Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 53. Kekuatan Hati yang Tumbuh


__ADS_3

Tenry bisa lebih leluasa sekarang dengan waktunya, tidak sesibuk beberapa waktu yang lalu saat mama lebih banyak di rumah menemani Cici.


Beberapa hal konvensional dalam penanganan bisnis mereka berhasil diperbaharui Tenry sehingga dia tidak harus setiap hari ada di semua toko, di gudang-gudang, tidak perlu turun langsung menangani masalah distribusi barang dan lainnya.


Tenry menerapkan struktur staff, mengangkat orang-orang kepercayaan mama sebagai manager di setiap unit usaha mereka, membagi staff sesuai bidang kerja, merekrut karyawan IT, menetapkan sistem gaji, membuat ruang kantor yang nyaman lengkap dengan semua fasilitasnya, komputerisasi di semua unit usaha, hingga mewajibkan seragam kerja, sehingga wajah semua usaha mereka jadi benar-benar berubah, lebih profesional. Yang tidak disentuh Tenry hanyalah toko bangunan mereka, itu sudah dia anggap milik Hanie.


Perubahan besar tetapi membuat pekerjaan menjadi lebih ringan dibanding saat Ci Cun mengawasi sendiri. Memang ada biaya besar yang digelontorkan tapi Ci Cun sendiri puas dengan perubahan ini, paham bahwa usaha akan terus berlanjut, lebih terkontrol, tertangani efektif-efisien, juga mengantisipasi kemajuan teknologi dan kecepatan perubahan.


Hari ini Tenry menyediakan waktu untuk kekasih tersayang, kali ini Tenry mengajak Holly ke sebuah lokasi wisata di pinggiran danau terbesar di provinsi ini, sebuah tempat yang sejuk karena ada di ketinggian.


Tempat yang dipilih adalah sebuah cottage dan resto yang berada di semacam teluk kecil dari danau itu. Area resto berada di sebuah sisi, langsung di bagian pintu masuk lokasi dan ada teras berupa dak kayu memanjang sepanjang resto tempat orang bisa berfoto atau naik kano.


Sementara area cottage memutari bagian lain hingga ke posisi yang berhadap-hadapan dengan resto. Lokasi cottage lebih private, hanya yang punya member yang bisa menggunakan fasilitas ini.


Tenry memanfaatkan member keluarga untuk menikmati waktu berharga bersama Holly, mereka berdua duduk lesehan di lantai kayu di bagian luar menghadap danau di salah satu cottage. Di meja ada beberapa camilan khas dan minuman yang baru disentuh sedikit saja oleh mereka.


"Mau naik kano?"


Tawar Tenry pada Holly, disambut dengan gelengan kepala. Ada dua kano terikat di dak kayu depan tiap cottage.


"Kenapa gak mau, itu menyenangkan loh..."


"Takut kecebur..."


"Gak terlalu sulit sebenarnya, yang penting menjaga keseimbangan tubuh aja, lagian gak ada ombak kan... naik yuk?"


Holly gak menjawab hanya memandang beberapa orang yang sedang asyik mengayuh kano pakai dayung mengelilingi tiga sisi lokasi ini. Ada pembatas juga ada bendera merah mengapung di air di bagian terbuka ke arah danau sebagai peringatan batas aman, menjaga kemungkinan kano terseret ke arah danau yang begitu luas.


Tenry kemudian turun ke dak memilih naik sendiri, memilih kano untuk satu orang yang berwarna merah.


Holly ikut menuruni tangga ke dak kayu dan memperhatikan Tenry.


"Sini hp Koko, Lingling fotoin..."


Tenry menyodorkan ponselnya.


"Nanti ikut naik ya..."


Tatapan Tenry yang tenang membuat Holly mengangguk. Dia kemudian mengambil beberapa foto dengan ponsel Tenry juga ponselnya sendiri. Setelah Tenry mulai jauh, Holly duduk bersila di dak itu. Cuaca gak panas, cenderung adem karena mendung, angin lebih dari sepoi-sepoi, menghadirkan kenyamanan berada di tepian danau ini. Di bagian resto nampak beberapa orang mengantri untuk bergantian naik kano.


Tak lama setelah berputar sekali, Tenry mendekati dak di cottage mereka, Holly mengambil beberapa foto lagi.


"Yuk sayang... tuh banyak anak kecil juga yang naik, aman kok..."


Tenry menepi, mengaitkan kano lalu turun, tapi Holly tampaknya gak minat untuk mencoba.


"Gak mau naik rupanya?"


"Hehe... iya Ko... Koko aja kalau masih pengen..."


"Ya udah... Koko malas sendirian..."


"Koko terlihat udah biasa... udah sering naik itu ya..."


"Iya... waktu kuliah, sehabis ujian atau selepas bikin tugas-tugas, atau lagi sumpek-mumet, buat ngerefresh lagi nih otak suka naik kano sama temen-temen... sempat jadi kegiatan favorit saat weekend."


Holly mengangguk-angguk pelan. Tenry ikut duduk bersila di samping Holly. Lama tak ada percakapan. Memang akhir-akhir ini Holly lebih banyak diam.


Tenry mengetahui ada sesuatu yang mengganggu Holly persisnya sejak pulang dari rumahnya sendiri. Sikap diam Holly menunjukkan itu. Beberapa kali Tenry coba mengorek isi hati gadisnya, tapi jawabannya selalu saja sama, gak ada masalah. Makanya Tenry mengajak jalan-jalan siapa tahu akhirnya Holly bisa ngomong jujur apa masalahnya.


Tenry menarik bahu Holly perlahan untuk bersandar pada lengan kirinya, membiarkan waktu berlalu hanya berdiam nyaman berdua, sampai kemudian...


"Ling..."


"Mmm..."


"Makan sekarang ya?"


"Dikit lagi, masih kenyang. Tapi... Koko laper ya?"


"Belum sih, nanya aja..."


"Oh..."


"Kenapa suka murung sekarang? Banyak diem..."


Tangan kanan Tenry mengusap sebentar kepala Holly, lalu berpindah mencubit sayang pipi kanan Holly.


"Koko tahu ada sesuatu... kenapa gak mau cerita?"


"Gak papa Ko..."


Holly menjawab pelan, tangan kanannya menepuk-nepuk lutut Tenry yang tertekuk.

__ADS_1


"Gak papa kok sedih terus kelihatannya... senyumnya jadi mahal, biasanya asal ketemu Koko pasti senyum... Lingling ekspresinya kayak awal-awal bertemu Koko di toko..."


"Lingling baik-baik aja Ko..."


"Lingling gak baik-baik aja, jangan bohong... tau gak... apa yang ada di sini," Tenry memegang kepala Holly dengan telapak tangannya yang besar, "itu berdampak di sini." Sekarang telapak tangan Tenry menempel di wajah Holly.


"Ko... Holly gak bisa napas...."


"Masa sih..."


Tenry belum menurunkan tangan kanannya dari wajah Holly, sementara tangan kirinya sekarang membawa tubuh Holly sepenuhnya ke dalam pelukannya, kepala Holly tertekan lembut ke dada Tenry. Sementara dua tangan Holly berusaha melepas jemari tangan Tenry, gak mungkin Holly gak bisa napas karena ada ruang di antara telapak tangan besar itu dan hidung Holly.


"Koko..."


"Iya sayang..."


"Lepasin..."


"Koko lepasin kalau Lingling mau cerita..."


"Gak ada yang perlu diceritain, Ko..."


"Ada..."


"Gak ada..."


"Bohong..."


"Lingling gak bo..."


Kalimat Holly terhenti.


"Kan...? Gak diterusin karena emang bohong..."


"Iya... Lingling emang bohong, lepasin..."


"Tapi janji mau cerita..."


"Iya..."


Tangan Tenry turun kemudian...


"Tapi gak janji..."


Holly segera menyambung kalimatnya.


Sebuah ciuman mendarat sempurna di pipi kanan Holly. Kedua tangan Tenry sekarang memeluk tubuh Holly. Kepala sedikit tertunduk melihat Holly.


"Cerita dong, sayang... biar hilang sedihnya, gak kepikiran terus..."


Holly gak menjawab sekarang. Hanya sedikit mengangkat kepalanya, menemukan mata Tenry yang sedang melihat padanya. Mata bersorot tenang, sesuatu yang paling dia suka dari profil wajah Tenry, sesuatu yang paling menggoda untuk dia sentuh tapi gak pernah dia lakukan, masih takut melakukan apapun di wajah itu. Holly menurunkan pandangannya.


"Ling..."


"Mmm..."


"Kebiasaan sekarang jawabnya mmm... jawab iya..."


"Ehh... iya Ko..."


"Pilih... cerita atau bayar hutang..."


"Hutang?"


Aduuh si Koko, kata 'hutang' membuat desiran di dada Holly, gugup melanda hingga Holly melepaskan diri dari pelukan Tenry. Entah kenapa soal mencium Koko ini jadi sesuatu yang mendebarkan, lebih mendebarkan daripada saat menghadapi ujian nasional. Yang ini dia grogi walau hanya membayangkan saja.


"Iya... udah banyak bunganya..."


"Ihh Koko, kenapa sih gak lupain aja soal itu, pemutihan aja Ko..."


"Gak ada pemutihan..."


"Ko... Lingling itu masih kecil, baru sekali ini pacaran, belum ada pengalaman..."


"Pas banget... bayar hutang sekaligus bunga, dapet pengalamannya..."


"Ihh Koko... jangan maksa..... ya?"


Ekspresi memelas sekarang di depan wajah Koko.


"Kenapa sih, takut amat... itu biasa kali buat pasangan, itu tanda sayang..."


"Emang takut... kan masih kecil..."

__ADS_1


"Siapa bilang masih kecil..."


"Koko..."


"Kapan Koko bilang Lingling masih kecil, mana ada anak kecil diajak pacaran sih?"


"Koko kan suka bilang ke Lingling... eh nih anak... apa ayoo?"


"Hahaha... dasar kamu..."


Rasa gemas yang memuncak akhirnya tersalurkan dengan cara menjepit hidung milik Holly.


"Ko... kali ini beneran gak bisa naapasss..."


"Mau cium Koko gak?"


"Gaakk..."


"Berarti... pilihannya... cerita..."


Jepitan di hidung Tenry lepaskan, memandang Holly dengan serius... karena sebenarnya ini yang jadi tujuannya. Holly menunduk, gak tahan bertatapan langsung dengan mata serius Tenry.


"Ling..."


"Itu... itu bukan sesuatu yang pantas untuk Koko tahu. Lingling malu untuk ceritain ke Koko karena ini masalah keluarga Lingling. Boleh Lingling memilih menyimpan sendiri?"


Holly bersuara lirih walau sedih karena itu benar-benar menyakiti hatinya tapi ada nada tegas di dalamnya.


Ketika tatapan mereka bertemu lagi, akhirnya Tenry mengerti bahwa Holly gak ingin dipaksa. Sesaat kemudian dia menyadari bahwa Holly yang sekarang mulai berubah, sekalipun jiwa yang rapuh tetap masih menonjol, masih gampang sekali sedih, tapi dia mulai melihat kekuatan hati gadis ini sedang tumbuh. Tenry mengangguk akhirnya memaklumi sikap Holly yang buat Tenry itu luar biasa sekarang, memilih tidak menceritakan keadaan keluarganya. Walau sebenarnya dia ingin banget tahu apa itu, tapi dia memilih tidak mendesak Holly sekarang.


"Baiklah... Koko hanya gak ingin Lingling sedih, itu aja..."


"Lingling hepi kok hari ini..."


"Bener?"


"Iya..."


"Tapi... kalau ada masalah... apalagi soal hubungan kita berdua, jangan gampang menyerah ya?"


Tenry coba meraba-raba sekarang, apakah masalah yang gak ingin Holly ceritakan itu menyangkut dirinya.


"Ehh kapan Lingling menyerah?"


"Waktu itu... menghilang dari Koko karena mama..."


"Hahh itu ya..."


"Kalau orang tua Lingling gak setuju Koko pacaran sama Lingling, jangan menyerah juga..."


Holly senyum kecil.


Mereka sebaliknya Ko... malah papa udah kayak buaya lapar...


Holly menggeleng samar kemudian saat menyadari telah mengatai papa sendiri walau dalam hati.


"Mmmm Koko mancing-mancing..."


"Hahaha... udah tambah pintar sekarang..."


"Iya dong... Ayo ahh kita makan..."


Holly berdiri sekarang lalu mengulurkan tangannya ke arah Tenry, seperti mau membantu Tenry berdiri.


"Kebalik tau gak..."


Tenry tertawa, sikap gadisnya terlalu manis.


"Makannya di resto aja ya... di sini Lingling takut, terlalu sepi..."


"Takut hantu? Siang-siang begini..."


"Bukan... Lingling gak takut hantu, takut sama debt collector..."


Saat memahami arti kalimat itu Tenry terbahak.


"Hahahaha... Koko aja yang cium kalau gitu..."


Tenry hepi... gak sia-sia dia mengajak Holly jalan-jalan, walaupun gak bisa membuat Holly cerita sumber kesedihannya, tapi dia bisa sedikitnya melenyapkan kesedihan dari wajah gadisnya.


Ciuman sayang berkali-kali dia labuhkan ke kepala gadisnya saat mereka berjalan rangkulan meninggalkan cottage itu menuju resto. Sempat ada godaan mengambil ciuman yang lain sesuai kebutuhan hasrat jiwanya, tapi itu tidak penting, masih bisa dieliminasi dari otaknya, yang lebih utama sekarang bagaimana membahagiakan gadis kecilnya.


.

__ADS_1


🦋


.


__ADS_2