
Masa-masa awal kehamilan yang penuh drama, seorang Tenry calon papi yang siap sedia berjalan ke sana ke mari mencari jika ada yang ingin dimakan sang istri, bahkan yang tidak diinginkan istri pun ikut dibelikan dengan jumlah yang banyak. Sebenarnya yang kepengen adalah si calon papi, acara ngidam yang selalu menjadi acara makan besar para karyawan di rumah orang tua mereka.
"Koko beli apa lagi?"
Holly terperangah menyambut kepulangan suami di malam hari dengan banyak tentengan yang harus dibantu angkat oleh dua ART. Mereka ada di rumah orang tua.
"Koko lagi pengen makan kepiting masak santan..."
Si calon papi cengengesan karena tahu pasti istri akan protes.
"Ini siapa yang ngidam sih sebenernya? Pesananku ada gak?"
"Ehh????"
Tenry menggaruk kepalanya masih cengengesan.
"Koko lupa... Lingling minta dibeliin apa tadi?"
"Tuh kan... Lingling pengen maka kerupuk putih besar yang dijual di warungnya Sonny, Ko..."
"Aduuuh maaf sayang... Koko mandi dulu ya... nanti Koko ke sana beli yang banyak buat Lingling..."
"Gak usah... Koko udah cape..."
Tenry datang memeluk istri yang sedang duduk di salah satu kursi di sekeliling meja makan besar rumah ini.
"Sorry sayang... Koko udah kebayang-bayang kepiting santan sejak tadi malam, makanya pulang kerja langsung mampir ke restonya Ci Mei, jadi lupa pesanan Lingling... entar Koko ke sana beliin kerupuknya ya..."
Ciuman permohonan maaf mendarat ke seluruh bagian wajah istri yang sedang terheran-heran mengingat tingkah suaminya yang aneh sejak dia hamil.
"Lingling gak terlalu kepengen Ko... udah lama gak makan kerupuk kesukaanku makanya nitip beli itu tadi... gak papa nanti aja, atau nanti besok Lingling telpon Hanie minta dia aja yang beliin..."
"Gak kepengen makan malam ini?"
"Gak Koko..."
"Bukan permintaan Dede kita?"
"Bukan... ini... Koko mau makan semuanya? Ini banyak sekali sayang..."
Holly melihat sepuluh porsi kepiting dalam beberapa jenis olahan sedang dipindahkan dari kemasan plastik oleh Nita dan Wiwin.
"Di sini banyak orang, kasihan kalau mereka kepengen terus cuman liatin kita yang makan, kan kasihan... entar anak kita ileran loh..."
"Yang hamil siapa Koko... lagian itu hanya mitos kok, ngidam jika gak diikutin katanya anaknya ileran... ini habis berapa juta Koko... astaga ini seporsinya mahal kan..."
Holly menggelengkan kepala, alasan suami setiap kali membeli makanan dengan jumlah yang banyak selalu sama.
"Jangan hitung-hitungan kalau buat anak..."
"Makanan ini gak ada hubungannya sama anakku loh Koko..."
"Tapi Koko tiba-tiba kepengen... Koko kan papinya, jadi ada hubungannya dong..."
"Ya udah terserah deh... sana mandi dulu, mandi sini aja gak usah ke rumah kita..."
Tenry melepas pelukannya dan meninggalkan sebuah ciuman, setelahnya naik ke kamarnya sendiri di rumah ini.
"Ini Koko ngidam apa lagi?"
Ci Cun datang dan segera memeriksa makanan yang sudah memenuhi meja.
"Masa ngidam ma... kadang dibeli aja banyak-banyak tapi Koko sendiri gak makan ma.. masa Koko yang ngidam sih?"
__ADS_1
Holly masih heran apa iya tingkah suaminya salah satu bagian dari acara ngidam. Dia sendiri beberapa kali menginginkan sesuatu tapi gak nuntut harus ada. Dia merasa itu bukan ngidam atau bawaan bayi dalam kandungannya, sebuah keinginan biasa yang segera hilang.
"Ngidam seperti itu juga, pengen lihat makanannya aja atau yang penting udah nyium baunya... Dulu màma hamil Koko, papa kalian yang ngidam kok... sama kayaknya..."
"Iya sih... Koko suka aneh, kemaren pas pulang ketemu gerobak rujak di jalan depan, abangnya disuruh ke sini... semua orang disuruh makan Koko sendiri gak makan..."
Tak berapa lama Tenry turun dengan tampilan segar, celana pendek dan kaos oblong.
"Mbak Sien, tolong buatin mie instan sama telor ceplok ya..."
"Loh... ini kepiting gak mau di makan lagi? Kenapa malah nyari mie instant Ko?"
Istri langsung mengingatkan apa yang katanya pengen dimakan karena sudah terbayang-bayang.
"Udah gak kepengen... mbak Sien bawain kepiting ini ke rumah Cici juga ya... mana tahu Ko Kiki mau..."
"Iya... mienya dua bungkus Ko?"
"Iya... telornya dua juga..."
Tenry menjawab santai sambil mengacak-acak rambutnya yang masih basah karena baru keramas.
"Koko... beneran kepitingnya gak dimakan? Sayang loh beli mahal-mahal..."
Holly memastikan lagi apa yang ingin dimakan suami.
"Kan gak dibuang juga... simpan aja di kulkas... dikit aja, mungkin besok Koko kepengen..."
Si suami menjawab kalem sambil beranjak ke ruang TV, menghidupkan TV lalu duduk di sofa besar di ruangan itu.
"Astaga... Koko tuh..."
"Biarin aja Ling... sebenarnya dia gak suka seafood, mama gak heran kalau dia gak mau makan ini..."
"Melihat kelakuannya... pasti kayak gitu."
Mama menjawab ringan lalu pergi ke arah dapur. Holly hanya bisa menggeleng kecil, lalu berjalan menuju ruang TV bergabung dengan suami yang duduk santai di sana. Tangan Tenry segera terulur menyambut istri hingga istri duduk di sampingnya.
"Besok jadwal kontrol loh, sayang..."
"Iya Ko... tadi mama bilang nanti mama yang anterin Lingling..."
"Koko besok bisa kok..."
"Oh... nanti Lingling kasih tahu mama kalau gitu..."
"Koko penasaran... kata dokter besok udah bisa ketahuan jenis kelaminnya kan..."
"Iya... mmm Ko..."
"Apa sayang..."
"Koko pengennya anak kita cowok... tapi kalau ternyata cewek gimana..."
Holly bertanya sedikit cemas.
"Gak papa... gak masalah, emang sih Koko berharap anak pertama kita cowok, kalau gak dikasih sama Yang Mengatur Hidup manusia... gak mungkin Koko nolak dong anak Koko..."
Holly tersenyum lega, keinginan mereka berdua soal jenis kelamin berbeda, Holly menginginkan anak perempuan tapi dia gak pernah mengungkapkan pada suami, entah keinginan mana yang akan diijinkan Yang Kuasa.
"Kenapa selalu beli makanan banyak-banyak Ko... Koko sendiri jarang menikmati apa yang Koko beli..."
"Hehehe... pengen aja, gak tahu kenapa..."
__ADS_1
"Kata mama Koko yang ngidam tuh..."
"Bisa jadi hehe... Koko suka pengen yang aneh-aneh yang belum pernah Koko makan sebelumnya... emang ada ya istri yang hamil tapi suami yang ngidam?"
"Kata mama... papa juga kayak gitu waktu mama hamil Koko..."
"Hehe... baguslah, kita berdua bisa sama-sama menikmati kehamilan pertama Lingling..."
"Menikmati apa... Koko bagian yang enak... makan-makan, Lingling sendiri yang mengalami morning sicknya..."
"Iya... iya... kasihan istriku... tapi sekarang udah berkurang kan?"
Tenry mengusap kepala Holly.
"Iya sih... udah jarang banget..."
Holly tersenyum... dalam hati dia juga sebenarnya paling menikmati masa-masa kehamilannya, merasakan hak istimewa untuk menjadi seorang mami, membawa embrio kehidupan yang menggeliat-geliat di dalam kehangatan perutnya, besok dia akan memastikan satu hal lagi untuk pertumbuhan janinnya.
Di dalam perutnya ada bakal anaknya sendiri, selama ini dia membagi panas tubuhnya, makanannya, bahkan setiap hirupan udara pada napasnya dengan anaknya.
"Ko..."
Holy merasakan sesuatu...
"Dia bergerak Ko... nih... coba Koko pegang perut Lingling..."
Tenry memutar posisi tubuhnya menghadap istri, dua tangan dengan tak sabar menempel di perut istri yang udah terlihat membuncit.
"Hei... sayang... pa kabar anak papi... hehehe..."
Tenry yang pertama kali ikut merasakan gerakan baby di perut istri tersenyum lebar penuh bahagia.
"Hei... Dede, kenapa berhenti..."
Tenry memutar-mutar tangannya di sekitar perut istri dan menepuk-nepuk lembut seolah dengan cara seperti itu dia bisa meminta janin bergerak lagi.
"Hehe... itu tadi dia kenalan doang sama papinya hehe..."
Tawa bahagia masih terdengar, bahagia mendapatkan pengalaman pertama berkomunikasi dengan baby mereka.
"Udah sering gerak seperti tadi?"
"Iya Ko... tadinya Lingling ketakutan, baru tenang saat mama menjelaskan itu gerakan babynya..."
"Ihh... gemes liatin maminya... bahagia banget..."
Tenry menangkup dua pipi Holly lalu mencium gemas bibir istrinya yang sedang tersenyum lebar.
Bagaimana gak bahagia, ini kehamilan yang dia harapkan, hak istimewa seorang mami untuk dapat merasakan di dalam rahimnya sendiri, gerakan-gerakan tubuh bayinya di dalam kehangatan 'selimut daging' rahimnya. Dari rasa mual di pagi hari sampai dengan perubahan-perubahan dalam tubuhnya akibat pengaruh baby miliknya... dia menikmati semua proses dalam kehamilannya, bahkan udah tak sabar berjumpa baby miliknya...
Holly masih tertawa dan suami meneruskan menciumi perutnya berkali-kali. Bahagia mami dan papi menyatu indah malam ini.
.
.
Guys maaf gak update, ada saudara dekat aku berpulang ke pangkuan Ilahi... 😭
.
🦋
.
__ADS_1