bukan karena kecurangan dirinya. Meskipun dia hanya seorang karyawan dia tak pernah punya motivasi yang lain selain bekerja dengan baik. Awalnya karena rasa segannya pada Tenry, tapi kemudian menjadi keinginan hati yang kuat.
__ADS_1
Bodoh amat tentang tuduhan Beyvie, dia memilih gak mau terpengaruh, dia gak merasa melakukan seperti yang Beyvie katakan, bahkan sejak dapat signal dari Ci Cun dia gak serta-merta merespon menjadi besar kepala karena merasa tersanjung ingin dijadikan menantu, dia tetap menjaga sikap terhadap Beyvie, sewajarnya sebagai orang yang dekat dengan seluruh keluarga dan gak pernah ada niatan tebar pesona apalagi mencuri kesempatan untuk mengoda.
Satu keputusan sudah dibuat semalam dan dia akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan secara langsung pada Ci Cun bahwa dia menolak ide pernikahan itu, jika Ci Cun memaksa maka dia akan memilih berhenti dengan baik dan memilih buka usaha dengan modal tabungan. Usaha kecil aja, tujuannya pun hanya satu dulu, mencari uang buat ongkosin Holly kuliah, itu aja dulu gak ada target lebih. Soal balas budi dia merasa selama ini dia sudah mengabdi, dan jika dituntut untuk membalas dengan cara menikahi Beyvie, dia bukan seseorang yang sanggup membalas semua, dia punya keterbatasan, tapi dia gak ingin lagi terikat. Selebihnya terserah Ci Cun.
"Ling..."
Akhirnya Holly mendekat dan duduk di sebelah kakaknya. Hanie mengusap sejenak kepala Holly.
"Aku pernah ngomong jangan menyerah kan? Jadi tetap di sini ya, kan ada aku... kita gak akan ke mana-mana sampai waktunya kita pulang..."
"Han, aku gak mungkin tinggal di sini, aku gak mau jadi perusak lagi..."
"Perusak lagi? Apa yang kamu dengar semalam? Ada yang mengatai kamu?"
"Gak... tapi..."
Holly mulai terisak, sedih untuk mengakui tapi dia merasa dirinya jadi sumber masalah, pertama walaupun Tenry menolak tapi dia tetap merasa sudah hadir di tengah hubungan Tenry dan Glo, kalau dia gak ada mungkin walaupun ada masalah mereka bisa saja baikan lagi. Kedua, dia gak boleh merusak rencana mamanya Tenry, gak boleh merusak masa depan Hanie.
"Ling?"
"Ling... astaga, kamu gak seperti itu Ling..."
"Itu kenyataannya... makanya antar aku pulang sebelum Ko Tenry ke sini pagi-pagi, semalam dia lama berdiri di jalan, melempar beberapa batu ke jendela kamar, aku kasihan tapi aku takut, aku gak mau jadi perusak lagi... hiks..."
Hanie akhirnya memeluk adiknya, kepercayaan diri adiknya selalu turun ke dasar.
"Dengar Ling, itu hanya keinginan Ci Cun... tapi aku gak mau dipaksa, Cici Bey juga. Jadi kalau rencana itu gagal bukan karena kamu... sama sekali bukan. Satu lagi, Tenry sayang banget sama kamu, dia udah gak sayang sama Glo sebelum dia ketemu kamu dan itu aku tahu, Tenry gak bohong soal itu."
Hanie melepas pelukannya, jujur baru sekali ini dia memeluk Holly, dan dia tidak bisa pungkiri bahwa hatinya lega karena merasa pagi ini bisa jadi sebagai kakak sepenuhnya untuk adiknya, ini indah bisa saling sayang dan dia mau seperti ini terus, bahkan mungkin saja dengan adik dan kakak lain di rumah mereka, gak ada yang mustahil jika niat hati tulus mulai saja sebuah hubungan yang baik, jangan menunggu orang lain memulai.
"Kita tetap di sini ya... kalau Ci Cun tetap memaksa aku nikah sama Cici Bey maka aku yang akan berhenti kerja. Aku punya seseorang yang aku sayang sejak lama... aku sudah korbankan perasaan aku karena menghormati Ci Cun, sekarang aku harus buat pilihan. Jadi bukan karena kamu, ngerti kan? Dan jangan lari dari Tenry ya... dia pasti gak akan diam saja kalau kalau tahu hal ini, ok? Buktinya tadi malam dia langsung ke sini, itu bukan karena aku Ling, tapi karena dia khawatir sama kamu..."
Holly berhenti menangis, masih menguatkan hati bahwa dia bukan si penyebab masalah.
"Udah yaa... nanti hari minggu kita berdua pulang ke rumah, sekalian bawa uang buat mama, tapi ingat langsung pulang lagi ke sini... kita buktikan ke mama bahwa kita bukan anak yang lupa siapa orang tua... udah sana... masuk kamar lagi, aku juga mau tidur lagi, masih ngantuk..."
__ADS_1
Hanie mangacak rambut adiknya dengan sayang lalu berdiri dan menuju ke kamarnya.
"Belajar mikir lebih panjang ya Ling... jangan suka sedih terus.... gak semua harus dibawa sedih... sayang dong sama airmata sendiri, terlalu boros airmata kamu... banyak senyum tuh lebih baik..."
Hanie ngomong sebelum menutup pintu kamar...
Aku boros airmata? Apaan sih, emang sedih kok, terus airmatanya ngalir sendiri...
Tadi pengen lari dari si Koko, sekarang malah jadi kangen dipeluk Koko. Jadi pengen buktiin beneran Koko khawatir apa gak, jika iya pagi-pagi pasti udah ke sini. Hipotesa sederhana mengantar kakinya kembali ke kamar, dia kemudian tidur terlentang menatap plafon kamar yang seperti langit yang penuh bintang, pendar bintang yang glow in the dark yang tertempel di sana, peninggalan si Koko jaman dulu, sering menjadi pengantar tidurnya, memandang cahaya kecil-kecil itu sampai matanya tertutup sendiri.
Tangannya menyentuh sesuatu, jaket si Koko, dia memakai jaket itu, jadi seperti tidur dalam pelukan Koko, kemudian berbaring di tempat tidur, mencoba tersenyum sesuai anjuran Hanie. Jadi ingat perkataan Koko, 'kalau senyum dia cantik', dan dengan senyum menghiasi wajahnya dia pun jatuh tertidur.
.
Tidak semua perkataan pahit harus dibalas sama pahit, sakit hati seperti benih yang ditanam dalam hati bisa tumbuh besar dan menjalar ke mana-mana lalu menguasai hati, jiwa, pikiran kemudian berbuah sebuah tindakan pembalasan... Dendam menjadi diri kita, dan dendam hanya akan terpuaskan jika telah membuat mereka yang menyakiti merasakan sakit yang sama bahkan kalau boleh lebih dari apa yang kita pernah rasakan. Bahagiakah kita? Mungkin tapi hanya sesaat. Puaskah? Mungkin tidak karena ingin berbuat lebih lagi... begitu hebat dan kuatnya dendam hingga bisa membuat karakter seseorang berubah... Membalaskan sakit hati menjadikan kita sama dengan mereka yang menyakiti bahkan mungkin lebih buruk....
Abaikan aja ini hehehe, cuma sepenggal paragraf dari author yg sok bijak 😊😊😁😁 Hanya memanfaatkan tempat di mana author gratis buat nulis, bacanya gratis juga kaaan....
Be positive, be relevant
Happy reading 😇
.
Makaseehhh buat semua supportnya 🙏🙏😇😇
Berharap yang kasih comment&like sebanyak yang baca 😊😊😘😘 Ngasih aku jejak minimal sebuah like membuat sayap kupu-kupu 🦋 kalian semakin indah... hehehe, lagi ngerayu biar comment&like-nya bertambah, siapa tahu ada yang ngasih kan... namanya aja usaha, ya kan bray n sist, lebay dikit gak papa toch... love u all 💚
Padahal takut juga minta-minta karena banyak yang jadi silent reader gak suka disinggung-singgung... monmaap guys 🙏🙏
.
🦋
.
__ADS_1